Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 18. Aku Pulang....!


__ADS_3

Ku tatap rumah berpagar hitam itu. Rumah yang tampak tak terawat. Terlihat dari banyak dedaunan kering yang berserakan. Terlebih lagi ada banyak rumput liar yang tumbuh di halaman yang tak seberapa luas. Ku buka pintu pagar tersebut. Deritnya cukup membuat fikiranku menerawang tiga bulan lalu sebelum peristiwa yang menimpaku. Ku dorong pintu kayu yang tampak usang itu dengan ujung kaki ku. Sementara tanganku membawa beberapa barang belanjaan. "Assalamu'alaikum...." ucapku saat masuh rumah. Ku lihat ayah tampak tertegun. Hanya matanya saja yang mengitari setiap inchi ruangan. "Tak banyak berubah..." gumamnya lirih. "Nenek dan Fara yang tetap mempertahankan semuanya. Karena menurut nenek di setiap ruangan ada kenangan ayah dan amah" kataku sambil memeluk manja lengan ayah. "Ibu Merry, dimana?" kata ayah. "Nenek sudah tiada,Yah..." kataku menyendu. Dan ayah pun diam. Matanya menatap foto yang tergantung pada dinding ruangan. Sementara sebelah tangannya memegangi tanganku yang masih bergelayut manja pada lengannya yang lain.


Pukul satu lewat tujuh menit. Rasa lelah menyelimuti tubuh sesaat setelah merapikan isi rumah. Tergeletak kami di lantai merasakan lelah yang belum hilang ketika sebuah suara mengejutkan kami. "Fara.....!" terik Bu Jiah membuatku terlonjak dan menghambur saling memeluk. "Kemana saja, Neng....? Ibu khawatir" katanya sambil mengguncang tubuhku. "Ceritanya panjang sekali..." kataku sambil mengusap air mata di pipiku. "Apa kabar,Bu Jiah...?" kata ayah sambil tersenyum. Sesaat Bu Jiah termangu menatap ayah. "Mas Permana...?" kata Bu Jiah kemudian. "Ya..Allah, mas Permana. Kemana saja. Kasihan neng Fara, mas.." katanya lagi. " Ya, mbak. Sekarang saya akan selalu menjaga Fara" katanya. Kemudian aku pun menceritakan kemana saja aku selama tiga bulan ini. Tampak Bu Jiah begitu prihatin mendengarnya."Neng semua mencari neng Fara. Mbak Sherlly pernah ke sini membawa polisi. Mencari yang bisa dijadikan bukti. Dokter David, Mas Mirza. Bahkan mas Mirza rutin ke rumah ini. Kadang tiga hari sekali. Kadang seminggu sekali. Dan hari ini baru saja tadi pagi ia ke sini" kata Bu Jiah panjang. "Neng...Mas Mirza sangat mencintai, neng Fara. Semua ia lakukan untuk mengetahui keberadaan neng. Pernah suatu hari mas Mirza datang. Ia begitu kusut. Hampir putus asa. Ia merasa bersalah karena tidak dapat menjaga neng Fara. Beruntung dokter David menyadarkannya. Ternyata dokter David itu kakak mas Mirza, Neng" kata Bu Jiah lagi. Aku terdiam. Hilang kata ku mendengar penuturan Bu Jiah. "Mohon tidak memberitahu siapapun, kalau Fara sudah pulang. Fara butuh waktu, Bu" kataku lirih. "Ya, Neng. Ibu mengerti..." kata Bu Jiah.


Pukul dua lewat tiga puluh menit. Matahari seakan enggan membagikan sinarnya ke bumi, karenanya suasana sedikit sejuk. Namun tak lama awan hitam pun menggantung pertanda hari akan hujan. Ku tatap pepohonan yang tampak bergoyang tertiup angin dari balik jendela. Sementara fikiranku melayang pada sosok tampan yang sudah mengkhawatirkan ku. Sosok yang tadi pagi sebenarnya hampir ku temui. "Kak Mirza. Maafkan Fara. Fara belum siap bertemu denganmu" kataku lirih sambil melihat titik hujan yang menempel pada jendela kaca kamarku. Ada kesedihan yang bergelayut pada hati ini. Bukan sebuah penyesalan hanya kekecewaan saja tentang hidupku. Bukan menjadi lebih baik, tapi justru lebih terpuruk. "Ya...Allah, apa rencana-Mu sebenarnya?" kataku lagi sambil mengusap kembali air mata yang membasahi kedua pipiku.


Pukul tiga lewat dua puluh menit. Hujan telah turun menyapa bumi. Titik nya begitu deras hingga air di jalanan pun meluap hingga halaman rumah. Ku dekap kedua lututku saat sesekali petir dan gurih terdengar memekakkan telinga. Berlari seorang lelaki di bawah rintik hujan yang telah membuatnya kuyup. Wajahnya tertutup helm. Sementara tubuhnya telah kuyup oleh guyuran hujan. Ia pun berteduh di teras rumah. Kedua tangannya melipat di depan dada. Ku yakin untuk mengurangi rasa dingin yang menerpa tubuhnya. Tak lama kemudian ia pun membuka helmnya dan meletakkan di meja. "Kak Mirza..." kataku tercekat. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Ku lihat matanya memperhatikan mobil hitam yang parkir di halaman rumah. Sesekali matanya menatap pintu rumah yang tertutup rapat.

