
Tersenyum aku pada ilalang yang masih setia menyapaku. Liukan tiap bilah daun panjangnya seakan berbisik saat tertiup angin. Sebuah perpaduan yang menghasilkan harmonisasi bak irama lagu yang mendayu syahdu. Aku yang rebah pada rerumputan tengah memberi penilaian rasa atas keagungan Tuhan yang menyata sempurna dengan ditemani semilir angin yang terasa sedikit mencubit kulit. Sementara itu di langit awan hitam mulai menggantung. Sesekali arakannya menutupi mentari sehingga suasana menjadi sedikit gelap. Dan pada sisi lain langit, kawanan burung tampak terbang melintas seakan tahu hari akan segera hujan.
"Ayo kak...!" ajakku pada Kak Mirza yang masih saja duduk pada sebuah kursi kayu. Sesekali ia tersenyum ataupun melambaikan tangan kepadaku yang tentu saja langsung ku balas. Sadar ajakan ku tak direspon, aku pun langsung menghampirinya. Duduk di sebelahnya dan bergelayut manja pada lengannya. Sesekali ku tatap wajah tampannya yang tengah takjub memandang gambaran lukisan sang pencipta. "Kita pulang? Sepertinya sebentar lagi akan hujan" ucap kak Mirza sambil merapikan rambutnya yang acak tertiup angin dengan sebelah tangannya. Aku pun segera mengiyakan ajakannya tersebut.
Beriringan langkah kami menyusuri jalan setapak berbatu dengan deretan bunga warna -warni pada kiri dan kanannya. Sesekali aku mengarahkan kamera ponselku untuk mengabadikan kebersamaan kami tersebut. Bermacam pose pun kami lakoni. Mulai dari yang biasa hingga yang sedikit menggila. Tertawa aku dan kak Mirza saat melihat deretan hasil jepretan di ponselku. Terlebih saat melihat pose menggila kami.
Tak lama kemudian, mobil sport silver kak Mirza pun melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan. Hari pun mulai disapa rintik hujan satu satu. Hati ku yang sedang merah jambu, selalu mengumbar senyum dengan mata yang sesekali menatap kak Mirza yang fokus pada jalanan. Kak Mirza pun tampak tersenyum sumringah dan juga sesekali mengusap pucuk kepalaku dengan sebelah tangannya. "Terima kasih ya, untuk hari ini...Semoga jadi vitamin buatku esok hari saat ujian skripsi" ucap kak Mirza. "Aamiin...Semangat...!"ucapku berapi kemudian sambil mengangkat tangan ke udara. Kak Mirza pun makin tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Plus dua lubang pada kedua pipinya, auto meningkat ketampanannya. "Iiih...gemezz, pengen nyubit aza dech" batin ku sambil senyum-senyum sendiri. "Kenapa, senyum-senyum sendiri?" ucap kak Mirza sambil membelokkan mobil sport silver nya pada halaman rumah. "Want to know...aja" ucap sambil keluar dari mobil. Dan Sebuah senyuman pun menyambut kedatangan kami saat itu. "Loh, Mi... sudah pulang" tanya ku pada Tante Vira yang kini sudah menjadi ibu sambungku. Aku memanggilnya mami. Ku kecup punggung tangannya sambil tersenyum. "Baru saja pulang. Lihat langit mendung, mami jadi ingat jemuran" ucap mami Vira yang kemudian menutup buku bacaannya dan mengiringi langkah kami. Mami pun menanyakan kepergian kami tadi sambil duduk pada sofa tak jauh dariku. "Maaf tidak memberitahu. Fara baru saja menemani kak Mirza beli souvernir untuk ujian skripsi esok. Lalu mampir ke taman yang viral itu loh, Ma" ceritaku. "Oya...bagaimana, seperti yang dikabarkan kah?' tanya mami penasaran. "Em, biasa saja" ucapku sambil berlalu saat kak Mirza memanggilku.
__ADS_1
"Ya, Kak..." ucapku saat sampai di dekatnya. Kak Mirza pun menunjuk pada tumpukan barang yang baru kami beli. Aku pun tersenyum dan langsung duduk di dekatnya. Tanganku mulai merapikan beberapa barang yang dijadikan souvernir dan memasukkannya pada paper bag. "Done..." ucapku sambil meregangkan tubuh. Sedikit bersuara bibirku saat aku melakukannya. Dan hal itu tentu saja membuatnya tertawa kecil. "Lucunya...." ucapnya sambil merengkuh kepalaku dalam dekapannya. Ia pun mengacak sembarang pucuk kepalaku dengan gemas. Aku berontak manja sambil berusaha lepas dari dekapannya. Tawa kecil kami pun menghiasi sore hari itu.
