
Aku terkejut hingga terlonjak saat melihat siapa pemilik tubuh kekar itu. "Kau...!" ucapku dengan mata yang membulat sempurna. Jantungku berdegup hebat. Darahku berdesir. "Akh..." erangku saat merasa sakit pada lukaku karena aku bermaksud sedikit menegakkan kepalaku. Aku ingin memastikan kebenaran siapa laki-laki yang kini berdiri di hadapanku. Dan hal itu membuat laki-laki itu begitu khawatir terhadapku. Namun aku justru tidak menyukainya. Karena laki-laki itu adalah yang sudah membuat hidupku jadi abu-abu. Ya...dia adalah Darius. Kakak laki-laki kak Mirza dari ibu yang berbeda, yaitu Roy.
"Nyonya..." ucapnya sambil menatapku. Hei...mengapa ia memanggilku nyonya? Aku membatin. Kemudian mataku menatap Satria meminta penjelasan. Satria pun tersenyum. "Roy, bekerja untuk tuan Keanu sekarang. Dan tuan Keanu memintanya untuk menjaga Nyonya saat ini. Dan maaf, kami datang terlambat tadi..." ucap Satria. Aku terus menatap Roy atau Darius selama Satria menjelaskannya. Aku seakan tak percaya dengan apa yang ku dengar. Dan Roy...em, bukan tapi kak Roy. Ia menatapku lalu tersenyum. "Nyonya tidak perlu khawatir. Saya tahu batasan..." ucapnya mengangguk takzim. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Nyonya harus lebih berhati-hati sekarang. Saya fikir kejadian itu bukan tanpa disengaja" ucap Satria. "Maksudnya..." tanyaku. "Seperti sebuah setting-an yang di siapkan seseorang. Tapi nyonya tidak perlu khawatir, mulai sekarang kami akan lebih intens menjaga Nyonya" ucap kak Roy yang hanya sesekali menatapku. Aku terdiam. Mataku kembali terpejam. Aku ingin mencari ketenangan dalam tidurku. Sekedar mengisyaratkan isi kepala yang sudah lelah bekerja keras mencoba memaknai dan menghubungkan peristiwa demi peristiwa yang sudah ku alami.
Jam dinding bertiktok. Suaranya cukup berhasil membuat ku membuka mata. Perlahan namun pasti aku kembali mengitari seisi ruangan yang berwarna putih itu. Hari ini adalah hari ketiga di rumah sakit. Dan selama aku di rumah sakit, Dara lah yang selalu menemaniku. Hanya sesekali saja Satria ataupun kak Roy menemui ku, itupun saat Dara meminta izin pulang untuk mengambil keperluan pribadinya atau ke cafe karena ada hal yang urgent. Seperti halnya saat ini, kak Roy lah yang menemaniku saat Dara harus ke cafe. "Nyonya... Nyonya belum makan?" ucapnya sambil mengambilkan piring yang berisi menu makan siangku. Dan aku hanya diam. Tak menghiraukannya. Namun sepertinya ia menjadi bermuka tebal. Ia tetap menyorongkan nasi ke mulutku, berharap aku memakannya. Aku menghela nafas dan beralih menatapnya. Mendapat tatapan itu ia pun menghela nafas dan menurunkan tangannya. "Aku memang bersalah. Tapi aku mulai memperbaiki diri. Dan cintaku padamu, sudah ku katakan sudah menjadi cinta yang berbeda. Cinta yang tidak memaksakan. Karena aku tahu cintamu hanya pada Mirza, adik laki-laki ku itu" ucapnya yang hanya sesekali menatapku. "Dan aku bekerja untuk tuan Keanu, karena aku membutuhkannya. Aku kehilangan semua usahaku. Mungkin sudah waktunya juga. Daripada aku mengemis pada ketiga saudaraku, akan jauh lebih baik aku memilih menjadi jongos sekalipun kepada orang lain" ucapnya lagi. Hei, ada genangan air di kedua matanya. Tapi...no, no. Fara kamu jangan tertipu. Bisa jadi ia hanya berpura-pura saja. Begitu aku membatin. "Mungkin nyonya tidak mempercayainya, tapi saya akan tunjukkan. Pertama bahwa saya bukanlah Darius yang dahulu. Saya sudah berubah. Kedua saya bekerja karena saya butuh bukan karena hal lain. Jika Nyonya keberatan dengan kehadiran saya, silahkan bincangkan dengan tuan Keanu" ucapnya lagi. Aku masih diam saja. Berpura-pura tidak mendengarkannya. Namun sesungguhnya aku pun memperhatikan setiap kata yang terlontar. Kemudian aku pun mengambil piring dan sendok dari tangannya. "Aku sudsh sembuh. Dan lagi yang luka perut dannlenganku. Jemariku masih berfungsi baik" ucapku tanpa menatap wajahnya. Namun sepintas dengan ujung mataku, aku melihat senyum menghiasi wajahnya.
