Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 81. Ngalih sejenak


__ADS_3

Pukul enam lewat tiga puluh menit. Suasana sudah tak senyaman dahulu. Tatapan yang ku terima sungguh membuatku semakin menyimpan pilu. Pagi ini, satu-satu anak tangga ku susuri. Kali ini meja makan adalah tujuanku. Sedikit ragu melangkah saat melihat semua telah berkumpul diantaranya mama, Kenan, Sarah, juga kak Keanu. Tak lupa si bocah tampan, Aidhan yang sejak tadi meronta-ronta saat melihat kehadiranku. Entah mengapa ia melakukannya demikian setiap kali melihatku. Jika saja mama mengizinkanku menggendong atau mencandainya tentu aku akan senang hati. Tapi sayang lagi-lagi kondisiku menjadi alasan agar aku tidak menggendong bocah tampan itu. Ada saja alasan yang selalu berhasil membuatku urung untuk menggendongnya. Well...baiklah. "Selamat pagi, semua..." ucapku sambil tersenyum dan duduk di sebelah kak Keanu. "Pagi, sayang...." ucap kak Keanu setengah berbisik sambil membalas senyumku. Ku sandarkan tongkat penyangga ku di dekat ku. "Aidhan..." sapa ku pada bocah tampan yang masih saja menatapku. Mendapat sapaan ku, Aidhan girang. Ia pun meronta sambil menyodorkan kedua tangan mungilnya. Yeah...anak kecil saja tahu mana yang tulus mana yang tidak. Ups....hehe. "Aidhan mau digendong, mama Fara ya..." ucap kak Keanu hampir beranjak dari kursi. "Sudah nanti saja, ya...Kita makan dahulu. Keburu dingin loh" ucap mama yang berhasil mengurungkan niat kak Keanu. Senyum kak Keanu mengembang menatap Aidhan. Dan kemudian tatapannya beralih pada ku. Sebelah tangannya mengusap lembut pucuk kepalaku. Ah, rupanya kak Keanu pun merasakan apa yang ku rasa saat ini. "It's okay. Fara baik-baik saja" bisikku nyaris tak terdengar sambil membalas senyumnya.


Pukul enam lewat empat puluh menit. Santap pagi pun dimulai. Ada banyak celoteh yang memuji rasa masakan pagi ini. "Hhmm, enak sekali. Sudah jadi chef nieh, mbok Nah" ucap Kenan sambil terkekeh. "Ya, mbok. Enak sekali..." ucap mama Wina. "Aden dan nyonya bisa saja. Tapi itu masakan nyonya Fara. Pagi-pagi sekali nyonya Fara sudah memasak" ucap mbok Nah menjelaskan. Hal itu tentu saja membuat semua terdiam, terkecuali kak Keanu. Ia tersenyum menatapku. Sebelah tangannya mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Karena memang sebelumnya kak Keanu sudah tahu jika aku yang memasak semua menu pagi ini. "Oya, wah kakak ipar ku ternyata jago masak nieh..." ucap Kenan sambil tersenyum.


Pukul tujuh lewat lima belas menit. Kami belum beranjak dari meja makan walau santap pagi telah usai. Perhatian kami tertuju pada kak Keanu yang sejak tadi mengurai kata sambil mengusap pucuk kepalaku sesekali. Ah, laki-laki yang sudah menjadi bagian penting hidupku ini begitu piawai dalam mengolah kata, sehingga semua hanya diam menyimak setiap katanya.


Mata kak Keanu menatapi kami satu-satu. Seakan ingin mendapati reaksi di rona wajah kami. "Saya rasa sudah waktunya saya membawa Fara. Terlebih sekarang mama sudah mempunyai mainan baru" ucap kak Keanu sedikit terkekeh. "Kenan, Sarah tolong jaga mama sementara kak Keanu dan Fara ngalih sejenak. Tidak jauh, hanya di rumah lama Fara" ucap kak Keanu sambil tersenyum tipis. "Kenapa? Istrimu tidak betah tinggal di sini?" tanya mama sedikit ketus. "Tidak demikian, Ma. Keanu dan Fara ingin lebih fokus pada apa yang sedang kami lakukan saat ini" ucap kak Keanu perlahan.


