Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 105. Amplop Berwarna Biru


__ADS_3

Dari Keanu..." ucap dokter Faaz sambil menyodorkan amplop berwarna biru. "Surat...? ,. kak Keanu?" ucapku sambil menatap lekat amplop biru di tangan dokter Faaz. Bergetar tanganku meraihnya. Hatiku makin gerimis setelah mengetahui kenyataan yang terjadi. Aku pun berlalu dan melajukan mobil dengan cepat. Lajunya mampu mengimbangi derai rintik hujan yang terus saja mengguyur jalanan.


Pukul empat lewat dua puluh menit. Ku tutup pintu kamar sedikit kasar ketika sampai di rumah. Aku pun menenggelamkan tubuh pada kasur nan empuk sambil mengurai air mata. Kemudian aku teringat pada amplop berwarna biru yang telah kak Keanu titipkan pada dokter Faaz.


Aku pun mulai membuka amplop biru itu. Ada sedih yang tak dapat ku urai. Rasanya tak mampu ku tanggung sendiri..Entah bagaimana aku akan meneruskan hidup ini tanpa laki-laki kesayangan ku itu. Terjun bebas air mataku saat membuka lembar surat dari dalam amplop berwarna biru. Terlebih saat melihat deretan tulisan tangan kak Keanu. Ku tenggelamkan wajah kembali pada kasur sambil berusaha menyusut air mataku. Namun itu semua usaha yang sia-sia. Dengan adanya tulisan tangan kak Keanu, hati ku makin pilu. Bahkan badai pun mulai menggoyangkan perahu yang semula tenang.


Setelah beberapa saat aku mendamaikan hati, aku pun memulai mencermati kata demi kata yang tertuang.


*Cintaku, Fara...


Takdir sudah mempermainkan kita dan cinta kita. Aku yakin, seperti halnya aku kau pun tentu merasakan kepiluan mendalam. Pun gamang yang menjadi. Namun kita harus tetap menjalani takdir yang sudah di gariskan Allah untuk kita.


Jangan jadi gundah, jangan jadi sedih apalagi merana. Aku ingin Fara ku tetap seperti Fara yang ku ingat, kuat, mandiri dan selalu mampu bertahan di tengah badai sekali pun. Aku ingin Fara ku tetap seperti Fara yang ku ingat, kuat menatap langit dengan berani di tengah pancaran mentari. Aku pun ingin Fara ku seperti Fara yang ku ingat, lembut mengikuti pendar cahaya rembulan.

__ADS_1


Cintaku, Fara...


Jika Fara membaca surat ini, berarti aku sudah "ngalih". Aku sudah tidak berada pada sessi kehidupanku bersama mu. Jangan marah ataupun merana. Anggap saja langkah ku lebih cepat dari mu, sehingga aku mendahului mu.


Cintaku, Fara...


Aku sudah menitip pesan kepada sang bayu, pada dahan pohon yang berayun juga pada debur ombak yang memecah karang, bahwa aku amat mencintaimu.


Cintaku, Fara...


Yakin saja bahwa aku bahagia karena melalui dirimu aku mampu melihat kuncup-kuncup yang mengembang, warna senja ataupun goretan kemerahan di pagi hari. Juga bagaimana anak ku dapat tumbuh dan kembang bersama kasih sayang mu. Ya...mata ku telah menjadi bagian hidupmu. Sungguh aku bahagia...


Cintaku, Fara...

__ADS_1


Aku yakin kau akan menjaga anak kita. Anak yang tampan seperti aku dan kuat seperti mu. Maaf, aku tak dapat mendampingi merawat dan menjaga jagoan kecil kita. Tapi aku yakin kau mampu melakukan itu semua terutama dalam mendidiknya. Maaf ku jiga kepadamu, aku sudah mengingkari janjiku untuk selalu menjaga mu. Maafkan aku*...


*Tolong maafkan aku...


Suamimu, Keanu*...


Aku menenggelamkan kembali.wajahku pada kasur. Tangisku makin menjadi. Aku menyebut namanya berulangkali. "Kak Keanu..." panggilku. Aku mencintaimu, Kak. Maafkan aku juga aku tak dapat memenuhi permintaan mu untuk selalu kuat, mandiri dan bertahan di tengah badai sekali pun. Karena sesungguhnya aku hanya manusia biasa. Sekuat apa pun usaha ku, sepertinya aku akan menjadi Fara yang sedih, gundah dan merana. Karena pilu ku adalah kehilanganmu. Aku tak sanggup kehilanganmu untuk kedua kalinya.


Maafkan aku juga. Aku kalah daya dengan mama mu yang bersikeras mengasuh anak kita karena kedukaannya pun begitu mendalam karena kehilanganmu. Aku pun tak sanggup melihat tangisnya yang berkepanjangan itu. Maka aku harus belajar berela hati membiarkan anak kita dibawah pengasuhannya. Dan tetap berusaha agar aku tetap mampu menjangkau anak kita.


Aku yakin, kakak mengerti akan semua yang terjadi ini. Dan walau penglihatanmu telah menjadi cahaya bagiku, namun tak sama. Hidupku akan menjadi sunyi karena ternyata telah kehilanganmu berulangkali.


"Siapa...?" tanyaku ketika terdengar langkah perlahan di balik jendela. Aku langsung terkesiap dan waspada. Sedikit mengendap aku mendekati jendela dan menajamkan telinga. Aku yakin ada seseorang di balik jendela. Ku kumpulkan semua keberanian ku dan membuka jendela. Dan benar saja, aku terkesiap saat mendapati bayang yang berkelebat di ujung halaman. Aku yakin itu bukanlah Azam. "Siapa..!" ucapku setengah teriak.

__ADS_1


"Ada apa, Nyonya...?" ucap Azam setengah berlari mendekatiku bersama dua orang lainnya. "Ada orang..." ucapku sambil menunjuk suatu arah. "Cek..." ucapnya pada kedua orang lainnya. Ia pun langsung berlalu bersama ketiga orang lainnya menuju arah yang ku maksud.


Ya...Allah, apakah yang akan terjadi kembali dalam hidupku. Mengapa sedih dan gusar ku tak kunjung reda? Kuatkan hamba ya, Robb...


__ADS_2