
Pukul delapan lewat lima menit. Aku yakin ini malam hari. Hal ini pun diamini oleh Luna yang kini sudah berdamai denganku. Karena aku adalah gadis istimewa, begitu mami maghdalena yang dapat menghasilkan jutaan rupiah dalam semalam maka aku pun memperoleh hak istimewa. Apa pun keinginanku, maka akan dipenuhi kecuali keinginan untuk pergi dari tempat tersebut. Pun demikian aku tidak pernah memanfaatkan hak tersebut. Satu permintaanku yang dianggap aneh, mengada-ada dan jadi bahan tertawaan mereka adalah saat aku meminta mukena dan sajadah. Namun lagi-lagi, alih-alih gadis istimewa maka mami Maghdalena meluluskan permintaanku tersebut.
Pukul delapan lewat sepuluh menit. Aku khusyuk dalam sholat isya. Setelah empat rakaat aku kembali duduk bertafakur. Bermunajat memohon segala pertolongan-Nya atas hidup ku. Lama aku menengadahkan kedua tangan memanjangkan doa doa yang sepertinya tidak akan pernah habisnya. Berurai sudah air mataku dalam doaku malam ini. Semoga ini menjadi nyata sesegera mungkin. Begitu harapanku.
*HIDUP bukanlah suatu tujuan, melainkan Perjalanan, maka nikmatilah
HIDUP adalah Ibadah, tunaikanlah.
HIDUP adalah Tantangan, hadapilah
HIDUP adalah Anugerah, terimalah
HIDUP adalah Pertandingan, menangkanlah
HIDUP adalah Tugas, selesaikanlah
__ADS_1
HIDUP adalah Cita-cita, capailah
HIDUP adalah Misteri, singkaplah
HIDUP adalah Kesempatan, ambillah
HIDUP adalah Janji, penuhilah
HIDUP adalah Keindahan, Syukurilah
HIDUP adalah Teka-teki, pecahkanlah
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Aku merapikan mukena dan sajadah yang baru saja ku pakai. "Astaghfirullah...." ucapku setengah teriak saat mendapati sosok lelaki yang mami Maghdalena sebut sebagai tuan Darius. Ia menatapku sinis. "Apa yang kau dapat dari ibadahmu itu?" tanyanya. Aku diam tak bergeming. Ku dekap mukena dan sajadah erat. "Kalau Tuhan itu ada mungkin aku tidak seperti ini. Kalau Tuhan itu ada, mungkin kau tidak di sini. Panggil Tuhan mu agar bisa selamat dari ku malam ini" ucapnya sambil mendekatiku. Langkahnya semakin cepat. Tangan kekarnya mencoba menggapai tubuhku. Matanya menatapku seakan ingin melahap ku. Sekuat tenaga aku berusaha menghindari sergapan nya. Namun di suatu kesempatan ia berhasil meraihku. Ditariknya tubuhku hingga di bibir kasur. Aku terus meronta. Namun lagi-lagi ia berhasil mendekap ku dan mendudukkan ku pada pangkuannya. "Biarkan seperti ini sebentar saja" ucapnya yang mendekap ku erat sambil merebahkan kepalanya di punggung ku. "Baru kali ini aku merasakan kehangatan" ucapnya lagi. Aku menyendu mendengar ucapannya. Setiap masalah pasti ada sebabnya. Pun demikian dengan tuan Darius ini.
"Perempuan jalang....!" teriak seorang perempuan sambil memukul wajahku. "Apa yang kau lakukan, Sonia..!" ucap tuan Darius sambil menarik lengan perempuan itu. Sekali lagi ia berhasil menendang ku walau dalam cengkraman tuan Darius. Aku terduduk menahan sakit. Ada darah yang mengalir dari sudut bibirku. Aku menangis sejadinya hingga Luna datang memelukku. Begitu pun mami Maghdalena. "Beginilah perempuan-perempuan seperti kita, Fara" kata qmami. "Mengapa bisa kecolongan, mami? Kau lengah...!" kata tuan Darius geram. "Maaf, tuan..." kata mami Maghdalena. "Aku akan membawa Fara dari tempat ini" kata tuan Darius tiba-tiba. "Tapi tuan..." kata mami Maghdalena terhenti saat tangan kekar tuan Darius mencengkram wajahnya. "Tapi katamu..." kata tuan Darius membulatkan mata yang membuat bergidik siapa saja yang melihatnya. "Baik, tuan...." kata mami Maghdalena dengan wajah kecut.
