Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 91. Cerita Di Balik Cerita


__ADS_3

Bunga kuncup telah lama kembang, mengiringi lembayung senja yang mulai memudar. Kembangnya yang indah terlihat menari di bawah kendali sang Bayu yang datang dan pergi sesuka hati. Kembang pun mulai bernegosiasi dengan mentari. Dia berbisik manja pada mentari untuk tidak segera pergi. Karena kembang tak ingin diganti dengan kuncup yang baru kembang lainnya.


Pertemanan seperti itu tentu saja di tolak mentari. Karena mentari tahu bagaimana tautannya dengan sang waktu yang tak bisa ia tentang. Dan karena mentari juga tahu pasti pada siapa harus menaati. Ya...tentu saja pada sang pengatur perputaran, sang pemilik takdir. Tuhan 'Azzawajalla.


Pagi ini, mentari sudah kembali pada tugasnya, yaitu membagi hangatnya sinar ke seluruh bumi. Pada siang dan juga pada malam. Dan pagi ini kembali kuncup bunga baru telah kembang. Rekahannya begitu menggoda hati untuk mencumbui aroma dan rupanya. Menciumi aroma wewangiannya. Dan mencumbu rupa nan rupawan-nya. Si kembang lama telah terganti, negosiasinya telah gagal. Dan tak mampu menahan tumbuhnya kembang baru.


Pagi ini aku menyaksikan perputaran kehidupan. Bak sebuah pepatah patah tumbuh, hilang berganti. Mungkin seperti itulah perasaan ku saat ini. Berkat bergantung pada sebuah keyakinan, maka cinta yang pernah mendiami jiwa dan sudah lama menghilang kini menyata kembali. Cinta yang berbeda ku rasa. Cinta yang tak mampu ku biarkan pergi walau tersedia alasan untuk meninggalkannya atau pun membiarkannya pergi. Cinta yang tak biasa, karena ini adalah cinta yang sebenarnya.


Pukul lima lewat empat puluh menit. Aku tersenyum menatap laki-laki yang sedang getol berolah jurus di hadapanku. Sebagian tubuhnya yang terbuka, memperlihatkan otot-otot dan bentuk tubuh yang begitu manly. Ditambah lagi tubuhnya yang sudah bermandikan peluh seiring kepiawaiannya dalam memamerkan setiap gerakan jurus membuatku tak sanggup memalingkan tatapan sedetik pun.


Kemudian ku lemparkan sebuah botol air mineral padanya. "Air minum, Kak..." ucapku cepat sedikit lantang. Hmm, bukan kak Keanu namanya jika ia tak mampu mengambilnya dengan cara yang membuatku semakin terpukau. Yuph...kak Keanu memutar tubuh di udara untuk menjangkau air mineral tersebut. Dan mengakhirinya dengan pose tubuh seperti pada film-film action. Ya, Robby...auto meningkatlah ketampanannya.


Kak Keanu tersenyum menatapku. Matanya mengkerling menggodaku. Melihat itu, aku langsung melangkah menghampirinya. Dan aku menyodorkan handuk yang tak ia gubris. Aku tersenyum dan mengerti maksud perilakunya tersebut. Kemudian kak Keanu pun meneguk air mineral sesaat setelah ia duduk bersandar pada dinding balkon. Ku seka peluh yang membanjiri tubuhnya sambil sesekali menatap wajahnya yang tampak sumringah.


"Kau bahagia, sayang...?" tanyanya sambil menyenggol ku dengan lengan kekarnya. Sedikit terdorong menjauh, namun kemudian aku langsungmembetulkan posisi duduk ku. Dan memeluk lengan kekar itu. "Bahagia sekali. Terima kasih ya..." ucapku yang semakin mengeratkan dekapanku pada lengannya. Ya..ini adalah bentuk lain ungkapan bahagiaku setelah badai berlalu. Kak Keanu tetap memilih tidak menduakan ku . Hati dan fikirannya tetap berpadu untukku. Hal ini diutarakan setelah genap satu Minggu tantangan Dania berakhir.


Flashback On


Pukul Sebelas lewat tiga puluh menit. Malam terus menjauh. Perbincangan ini dimulai setelah kami berdua menyelesaikan pertikaian antara dua hati di kamar yang dipenuhi drama dan intrik ku rasa, hehe...Tapi aku bersyukur kak Keanu mengambil keputusan seperti yang aku inginkan. Karena seperti itu jugalah yang kak Keanu inginkan.