Pukul satu lewat lima belas menit. Ku lihat kak Roy merapikan beberapa perlengkapanku. Saat ku tanya kenapa di rapihkan ia pun menjawab datar saja. "Hari ini Nyonya akan pulang..." begitu ucapnya. Walau ia menghentikan aktifitasnya saat menjawabku, namun tidak sedikitpun ia menatapku. Tatapannya selalu menunduk. Astaga, naif sekali ia. Aku membatin.
__ADS_1
Pukul dua tepat. Aku bersiap untuk pulang. Hanya ada kak Roy dan Dara saja. Sementara Satria setelah mengurus administrasi biaya rumah sakit ia langsung menuju bandara. "Maaf, Nyonya. Saya harus berada bersama tuan Keanu. Tuan sedang membutuhkan saya" ucapnya beberapa waktu lalu. "Nyonya tidak perlu khawatir, tuan Keanu baik-baik saja. Ini hanya berkaitan dengan pekerjaan saja" ucap Satria saat menangkap kekhawatiran di wajahku. "Kita berangkat, Kak..." ucap Dara membangunkan lamunanku. Aku pun tersenyum dan mengangguk. "Tunggu, Nyonya..." ucap kak Roy menghentikan langkahku. Kemudian tangannya memakaikan jaket hitam yang tadi ia pakai pada bahuku dan memakaikan kacamata hitam kepadaku. Aku tertegun memperoleh perlakuan tersebut, karena aku tidak menduganya sama sekali. "Terima kasih..." ucapku datar tanpa menatapnya.
Langkahku pun menjadi sangat cepat menyusuri lorong rumah sakit yang cukup panjang. Sesekali aku menghentikan langkahku karena nyeri pada lukaku kembali terasa. "Kak Olivia.." ucap Dara dengan wajah khawatir. "Tidak apa-apa..." ucapku. "Nyonya, saya ambilkan kursi roda?" ucap kak Roy. Namun aku menolaknya keras. "Aku ingin merasakan kaki ku, kak Roy..." ucapku yang membuatnya mendadak menatap wajah ku. Sepertinya ia terkejut saat aku menyebut namanya juga dengan embel-embel di depan namanya. Kemudian ia sepertinya menyimpan Senyuman di ujung bibirnya.
Pukul dua lewat lima belas menit. Aku berada di ujung lorong. Tepatnya dekat pintu keluar rumah sakit. Tak lama Roy pun menghampiriku dengan membawa mobil merahku. Perlahan namun pasti aku masuk mobil dan duduk di kursi depan dekat kemudi. Dengan hati-hati Roy meluruskan kursi agar aku lebih nyaman. "Terima kasih..." ucapku sambil membetulkan posisi tubuhku. "Nyonya..." ucapnya saat mendapatiku sedikit mengeluh. Aku pun berisyarat dengan tangan, bahwa aku baik-baik saja. Kemudian Roy pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang saja.
Matahari begitu terik saat ini. Hawanya hampir mampu mengalahkan dinginnya AC mobilku. "Kak Olivia, minumlah juice ini" ucap Dara sambil menyodorkan segelas juice. Aku pun mengambilnya dan meneguknya sedikit demi sedikit. Sedikit hilang dahagaku karenanya. Aku pun kembali memejamkan mata dan lagi-lagi merasakan nyeri pada lukaku.
Pukul empat lewat lima belas menit. Roy berpamitan. Ia akan menggunakan motor matic lama ku sambil mengantarkan dara ke cafe. "Ini nomor ponsel saya, Nyonya. Mohon hubungi saya jika membutuhkan sesuatu atau ada hal yang mencurigakan. Apa pun itu"ucapnya sambil menyodorkan kertas bertulis dua belas angka ponselnya. "Baiklah. Terima kasih..." ucapku yang hanya sekilas menatapnya. Setelah semua meninggalkan rumah ku, tinggallah aku yang masih saja duduk termenung pada sofa. Mataku menatap langit-langit yang sama selama setahun tujuh bulan ini. Kemudian aku terkesiap, teringat pada sesuatu. "Ponselku. Dimana ponselku?" ucapku sambil mencarinya. "Ah, ketemu.." ucapku sumringah. Ku buka ponselku dan membaca satu-satu setiap pesan yang ada. Namun aku jadi terdiam dan merasa heran karena tak satupun pesan dari kak Keanu. Padahal aku sudah mengiriminya beberapa pesan waktu lalu. Tak biasanya dia demikian. Aneh. Atau adakah sesuatu yang terjadi padanya. "Mama Wina..." ucapku sambil mencari kontaknya. Namun nihil. Aku tidak menemukannya.
__ADS_1
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya aku menghubunginya melalui panggilan telepon. Berulangkali kali aku melakukannya, namun berulangkali juga panggilanku tiada jawaban. Apa yang terjadi. Yang ku tahu kak Keanu belum pernah mengabaikanku seperti ini. Fiuh...rasa penasaranku semakin menjadi terlebih ponsel Satria pun mendadak tak dapat di hubungi. Bagaimana aku bisa mendapat informasi tentang kak Keanu. "Ah, mungkin Roy mengetahuinya. Sebaiknya aku tanyakan saat bertemu" ucapku.
