
Alarm ponselku berbunyi membangunkan lelap tidurku dari buaian gelapnya malam. Perlahan aku berdiri dan menuju kamar mandi. Ku biarkan air mengguyur tubuhku. Merasakan sejuknya air di subuh ini. Hingga kumandang adzan barulah aku menyudahi ritual mandi ku. Ku segerakan berwudhu dengan runut dan tertib.
Pukul empat lewat tiga puluh lima menit. Aku menjalankan sholat subuh. Sholat kali ini menjadi sholat ternikmat setelah apa yang ku alami. Dalam tiap sujudku, aku rasa tiada rasa yang ada selain rasa penghambaan dan pengabdian diri kepada sang Khaliq. Perbincangan ku kali ini cukup panjang karena aku sedang mengadukan segala rasa yang ada kepada Robb-ku. Air mata pun mengalir mengiringi setiap sujud dan doaku. Memohon keringan atas segala ujian.
"Aamiin..." ucapku menutup doa panjang ku. Ku. Ku rapikan mukena dan sajadah yang baru saja kupakai. Kemudian meletakkannya pada nakas dekat tempat tidur. Sedikit surut langkah ku saat mendapati bayang kak Mirza di pantulan cermin meja rias ku. Aku terdiam. Hanya mataku saja yang menatap pantulan kak Mirza. Ada desiran hebat saat matanya menatapku. Mungkin ia tahu jika aku sedang menatapnya melalui cermin dihadapan ku. Seulas senyum pun tampak menghiasi wajah tampannya. Sementara kedua lengannya bertumpu pada kedua pahanya. Seandainya hatiku sedang tidak diamuk amarah, mungkin aku sudah menghambur dalam dekapannya saat ini. Sayangnya, lagi-lagi aku sedang tidak ingin melakukannya.
"Aku menemuimu, bermaksud membangunkanmu dan mengajakmu sholat berjamaah seperti sepuluh hari yang lalu. Tapi kau sudah mendahului ku" ucapnya tersenyum. "Kemana istri pertama mu?" tanyaku tanpa membalikkan tubuh. "Kutinggalkan di kamar sejak semalam" ucapnya. "Lalu kemana semalam?" selidik ku. "Berbincang bersama mama dan bang David. Sepanjang malam..." ucapnya. "Tunggulah sebentar saja. Setelah aku sholat, aku ingin berbincang dengan mu" ucapnya sesaat sebelum berlalu ke kamar mandi.
"Terima kasih..." ucapnya sambil tersenyum saat melihat sebuah sajadah terbuka untuknya. Tak lama kemudian, ia pun memulai sholatnya penuh kekhusyukan. Ku amati setiap geraknya dari kursi yang berada dibelakangnya. Kursi yang semula ia duduki. Lama kak Mirza mengurai doanya. Menengadahkan kedua tangan kak Mirza, bermunajat atas segala doa dan pengharapan nan panjang.
"Kemarilah..." pintanya padaku sambil berisyarat dengan sebelah tangannya. Namun aku tetap diam. Hingga ia menyebut nama ku, barulah aku meluluskan permintaannya. Sedikit ragu aku duduk mensejajarinya. Tatapan ku terbenam pada ujung lututku. Kemudian kak Mirza pun duduk di hadapanku. Diraihnya tanganku dan digenggamnya erat. Sementara matanya selalu menatapku lekat. "Jangan pernah ragukan cinta ku, Fara. Aku benar-benar mencintaimu. Dengan segenap jiwaku.." ucapnya sendu. Entah mengapa hatiku sedikit menolak saat mendengar ucapannya tersebut. Aku menganggapnya hanya sebuah pembelaan atas kedustaannya semalam. Lara hatiku jika mengingat kata dan polahnya semalam. "Sungguh picik kau, Mirza" aku membatin. "Jangan buat hatimu mendingin hingga kau lupa akan cinta dan sayang kita dari lama" ucapnya lagi. "Jangan pergi...Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Aku berjanji akan selalu jujur dan adil kepadamu. Dan satu hal yang harus kau ingat bahwa kau bukan pelakor. Kau istriku, kau cintaku. Hanya kau cintaku" ucapnya yang kutanggapi hanya dengan diam. Berulangkali ia menyebut namaku, namu aku sedang asyik bermain dengan lamunanku. Fikiranku sedang melambung dan mengembara sejenak pada saat kak Roy atau tuan Darius bertemu denganku beberapa hari lalu. Aku mengulang kata yang pernah ada. "Cintaku berbeda Fara. Suatu saat Kau akan menimbang cintaku dan cinta Mirza" begitu aku membatin mengulang ucapannya. Sepertinya tak perlu waktu lama untuk mengetahui cinta kak Mirza seperti apa, tanpa membandingkannya dengan cinta kak Roy atau pun tuan Darius.
