Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 108. Dia anak laki-laki ku


__ADS_3

Mataku tiada henti menatap bocah kecil yang tengah bermanja-manja dalam buaian mama Wina. Bocah laki-laki itu tampak sumringah ketika jemari mama Wina menyasar pada bagian tubuh gembulnya. Kekeh nya begitu renyah mengisi udara siang ini. Aku tersenyum menatap polah bocah laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rafan, anak laki-laki ku sendiri. Usianya telah genap satu tahun.


Berlari tertatih Rafan di atas hamparan pasir putih. Diusianya yang baru genap satu tahun, rupanya cukup merepotkan jika harus melangkah cepat mengikuti langkah mama Wina yang sejak tadi berada di depannya. Namun Rafan tak patah semangat. Ia akan selalu bangkit setiap kali terjatuh. Sorakan dari mama Wina, Bu An ataupun mbak Min telah menguatkan hatinya untuk kembali melangkah atau mungkin berlari. Aku tersenyum saat kaki mungilnya meninggalkan jejak pada hamparan pasir putih. Tak lama kemudian jejak itu memudar di sapu ombak yang dengan selalu setia menyapa tepian pantai.


Tertawa bocah kecil laki-laki itu saat tubuhnya di terbangkan sesaat di udara ketika langkahnya mampu menyertai mama Wina. Pun dengan mama Wina, gurat bahagianya begitu ketara dan tak terelakkan lagi. Lagi-lagi aku menghela nafas cukup panjang menyaksikan semuanya. "Cucu Oma hebat...! Jadilah kuat seperti papa dan mama mu, Rafan..." ucap mama Wina.


Deg.


Ada desiran aneh yang menelusup di ujung hatiku saat mendengar ucapan mama. Dan tak terasa bulir bening pun mulai terjun bebas menghiasi sebagian wajah. Dan aku pun melihat tangan mama yang mengusap ujung matanya. Aku yakin ia pun tengah merasa pilu. Rupanya waktu belum lagi menghapus sedihnya karena kepergian anak laki-laki nya itu. "Mama..." ucapku lirih yang terus menatap mama dari balik pohon yang cukup besar.

__ADS_1


Terduduk lesu sambil ku sandarkan tubuh pada pohon sambil menyembunyikan pilu dengan mengatur nafas. Mataku pun terpejam. Tangisku pun tak kunjung usai ketika gerimis di hati mulai berubah menjadi badai. Aku terisak hebat. Bahu ku terguncang saat seulas wajah tampan menghantui ingatanku. Dia adalah kak Keanu, suamiku sendiri. Satu tahun sudah sejak kepergiannya seiring usia Rafan, anak laki-laki semata wayang kami itu.


"Mamamama..." suara seorang bocah. Aku terkesiap. Sesegera mungkin aku menyadari kehadiran bocah laki-laki gembul yang tengah menatapku dengan mata bulatnya. Sementara tangan mungilnya menarik-narik ujung kerudungku yang menjuntai hampir menyentuh tanah. Aku tertegun sejenak menatapnya. "Rafan..." ucapku dengan suara bergetar. Tak ingin ia melihat tangisku, tanganku pun mulai menyasar pada wajah dan menyusut tangis. Bergetar tanganku meraih tubuh gembulnya dalam dekapanku. Ku kecupi pipi gembulnya penuh haru.


Kerinduan yang membuncah mendadak sirna. Dan rasa pilu itu kini mulai berganti menjadi suka cita. Senyumku pun mengembang menghiasi wajah dan segenap jiwa. Yah, bocah laki-laki ku ini sudah menjadi obat mujarab bagi pilu yang selama ini menjalari jiwa.


