Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 96. Di Tanah Pekuburan


__ADS_3

Aroma tanah pekuburan dengan wewangian aneka bunga menggelitik penciumanku. Dan kicau burung menghantar ku pada sebuah pusara yang untuk kesekian kalinya ku datangi. Yuph...dengan bantuan Aiman aku menemukan pusara kak Keanu. Menurut Aiman, letaknya tidak jauh dari tepian jalan masuk pekuburan. Aku duduk menghadap pekuburan kak Keanu yang selalu terasa basah dan wangi bunga. Mungkin mama Wina atau siapa saja yang telah menghiasinya dengan bunga-bunga wangi. Hari ini genap enam bulan sejak peristiwa yang merenggut kak Keanu.


Ada bulir bening yang sejak tadi ku tahan, kini terjun bebas. Berulangkali aku menyusut air mataku, namun selalu gagal. Karena tangisku selalu terurai kembali.


"Kak...apa kabar?" ucapku membuka ceritaku pagi ini. "Hari ini aku datang menjenguk mu. Lihat, aku baik-baik saja. Dan seperti pintamu aku sudah tertawa dan menjadi bahagia, walau kau tidak berada bersamaku sekali pun" ucapku berlanjut dengan suara bergetar. "Lihat kak, aku tersenyum. Air mata yang ada ini adalah air mata bahagia, kak. Aku bahagia menjalani hidup ini. Mengapa? Karena anak kita akan segera hadir ke dunia ini. Kakak pasti tahu, usianya kini dua puluh delapan minggu. Menurut dokter Faaz, sahabatmu itu, anak kita laki-laki. Kakak pasti bahagia mendengarnya. Kelak aku akan memberinya nama Rafan Ghifari Abdullah seperti yang kakak inginkan" ucapku panjang bersamaan dengan panjangnya tangisku.


Fara Flashback On


Pukul tujuh lewat lima menit. Mentari begitu kuat membagi sinarnya. Hawanya sudah terasa walau pagi baru saja datang menjemput. Burung-burung pun asyik berloncatan pada rimbunnya dahan pohon dekat. Cicitnya seakan mengucap selamat pagi. Bergegas aku menghampiri kak Keanu yang sudah bermandi peluh sesaat ia berolah jurus. Hampir tiga puluh menit ia mengolah jurus-jurusnya. Dan perlahan ia menghentikan gerakan ciamiknya saat menyadari kehadiranku. Aku terpekik saat tangan tangkasnya merengkuh tubuhku. Memainkannya sebentar dalam dekapannya lalu mengecup pucuk kepalaku. Saat itu sempat berontak. Bagaimana tidak, peluhnya jadi turut membasahi sebagian wajah dan pakaianku. Aku manyun. Melihat itu, kak Keanu terkekeh. Dan sekali lagi sebelah tangannya memainkan pucuk kepalaku. Pun demikian, aku pun tetap menyodorkan handuk pada kak Keanu yang baru saja usai mengerjaiku.


"Hei, anak ayah..." ucapnya tiba-tiba sambil duduk berjongkok di hadapanku. Tangannya perlahan mengusap perutku. Aku terkekeh melihat tingkah suamiku itu. "Apaan sih, Kak.." ucapku sambil duduk pada kursi di sudut balkon. Kak Keanu pun terkekeh atas reaksi ku itu.


"Latihan, sayang. Nanti jika benar ada anak kita dalam rahim mu, aku akan melakukannya seperti ini. Bagaimana?" ucap kak Keanu sambil tersenyum dan mencium perutku. Ada doa terselip saat ia berpolah demikian. "Semoga keinginanmu Allah kabulkan. Aamiin..." aku membatin penuh pengharapan. "Laki-laki atau perempuan, Kak..." ucapku dengan senyum sumringah. "Keduanya..." ucapnya terkekeh. Tangannya kali ini kembali merengkuhku dalam dekapannya.


"Laki-laki atau perempuan aku akan sama bahagianya saat menyambut kehadirannya. Tapi seandainya laki-laki aku akan memberinya nama Rafan Ghifari Abdullah. Aku harap anak kita menjadi anak laki-laki yang tampan, pemaaf, lemah lembut, suka membantu dan melayani yang lemah" ucap kak Keanu. Ada binar di dalam tatapannya saat aku menatapnya lekat. "Jika perempuan?" tanyaku. "Em..." gumam kak Keanu berfikir sejenak. Matanya menatapku dengan sedikit membulat. "Fadhilla Shaqeena. Artinya Perempuan yang memiliki kelebihan dan kemuliaan hidup juga rajin bekerja" ucap kak Keanu sumringah. "Indah-indah namanya. Semoga terkabul. Aamiin...." ucapku sambil mengecup dada bidangnya.