"Fara..." panggil kak Mirza lagi. Kali ini sambil mengguncang tubuhku. Aku terisak pilu. Bercucuran air mataku jatuh pada pangkuanku. "Sayang..." ucap kak Mirza sambil merengkuh tubuhku dan mendekapnya erat. Menangis kembali aku dalam dekapannya. Guncang tubuhku karena isak ku itu.
__ADS_1
"Ternyata kau di sini?" ucap sebuah suara yang ku kenali itu adalah Amara. "Kemarilah..." ucap kak Mirza tanpa melepaskan dekapannya. "Kau sudah tahu jika aku mencintai Fara. Dan aku menikahimu hanya karena rasa kemanusiaan ku" ucap kak Mirza yang membuat Amara diam tanpa kata. Hanya matanya saja yang menyimpan air mata dan siap terjun bebas. "Lalu anak yang ku kandung ini siapa?" ucap Amara dengan suara bergetar. "Dia...Dia anakku" ucap kak Mirza gagu. "Apa ini bukan hasil dari cinta juga? Sungguh kau tidak adil, Mirza" ucap Amara sambil berlalu cepat. Kak Mirza pun terdiam. Sementara tangannya tidak melepaskan dekapannya sedikitpun dariku.
Pukul enam lewat lima menit. Kak Mirza masih berusaha meyakinkanku atas cintanya. "Non Amara...!" teriak mbak Mar, salah satu asisten rumah tangga di rumah. "Aden Mirza, tolong...!" teriaknya lagi. Terkesiap kak Mirza mendengar itu. Segera saja ia melepaskan dekapannya dan berlalu dengan cepat. Aku terdiam. Ku susut air mataku dan berusaha mendamaikan hati. Ku lihat koper berisi pakaian dan beberapa perlengkapanku lainnya yang sudah ku siapkan sejak semalam. "Fiuh..." dengusku kasar. Tekad ku sudah bulat dan sepertinya sulit untuk diubah.
"Nyonya...?" ucap Bu Anna yang terkejut saat melihat tumpukan koper. "Aku tidak bisa bertahan, Bu. Terlalu kecewa hati ini" ucapku. "Tapi, Nya...tidak bisakah menunggu den Mirza terlebih dahulu" ucap Bu Anna. "Bu, saya sungguh mencintainya. Tapi situasi seperti ini sepertinya memerlukan kekuatan lebih untuk menghadapinya. Jadi Fara ingin mencari kekuatan itu dahulu. Semoga kak Mirza mengerti. Tolong berikan ini untuk kak Mirza..." ucapku sambil menyodorkan amplop berwarna biru. "Bu An, mengerti situasinya. Tapi tidak bisakah Nyonya bertahan sebentar lagi hingga den Mirza menemukan solusinya" ucap Bu Anna sambil mengusap air matanya.
Pukul enam lewat lima belas menit. Ku geret koper merah berukuran sedang itu. Langkah ku sedikit berat namun aku berusaha keras menguatkan hati sehingga langkah menajdi sedikit ringan. Ada air mata yang tersimpan di ujung mataku saat aku berdiri di ambang pintu. "Fara..." panggil sebuah suara yang sangat aku kenali, siapa lagi jika bukan suara kak Mirza. Ku percepat langkahku hingga hampir mencapai sebuah taksi yang sudah menungguku. Sayangnya kak Mirza sudah terlebih dahulu merengkuh tubuhku dan kembali mendekapnya. "Tak bisakah menungguku, sayang..." ucapnya. Ditangannya selembar kertas bertuliskan beberapa baris kalimat yang merupakan goresan tanganku. Rupanya ia sudah menerima pesan yang ku kirim melalui Bu Anna tadi. "Maafkan aku, Kak..." ucapku. "Aku mengerti. Tapi berjanjilah, kau akan segera kembali kepadaku" ucapnya sambil mengecup lembut keningku. "Aku berjanji. Secepatnya akan kembali, jika rasa ini sudah berhasil didamaikan" ucapku dalam dekapannya. "Aku percaya. Karena bagiku janjimu adalah nyata untukku" ucap kak Mirza sambil memegang kedua lenganku dan menatapku lekat. Aku pun mengangguk kecil sambil mengurai senyum yang lagi-lagi tipis saja. Hei...kau menangis, kak. batinku saat melihat ia menghapus bulir bening yang membasahi sebagian wajahnya. Entah sejak kapan ia demikian.