Pukul empat lewat lima puluh menit. Kejenuhan mulai merayapi jiwaku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk ke cafe. Dengan berhati-hati aku masuk ke dalam mobil dan mulai men-stater. Perlahan aku melajukan mobil pada jalanan yang masih tampak basah karena baru saja di guyur hujan. Tak memakan waktu lama, akhirnya aku sampai pada tujuanku. Ku parkir mobil diantara kendaraan lainnya. Setelah itu memasuki toko yang tampak sedikit ramai. Syukurlah kehadiranku tidak diketahui pegawaiku sehingga langkahku menuju ke cafe mulus-mulus saja.
Hingga di cafe aku tertegun. Sekonyong-konyong mataku melihat keriuhan yang terjadi. "Astaga..."ucapku. Mataku tak lepas pada kerumunan para gadis yang mengerumuni seorang laki-laki. Dan Roy lah yang tengah menjadi bulan-bulanan para gadis tersebut. "Fiuh..." ucap Roy lega saat dapat berhasil keluar dari kerumunan, namun ia tidak menyadari kehadiranku di cafe. Aku menatapnya dengan teliti. Dan aku terkejut saat melihatnya memakai seragam cafe ku. "Apa ini..?" ucapku. "Nyonya..." ucapnya terkejut. Ku tarik lengannya ke ruang belakang dekat dapur. Di sana ada Rio dan Danu yang sedang memagang di cupcake. "Jelaskan..." ucapku singkat. "Maaf Nyonya. Ini satu-satunya cara agar saya dapat selalu berada di dekat Nyonya. Menjaga Nyonya. Saya tidak mau terlambat lagi membantu, Nyonya. Selama tuan Keanu tidak ada, Nyonya menjadi tanggungjawab saya sepenuhnya" ucapnya yang membuatku terdiam. "Tapi tidak dengan semua kegaduhan tadi" ucapku lirih. "Jangan salahkan saya, Nyonya. Itu semua salah orangtua saya" ucapnya sambil menatapku sesaat. "Orangtua...?" ucapku penasaran. "Ya, orangtua. Mengapa mereka membuat saya tampan seperti ini..." ucapnya sambil tersenyum. Aku pun menatapnya dengan ekpresi meledek. Ia pun tertawa melihat ku. Selama aku mengenalnya, baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas. "Maaf, Nyonya..." ucapnya kemudian sambil menjura takzim dan berlalu. Aku pun terdiam kesal. Mataku menatap Rio dan Danu yang cekikikan melihat polah Roy barusan.
"Aduh...." ucapku sambil menepuk keningku. "Kenapa aku lupa. Bukankah aku ingin menanyakan prihal kak Keanu pada Roy. Astaga..." ucapku kesal. Kemudian kulangkahkan kaki kembali ke cafe. Dan lagi-lagi aku harus memegang kepalaku saat ku lihat kembali keriuhan akibat Roy. Ternyata gaya cool yang ditampilkannya mampu menghipnotis gadis-gadis remaja di cafe ku. "Kak..." ucap Dara saat mengetahui kehadiranku. "Ide siapa ini?" tanyaku sambil menunjuk keriuhan yang ada. "Maaf, Kak. Ini ide Dara dan kak Roy" ucapnya sambil membenamkan wajahnya, menatap ujung kakinya. "It's Okay..." ucapku sambil tersenyum dan mengusap bahunya. "Aku mengerti..." ucapku sambil menarik kursi dan duduk di atasnya.
"Kak... bagaimana kabar kak Keanu? Beberapa pesan saya tidak berbalas. Adakah yang terjadi padanya?" tanyaku penasaran. "Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu bagaimana keadaan tuan Keanu saat ini. Karena penghubung saya selama ini adalah Satria" ucap Roy sambil sesekali menatapku dan merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Mendengar itu aku menghela nafas panjang dengan berat. "Kemana kak Keanu sebenarnya? Mengapa pesan-pesan ku tak ada yang berbalas? Apakah telah terjadi sesuatu padanya?" beberapa tanyaku dalam hati penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Aku kembali menatapi suasana cafe. Dan sesekali aku tersenyum saat mengetahui keriuhan tengah terjadi kembali. Kemudian aku pun fokus kembali pada laporan keuangan cafe yang di berikan Dara sesaat ketika aku memintanya. Dengan cermat aku meneliti pemasukan dan pengeluaran selama aku tidak ada. "Bagaimana keadaanmu, kak Olivia...?" ucap seorang laki-laki yang berdiri di hadapanku. Aku pun spontan mendongakkan kepala menatap wajahnya. "Bang...." ucapku terkejut saat mengetahui si empunya suara.
To Be Continued....