
Aku duduk termenung pada kursi di depan ruang operasi. Perasaanku kacau. Dan ada penyesalan yang makin menyelimuti hati ku. "Hei..."ucap kak Keanu yang duduk berjongkok di hadapan ku sambil menyodorkan sebotol air mineral. Aku menggeleng lemah. Namun ia bersikeras.
Ku teguk air mineral sedikit saja. Mendapati kondisi ayah aku jadi ogah menikmati sesuatu walau seteguk air. Kemudian kulirik mami Vira yang tampak gusar duduk di sebelahku. Di tangannya tergenggam sebotol air mineral yang belum tersentuh. Matanya menatap pintu ruang operasi.
"Mami..." ucapku sambil menggeser posisi duduk ku. Bergelayut aku pada lengannya sambil sesekali mengusap lengannya. "Mami baru merasakan bagaimana diperlakukan sebagai istri istimewa, hanya oleh ayahmu. Mami bersyukur karena itu. Mami merasa bersalah karena tidak dapat memberikan yang terbaik untuk ayahmu" ucapnya pilu. Dan bulir bening itu pun akhirnya terjun bebas juga. Sekali, dua kali aku menyeka air matanya. Namun gagal. Air mata itu tetap saja meluncur tak terkendali. "Lima bulan pengobatannya, sudah membuat keuangan kami carut marut. Toko makin kacau hingga kami tutup. Maaf, kami tidak mampu menjaga amanat mu itu" ucap mami Vira pilu semakin terisak hebat.
Pukul dua lewat lima menit. Ruang operasi terbuka. Berdiri di ambang pintu bang David, em...maksudku dokter David yang sejak tadi mendampingi ayah. Sendu matanya menatapku. Ada kekhawatiran di ujung tatapannya. "Hei..." sapa bang David sambil menepuk bahu kak Keanu. "Ayah sudah ditangani. Kita berdoa agar lebih cepat sembuh..." ucap bang David. Matanya menatap mami Vira dan kak Keanu bergantian.
Kemudian lama bang David menatapku. Nafasnya turun-naik dengan teratur. "Apa kabar, Fara? Hei, berhentilah menangis. Ayah akan baik-baik saja" ucap bang David mengusap pucuk kepalaku. Aku menatapnya. Ada sebuah kekesalan di hati ini mengingat semua yang terjadi pada ayah dan diri ku. "Keluargamu penuh intrik, Bang" ucapku kesal sedikit amarah. Wajah bang David memerah mendengar ucapan ku. Alisnya sedikit mengerut. Pandangannya beralih pada kak Keanu seakan meminta kejelasan. Dan kak Keanu hanya tersenyum mendapati tatapannya itu.
"Ikut..." ucap bang David. Tangannya menarik lenganku dan menjauh beberapa langkah. Dia fikir dia siapa menarikku seenaknnya. "Sayang, Abang mu ini sungguh tidak tahu apa-apa. Coba jelaskan..." ucapnya sambil menatapku. Dengan penuh amarah aku pun bercerita kejadian yang menimpa ayah. Bagaimana Amara berlaku sewenang-wenang terhadap ayah dan mami Vira hanya untuk sebuah alamatku. "Aku bisa apa, Bang...Bukti tak ku dapat. Begitu jauh ia dari jangkauanku" ucapku hampir menangis. "Sayang..." ucap bang David sambil merengkuh kepalaku dan membenamkannya dalam dadanya sama seperti dahulu, jauh sebelum aku mengenal kak Mirza atau pun lainnya. "Aku tahu...Aku akan membantumu. Aku janji. Janji yang sama yang ku ucap di depan nenek Merry" ucap bang David sendu. Ia menyeka air mata yang hampir saja jatuh.
"Sayang..." panggil kak Keanu. Aku pun langsung menyudahi tangis dan menatapnya. Kurasa ia cemburu. Aku yakin itu. Ada sebuah kecemburuan di ujung tatapannya. Dan saat itu juga bang David berlalu meninggalkan aku dan kak Keanu. "I promise..." ucapnya. Tangannya kembali mengusap pucuk kepalaku.