Ku lihat mama menghela nafas atau lebih tepatnya mendengus. "Baiklah. Silahkan, mama mengizinkan" ucap mama sambil berlalu meninggalkan meja makan. Dan langsung diikuti kak Keanu, Kenan dan Sarah. "Ma..." panggil kak Keanu berusaha mensejajari langkah mama.


Fiuh... aku menghela nafas sedikit kasar. "Sabar ya, Nyonya Fara. Mbok Nah faham bagaimana perasaan nyonya Fara. Mbok Nah senang den Keanu berani mengambil keputusan tersebut" ucap mbok Nah setengah berbisik. Aku tersenyum tipis mendapat dukungan mbok Nah, walau hanya seorang asisten rumah tangga. Paling tidak ada yang membenarkan keputusan kak Keanu.


Setengah berlari kak Keanu menuruni anak tangga. Wajahnya sumringah. Hei, ada apakah gerangan hingga suami tampanku itu begitu bahagia. "Sore nanti kita akan ngalih sejenak ke rumah nenek. Fara bisa bersiap dan merapikan beberapa keperluan kita" ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku. "Kakak yakin ingin melakukan ini semua?" tanyaku menyimpan ragu. "Demi kita, demi semua. Tuan muda labil mu ini sangat yakin" ucapnya dengan berbinar. "Terima kasih, Kak. Maaf Fara hingga kakak harus melakukan ini semua" ucapku sendu. "Ini murni keputusan ku. Bukan pula permintaan mu. Tapi ini keinginan dan keputusanku" ucap kak Keanu sambil merengkuh dan memelukku erat. "Terima kasih, Kak..." bisik ku.


Pukul delapan lewat lima menit. Aku tengah memulai merapikan beberapa keperluan ku. Dan mbok Nah begitu sukacita membantuku. "Nyonya berapa lama?" tanya mbok Nah sambil menatapku. "Em, terserah tuan muda saja Mbok. Saya ikut saja..." ucap ku menimpali. Jika bisa selamanya. Hehe...Sungguh aku sudah tidak nyaman dengan semua tatapan yang harus ku terima beberapa waktu ini. "Doakan ya, Mbok. Tuan muda punya solusi terbaik untuk masalah kami ini" ucapku sambil terus merapikan. "Ya, Nya..mbok akan selalu mendoakan Nyonya. Nyonya orang baik pasti banyak yang juga mendoakan" ucap mbok Nah sambil tersenyum menatapku sekilas.


Pukul lima lewat sepuluh menit. Langit sudah mulai kemerahan. Rupanya mentari sedang bersiap kembali ke peraduannya. Dikawal kawanan burung-burung yang bersiap pulang, langit pun berangsur temaram. Mobil sport silver kak Keanu melaju dengan kecepatan sedang saja. Satria adalah pengemudinya. Sementara itu aku bersandar manja pada dada kak Keanu. Sesekali sebelah tangannya mengusap bahu ku. Sementara sebelahnya lagi asyik mengotak-atik ponsel yang tidak berhenti berpendar.

__ADS_1


Aku terkesiap ketika laju mobil berbelok arah, bukan ke rumah nenek. "Kenapa, sayang..." ucap kak Keanu. "Ini bukan arah ke rumah nenek..." ucap ku sedikit heran. Terkekeh kak Keanu mendengar ucapanku. Bahkan Satria saja turut tersenyum dan menatapku dari spion mobil. "Kamu fikir aku akan membiarkanmu tinggal di rumah nenek. Terlebih lagi di sana ada Roy yang merupakan kakak dari Mirza" ucap kak Keanu. Aku manyun. Mataku beralih menatap jalanan yang mulai terasa asing bagiku. Satu-satu kekhasan sekitar ku tandai sebagai pengingat.


"Jangan menjadi khawatir, sayang. Aku telah mempersiapkan segalanya. Maaf jika beberapa waktu ini telah membuatmu gamang. Baik karena sikap maupun tutur kata ku. Sesungguhnya aku tengah menimbang segala hal yang akan menjadi keputusanku hari ini. Baik-buruk nya semua sudah ku pertimbangkan. Harapanku, semoga keputusanku ini akan menjadi awal kebahagiaan kita yang sebenarnya" ucap kak Keanu. Ces...rasanya hati ini mendengar tuturnya. Entah bagaimana aku membalas semua kebaikan dan pengertian laki-laki yang sudah menjadi suami masa kecil ku ini.