Aku menatap kak Keanu yang sendu bergantian menatap mama dan aku. Sementara Dania yang duduk tak jauh dari kak Keanu menatap manja setiap detil wajah kak Keanu. Dasar perempuan tak tahu malu. Begitu gerutuku dalam hati. "Ucapan mama bagai perintah bagiku. Tapi kali ini Keanu minta maaf. Keanu tidak bisa memilih Dania. Karena hati dan jiwaku hanya memilih Fara, istriku" ucap kak Keanu memegang tangan mama dan mengecupnya lembut. Mendengar itu hatiku semakin bersorak. Entah keberanian dari mana kak Keanu dapatkan saat ini hingga ia begitu leluasa berujar di hadapan mama.


Wajah mama semakin sendu saat menatap kak Keanu. Diusapnya wajah kak Keanu perlahan. Ada sedih di ujung tatapannya yang ku tangkap. "Mama mengerti. Dan mama tidak akan memaksa lagi. Berbahagialah..." ucap mama sambil menyusut air matanya.


"Fara... selamat, nak. Kau berhasil mempertahankan cintamu. Buat Keanu bahagia. Dia harta mama satu-satunya" ucap mama yang menatapku lalu. "Baiklah, Fara. Kau menang. Tapi suatu saat Keanu akan menjadi milikku" ucap Dania sambil berdiri. Matanya menatapku kesal.


Pukul dua belas lewat lima belas menit. Dania memaksa keluar dari rumah. Dan akhirnya bersama mama keduanya berlalu tanpa kata. Walau sudah berulangkali kak Keanu dan aku mencegahnya, namun Dania bersikeras dengan keinginannya. Dasar keras kepala. Sementara mama merasa bersalah terhadap Dania, untuk ia memilih pergi bersama Dania. Hal tersebut untuk menenangkan Dania.

__ADS_1


Flashback Off


"Tapi....apa mama tidak apa-apa, Kak? Aku khawatir..." ucap ku yang rebah pada dada bidangnya. Kurasakan kak Keanu menghela nafas panjang. "Mungkin beberapa waktu akan ada masalah. Tapi seiring waktu mama akan baik-baik saja" ucap kak Keanu. "Maafkan aku ya, Kak..." ucapku. "Hei... Kenapa? Kita akan baik-baik saja" ucapnya sambil mendekapku dan menghadiahi keningku dengan sebuah kecupan nan lembut. Wuih...melayang sudah rasa dalam dada ini. Rasanya beterbangan bak kupu-kupu di taman yang dengan rajinnya mencumbu wewangian kembang warna-warni.


Drrt...Drrt...Drrt...


Ponsel ku berpendar. "Kak Noah..." ucapku saat melihat kontak yang tertera. Pun demikian aku hanya menatapnya saja. Dalam hati aku menunggu reaksi kak Keanu. "Terimalah, sayang..." ucap kak Keanu sambil mengacak pucuk kepalaku. Bergembiralah rasa di dada saat mendengar izin kak Keanu. Kemudian aku pun langsung menerima panggilan kak Noah tersebut. "Ya, kak..." ucapku membuka pembicaraan. "Em, ya. Fara tidak lupa. Baik kak..." ucapku menanggapi setiap ucapan kak Noah.


Kak Keanu menatapku lekat saat aku menyudahi perbincangan singkat tersebut. Aku pun menjelaskan hal Ikhwal perbincangan dengan kak Noah tersebut. Senyum pun terkembang menghiasi wajahnya, saat aku menutup ceritaku dengan sebuah dekapan dan kecupan pada dada bidangnya. "Aku akan menyertai mu, sayang..." ucap kak Keanu. "Sungguh...?" ucapku sumringah. "Ya..." ucap kak Keanu menganggukkan kepala dan tersenyum menatapku.


"Tapi sebelum itu...aku ingin ini" ucapnya sambil menghujani ku dengan rasa yang membara. Aku pun terhanyut pada buaiannya. Bak air pegunungan yang mengalir, begitulah perasaan ku saat ini. Kadang bergelora, kadang mengalun syahdu seiring gemericik setiap riak sungai yang dicumbu bebatuan ataupun dahan pohon yang meliuk menyapa tubuh sungai karena tiupan angin lalu.