"Melihatmu berlama-lama dalam dekapan David, hampir membuat ku gelap mata. Aku sudah menyiapkan kepalan tanganku tadi" ucap kak Keanu dengan senyum tipisnya. "Kakak...." ucapku manja sambil bergelayut pada lengannya. Kak Keanu pun melangkah tanpa mempedulikan ucapan ku. Pun demikian, senyum khasnya mengembang menghiasi wajahnya.
Ku sejajari langkahnya sambil sesekali menatap wajah tampannya. Ataupun menggodanya dengan mendahului langkahnya dan berjalan mundur. Wajah pun ku buat selucu mungkin. Ia pun tersenyum dan segera mengejar langkah ku. Mendekap kepalaku di bawah lengannya.
__ADS_1
"Fara...ayah mu" ucap mami Vira. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ada bulir bening yang belum sempurna ia hapus. Melihat ekspresi yang demikian aku langsung berlari menuju ruang tindakan (ICU). Ada gundah yang tak sanggup ku tutupi lagi. Berdiri aku tepat pada kaca jendela ruangan yang transparan. Aku tersedu menatap tubuh tegap itu menghentak hebat akibat alat kejut jantung otomatis (AED). Ayah Anfal. Lunglai tubuhku hingga bersandar pada tubuh kak Keanu. Sementara sebelah tanganku menggenggam tangan mami Vira.
Bibirku tak henti bergerak. Berdoa meminta pertolongan Allah, Tuhan 'Azza WaJalla. Rasanya aku tak sanggup menyaksikan semuanya. "Ayah...!" teriakku saat menatap tubuhnya di tutup. Tanda usaha tak membuahkan hasil. Aku berontak dari dekapan kak Keanu. Aku menghambur ke dalam ruangan. "Ayah...! bangun ayah. Jangan tinggalkan Fara. Ayah....!" ucapku pilu. Aku mengguncng tubuhnya berulangkali berharap keajaiban. Namun nihil. Ketentuan terus berlanjut.
Mami Vira pun tak kalah histeris. Ia memeluk tubuh ayah, menciuminya hingga mengajaknya berbincang. "Ajaklah aku, Bang...Ajaklah aku" rintih pilunya.
Aku bisa apa jika Tuhan sudah memutuskan. Aku bisa apa jika Tuhan sudah menetapkan. Semua sudah final. Manusia hanya bisa berharap dan berdoa. Mengharap keajaiban. Aku ingin itu. Aku yakin itu. Doa bisa mengubah yang mustahil menjadi mustajab. Tapi hari ini semua memudar. Karena doa ku tak jadi kenyataan. Ayah tetap hilang nafas dan tak pernah kembali.
Aku diam dalam tangisku. Tak ku lihat cahaya terang, semua terasa meredup. Satu rengkuhan di tubuhku ku rasakan sedikit meneduhkan. "Kak Keanu..." ucapku begitu pilu. Tanganku menghentak dadanya dengan perlaha. namun pasti. Dan ia hanya diam menerim segala perlakuan ku itu. "Apa dayaku, Kak. Semua derita dapat ku tanggung. Namun jika harus kehilangan ayah rasanya aku tak sanggup bertahan" ucapku panjang.
"Bersabarlah. Tuhan pasti punya rencana lain untukmu" ucap kak Keanu lirih. Rencana yang seperti apa? Yang ku tahu, kini aku sendiri tiada keluarga. "Amara...kau lah penyebab semua ini" ucapku tiba-tiba. Dan sesalku kembali berubah menjadi amarah berujung dendam. "Aku akan membalasmu, Amara. Aku akan membalasmu...!" teriakku penuh amarah.
Sebuah tamparan telak mengenai wajah ku. Aku terbelalak. Apa kau tak tahu rasa di hati ini, Kak? Apa kau tidak tahu amarah di jiwa ini. Apa aku harus putuskan nafas dahulu agar kau mengerti gejolak ini? Aku tersedu tak berdaya.
Kak Keanu pun kembali merengkuh tubuhku yang lunglai. Dan mendekapnya. Mendadak pandangan ku keruh. Kemudian gelap. Hilang sadarku.
