Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 72. Berucap Tapi Tak Terucap...


__ADS_3

Tinggal tiga pekan lagi menuju hari H. Satu pekan kemarin sejak pinangan kak Keanu di terima kak Noah selaku wali ku sudah termanfaatkan untuk melakukan persiapan utama kami, seperti mencari WO yang best, baju pengantin hingga undangan. Semua diselenggarakan dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hehe...seperti teks proklamasi saja ya. Karena memang waktunya begitu singkat. Hanyalah satu bulan saja dari waktu penetapan saat pinangan menuju hati H. Tapi bukankah pada waktunya nanti juga merupakan saat memproklamirkan cinta kami di waktu ijab Kabul? Ah, bisa ae...hehe.


Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Seperti yang sudah disepakati, hari ini aku akan bertemu kembali kak Keanu. Kali ini kami akan bertemu WO untuk persiapan yang lainnya seperti pemilihan souvernir dan pernak-pernik lainnya. Langkahku menjadi cepat saat mataku menatap langit yang tak lagi cerah membiru karena awan gelap mulai menyelimutinya. Matahari pun sepertinya sudah mulai ragu menyapa bumi. Dan sinarnya menjadi samar karena mulai tersimpan di balik gelapnya awan.


Mobil merah ku melaju cukup cepat menembus hembusan hawa dingin yang mulai menyapa. Mungkin sesaat lagi hujan akan turun membasahi bumi. Hujan yang memberikan kemanfaatan bagi segenap alam. Dan benar saja, tak lama kemudian titik hujan pun mulai berlarian turun ke bumi. Titiknya masihlah jarang, karena ini adalah permulaan. Pun demikian, cukuplah berhasil membuat beberapa kerumunan orang bubar dan lari berhamburan mencari teduhan. Burung-burung pun tak luput dari terpaan hujan yang makin lama titiknya makin kerap hingga tak terhingga. Berlindung si burung dalam naungan rindangnya pepohonan. Sesekali ia mengibaskan tubuhnya untuk mengurangi kejenuhan air yang menempeli bulu-bulu di tubuhnya. Sementara itu, aku pun tetap bersikukuh mempertahankan laju mobil merahku. Lajunya mampu menyibak guyuran hujan hingga melentingkan titik hujan ke udara sesaat kemudian kembali jatuh ke bumi. Di tengah guyuran hujan lamunan ku mulai bermekaran. Fikiranku mengembara hingga membentuk sebuah senyuman. Raut wajah ku pun begitu sumringah. Ya...saat ini fikiranku sedang bersama sebuah rasa yang selalu membuat bahagia.


"Kak Keanu..." ucapku lirih. Mengingat semua senyum, tutur dan segala perlakuannya membuatku merasa istimewa. Tiada sedikitpun dari katanya yang merendahkan status ku saat ini. "Terima kasih, kak. Kau laki-laki istimewa. Semoga selamanya demikian" gunamku. Seiring laju mobil merahku, lamunanku pun kian melambung. Pun demikian, fokus ku pada jalanan tetaplah hadir dan meyakinkan. Hal tersebut terbukti saat sebuah mobil sport mencuri lajur ku, aku mampu mengelak menghindarinya. Aku lega walau hati sempat ketar-ketir dengan degup jantung yang serasa berlonjakan.


Drrt...Drrt...Drrt


Ponselku berpendar. Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Tahu saja jika aku sedang memikirkannya. "Assalamu'alaikum...Kak?" ucapku sumringah. "Wa'alaikumussalam...Sudah dimana, sayang" ucap kak Keanu di ujung telepon. "Di jalan. Sepuluh menit lagi sampai" ucapku. "Maaf ya, aku tidak dapat menjemputmu" sesalnya. "Tidak apa-apa, Kak. Fara maklum" ucapku sambil menyimpan senyum. "Berhati-hatilah, sayang. Hujan, jalanan bisa saja licin. Perlahan saja. Tak perlu tergesa-gesa" ucap kak Keanu. Dari caranya berucap aku yakin ada khawatir yang tersimpan. Ah, kak Keanu. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Dan aku berjanji akan selalu berhati-hati seperti katamu. Tunggulah aku...