Aku terus menatap wajah tampan kak Keanu yang terus menatapku. Ada gelora yang kian membara saat ia menyusuri tubuhku yang rebah pada peraduan biru. Berulangkali erangan itu menghiasi setiap irama yang tercipta. Ah, ini adalah kenikmatan yang tak terelakkan lagi. Saat deru nafas kian berpadu dan peluh mulai membasahi tubuh, saat itulah rasa ini kian membuncah. Antara kelegaan, kegilaan dan gelora yang membara serta tak mampu di cegah. Ini adalah sebuah kenikmatan yang tak terelakkan lagi. Kenikmatan yang terjalin karena dua insan yang saling mencinta. Semoga senantiasa demikian.


Pukul tujuh lewat lima belas menit. Aku masih rebah setelah pertarungan pagi ini. Ku lihat kak Keanu sudah rapi. "Kak..." ucapku saat menyadari dia sudah duduk di sebelahku. "Maaf, sayang..sepertinya aku tak dapat menyertaimu hari ini. Aku ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Tiba-tiba saja ada meeting penting. Maaf ya, sayang..." ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku. Aku pun mengangguk dan tersenyum menatapnya.


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Ku kecup punggung dan tangan kak Keanu dengan takzim. Matanya berbinar saat aku melakukannya. "Fara tak antar kakak sampai bawah, tak apa ya?" ucapku manja sambil menggelayuti lengannya. "Ya..tidak apa-apa" ucap kak Keanu. Dan sekali lagi ia mengecup kening ku.


Kutatap punggung kak Keanu yang semakin menjauh dan menghilang di balik dinding. "Ya, Robby...lancarkan segala urusan suamiku. Aamiin..." begitu doa singkatku. Doa yang tak kan pernah pupus dari lidah ku.


Pukul delapan lewat lima belas menit. Aku menuruni tangga. Langkahku sedikit kupaksa cepat, karena kak Noah sudah menunggu beberapa waktu saat aku bersiap tadi.


"Kak..." ucapku saat duduk disebelahnya. Wajahnya tak begitu bersih karena ada goresan luka dan memar. "Aku baik-baik saja, sayang..." ucap kak Noah saat menyadari aku sedang menatapnya khawatir. "Suami mu, kemana?" tak kak Noah lagi. Kali ini sambil melajukan mobil sport hitam dengan kecepatan sedang. Pun demikian, raungannya tetaplah terdengar gahar. "Em, semula ingin menyertai tapi ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan" ucapku menjelaskan. Ku lihat kak Noah mengernyitkan dahinya. Aku yakin ada kata yang tak mampu ia ucap. "Ada apa, Kak...?" tanyaku penasaran setelah melihat reaksinya itu.


"Kau bahagia menikah dengan Keanu?" tanya kak Noah. Pertanyaan yang membuatku penasaran setelah melihat reaksinya sebelumnya. Bukankah kak Noah tidak mempermasalahkannya saat awal pernikahan kami dulu? Bahkan ia begitu bahagia. Tapi hari ini, mengapa terasa berbeda? Apakah ada sesuatu yang terjadi?


Aku tersenyum dan menatapnya lekat. Lebih tepatnya menyelidik. "Syukurlah jika kau bahagia. Aku turut bahagia..." ucap kak Noah. Di ujung tatapannya lagi-lagi aku melihat kegamangan. Sesuatu yang tidak seperti biasanya. Ah, rasanya begitu sesak berteka-teki seperti ini. Entah aku harus bagaimana untuk mengetahui kegamangan macam apa yang sudah mengusik binar mata kak Noah.

__ADS_1


Pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Mobil sport hitam kak Noah memasuki halaman sebuah rumah. Ini adalah kali kedua aku mengunjungi rumah tersebut. Dokter Faaz, seperti janji yang sudah terucap bahwa ia akan membantu dalam penyembuhanku.


"Manusia hanya berusaha, Allah yang menentukan hasil"


Berdiri dokter Faaz di ambang pintu, menyambut kedatangan kami. Senyumnya mengembang saat menatapku. "Masuklah..." ucapnya. "Kau tidak kesepian sering ditinggal suami mu?" ucap dokter Faaz. "Ayolah...Faaz. Kerjakan saja tugas mu. Yang lain tak penting" ucap kak Noah sambil menepuk pundak dokter Faaz. "Ho...hi, jangan bilang jika adikmu masih buta tentang suaminya?" ucap dokter Faaz.


