
"Apa ini, Ma...? Permintaan macam apa ini? Dan mama mengancam Keanu? Kenapa, Ma...? Apa yang membuat mama seperti ini? Mengapa mama berubah?" ucap kak Keanu dengan suara sedikit bergetar.
"Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, untuk kita semua. Keanu...!" ucap mama sedikit terisak. "Baik menurut mama, belum tentu untuk Keanu..." ucap kak Keanu. Kali ini ia benar-benar beranjak meninggalkan mama.
Aku yang berdiri di depan pintu, secepat mungkin berlalu. Sedikit ku seret langkahku. Dengan kaki yang belum sembuh sempurna ini, tentu saja langkahku menjadi sedikit terhambat. "Fiuh..." dengusku ketika akhirnya langkah berakhir pada sebuah pintu. Dan baru saja aku melangkah keluar pintu sebuah suara menghentikan ku. "Fara...." ucap seorang laki-laki. Aku terdiam. Karena aku hafal betul siapa si empunya suara. Dia adalah....
"Bang David..." ucapku sambil memutar tubuh. Berdiri bang David dengan senyum khasnya. Ia menatapku lekat. Wuih...ingin rasanya aku berlari memeluknya seperti dahulu. Membenamkan kepalaku pada dadanya sambil menumpahkan segala keluh kesah. Tapi, eits...itu dahulu. Sekarang aku tak mungkin melakukannya. Jika aku melakukannya lagi, bisa-bisa bang David mengira aku tidak bahagia dengan kak Keanu lagi.
"Hei...kok melamun" ucap bang David sambil menjentikkan jarinya. Dan hal tersebut tentu saja membuyarkan lamunanku. "Hei... Bang. Apa kabar?" ucapku sumringah. "Baik Fara. Em, Nyonya Keanu..." ucap bang David sambil tertawa dan mengacak pucuk kepalaku. Ah, bang David ternyata tetap sama dalam memperlakukan ku. Tidak berubah ku rasa. "Aku bahagia melihat Fara berangsur baik. Sekarang sudah tidak memakai tongkat lagi" ucap bang David. "Alhamdulillah... Bang. Ini bukti bahwa mukjizat itu ada" ucapku sambil mengernyitkan wajahku, menggodanya. "Good...inilah Fara yang ku kenal. Semangat dan pantang menyerah" ucap bang David.
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Mataku tiba-tiba menyasar pada sosok yang baru saja melangkah beriringan dengan seorang perempuan. Kak Keanu dan Dania. What...? bukankah tadi kak Keanu berada tak jauh dari ku sesaat setelah ia meninggalkan ruangan? Tapi mengapa kini kak Keanu bersama Dania? Apa kak Keanu berubah fikiran? Astaga...sungguh aku tidak mengerti dengan semua peristiwa yang terjadi.
"Kemanakah ujung lorong ini, Bang?" ucapku sambil menatap langkah kak Keanu. "Em, kantin dan parkiran...." jawab bang David. "Ada apa, Fara..." ucap bang David menatapku. "Fara permisi dahulu. Nanti kita lanjutkan lagi..." ucapku yang terus melangkah tanpa mempedulikan bang David. "Fara...Fara" ucap bang David mengiringi langkah yang ku pacu sedikit cepat. Dan aku tak mengindahkannya sedikit pun, karena ada hal yang lebih penting dari sekedar bercakap-cakap saat ini.