Pukul lima lewat empat puluh lima menit. Temaram lampu jalanan mulai menghiasi temaramnya langit. Ketika mobil sport silver kak Keanu memasuki sebuah rumah dua lantai. Rumah bergaya klasik modern. Walau tak sebesar dan semegah rumah kak Keanu bersama mama Wina, namun rumah yang kini berdiri kokoh di hadapanku cukup membuatku terpana.


Berlari kecil seorang laki-laki setengah baya menyongsong kehadiran kami. "Tuan Keanu..." ucapnya sambil menjura takzim. "Apa kabar, Mang...?" ucap kak Keanu tersenyum tipis. "Baik, Tuan muda. Akhirnya tuan muda akan menempati rumah ini. Manang bersyukut sekali" ucap lelaki separuh baya itu yang baru saja ku ketahui bernama mang Dadang.


Sebentar kemudian, mataku sudah mengitari seisi ruangan dari setiap ruangan yang ada. Dan kini sampailah kami di kamar utama, letaknya di lantai dua. Sebuah kamar beraksen klasik modern berwarna gold dan silver. Sungguh terkesima aku dibuatnya. "Bagaimana, sayang? Kau suka?" tanya kak Keanu. Tangannya mendekapku erat. "Sangat suka. Terima kasih ya, Kak..." ucapku sambil terus menatap sekeliling kamar. "Ya, sayang..." timpal kak Keanu sambil mengacak pucuk kepalaku."Tapi...apa kakak yakin meninggalkan mama sendirian?" ucapku sambil menatapnya. "Mama tidak sendian, sayang. Sekarang ada Kenan, Sarah dan Aidhan putra mereka" ucap kak Keanu sambil duduk pada sofa. "Dan lagi sudah saatnya aku memikirkan kebahagian kita. Aku juga harus menjaga perasaan mu. Aku tahu sikap mama akhir-akhir ini banyak menjadi bumerang bagi istri cantikku ini. Karena itu tak ingin berlarut-larut aku mengambil keputusan ini" ucap kak Keanu yang semakin membuatku sendu


Aku menghela nafas panjang. Seiring itu aku pun membersamai kak Keanu duduk pada sofa silver. Sebentar lalu aku memijat-mijat kedua kaki dengan perlahan. Lelah kurasa setelah beberapa waktu ku paksa untuk melangkah cepat. Ya...Robby, aku masih menunggu mukjizat-Mu. Mohon dengan sangat segerakan kesembuhan ku. Mohon dengan sangat, Ya...Robby. Aku membatin.


"Kenapa, sayang? Lelah...?" ucap kak Keanu yang langsung berjongkok dan turut memijat kedua kaki ku. "Astaga kak. Tidak perlu..." ucapku sambil menampik perlahan tangannya. "Tidak apa-apa. Tidak ada siapapun. Mama juga tidak ada. Jadi kita bebas melakukan keinginan kita. Terutama keinginanku..." ucap kak Keanu sambil menatapku bak singa siap menerkam mangsa. Aku bergidik. Sementara itu kak Keanu tertawa mendapati reaksiku atasnya. Tuan muda labil...inilah tawa yang sudah kurindukan satu tahun terakhir ini. Tawa yang begitu lepas dan membuat hatiku berubah merah jambu. "Kakak iih..." ucapku sambil mencubit kecil lengannya dan bergelayut manja.


"Em, maaf Tuan..." ucap Satria di ambang pintu dan bersiap berlalu kembali setelah melihat polah kami. "Masuklah, Satria..." ucap kak Keanu. "Maaf, Tuan...Nyonya. Saya ingin mengantarkan ini" ucap Satria sambil menyorong tas berwarna merah milikku. "Oya, kak Satria. Terima kasih. Letakkan dekat lemari saja" ucapku sambil tersenyum.


Tak lama Satria pun pamit dan berlalu sambil menutup pintu kamar meninggalkan kami berdua kembali. Eng...ing...eng. Hehe.... Singa nya bisa-bisa ngamuk ini. Apa aku lari saja ya? Atau paling tidak sembunyi di kamar mandi? Ngeri kalau singa sudah ngamuk dan unjuk kekuatan. Hihihi...