"Em, tunggu..." ucapnya lagi menghentikan langkahku yang akan masuk mobil. "Setidaknya bawa ini. Ini adalah wujud tanggungjawab ku padamu. Kau istri ku. Hanya kau istriku. Pergunakanlah...Aku tidak menerima penolakan" ucapnya sambil menyodorkan debit card. Aku pun meraihnya dengan senyum secukupnya saja. "Cepatlah kembali...Aku menunggumu" ucapnya lagi saat aku sudah benar-benar duduk dalam mobil.
Drrt...Drrt...Drrt.
Ponselku berpendar. "Bang David..." ucapku lirih. Namun aku hanya membiarkannya saja. Berulangkali ia menghubungi ponselku, Dan lagi-lagi aku membiarkannya saja. "Maafkan aku, bang..." gumamku sambil memasukkan ponselku dalam tas. "Jalan Nusa bangsa, Nona..." ucap sopir. "Berhenti di depan rumah berpagar hitam itu" ucapku sambil menunjuk ke sebuah rumah. Entah, aku sendiri tidak tahu rumah siapa itu. Aku hanya menunjuk sembarang saja sebagai pengecoh keberadaan ku. Aku yakin, apa susahnya bagi keluarga kak Mirza untuk mencari informasi dari seorang sopir taksi online tentang keberadaan ku. "Terima kasih, pak..." ucapku setelah membayar ongkos. Kemudian aku pun berpura-pura masuk ke dalam halaman rumah tersebut. Beruntungnya, pintu pagar tidak terkunci. Beberapa saat ku perhatikan taksi itu pun belum meninggalkan tempat dimana tadi berhenti. "Astaga...apa mungkin ia juga suruhan kak Mirza atau yang lainnya" gumamku lirih. Ragu sekali aku membunyikan bel yang tergantung di depan pintu. Sekali, dua kali tiada tanda pintu di buka. Besar harapanku demikian. Berdegup hebat jantungku saat terdengar sebuah langkah mendekati pintu. "Ya, Robb..."gumamku. Pintu pun terbuka. Ku lihat ujung kakinya dengan alas sandal kulit, khas pakaian laki-laki.
__ADS_1
"Fara...!" teriak sebuah suara. Aku pun spontan mendongak dan menatap wajahnya. "Ferry..." ucapku terkejut bukan kepalang. "Boleh aku masuk...?" bisikku sambil menunjuk ke arah luar. "Masuk...masuklah" ucapnya sambil mengangguk mengerti setelah sesaat ia menatap ke luar. "Siapa, sayang...?" ucap sebuah suara. "Em, dia istriku..." ucapnya sedikit gagu saat seorang perempuan cantik muncul dengan perut besar. "Fara..." ucapku sambil mengulurkan tangan. Sepintas aku melihat tanggapan nya kurang bersahabat. Apalagi setelah ku dapati tatapannya yang begitu tajam menyelidik. Namun ketika aku menyebutkan bahwa aku sudah menikah, rona wajahnya berubah. Aku pun menjelaskan bagaimana bisa sampai di rumah keduanya. Dan Ferry pun tertawa mendengar penjelasan ku tersebut. "Lalu kau akan kemana sebenarnya?" tanyanya. "Kembali ke rumah nenek..." dustaku. Ferry pun mengangguk dan menawarkan untuk mengantarku yang tentu saja langsung ku tolak.
Pukul delapan lewat lima menit. Sebuah taksi online dari aplikasi berbeda pun sudah ku pesan. Dan kini sudah berada tepat di depan rumah Ferry. Aku pun segera berpamitan dan meninggalkan rumah tersebut. Mobil melaju menyusuri jalan yang sudah dipadati bermacam kendaraan. Mataku menatap langit yang tampak begitu cerah dengan awan putih tipis berarak menutupi sebagian kecil langit. Sementara sang mentari begitu gagah menyapa bumi. Mobil pun berhenti sesuai alamat yang telah ku berikan pada aplikasi. Ku seka peluh yang mulai menghiasi sebagian wajahku. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju tempat yang ku harap bisa membuatku tenang.