Ayo Fara, kau bisa. Cepatlah...mungkin ini adalah jawaban atas tanya di hati mu. Sedikit terganggu langkah ku karena memang belumlah sempurna kesembuhan kaki ku saat menyusuri lorong rumah sakit yang cukup panajng. Pun demikian, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengejar langkah kak Keanu. "Allah...." ucapku setengah teriak ketika tubuhku goyah. Sepertinya aku terlalu memaksakan diri. Beruntung Allah mengirimkan pertolongan melalui seorang laki-laki bertubuh tegap. Ia berhasil menyangga tubuhku, sehingga tak sampai terjerembab. Dari pakaian yang ia kenakan, jelas ia seorang dokter. Dan sebuah label nama tersemat di bajunya. Dr. Faaz, ku kira itu yang berhasil ku baca. "Nona tidak apa-apa?' tanyanya dengan wajah sedikit terkejut karena aksi penyelamatannya atas apa yang aku alami baru saja. Dan ia menatapku lekat. Ditatap demikian tentu saja aku menjadi rikuh. "Tidak apa-apa. Terima kasih" ucapku gagu sambil membetulkan posisi tubuhku. Secepatnya aku menyeimbangkan dan menguatkan tubuh. "Faaz...Dr. Faaz" ucapnya mengenalkan diri sambil tersenyum menatapku. "Terima kasih Dr. Faaz" ucapku sambil tersenyum. "Sama-sama, nona..." ucapnya terhenti. Aku yakin ia menungguku menyebutkan nama. Namun itu tak kulakukan. Aku tidaklah semudah itu menyebutkan nama pada sembarang orang yang baru ku kenal. Kemudian aku pun berlalu meninggalkan Dr. Faaz yang masih menatap langkahku. "Tunggu, Nona. Siapa namamu?" ucapnya setengah teriak. Aku hanya menyimpan senyum dan meneruskan langkahku.
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Dengan susah payah akhirnya aku sampai di kantin seperti informasi yang ku dapat dari bang David dan beberapa orang yang ku temui. Kemudian kulihat kak Keanu baru saja duduk pada sebuah kursi di sudut kantin. Di hadapannya duduk Dania dengan anggunnya. Rambutnya yang panjang tergerai terkadang melambai tertiup angin. Hidung bangir dengan mata sedikit sipit dan bibir tipis yang merona membuatnya terlihat cantik sekali. "Hah...Dania. Sempurna sekali Allah menciptakan mu, Dania" ucapku lirih sambil menghela nafas panjang. Aku yakin siapa saja laki-laki yang menatapnya akan jatuh hati. Em, apakah kak Keanu pun demikian?
__ADS_1
Ku tajamkan telingaku saat keduanya memulai percakapan. "Maaf, Dania. Aku tidak bisa. Aku tak sanggup mengkhianati cintanya. Baik aku maupun Fara, kami sama-sama saling mencintai" ucap kak Keanu. "Hah, kau munafik Keanu. Dalam hati mu kau pasti memujiku. Betapa cantiknya aku" ucap Dania sedikit angkuh. "Kau salah, Dania. Dalam hatiku tidak ada perempuan lain yang ku puji selain Fara. Kau mungkin tidak mengerti dengan arti cinta, karena kau sibuk membanggakan kecantikanmu. Cantikmu itu masih kalah cantik dari istriku" ucap kak Keanu yang membuat aku tersanjung. Senyumku mengembang, sumringah. Hatiku melonjak kegirangan. Ada bunga-bunga yang bermekaran menghiasi hati ku. Dan menari-nari seirama dengan degup jantungku yang begitu bertalu. Sejenak fikiranku dilambungkan dengan kata-kata kak Keanu. "Terima kasih, kak..." gumamku lirih.
Dania terdiam. Matanya menatap kak Keanu lekat yang sejak tadi menyimpan tatapannya diujung kuncup bunga yang bermekaran di taman dekat kantin. Dan hal itu tentu saja membuat Dania sedikit kesal. "Kenapa kau tidak menatapku, Keanu? Apa kau khawatir jatuh hati seketika kepadaku sehingga cinta pada istrimu bisa sirna seketika juga? Atau saat ini kau sudah jatuh hati pada ku dan kau sungkan mengakuinya?" ucap Dania penuh percaya diri. Yuph...dengan kecantikan yang sesempurna itu tentulah siapa saja akan sesepercaya diri seperti Dania. Apalagi dengan kondisi keluarga yang bergelimang harta, tentu akan menambah rasa percaya dirinya. Terlihat dari gaya nya aku yakin dia hidup bak seorang putri raja. Ah, sempurna hidup mu, Dania. Tapi dari semua itu aku pun yakin kau memiliki kekurangan. Kau haus kasih sayang. Terbukti kau mau saja di jodohkan dengan laki-laki yang jelas-jelas sudah mempunyai istri. Ah, mengapa dari sekian laki-laki, kau mengiyakan perjodohan dengan kak Keanu? Apakah kau pun mencintainya?
Kak Keanu menghela nafas. Matanya tetap menatap kuncup bunga. Atau sesekali melihat Dania sambil lalu. "Aku tidak menatapmu, karena tidak benar menatap perempuan yang bukan milikku. Karena milikku yang sah dimata hukum dan agama adalah istri ku, Fara. Apa kau tidak tahu itu?" ucap kak Keanu.