__ADS_1
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Langkahku kewalahan saat mengikuti langkah tuan Darius. Kemudian ia pun menggenggam dan menarik tanganku agar langkahku seirama dengannya. Sungguh aku tidak mengerti sama sekali apa maksud dari semua tindakannya tersebut. "Masuk..." katanya sambil sedikit mendorong tubuhku agar ke dalam mobil. "Aku ingin pulang" kataku lirih sambil terisak kembali. "Cih, enak sekali pulang. Puluhan juta aku membeli mu. Jadi kau adalah milikku. Apa pun yang aku lakukan itu sah sah saja" katanya sambil mencengkram lenganku. Aku pun mengaduh dan menggeser letak dudukku sedikit menjauh darinya. Sementara itu mobil pun melesat menyusuri jalanan yang tampak basah diguyur hujan. Dan mata ku kembali menatap titik hujan yang menempel pada kaca jendela mobil. Fikiranku menerawang pada sosok yang sudah ku pilih dua bulan lalu. Sosok yang ku cintai dan ku rindui saat ini. "Kak Mirza..." kataku lirih sambil menghapus titik bening yang membasahi wajahku. "Siapa itu Mirza?" kata tuan Darius. Lagi-lagi tangannya mencengkram kuat lenganku. Sementara sebelahnya lagi menarik kepalaku. Aku terpekik dan menangis histeris. "Sudah ku katakan kau cuma milikku. Jadi jangan coba-coba memikirkan laki laki lain. Dengar...!" katanya lagi sambil mendorong tubuhku hingga kepala ku membentur pintu mobil. Aku makin terisak, namun kali ini sekuat mungkin aku menahannya.
Pukul satu dini hari. Aku mengikuti langkah cepat tuan Darius hingga pada sebuah kamar yang luas dengan sofa di sudut ruangan. "Duduklah..." ucapnya sedikit pelan sambil menunjuk bibir kasur. Dengan ragu aku menurutinya. "Apakah ini sakit?" katanya sambil duduk di sebelahku. Dan dengan hati-hati ia memeriksa dan mengobati setiap luka ku yang ada. Jujur aku terkejut sekaligus bingung dengan perubahan sikap tuan Darius tersebut. Kadang kasar kadang lembut. Pun demikian, ia tetaplah ancaman bagi ku. Aku harus pergi dari tempat ini. Dan hal pertama yang harus aku lakukan adalah memperoleh kepercayaannya. "Beristirahatlah...." katanya sesaat sebelum berlalu.
Pukul dua lewat lima belas menit. Aku terbangun. Ada keributan di lantai dasar. Aku pun segera melihat sumber keributan tersebut. "Ada apa?" tanyaku pada seorang asisten rumah tangga. "Tuan Darius jatuh. Dan tak sadarkan diri" katanya. Aku lihat ada banyak ceceran darah di lantai. "Bisakah nyonya menemani tuan di rumah sakit?" katanya lagi sambil memandangku. "Ini kesempatan untuk bisa pergi dari rumah ini" batinku. "Baiklah. Tentu saja bisa. Sebentar saya bersiap-siap dahulu." kataku sambil berlalu ke kamar.
Hampir aku bersorak mendapat kesempatan ini. Segera aku berganti pakaian dan langsung meluncur ke halaman dimana tuan Darius berada. Melaju mobil di bawah guyuran rintik hujan yang belum usai hingga tiba pada sebuah rumah sakit tepat di ruang IGD. Bersama pak Wibowo kepala asisten rumah tangga, aku mendampingi tuan Darius. Pun demikian hati dan fikiranku sedang mencari kesempatan agar bisa sesegera mungkin pergi. Pun demikian, dalam hati bak ada badai yang berkecamuk atas keberhasilan rencana ku tersebut. Terlebih apa yang harus aku lakukan usai berhasil melarikan diri nanti. Kemana aku harus pergi? Uang pun aku tidak punya. Sejurus kemudian, aku tetap pada keputusanmu yaitu pergi. Tentang sesudahnya akan difikirkan nanti. Yang terpenting aku lolos dari cengkraman tuan Darius dahulu.
Hingga aku berada pada sebuah kesempatan, dimana pak Wibowo sedang menyelesaikan biaya administrasi dan tak ada satu pun Bodyguard yang mendampingi maka aku mulai melangkahkan kaki. Dan lagi gelapnya malam tentu saja akan menguntungkan ku. Berdegup hebat jantung ini saat memulai rencana ku tersebut. Dengan kewaspadaan tingkat dewa akhirnya satu pintu sudah berhasil ku lalui. Tinggal dua pintu lagi. Langkahku semakin cepat menyusuri lorong rumah sakit menuju pintu kedua. Fiuh....ingin rasanya aku bersorak saat berhasil melewati pintu kedua. Aku berhenti sejenak berusaha mendamaikan degup jantungku yang serasa berlarian. Sejurus kemudian setelah ku rasa cukup, aku pun kembali melangkahkan kaki menuju pintu terakhir. "Tinggal beberapa langkah lagi..." kataku dalam hati sambil terus berusaha menyembunyikan wajahku. Jantungku kembali berdegup hebat saat ku lihat pintu sebagi ujung lorong yang ku lalui saat ini. Fiuh...kembali aku hampir melompat kegirangan saat berhasil melewatinya. Ku hirup udara dalam-dalam memenuhi seluruh rongga dadaku. Aku pun kembali melangkah keluar dari area rumah sakit. Namun tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Aku terdiam. Ada perasaan aneh yang menelusup hati. "Fara...walau bagaimanapun lelaki itu sudah mengeluarkan mu dari tempat hina itu. Apakah kau tidak kasian padanya yang tergolek lemah. Kesempatan lain pasti akan datang lagi" bisik hatiku yang telah berhasil membuatku bimbang. "Ya Allah...." kataku lirih. "Ah, peduli amat" kataku lagi. Namun kembali sisi kemanusiaan ku menolak untuk melakukan itu. "Ah...." kataku kesal sambil menepuk wajahku. "Nyonya sedang apa?" tanya pak Wibowo yang mengejutkanku. "Am.. minum. Ya...saya ingin membeli minum. Tapi lupa kalau saya tidak bawa uang" kataku sambil mendamaikan degup jantungku yang sempat berlarian kembali. "Ah, nyonya ada-ada saja. Saya sudah membelinya. Mari kita temani tuan Darius lagi" kata pak Wibowo sambil mengiringi langkahku. "Selamat tinggal pintu ketiga, pintu kedua dan pintu pertama..." kataku setiap melewati pintu-pintu tersebut.