__ADS_1


Pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Mendadak kak Mirza berlari ke tengah halaman. Matanya menatap ke arah rumah. Aku yang berada di balik jendela langsung saja menyembunyikan tubuhku. Namun sial, sepertinya ia memperhatikan perubahan yang ada. Rumah lebih bersih, tirai jendela yang terbuka dan atau suara batuk ayah yang terdengar sesekali. Fix ia menaruh curiga. Bergegas ia berlari menuju rumah dan mengetuknya perlahan. Berulang kali ia melakukannya. Bahkan kali ini ia memanggil namaku. "Fara...!" katanya. Dari mengetuk perlahan hingga menggedor pintu ia lakukan. Terduduk ia di depan pintu sambil memanggil namaku. Ku lihat ayah berdiri membelakangi pintu dimana kak Mirza berada. Matanya terlihat iba dengan kondisi kak Mirza tersebut. Kemudian ayah pun memberikan isyarat agar membuka pintu. Dan tentu saja aku melarangnya.


Pukul empat lewat dua menit. Berlalu pergi kak Mirza dari depan pintu. Langkahnya begitu gontai melalui halaman dan kemudian berlalu mengendarai motor sport berwarna hitam. Aku terduduk pada sofa. Lunglai rasa tubuhku. Mataku mulai berair yang sejak tadi ku tahan. Ada rasa sakit ketika melihatnya pergi. Ada sebagian jiwaku yang meronta ingin memanggilnya kembali. Tapi apa dayaku. Aku tak kuasa karena dikalahkan rasa bersalahku. Menangis kembali aku dalam dekapan ayah. "Sabar, sayang. Kuatlah...Pasti ada jalan terbaik untuk mu dan Mirza" kata ayah sambil mengusap kepalaku.


Pukul empat lewat lima belas menit. Ku guyur tubuhku dengan air dingin. Dan menangis. Menumpahkan segala rasa dalam dada. "Fara.... ini ayah. Em, ada yang ingin menemui mu" kata ayah. "Siapa, Yah...?"tanyaku. "Fara lihat sendiri saja" kata ayah. Aku pun bergegas menyelesaikan mandiku dan menyusut air mataku. Rasa penasaranku timbul-tenggelam bak kapal di tengah lautan.


Pukul tujuh malam. Menyantap hidangan di meja makan bersama Sherlly dan ayah dengan menu sederhana, namun cukup mengenyangkan. Di bawah pendar cahaya lampu yang cukup terang kami bersantap diselingi canda dan tawa seperti beberapa waktu lalu. "Em, enak sayang. Masakan mu hampir menyerupai masakan amah mu" kata ayah sambil tersenyum menatapku. "Fara memang jago masak, Om. Jago buat kue juga..." kata Sherlly memujiku. "Berlebihan...." kataku sambil mencubit lengan Sherlly. Ia pun mengaduh sambil mengusap bekas cubitan kecilku itu. "Oya...wah, hebat anak ayah" kata ayah sambil mengusap kepalaku dan tersenyum.

__ADS_1


"Tolong dong..." kata ayah sambil menyodorkan piring. "Ayah mau tambah?"kataku. "Sebab enak sih..." kata ayah. "Enak apa lapar?" kataku sambil tertawa. Ayah pun turut tertawa dan mencubit gemas hidungku. Obrolan saat santap malam pun terus berlanjut hingga ayah beranjak pamit ke swalayan karena ada keperluan yang harus dibelinya. "Anak cantik ayah mau pesan apa?" katanya. "Em, ikut boleh tidak?" kataku manja. "Boleh dong sayang...." kata ayah. Bersorak Sherlly mendengar perkataan ayah. "Lima menit..." kataku sambil menghambur dan berebutan ke dalam kamar dengan Sherlly. Tawa kami pun tak terelakkan lagi.


Pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit. Kupakai kerudung berwarna biru dan kacamata berbingkai hitam. Hal tersebut sebagai upaya menyamarkan identitas ku dari para penculik yang mungkin saja masih mengintaiku. "Cantiknya anak, ayah.." kata ayah memujiku yang membuat aku tersipu. Tak lama kemudian mobil kami pun melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalanan yang tampak basah setelah di guyur hujan sore tadi. Sepuluh menit perjalanan kami pun sampai di swalayan yang dimaksud. Ku lihat sejak tadi Sherlly sibuk dengan ponselnya hingga aku harus mencoleknya saat akan turun dari mobil. Ia pun terhenyak dan langsung mengikuti langkahku memasuki swalayan.


Beberapa barang sudah ayah dapatkan. Beberapa makanan ringan pun sudah aku dan Sherlly masukkan dalam keranjang belanjaan. "Sedikit sekali, sayang..." kata ayah. "Sudah banyak kok..." kata aku dan Sherlly hampir bersamaan yang membuat ayah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kak Mirza, Fa..." kata Sherlly tiba-tiba yang membuatku langsung menyembunyikan wajahku ke balik Punggung ayah. Pun demikian dengan Sherlly. Jantungku serasa berlarian saat melihat wajah tampannya. Kembali separuh jiwaku meronta dan meneriakkan namanya. Namun lagi-lagi separuh jiwaku yang lain mampu mencegahnya. Tersisa lah rasa sakit yang mendalam dalam hati ku saat ia berlalu begitu saja meninggalkan swalayan. "Kak Mirza..." kataku lirih sambil mengusap air mata yang baru saja mengalir. "Fa..." kata Sherlly sambil memegang lenganku, seakan ia tahu betul bagaimana perasaanku. Pun demikian dengan ayah. Ia langsung memeluk bahuku saat berjalan keluar swalayan.


Untuk kedua kalinya aku melihat kak Mirza. Dan kedua kalinya juga separuh jiwaku berontak menyebut namanya. Dan kedua kalinya juga ada rasa sakit, kecewa dan marah pada diriku. Ya...Allah, tolonglah aku.

__ADS_1


__ADS_2