"Wah, nanti jika anak kita sudah lahir maka rumah pun menjadi ramai. Selain suara anak-anak yang ramai, suara mu pun akan menghiasi rumah kita" ucap kak Keanu sambil mencubit kecil hidungku. "Oya...?" ucapku dengan memasang wajah tak percaya. " Kita buktikan nanti ya. Rafan...mandi! Shaqeena...makan!" ucap kak Keanu lagi seakan memerankan diriku. Aku pun terkekeh melihat polahnya yang berlarian seputar balkon menirukan bagaimana aku nanti.


"Lalu kapan kakak akan mengambil bagian mengasuh anak-anak?" ucapku sambil meledeknya dengan ekspresi wajahku. "Saat aku pulang kerja. Anak-anak akan berlarian. Mereka berlomba untuk mendapatkan pelukanku. Dan aku akan memeluk dan memutar mereka hingga mereka tertawa girang" ucap kak Keanu dengan tatapan jauh kedepan. Lagi-lagi ada binar di ujung tatapannya. "Memutar?" ucapku singkat. "Ya. Seperti ini..." ucap kak Keanu sambil merengkuh dan mendekapku erat. Kemudian kami berputar-putar. Aku tertawa-tawa diperlakukan demikian. Sungguh aku akan bahagia saat kesempatan itu nyata. Semoga Allah segera mengabulkan. Aamiin...


Fara Flashback Off

__ADS_1


Aku menghela nafas saat kepingan kenangan itu menghampiriku. Kenangan yang selalu berulang dan memainkan alam fikiranku hingga mengembara jauh. Ah, aku akan mewujudkan keinginanmu itu, Kak. Bagaimana pun situasiku. Dan sesungguhnya Allah sudah mengijabah doa kita saat itu, saat beberapa minggu sebelum peristiwa nahas itu terjadi. Sungguh aku sedang mengandung.


Saat kepergian kak Keanu untuk memenuhi tugasnya, sesungguhnya aku sudah tahu jika kemungkinan aku mengandung. Keyakinan timbul karena menstruasi ku sudah tak datang saat itu. Aku ingin memberitahukannya saat itu, namun urung. Aku khawatir kak Keanu justru menjadi tidak fokus akan tugasnya. Maka aku putuskan akan memberitahukannya saat kak Keanu kembali dari tugasnya.


Dan lagi-lagi sayang seribu sayang. Belum sempat aku memberitahunya, ia sudah pergi mendahuluiku selamanya.


"Fara..." Panggil Aiman bermaksud mengingatkanku karena saat ini satu-satu titik hujan mulai menyapa. Kemudian aku pun mengakhiri percakapan satu arahku di tanah pekuburan itu. Aku menyusut air mataku dan berdiri. Ku ayunkan tongkatku kesana-kemari sebagai pembuka lajur jalan ku.


"Siapa...?" ucapku lirih yang langsung di jawab Aiman. "Peziarah..." ucap Aiman singkat. "Maaf..." ucapku ke arah peziarah yang aku yakin masih berad di dekatku sambil mengurai senyum. "Tidak apa-apa..." ucapnya.


Deg.


"Em, Fara bisa tunggu sebentar di kedai ini?Aku ingin mengambil payung di mobil. Sepertinya hujan semakin deras" ucap Aiman yang berhasil membuyarkan lamunan singkatku. "Tidak perlu, Kak. Kita tunggu saja hujannya reda..." ucapku sambil berisyarat mencegahnya dengan tangan.


"Teh manisnya, mbak..." ucap seorang pramusaji. "Terima kasih..." ucapku. Namun karena kurangnya kehati-hatian, aku hampir menjatuhkan teh yang baru tersaji. Aku terkesiap karena ada hawa panas yang memercik ke tangan ku. Bersamaan dengan itu sebuah tangan menahan tanganku. "Hati-hati, Fara..." teriak seorang laki-laki sambil memegang pergelangan tanganku. "Maksudku nona Fara..." ucapnya lagi. Aku tertegun mendapat perlakuan spontan tersebut.


"Anda tidak apa-apa?" ucapnya lagi. "Tidak..." ucapku gagu sambil memegang tangan yang terpercik teh panas barusan. "Terima kasih. Em, saya Fara. Anda siapa" ucapku kikuk. "Em, Ghifari. Nama saya Ghifari" ucapnya tak kalah kikuk. "Em, saya permisi" ucapnya kemudian.