__ADS_1


Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Masih di bawah guyuran hujan saat sebuah mobil sport kembali mencuri lajur ku. Ow...rupanya si empunya mobil bermaksud bermain-main dengan ku. Berulangkali mobil sport nya mengerang garang seakan menantang ku. Aku tak menanggapinya. Tak sedikitpun aku berminat dengan perilaku yang dapat mengganggu siapa saja itu. Namun terbersit rasa penasaranku saat sekali lagi ia mengerang hebat. Pandanganku pun teralihkan sesaat. Mataku menatap si empunya mobil saat kami sejajar. Seakan sengaja terlihat si empunya mobil membiarkan jendela mobil terbuka. Kami sempat bertatapan sebelum ia membanting stir ke kiri dimana aku berada seakan ia ingin menabrak ku. "Amara..." ucapku lirih. Dan tak sampai kami beradu badan, namun hal itu berhasil membuat ku hilang kendali. Sadar laju mobil merahku tak di bawah kendali ku lagi, aku panik. Sudah payah aku berusaha menjadikannya di bawah kendali ku lagi. Hanya sepersekian detik mobil ku meluncur begitu saja. Cicit mobilku pun begitu hebat sesaat sebelum dihantam sebuah mobil. Aku begitu histeris. Fikiranku melambung, mungkin ini akhir hidupku. Sesaat lalu mobilku pun melenting ke udara. Berputar beberapakali sebelum akhirnya berguling kasar pada jalanan yang panjang. Suaranya begitu keras menggerosak. Aku makin histeris. Tubuhku terombang-ambing tiada ampun. Tiada terkira sakit yang ku rasa. Entah berapa banyak darah yang mengalir dari luka ku. Yang ku rasa hanya ada banyak lelehan hangat di sekujur tubuhku. Mungkinkah itu darah? Aku membatin. Mataku pun tak sanggup lagi terbuka. "Ya...Robby, tolonglah hamba" ucapku. Entah dari dalam hati atau terucap lirih. Sungguh aku tidak tahu. Aku hanya berusaha melakukan yang ingin aku lakukan saat ini. Namun ternyata semua dinluar batas kemampuanku.


Di bawah guyuran hujan yang tiap titiknya mulai menerobos mobil yang sudah koyak. Basah tubuhku dan tentu saja membuat sekujur tubuhku meradang hebat. Perih teramat sangat ku rasa karenanya. "Tolong..." aku hanya bergumam yang kurasa aku sudah berteriak sekeras-kerasnya. Tak lama kemudian, telingaku samar mendengar keriuhan. Mungkin beberapa orang yang ada di sekitar tempat kejadian. Atau juga mungkin pengendara lainnya. Di tengah keriuhan itu, ponselku berpendar.


Drrt...Drrt...Drrt...


Pendarnya berulangkali tiada henti. Aku yakin kak Keanu sedang mengkhawatirkanku. Keterlambatan ku lah penyebabnya. "Tolong aku, Kak..." rintihku. Dan sekali lagi ponselku berpendar. Hei...bagaimana aku bisa menjawabnya, sementara tubuhku pun sulit untuk digerakkan. Rasanya aku menangis saat itu. Menangis sejadinya. Aku tengah meratapi nasib. Ternyata mendung di hidupku belum usai karena terangnya mentari masih selalu dikalahkan mendung. Sementara pendar cahaya bulan pun belum lagi mampu membasuh luka di hidupku. Untuk sesaat mataku menatap keriuhan di sekitarku. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap. Telingaku pun tak mampu menyimak suara riuh lagi. Semua menjadi diam. Dan begitu lengang. Aku pun berusaha membangunkan tubuhku. Namun sayangnya tubuhku tiada merespon. Benar-benar diam."Bangun Fara...Bangun. Bergeraklah..." teriakku yang ternyata hanya suara angan-angan ku saja. Aku menangis saat itu. Begitu pilu. Begitu putus asa. Begitu gamang, tak tahu harus apa. Dan untuk selanjutnya aku sudah tidak tahu apa-apa lagi. Semua menjadi benar-benar sunyi.