"Kau naif sekali, Keanu. Begini saja. Aku menantangmu. Kita akan melakukan permainan. Dan kita harus saling jujur diakhir permainan. Bagaimana?" ucap Dania. Dan kak Keanu sepertinya tidak keberatan dengan apa yang diusulkan Dania. "Baiklah. Apa permainannya?" ucap kak Keanu.
"Aku akan tinggal bersama kau dan istrimu selama satu minggu. Jika selama waktu tersebut kau tidak jatuh hati kepada ku, maka aku akan pergi dari kehidupanku. Bagaimana?" ucap Dania tersenyum menggoda. "Permainan macam apa itu?" ucap kak Keanu gamang. "Ayolah...Kau takut, Keanu?" ucap Dania. "Tidak..." ucap kak Keanu yakin. "Lalu...kau menyetujuinya bukan? ucap Dania dengan kerling mata yang begitu menggoda. Ah, ini perempuan sangat berbahaya. Jangan menyetujuinya, Kak. Itu permainan yang sangat membahayakan. Dengan kecantikan dan kepiawaiannya merayu, aku menjadi kurang yakin akan keteguhan cintamu. Jangan kak...
"Aku menyetujuinya..." ucap kak Keanu. "Good...aku suka dengan keyakinanmu itu" ucap Dania yang tak terlalu ditanggapi kak Keanu. Dania tersenyum mendapati polah kak Keanu tersebut. "Dan permainan ini pun ada konsekuensinya" ucap Dania lagi yang membuat kak Keanu menatapnya lalu.
Deg.
Ya, Allah...ujian macam apa lagi ini. Ternyata perempuan pilihan Mama itu begitu agresif. Apakah kak Keanu mampu tidak mengindahkan segala kesempurnaan yang Dania miliki? Ya, Robby...aku harus apa? Ingin rasanya aku keluar dari persembunyianku dan mencaci-makinya. Namun sungguh tak elegan rasanya jika aku sampai melakukannya.
"Aku..aku..." kak Keanu ragu. "Kenapa? Kau ragu? Kau mulai ragu dengan kekuatan cintamu pada istrimu" ucap Dania tersenyum sumringah. Kak Keanu menggeleng. Matanya masih menatap kuncup bunga yang bergoyang ditiup angin lalu. "Baiklah aku menyetujuinya..." ucap kak Keanu.
__ADS_1
Mendengar itu Dania tertawa. "Satu lagi. Kau tidak boleh memberitahu permainan kita ini kepada istrimu. Dan aku tunggu kabar kapan permainan akan dimulai" ucap Dania terkekeh sambil berlalu. Terdiam kak Keanu. Kepalanya tertunduk. Nafasnya turun-naik sedikit berat. "Kak Keanu..." ucapku lirih. Ada rasa yang aku sendiri gagal memaknainya saat menatapnya demikian. Ah, apa yang harus aku lakukan?
Sedikit gontai, aku lalui lorong rumah sakit meninggalkan kak Keanu yang masih duduk terpekur. Dan sesekali aku berhenti untuk sekedar mengistirahatkan kaki. Pun juga...karena hatiku merasakan kegamangan yang tak kunjung hilang walau aku sudah menampiknya dengan argument-argument yang dapat diterima akal.
Hah...ini perjudian ku rasa dengan cinta sebagai taruhannya. Sebuah kegilaan yang tak dapat diterima hati dan fikiran kurasa. Kau akan terbakar kak, jika hatimu menjadi gamang. Tapi...kau boleh tenang. Karena aku akan menjadi air yang akan selalu menyirami hatimu dengan cintaku sehingga tiada api lain yang akan mampu membakarmu. Ataupun membuatmu berpaling dariku. Aku tak kan membiarkan cintaku kalah. Kita akan hadapi ini dengan semua kekuatan cinta kita, Kak. Aku yakin kita bisa.