__ADS_1


Pukul enam lewat empat puluh menit. Aku dan kak Keanu masih bermunajat. Memanjatkan doa-doa panjang penuh pengharapan. Doa yang menjadi obat bagi jiwa yang hampa, pikiran yang bimbang, dan hati yang terluka. "Ya Allah kuyakin bahwa takdir-Mu lebih baik dari semua yang aku inginkan, karenanya ku mohon dengan sangat beri aku kekuatan untuk memahami semuanya sebagai anugerah-Mu." Doaku dalam kekhusyukan.


"Kekuatan doa akan jauh lebih efektif ketika dibarengi dengan kegigihan diri untuk melakukan perbaikan sikap hidup." ~KH.Abdullah Gymnastiar.


Pukul delapan tepat. Entah mengapa kaki ku kembali berulah. Kaki ku terasa menjadi jauh lebih lelah dari biasanya. Aku sedikit mengeluh karenanya. Bahkan hampir menangis. Aku duduk pada sofa dan merebahkan tubuh. Dan menyembunyikan segala keluhanku dari kak Keanu. Memanglah sudah menjadi tekadku untuk menjadi kuat dan mengeluj atas kondisiku saat ini terutama saat di hadapan kak Keanu. Aku tidak ingin terlihat lemah apalagi tak berdaya. Aku berusaha sekuat mungkin bisa menahannya. Tapi entah saat ini. Karena aku merasa begitu lelah dan sedikit menyakitkan. Semoga aku baik-baik saja...


Sementara itu ku lihat kak Keanu mulai sibuk dengan pekerjaan kantornya. Ah, jika sudah demikian aku pun tak sanggup mengganggunya. Dan alih-alih menunggu pekerjaannya selesai aku merebahkan tubuh pada sofa sambil merasai kaki yang sedang manja ini. Sepintas kak Keanu menatap ke arahku sambil tersenyum.


Deg.


Walaah...senyumnya itu telah kembali. Senyuman yang selalu saja mampu melambungkan fikiranku. Mengombang-ambing perasaanku. Juga mengajakku mengembara jauh entah kemana. Walau tak memiliki dua lubang pada pipi seperti halnya kak Mirza, namun entah mengapa senyum dan tawanya itu selalu berhasil membuat jantungku berdegup hebat. Bahkan berlarian tak menentu. Ah, kak Keanu. Suami dari masa kecilku itu sudah membuatku jatuh hati. Tidak hanya sekali tapi berulangkali.


"Kak..." ucapku terkejut, saat tubuhku guncang dalam bopongannya. Langkahnya biasa saja walau dibebani dengan bobot tubuhku yang lumayan ini. Lumayan berat maksudnya. Hehe...


Jantung ku terus bertalu saat matanya menatapku sambil tersenyum. Entah apa warna wajahku saat ini, tapi aku merasa wajahku bak dikerubuti puluhan semut. Kemudian langkah kak Keanu semakin ketara kemana tujuan sebenarnya. Ya...tiada lain, tiada bukan adalah tempat tidur. Kak Keanu tersenyum menatapku. "Nyenyak sekali tidurnya. Tak tega membangunkan, karena itu aku bopong mu. Eh, malah bangun..." ucapnya sambil merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. "Kakak sudah selesai?" tanyaku sambil tetap mengalungkan tangan pada lehernya. Kak Keanu pun mengangguk dan tersenyum menatapku. Matanya begitu tajam menghunjam ke dalam jiwaku dan semakin berdegup hebatlah jantungku. Entah irama apa yang sedang dimainkan saat ini. Begitu bertalu seiring nafas yang juga memburu.


Pukul sepuluh lewat. "Istirahatlah, sayang" ucap kak Keanu sambil menyelimuti separuh tubuhku. "Aku akan menjaga mu..." ucapnya lagi sambil duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Melihat itu, aku justru meletakkan kepalaku pada pangkuannya. "Sayang...? Kenapa?" ucap kak Keanu. "Tak bisa tidur..."ucapku. "Kemarilah..." ucapnya kemudian. Aku pun mendongakkan kepala menatap wajahnya yang tengah tersenyum. Tangannya berisyarat. Aku tersenyum dan langsung membetulkan posisi tubuhku. Ku rebahkan kepalaku pada dada bidangnya. Dan sebuah kecupan pun mendarat lembut pada keningku. Ces...seketika hatiku berubah jadi merah jambu. Aku bahagia...

__ADS_1


__ADS_2