Pukul empat lewat tiga menit. Terdengar suara batuk dari dalam kamar yang membuat aku dan pak Wibowo memacu langkah mendekati tempat tidur dimana tuan Darius tengah terbatuk-batuk. Ku raih segelas air dan memberikan kepadanya. "Ku kira aku sudah melarikan diri" katanya saat mengambil minum dari tanganku. Aku hanya tersenyum kecut mendengar perkataannya barusan. "Mana tangan mu?" katanya. Ia pun langsung meraih tanganku saat aku mengulurkannya. Meletakkannya di dadanya sambil ia genggam erat. Matanya pun kembali terpejam. Aku jadi bingung di buatnya dan sontak mataku menatap pak Wibowo yang tampak tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. "Saya pulang dulu, Nyonya. saya akan mengambil perlengkapan tuan. Nyonya menitip apa?"kata pak Wibowo. "Belikan saja pak. suruh Nadia. Jangan lupa bawakan mukena dan sajadah" kata tuan Darius lirih sambil tetap memejamkan matanya. "Baik, Tuan..."kata pak Wibowo sesaat sebelum berlalu.
Pukul lima lewat sepuluh menit pagi. Saat hari belum lagi terang, aku menggeliat dan terbangun. Aku merasa belaian di kepalaku dan langsung membuka mata. Astaga...ternyata aku tertidur dengan merebahkan kepalaku di bibir kasur. "Sudah bangun...?" kata tuan Darius. Aku pun terkesiap dan segera sedikit menjauh darinya. Tak lama kemudian pak Wibowo pun datang dengan membawa beberapa perlengkapan tuan Darius dan mukena untukku. Melihat itu aku langsung menyambar mukena dan sajadah dan bersiap sholat subuh. Setelah siap aku langsung saja menunaikan sholat subuh. Dua raka'at aku begitu khusyuk dalam gerakan yang tuma'ninah. Tak lupa ku tengadahkan tanganku bermunajat atas semua penghidupanku. Lama aku bertafakur dalam untaian doa panjang ku. "Kabulkan ya, Robb. Kabulkanlah....Aamiin" kataku mengakhiri doa.
Pukul tujuh tepat. Menu makan pagi sudah tersedia. Dan aku bermaksud memberi satu suapan ke tuan Darius ketika tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan kasar. "Aku mendapat kabar kau sakit. Karena nya aku ingin melihatmu. Siapa tahu sudah tak bernyawa, aku akan menyiapkan karangan bunga" kata perempuan cantik sambil melangkah mendekati tuan Darius. Seingat ku ia adalah perempuan yang sudah memukulku saat di tempat laknat itu. Kemudian ia menatapku sinis. "Perempuan jalang ini kau bau juga? Cih....perempuan kotor!" katanya sambil menuangkan segelas minuman yang ia bawa sejak tadi ke kepalaku. Aku terkesiap karena minuman tersebut sedikit panas kurasakan. "Cukup....! Kita sudah tidak punya hubungan apapun. Tapi kau masih menggangguku saja. Sebelum kesabaranmu habis aku minta kau segera pergi dan jangan pernah mengganggu ku lagi" kata tuan Darius. "Maaf nyonya, silahkan pergi. Anda sudah mengganggu kenyamanan pasien kami" kata seorang security dan seorang lagi. "Kau pengecut, tuan Darius....!" kata perempuan itu sambil berlalu. "Aku ingin pulang..." kataku di sela isak ku. "Kau boleh pulang. Tapi aku minta tinggallah sebentar hingga aku bisa mengurus semuanya" katanya. "Sungguh...?" kataku sambil terus terisak. "Ya. Kemarilah..." katanya lagi dengan lirih seakan tak memiliki tenaga lagi. Aku pun segera mendekatinya seperti permintaannya.
__ADS_1
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. "Jangan pergi dahulu. Jangan tinggalkan aku. Bersama mu aku tenang" katanya sambil mengunyah menu makan pagi yang baru saja ku suapkan padanya. Aku hanya diam mencoba memaknai setiap ucapannya. "Berjanjilah...."katanya lagi. Berjanjilah kau tidak akan lari dariku sebelum aku siap melepaskan mu" katanya lagi.
Deg....