
Hari berganti. Satu minggu sudah aku berada di apartemen kak Mirza. Pun walaupun demikian, kak Mirza tidaklah selalu bersamaku. Hanya sesekali saja ia menemaniku. Itu di siang hari. Aku bersyukur ia tetap menjaga kehormatan ku. Pertanda bahwa ia adalah lelaki yang baik.
Pukul lima lewat empat puluh lima menit. Aku sedang bersiap. Mematut diri di depan cermin. "Hei, cantik..." kata kak Mirza yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. "Bagaimana jika begini...?" katanya lagi sambil memakaikan kerudung biru bermotif bunga warna merah muda. Matanya memandangku dalam pantulan cermin. Aku tersenyum sumringah saat memandang diriku sendiri dalam cermin. "Bagaimana...?" katanya sekali lagi. "Aku memang sudah sejak lama ingin memakainya, Kak" kataku sambil tersenyum. "Lanjutkan..mengapa harus ditunda? Aku juga tidak ingin kecantikanmu dinikmati lelaki lain. Kau milikku Fara. Dan sesaat lagi aku pun akan mengesahkannya" katanya sambil mengacak pucuk kepalaku dan memakaikan kerudung berwarna putih polos, senada dengan seragam sekolahku. "Terima kasih, kak..." ucapku sambil tersenyum sumringah, tanda ku bahagia.
Pukul enam lewat lima menit. Aku sudah dalam perjalanan menuju sekolah. Kak Mirza yang mengantarku. Selama perjalanan tak henti-hentinya ia mengusap pucuk kepalaku setiap ada kesempatan. Senyumannya pun selalu menghiasi wajahnya. "Belajar yang rajin, sayang. Selesaikan hari ini dengan sempurna" katanya yang tetap fokus pada jalanan. "Em, hari ini aku akan ke kampus setelah itu ke kantor. Jadi kemungkinan saat makan malam baru kita bertemu" katanya yang sekali lagi mengacak pucuk kepalaku. "Ya, Kak.." kataku sambil memeluk lengan kekarnya. Entah mengapa aku demikian. Ia pun tampak terkejut mendapat perlakuan tersebut. "Mulai nakal ya" katanya sesaat aku keluar mobil dan berlalu.
__ADS_1
Setengah berlari aku masuki sekolah. Melewati area parkir dan teras kelas yang panjang mengular. "Sherlly...!" kataku setengah teriak. Sherlly tentu saja menatap ke arahku yang telah memanggilnya. Namun ia hanya tertegun tanpa respons seperti biasa yang ia lakukan jika kami bertemu. Astaga pasti karena kerudung di kepalaku ini. Begitu dekat aku berada di hadapannya baru ia berteriak histeris. Teriakannya berhasil membuat sepanjang teras memperhatikannya. "Fara....! katanya sambil memelukku. "Kemana saja? Aku dan Ferry mencari mu. Kami ke rumahmu, tapi kau tidak ada. Satu minggu kau menghilang, tanpa kabar. Dan sekarang kau pakai kerudung..." katanya sambil memelukku sekali lagi. "Hei...ada anak baru. Kenalkan aku..." kata Ferry terhenti saat melihat jelas wajahku. "Fara...!" teriaknya memekakkan telinga. Akhirnya semua teman sekelas pun mengerumuniku bak seorang artis saja.
"Ceritanya panjaaaaang.... sekali" kataku sambil duduk pada kursi kayu di dalam kelas. "Sepulang sekolah aku akan menceritakannya. Kita pulang sama-sama ya. Please..." kataku mengiba. "Baiklah...." kata keduanya yang bersamaan dengan datangnya Bu Ratna. Ia pun tidak menyadari kehadiranku. Ia mengajar seperti biasa. "Soal satu siapa yang sudah menyelesaikannya?" tanyanya sambil memandangi siswa satu persatu. Ia sangat berharap ada yang berhasil memecahkan soal yang ia berikan. Sekilas ia tampak sedikit kecewa saat tak satu pun yang mengangkat tangan untuk menyelesaikan soal tersebut. Dan akhirnya aku mengangkat tanganku juga sambil tersenyum. "Ah, ya...silahkan" kata Bu Ratna sedikit bingung saat menatapku. Aku pun melangkah dan mengerjakan tersebut. Perlahan namun pasti aku berhasil menyelesaikannya. "Sudah, Bu..." kataku singkat sambil menatap wajahnya. Ditatap demikian akhirnya bu Ratna pun menatapku juga. Dan dia pun menjadi terpaku. "Fara....?" katanya sesaat setelah ia menatapku. Aku pun tersenyum dan mengangguk takzim sebelum aku berlalu, kembali ke tempat dudukku semula. Tampak bu Ratna masih menatapku saat aku sudah duduk kembali di kursi ku. Namun kemudian ia tersenyum menatapku dan melanjutkan menyampaikan materi pelajaran kembali.