"Non Fara..." ucap Bu An membuyarkan lamunanku. "Ya, Bu...?" ucapku menatapnya sendu. Ada perih di ujung hati saat tangannya meraih Rafan, anak laki-laki ku. "Sebentar lagi, Bu An" pintaku memelas. "Maaf non Fara. Jika terlalu lama, Bu An khawatir nyonya Wina curiga" ucapnya. Aku pun terdiam. Dan akhirnya aku pun membiarkan bocah laki-laki ku direngkuh dari buaian ku. Meronta Rafan seakan enggan berpisah dengan ku. Bahkan rengekannya pun semakin menjadi.


"Mamama...." ucapnya membuat ku semakin pilu. Namun rengekannya itu tak mampu menghentikan langkah Bu An, asisten rumah tangga yang disusupkan kak Mirza sebagai pengasuh Rafan sehingga dapat menjadi mata dan telingaku akan keberadaan anak laki-laki semata wayang ku itu.

__ADS_1


Aku terisak. Kedua bilah tanganku menutup wajah tak sanggup menatap kepergian bocah gembul yang masih saja terus merengek dan menatapku. Kemudian dengan pilu aku pun melambaikan tangan sambil mengurai senyum walau sedih terus menjalari jiwa. "Kita akan bertemu lagi, sayang. Kuat dan menjadi sabarlah, sayang. Kuat seperti mentari yang selalu nyata walau badai tengah melanda, dan sabar bak rembulan yang menanti siang menjelang sambil membagi lembutnya cahaya menemani malam. Mama menyayangimu..." ucapku lirih sambil menahan pilu.


Aku menghela nafas panjang. Mataku terpejam sesaat. Mencoba merasai desir angin lalu yang menyapa tubuhku. Belaian hembusannya pun ternyata mampu menerbangkan ujung kerudungku beberapa saat. "Fiuh..." dengusku. Aku pun berdiri menatap laut lepas nan luas. Berucap terima kasih atas kesetiannya menerima setiap bulir air mata ku yang jatuh pada tubuhnya. Bulir sedih yang ku titipkan pada riak ombak yang tiada lelah datang dan pergi menyapa tepian pantai. Bulir sedih yang kubiarkan saja pergi agar dipecahkan dalam deburan ombak yang menghantam batu karang. Bulir sedih yang kubiarkan saja hilang bersama gelombang pada lautan nan luas. Aku pun membiarkan saja kaki ku basah di basuh riak ombak. Sambil berharap sedihku berkurang atau hilang tak berkesan.


"Non Fara..." ucap Azam yang dengan cekatan memayungi ku. Rupanya rintik hujan mulai menyapa bumi. Aku tersenyum menatapnya sekilas untuk kemudian memutar tubuh meninggalkan tepian pantai. Setengah berlari aku menyusuri hamparan pasir putih dan meninggalkan jejak semu di atasnya sambil menyimpan cerita indah. Cerita bersama anak laki-laki ku yang menjadi kenangan indah hari ini. Sedikit kuyup tubuhku karena tampias air hujan yang ditiup angin lalu. Bahkan hawanya pun mulai membuat gigil tubuhku.


Kemudian aku menghempaskan tubuh pada kursi di sebelah kemudi. Mataku terus menyasar pada tempat dimana Rafan tadi berada. Rasanya tawa renyahnya di sela debur ombak itu akan mengisi jiwaku yang pilu. Dan yakin ku, pilu ku akan berangsur menjadi suka. Walau hati tetap gerimis karena aku tak mampu mendampingi tumbuh kembangnya, namun pertemuan sesekali ku dengan nya membuatku sedikit menyimpan harapan yang membahagiakan di suatu waktu pada suatu masa.


"Kita mampir ke toko dahulu, ya..." pintaku pada Azam, laki-laki yang diperintahkan kak Mirza atau Aiman untuk menjagaku. Hm, semacam bodyguard lah. Hehe... Kemudian Azam pun tersenyum sambil mengangguk takzim. Sementara tangannya mulai men-starter dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesaat derunya mengisi udara walau terdengar samar karena deburan ombak atau suara rintik hujan yang makin menjadi.

__ADS_1


__ADS_2