"Hei...kita bertemu lagi" ucap dokter Faaz yang baru saja melewatimu. Langkahnya surut beberapa langkah hingga tepat berdiri di hadapanku. "Lelah...?" tanyanya. Aku tersenyum. Dan tak ku duga sama sekali, dokter Faaz langsung berjongkok di hadapanku dan meraih kaki ku. Kutepis perlakuannya tersebut. "Hei, aku dokter. Apalagi ini bidang ku" ucapnya. "Tapi aku bukan pasien mu, dokter" ucapku. "Dokter tetaplah dokter. Pasien ku atau bukan. Asal ada yang membutuhkan pertolongan, aku pasti menolongnya" ucap dokter Faaz yang tersenyum dan sesekali menatapku. Sementara tangannya mulai memberikan refleksi pada kaki ku. "Jangan terlalu memaksakan aktifitas pada kakimu. Dan jika tersa sakit tidak boleh dipijat. Cukup di luruskan, di gerakkan sesekali dan di usap-usap untuk memberikan kenyamanan. Akan lebih baik jika di kompres dengan air hangat" ucapnya panjang yang kusimak betul-betul.
"Bagaimana...?" tanyanya sambil tersenyum. "Em, lumayan. Terima kasih atas bantuannya" ucapku sambil membalas senyumnya. "Jangan sungkan, jika membutuhkan bantuanku nona bisa menghubungiku" ucapnya lagi sambil menyodorkan selembar kartu nama kepadaku. Aku pun menerimanya. "Terima kasih, dokter" ucapku. "Berjanjilah akan menghubungiku jika kau membutuhkanku suatu hari nanti. Em, beberapa menit lagi pun boleh..." ucapnya tertawa sesaat sebelum berlalu. Ah, satu lagi laki-laki aneh kutemui hari ini.
Pukul sebelas lewat lima puluh lima menit. Aku sudah berada dalam mobil sport silver, menunggu kak Keanu. "Maaf, terlalu lama ucap kak Keanu saat duduk di belakang kemudi. Ia pun menatapku lekat. "Apa...?" tanyaku. "Em...kita akan mendapat kunjungan dari seorang teman. Ia anak dari teman mama. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di wilayah kita. Dan selama seminggu ia akan menginap di rumah kita. ucap kak Keanu sambil menatapku. Teman...? ia bukan teman, Kak. Dia perempuan yang mencoba mencuri mu dari ku. "Kau tidak keberatan kan?" ucap kak Keanu lagi. "Mengapa tidak di hotel saja?" tanyaku. "Em, mama yang mengusulkan. Karena ia anak dari teman mama" ucap kak Keanu. Sampai disini sebuah kebenaran. Namun tentang maksudnya tentu aku tak akan suka. Dia akan mengambil mu dariku, Kak. Tapi baiklah...kita mulai permainan ini. Aku akan ikuti sejauh mana permainan ini berlangsung.
"Baiklah. Aku tidak keberatan sama sekali. Em, tapi...apakah dia perempuan? Apakah dia cantik? Apakah dia..." ucapku sambil membalas tatapannya. Ia tersenyum sambil mengacak pucuk kepalaku. "Kau cemburu, sayang? Em, dia memang perempuan. Dia juga cantik, tapi dia tidak secantik dirimu. Hanya Fara ku saja perempuan tercantik dunia ini" ucap kak Keanu. Ces...rasaku lumer. Hilang gundahku.
"Gombal..." ucapku dengan rona merah di wajah. "Sungguh...Kemarilah" ucap kak Keanu berisyarat agar aku mendekat dalam dekapannya. "Kita akan menghadapi semuanya dengan cinta kita" ucap kak Keanu lirih seakan ia memberitahu ku akan peristiwa yang akan terjadi esok hari. Pun demikian, aku sudah mengetahuinya. Tenanglah, kak. Aku akan buktikan bahwa aku adalah istri terbaik yang layak untuk mu.
Pukul dua lewat lima belas menit. Aku tengah bergelayut manja di ruang tengah sambil menikmati tayangan televisi dari salah satu stasiun TV swasta. Kisah Drakor (\=Drama Korea) yang sedang di gandrungi. Campur aduk rasa yang dihasilkan saat menyimak kisahnya. Kisah perjuangan seorang perempuan yang mempertahankan harga diri dan cintanya. Wah....mirip dengan kisah ku nanti, jika perempuan itu benar datang ke rumah ini.
__ADS_1
Ku tatap kak Keanu lekat dengan sedikit mendongakkan wajahku karena benar aku berada dalam dekapannya yang sesekali keningku ia hadiahi kecupan nan lembut. Nice... Terima kasih, kak Keanu...