"Ya. Senang berkenalan dengan anda. Sekali lagi terima kasih" ucapku sambil tersenyum. Dan aku pun menajamkan telinga berusaha mengikuti langkahnya. "Dia di kursi roda, Fara. Kedua kakinya bermasalah Sepertinya" jelas Aiman. Aku pun meng-o singkat sebagai reaksi informasi yang diberikan Aiman. Ah, ternyata aku tidak sendiri. Contohnya laki-laki tadi. Aku yakin kami orang-orang special. Mungkin Allah sedang meracik cerita indah di kehidupan orang-orang seperti aku saat ini.


Hujan mulai reda. Aku memulai langkahku dengan hati-hati. Ku ayunkan tongkat ku kesana-kemari. "Hati-hati, Fara. Jalanan basah dan licin" ucap Aiman memperingati ku. Aku pun tersenyum dan mengangguk perlahan saja.

__ADS_1


Kemudian sesaat aku menghentikan langkahku. Penciumanku menyasar pada aroma maskulin yang begitu khas. "Kak Keanu..." ucapku lirih. Mustahil...! Berhentilah menyatakan kenangan, Fara. Serupa tapi tak sama. Bukankah kau tahu dimana suami mu berada sekarang? Badai di hatiku mulai berkecamuk. Gelombangnya mulai menggoyang perahu yang semula tenang.


Ah, benar juga. Suatu kemustahilan. Aku pun kembali melangkah menyusuri jalanan pekuburan yang basah dan licin. "Fara, kunci mobil tertinggal di kedai. Aku ambil dahulu. Kau tunggu sebentar di sini" ucap Aiman sambil melangkah. Aku hanya tersenyum dan menyimpan kekesalanku dalam-dalam. "Bisa-bisanya di situasi seperti ini, kunci mobil tertinggal. Hadeeuuuh..." gerutuku.


"Hei, cantik... Sendirian? Ikut Abang saja yuk..." ucap seorang laki-laki sambil terkekeh. Dari suara kekeh yang ku dengar, aku yakin mereka lebih dari satu orang. "Jangan ganggu aku. Pergilah...! Atau..." ucapku terhenti saat kekeh mereka terdengar. "Atau apa? Tidak kan apa yang harus dilakukan? Begini saja kau berikan saja uang yang ada dalam tas mu itu, maka kau boleh pergi. Bagaimana?" ucapnya lagi sambil terkekeh.


"Pergilah...atau akan teriak!" ucapku lantang. "Ah, perempuan bisanya hanya teriak-teriak saja" ucapnya lagi. "Kelamaan bos. Sikat aja..." teriak serorang lagi. "Jangan mendekat..." ucapku kecut sambil mengayunkan tongkatku sembarang. Ya, Allah apa yang harus aku lakukan? Jurus-jurus ku tumpul karena hilangnya penglihatanku. Tolong aku ya, Robby...


Bug.


Ternyata aku berhasil memukul seorang diantaranya. Ia mengaduh. Pun demikian,, rupanya tiada jera diantara keduanya. "Cukup...!" teriak lantang seorang laki-laki. Lagi-lagi fikiranku menyasar pada kekhasan suaranya yang begitu lekat dalam hidupku. "Kak Keanu..." ucapku yang mencari sumber suaranya.


"Pasangan yang serasi. Yang perempuan buta yang laki-laki di kursi roda" ucap laki-laki sambil bertepuk tangan dan terkekeh.


"Kak Ghifari..." ucapku sambil menelengkan kepala berharap ada suara yang menyasar ke telingaku. "Ya, Fara..." jawabnya cepat. "Cukup...!" suara Aiman menggema. Suara yang begitu khas juga bagiku. Namun lagi-lagi kemustahilan merasuki sukmaku. "Sebaiknya kalian pergi. Aku tidak ragu-ragu untuk menghajar kalian" ucap Aiman garang.


"Ah, banyak bicara...!" ucap seorang laki-laki. Kemudian ku dengar ada suara-suara bergedebukan saat duel berlangsung. Sesekali ku dengar juga suara mengaduh, namun aku yakin itu bukan suara Aiman.


Duel pun tak berlangsung lama sepertinya. Di penghujungnya ada rintihan dan permintaan pengampunan dari dua laki-laki tadi. Dan Aiman tentu saja mengambulkannya. "Pergilah...!" ucap Aiman.


Sementara itu, aku berdiri bak patung. Kegelapan ini telah membatasi pergerakan ku. Bahkan untuk membela diri sendiri pun aku tak mampu. "Kita pulang, Fara.." ucap Aiman. "Ghifari...?" tanyaku. "Baru saja berlalu dengan sebuah mobil..." ucap Aiman. Lagi-lagi aku meng-o pendek sambil mengangguk kecil.

__ADS_1


__ADS_2