Deg.


Apa yang dimaksud dokter Faaz dengan "buta"? Apakah dokter Faaz mengenal kak Keanu? Penasaranku semakin buncah hingga wajahku menampilkan apa yang ku rasa. Bibir ku hampir mengeluarkan kata bermaksud menghilangkan rasa penasaranku. Namun urug oleh ucapan dokter Faaz kembali. "Ah, sudahlah. Aku hanya bergurau" ucapnya. Mustahil hanya berupa gurauan. Sementara wajahnya saja mencerminkan hal yang bukan sekedar gurauan.


Pukul sembilan lewat lima menit. Ada burung kecil yang menyapaku. Kepak sayapnya hingga menyentuh jendela kaca di sebelah kanan ku. Sesekali ia bersuara. Suaranya begitu kunikmati. Karena asyiknya menyimak polah si burung kecil, fokusku tidak begitu pada terapi yang tengah dilakukan. Rasanya menjadi sedikit hambar, walau masih terasa.


"Burung itu seperti kau, Fara. Tak bisa masuk jauh ke dalam. Cukup pada batas yang sudah ditentukan saja. Pun demikian, kita bisa lihat burung itu bahagia dengan cicitnya. Kau pun demikian" ucap dokter Faaz tersenyum menatapku.


"Banyak bicara kau, Faaz. Jangan menimbulkan tanya besar" ucap kak Noah sambil mengepalkan tangan ke arah dokter Faaz sambil sedikit membulatkan matanya. Terkekeh dokter Faaz mendapat ancaman tersebut. Ah, obrolan yang membuatku semakin penasaran. Ku tatap bergantian keduanya dengan sejuta tanya yang ada.


"Selesai..." ucap dokter Faaz sambil tersenyum menatapku. "Terima kasih, dokter" ucapku tersenyum. "Hei, panggil kakak saja. Anggap saja aku kakak keduamu setelah kak Noah mu itu" ucap dokter...em, kak Faaz. Tangannya berisyarat ke arah kak Noah yang tengah duduk tak jauh dari ku. "Kalau aku ogah jadi saudara mu, dokter Faaz. Tapi kalau Fara bersedia apa boleh buat" ucap kak Noah diiringi tawanya.


"Perwira sotoy..." canda dokter...em, kak Faaz. "Dokter galau..." kali ini kak Noah membalas candaan kak Faaz. Ah, astaga...ini candaan norak yang pernah ku dengar. Dua orang dewasa bergurau bak bocah ingusan yang saling melempar ejekan. Ah, ada-ada saja. Tapi jujur aku menjadi terhibur karenanya. Anggap saja sejak melihat dua komedian yang tengah beraksi. Hehe...


"Fara, minum obat ini. Aturan minumnya sudah saya tulis. Jangan terlambat ya" ucap kak Faaz yang tersenyum menatapku. Senyum yang biasa saja menurutku. Tapi...melihat tatapannya aku jadi sedikit tertegun. Tatapan yang sepertinya ku ingat. Tapi entah kapan dan dimana.


Brrak...!!


Pintu ruangan di buka paksa. Berdiri kak Keanu di ambang pintu. Nafasnya sedikit tak beraturan. Sementara matanya bergantian menatap kami bertiga. "Ah, bukan Keanu namanya jika datang tidak berisik dan tidak penuh aksi" ucap kak Faaz sambil berdiri. "Dokter mesum...Aku tidak akan mengizinkan istriku jika tahu yang ia temui adalah kau" ucap kak Keanu dengan suara menggeram. Sebelah tangannya terkepal, sementara sebelahnya lagi mencengkram kerah kemeja kak Faaz.


Aku begitu terkejut melihat polah kak Keanu. Ada apa sebenarnya? "Hei...cukup!" ucap kak Noah mencoba menengahi. Tapi usaha rupanya menjadi nihil. Karena yang terjadi keduanua justru beradu jutos. Aku terpekik saat kak Keanu berhasil menyarangkan sebuah tendangan pada tubuh kak Noah. Pun sebaliknya, saat jurus kak Noah hampir mengenai kak Keanu. Bagaimanapun juga keduanya adalah orang yang special bagi ku.

__ADS_1


"Kak....!" teriakku histeris.


To Be Continued...


__ADS_2