Berdiri aku menatap sebuah rumah yang sudah lama di tinggalkan. Kurang lebih lima belas tahun yang lalu saat aku ditinggalkan amah dalam pengasuhan nenek Merr. Dan sejak saat itu nenek Merry pun meninggalkan ruamhnya dan berpindah ke rumahku yang kini ditinggali ayah dan mami Vira. Langkahku begitu ringan menapaki jalan yang membelah tanaman sayuran di kiri dan kanannya. Ku ketuk pintu rumah dari kayu yang sedikit usang. Seingatku dulu nenek Merry pernah menitipkan penjagaan kepada seorang temannya, yaitu nenek Fatma yang rumah nya bersebelahan.
Tak lama kemudian tergopoh langkah seorang nenek dari sebelah rumah. "Neng Fara..." ucapnya saat mengenaliku. Aku pun mencium punggung tangannya dengan takzim. "Apa kabar, Nek...?" ucapku. "Baik, Neng. Wah sudah lama sekali neng Fara tidak ke sini. Tapi neng Fara tidak berubah sama sekali ya..." ucap Nenek Fat. "Masuk, Neng..." ucapnya sambil membuka pintu. Dibukanya gorden dan jendela rumah. Mataku mengitari seisi ruangan yang masih tampak sama dan tetap bersih. "Nenek selalu membersihkan rumah nenek Merry mu ini, paling tidak sehari sekali" jelas nenek Fat. "Terima kasih, Nek. Bagaimana Fara membalas semua ini" ucapku dengan mata berkaca-kaca. "Nenek Merry mu sudah banyak membantu nenek dan apa salahnya nenek membalas semua kebaikannya tersebut" ucap nenek Fat sambil menyerahkan kunci kepadaku. Aku tersenyum penuh haru.
Pukul sebelas lewat sepuluh menit. Aku sudah rebah pada sebuah kasur. Mataku menatap langit-langit. Fikiranku sedang mengembara kembali pada sosok tampan nun jauh di sana. "Kak Mirza..." ucapku lirih. Terbayang sudah wajah tampannya dan juga segala bentuk perhatian dan kasih sayangnya. Namun ketika aku kembali teringat dengan Amara atau kedustaannya semalam, maka semua berubah menjadi samar. Hatiku dipenuhi amarah. Sampai kapan amarah ini selalu ada di hati. Entahlah...
Kemudian aku memegang perut saat mendengar bunyi di perutku itu. "Rupanya sudah harus diberi makan nieh cacing..." ucapku tersenyum. Aku pun teringat memanglah sejak pagi , perut ini belum terisi apapun. Dan segera saja aku bangun dan menyambar dompetku. Seingatku saat perjalanan tadi aku melihat sebuah rumah makan. Ku perkirakan jaraknya berkisar lima atau sepuluh menit dari sini jika berjalan kaki.
"Mau kemana, Neng..." ucap nenek Fat saat aku membuka pintu. "Beli makanan, Nek" ucapku dengan senyum khasku. "Ah, tidak perlu. Ini nenek sudah membawanya" ucap nenek tertawa memperlihatkan sebagian giginya yang telah tanggal. Tangannya terangkat menunjukkan tiga deret kotak makan. Aku tersenyum sumringah. "Untuk Fara, Nek...?" tanyaku. Pertanyaanku ini bak pribahasa sudah gaharu Cendana pula. "Untuk kucing..." canda nenek. "Ah, nenek bisa saja" ucapku sambil bergelayut manja pada lengannya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita makan bersama ya, Nek..." ucapku sambil menariknya duduk pada kursi kayu berukir sederhana. Namun nenek Fat menolaknya. Kemudian dengan sedikit ancaman bahwa aku tidak akan memakannya, maka akhirnya nenek pun berkenan bersantap siang bersamaku. "Terima kasih, Nek..." ucapku sambil merapikan kotak makan dan berlalu ke dapur untuk membersihkannya.
"Sekali lagi terima kasih ya, Nek..." ucapku lagi sambil menyusun kembali kotak makan tersebut. "Neng jangan ragu-ragu kalau ada apa-apa kasih tahu nenek ya..." ucapnya dengan suara bergetar dan logat khasnya. Aku pun mengangguk sambil tersenyum sumringah. Lagi-lagi aku bergelayut manja pada lengan ringkihnya. Ku tatap punggung tuanya yang melangkah begitu hati-hati sambil menenteng kotak makan. Sepintas wajah nenek Merry membayang di pelupuk mata dan membuatku harus mengusap air mata yang mengalir begitu saja. "Nenek...." ucapku lirih