Pukul empat lewat dua puluh lima menit. Aku berada dalam mobil yang melaju cepat. Di sebelahku kak Keanu duduk di belakang kemudi. Di depan ku tampak ambulance melaju dengan sirine yang meraung-raung. Semakin pilulah rasa ini.
__ADS_1
Hilang gairahku. Pupus tenangku. Timbul dukaku.Menggelinding amarahku. Bergulir melewati pembatas, menerobos dinding dan menceburkan diri dalam lautan anarah. Semua makin terasa terutama saat tubuh ayah dipindahkan kedalam rumah yang sudah ramai pelayat. Satu-satu mereka menyalamiku. Menyampaikan belasungkawa.
Tak menghabiskan sebatang dupa, ayah pun langsung diusung ke tanah pekuburan untuk dikebumikan setelah di sholatkan di sebuah masjid. Langkahku semakin berat saat tanah pekuburan semakin jelas terlihat.
Senja begitu pilu. Berdiri kak Keanu. Bertutur ia sebagai keluarga meminta doa dan keikhkasan atas khilaf dan salah ayah. Aku menatapnya samar karena bulir bening itu kembali menggenang, memenuhi rongga kedua mata ku.
Pecah tangis ku saat tubuh terbungkus kain putih itu memasuki liang pekuburan. Putus sudah hubungan seorang manusia dengan segala kehidupan sebelumnya. Hari ini benarlah dunia adalah nyata dan akhirat hanya cerita. Tapi setelah mati, maka dunia hanya cerita, akhirat benar adanya dan nyata. Di sini aku makin pilu. Perlahan namun pasti jasad itu mulai tertutup tanah.
Pukul lima lewat tiga puluh lima menit. Ku tabur bunga di atas pusara ayah. Aku mengurai air mata yang begitu panjang. Tak terindahkan lagi ada kedukaan mendalam di relung hatiku. Dan amarah kembali bergejolak memenuhi segenap jiwaku hingga terkepal kedua tanganku. "Amara...." ucapku penuh amarah.
Tinggallah aku, mami Vira dan Kak Keanu yang masih bertahan di pusara ayah pada tanah pekuburan. Mendadak aku berdiri. Dadaku penuh sesak. Langkah ku tak terhentikan lagi. Dan tanganku pun begitu hingga berani terangkat ke udara, mendarat di wajah kak Mirza. Mendapat itu, kak Mirza diam saja. Hanya matanya saja yang menatapku lekat penuh perasaan. "Untuk apa kau datang? Untuk melihat kehancuran ku?! Kehancuran keluargaku? atau ingin melihat apakah aku akan turut mati setelah kematian ayahku..?! Jawab...!" ucapku sambil mwmdaratkan lagi tanganku pada wajahnya. Jika saja tidak diingatkan kak Keanu, mungkin aku sudah menghadiahinya beberapa jurus mematikan.
"Aku hanya ingin bersamamu disaat kau berduka. Tak lebih..." ucapnya yang berdiri tak bergeming. "Mestinya kau lihat istri tercintamu itu. Apakah ia sedang tertawa atau menangis atas duka ku ini. Dan sebaiknya kau tanya apa saja yang sudah ia lakukan...!" ucapku penuh amarah. "Cukup...! Kau boleh menghinaku, tapi jangan istriku atau keluargaku" ucap kak Mirza geram. Hah...mata hati mu sudah buta, Mirza. Sungguh kasihan...
"Dengar...jangan usik ketenangan keluargaku.." ucapnya. Sungguh picik cara berfikirnya. "Hah...mestinya kata-kata itu kau lontarkan kepada istri mu, bukan padaku. Karena ia yang selalu mengusik hidupku" ucapku sambil menatapnya tajam. Entah keberanian dari mana hingga aku sanggup melontarkan ucapan yang sedemikian rupa. "Cukup...!" ucap kak Mirza. Tangannya terangkat ke udara. Namun tak sampai menyentuh ku karena kak Keanu berhasil menangkapnya. "Cukup, Mirza..." ucap kak Keanu tegas. Matanya sedikit membulat Menatap kak Mirza.
Kak Mirza terdiam. Matanya menyendu seakan menyadari sesuatu.
__ADS_1
Self Reminder :
"Ibnu Umar RA berkata, "Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan." (HR Ibnu Majah).