Berlarian dokter dan perawat menghampiriku. Kak Keanu begitu kacau. Matanya tiada henti menatapku dari balik jendela. Jelas sekali ia mengkhawatirkan ku. Aku menangis. Serasa aku meraung hebat. Ya, Robby...aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin merasakan bahagia bersama laki-laki yang sejak kecil hingga kini selalu mencintaiku. Laki-laki yang padanya aku sudah berjanji akan menjadi istrinya saat dewasa. Aku mohon dengan sangat ya, Robby 'Azza Wajalla.


Alat kejut jantung pun beraksi. Berulangkali tubuhku mengejut hebat. Namun tiada hasil. Ku lihat kak Keanu begitu duka. Berulangkali ia menyusut air mata yang sudah tumpah tak terbendung lagi. Berdiri ia di jendela. Tangannya terkepal menempel pada sisi jendela kaca. Semestera itu, usaha para dokter terus berlanjut dan tak kenal putus asa. Mereka terus berusaha melakukan yang terbaik untukku. Aku menangis histeris. Suaraku rasanya sudah begitu membahana menuju seluas angkasa membawa doa dan pinta kepada sang Kholik Robbul'izati. Kemudian bersamaan dengan itu tubuhku kembali bergetar seperti digoncangkan. Setelahnya irama jantungku pun kembali mengisi ragaku. Sumringah kak Keanu sambil memeluk kak Noah yang baru saja menghampirinya. Lama keduanya melakukan itu. Setelah itu keduanya menatapku. Dan kak Keanu berisyarat dengan bibirnya. "I love you, Fara. Bertahanlah. Demi cinta kita" begitu kira-kira aku mengartikan isyarat gerak bibirnya. Aku menangis. Tak sanggup menyaksikan kepiluannya. Dan kali ini seorang dokter sepertinya menyadari hadirnya air mataku ini. Ia pun segera memanggil kak Keanu.

__ADS_1


Berlari kak Keanu setelah mendapat penuturan dokter tersebut. Ia menatapku lekat. Kedua matanya berkaca saat mendapati lelehan air mataku. "Alhamdulillah..." ucapnya sambil mengusap kepalaku dengan lembut, kemudian mengecupnya sebentar sambil menghapus lelehan air mataku yang tak sederas biasanya.


Aku sudah merasakan kembali irama degup jantungku setelah anfal barusan. Ya Allah, ternyata betul jarak kematian itu begitu tipis dengan kehidupan. Hal yang dekat, bahkan sangat dekat. Aku sedang merasakannya kini. Dan semudah membalikkan telapak tangan jugalah Allah membuat suatu ketetapan atas seorang hambanya. Aku semakin sadar hidup dan mati ada di genggaman-Nya. Aku tidak bisa menghindar dari kematian yang sudah Engkau ditakdirkan.


"Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menghampirimu, meskipun kamu berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat tinggi dan kokoh" (Q.S. Annisa: 78)


"Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita semua pasti akan kembali" (Q.S Al-Baqarah: 156).


Aku kembali menangis. Setelah merasakan degup jantung ini barulah aku merasakan nikmatnya hidup. Aku berharap Allah akan memberiku kesempatan kembali untuk merasakan kehidupanku bersama orang-orang yang aku sayangi.


Masih belum mengetahui kapan. Yang pasti aku semakin pilu melihat bagaimana kekhawatiran kak Keanu terhadap kondisiku. Maafkan aku, Kak. Aku tidak menepati janji untuk agar aku berhati-hati ataupun dalam kondisi baik-baik saja. Namun ini bukan kehendakku. Dan juga bukan atas kesalahanku semata. Di luar dari sebuah takdir yang Allah tetapkan, aku melihat penyebab semua ini. Amara...ya Amara lah penyebabnya. Aku menyadarinya. Bahkan seringainya pun sesaat sebelum peristiwa nahas itu masih nyata ku ingat .

__ADS_1


Amara cinta buta mu telah mengeraskan hati dan membutakan mata hati mu. Hingga hak hidup seseorang pun ingin kau rampas. Satu keinginanku, semoga kau segera menyadarinya sebelum semua menjadi terlambat.


__ADS_2