Pukul satu lewat tiga puluh menit. Semua siswa mulai berhamburan dan meninggalkan sekolah. Pun demikian dengan ku. Aku yang sudah berjanji akan bercerita kepada kedua sahabatku itu pun telah duduk cantik pada sebuah cafe di dekat sekolah. Kami memilih tempat outdoor. Dan duduk berjajar kedua sahabatku itu di depanku. Keduanya begitu serius menatapku. Ku mulai cerita dengan perlahan dari awal hingga aku berakhir di apartemen kak Mirza. Kedua sahabatku itu begitu serius menyimak setiap penuturan ku. "Ya ampun, Fara sampai sebegitunya perempuan itu terhadapmu" kata Sherlly sambil menghabiskan hidangan yang ia pesan tadi.
__ADS_1
Pukul dua lewat lima belas menit. Aku masih meronta dalam cengkraman lelaki kekar di kiri dan kananku. Dan perlakukan ku tersebut sangatlah mengganggu keduanya. Hingga akhirnya sebuah pukulan telah berhasil membuatku tak sadarkan diri. Entah berapa lama.
Pukul empat lewat dua menit. Tubuhku mulai menggeliat. Dan merasakan ketidaknyamanan. Sepertinya tanganku terikat pada sebuah kursi di sudut ruangan. Ku buka mataku dan menyapu seisi ruangan yang tampak temaram dengan pencahayaan seadanya. Kurasakan kepalaku begitu berat, mungkin akibat pukulan tadi. "Dimana aku?" gumamku lirih. Ada rasa takut yang makin menyergap ku. Terbayang seakan hal-hal buruk yang akan menimpaku. Aku semakin ketakutan saat pintu ruangan terbuka perlahan. Suara derit nya membuat ku semakin kecut. Aku pun berpura-pura belum sadar dan memejamkan mata kembali walau hanya setengahnya. Dalam temaram cahaya lampu aku bisa melihat sosok ketiga lelaki itu. Ketiganya berbincang tentang rencana menjual ku ke kota lain. Dan hal tersebut sesuai perintah orang yang mereka sebut sebagai bos. "Ya Allah... tolonglah aku" doaku dalam hati. "Hei bangun..." ucap seorang lelaki sambil menendang ku. Aku pun terkejut dan mengaduh atas perlakuan tersebut. "Makan...!" katanya lagi sambil melempar bungkusan ke pangkuanku. "Aku akan membuka mulutmu, tapi jangan sekali-kali kau bersuara apalagi berteriak" katanya sambil menarik lakban yang sejak tadi menutup mulutku. "Aku juga akan membuka sebelah tanganmu. Jangan macam-macam, jika ingin hidup" katanya lagi mengancam sambil membuka ikatan sebelah tanganku. Aku menangis. Bulir bening yang sejak tadi ku tahan akhirnya jatuh juga.
Sedikit ragu aku pun mulai menyantap nasi bungkus tersebut. Dan hanya sedikit saja aku menyantapnya karena hilang sudah selera makan ku di situasi seperti ini. Namun jika tidak ada makanan yang mengisi perutku, maka bagaimana mungkin aku bisa lari jika ada kesempatan nanti.
__ADS_1
Pukul delapan malam. Tanganku sudah di ikat kembali ke belakang, namun tidak pada kursi kembali. Mulutku pun sudah di tutup kembali. Berjalan aku mengikuti langkah lelaki di depanku hingga sebuah mobil berwarna hitam. Hingga di dalam aku kembali tak sadarkan diri. Entah untuk berapa lama. Aku tidak tahu...