Pukul delapan lewat empat puluh menit. Setelah sholat isya dan santap malam, aku duduk santai di sofa sambil menikmati tayangan sebuah stasiun televisi swasta bersama ayah dan mami Vira. Sementara kak Mirza kembali berkutat dengan bahan-bahan ujian skripsinya. Ia begitu serius mempersiapkan. "Sempurna itu tidak ada, tapi mendekati sempurna itu harus" begitu kata kak Mirza setiap dikomentari tentang keseriusannya menghadapi ujiannya. "Fara, kak Mirza mu tidak ditemani?" ucap ayah. Matanya tetap fokus pada layar televisi. "Khawatir mengganggu, Yah..." ucapku yang kemudian tertawa saat melihat ulah salah satu komedian di televisi. "Minimal teh lah..." ucap mami Vira. Aku pun terdiam. "Astaga...ya juga" ucapku sambil menepuk keningku.
Kemudian langkahku menjadi cepat menuju dapur. Dengan cepat aku pun meracik teh beberapa gelas. Belum lagi siap, aku sudah dikejutkan dengan suara kak Mirza. "Ehem..." katanya. Mendengar itu aku pun bermaksud memutar tubuh. Namun belum sempurna aku berbalik, kak Mirza sudah mendekap tubuhku dari belakang. "Buat apa, sayang...?" tanyanya setengah berbisik sambil mengecup lembut bahu ku. "Em, teh tuk kakak" ucapku sambil terus melanjutkan meracik teh. "Wah, enak Sepertinya...Apalagi hujan-hujan begini" ucapnya sambil terus mendekapku. "Sudah selesai persiapannya?" ucapku sambil menuangkan teh dalam gelas. "Belum. Sebentar lagi. Tadi aku keluar karena ingin mengambil air minum. Eh, di sini malah bertemu bidadari" ucap kak Mirza sambil tersenyum dan mengangkat nampan berisi gelas. Aku pun menolaknya atas bantuannya tersebut, namun kak Mirza bersikukuh melakukannya. Dan akhirnya aku pun mengalah dan membiarkan dia melakukannya.
Kuiringi langkahnya hingga ke ruangan dimana ayah dan mami Vira berada. "Lah...kok, Nak Mirza yang bawa" ucap ayah sambil tersenyum dan mengambil secangkir teh yang baru saja kak Mirza letakkan. "Tidak apa-apa,Yah. Sekali-kali..." ucak kak Mirza sambil tersenyum. Kemudian kak Mirza pun pamit untuk melanjutkan aktifitasnya di kamar. Dan sekali lagi aku pun mengiringi langkahnya sambil membawa secangkir teh lengkap dengan kudapannya. Sampai di kamar ku letakkan teh dan kudapan pada nakas. Aku tersenyum menatap tumpukan kertas tertusun rapi. Hanya beberapa saja yang berserakan di sisi kanan dan kiri laptop yang masih menyala. Melihat senyum dan tatapan ku itu, kak Mirza pun menghampiriku. Dan lagi-lagi memberiku dekapan hangatnya. "Semenjak menikah, kita belum kemana-mana. Maaf ya...Tapi setelah ujian skripsi selesai kemudian kerjaan di kantor juga longgar, kita bisa pergi kemanapun itu" ucap kak Mirza yang kutanggapi dengan mengeratkan dekapan dan mengecup lalu dadanya. "Kiita kan sudah berjalan-jalan ke taman tadi. Dan Fara sudah senang. Tidak perlu jauh-jauh..." ucapku berupaya mengutarakan rasaku. Mendengar itu kak Mirza justru terkekeh. Tubuh kekarnya hingga terguncang. "Okey...baiklah. Tapi suatu hari kita harus menikmati hari hanya kita berdua saja" ucap kak Mirza disela kekehnya.
__ADS_1
"Hingga pagi kah seperti ini?" ucapku dengan sedikit menggoda nya. Aku berlaku demikian, tiada lain untuk mencoba melonggarkan dekapannya sehingga kekhhawatiranku akan terdengarnya degup jantungku yang kian bertalu dapat menguap begitu saja. "Namun sepertinya usahaku itu tak berbuah hasil. Nyatanya kak Mirza tetap mendekapku dan lagi-lagi mencium lembut punggung ku. "Bila perlu..." ucap kak Mirza.
Deg...
Ya Tuhan. Duhai raga ku, aku mohon janganlah mengirimkan sinyal balasan atas perlakuannya tersebut. Yah, walau kutahu jiwaku sedang berontak ingin segera menyambut dan mengirimkan sinyal balasan. Hal hasil aku kembali menggigit bibir ku sendiri dan berusaha sekuat tenaga meredang gejolak rasa yang ada. "Kak..." panggilku manja. "Em..." jawabnya tanpa mengangkat kepalanya yang sandar pada punggungku ataupun melepaskan dekapannya. "Lanjutkanlah, Kak. Sedikit lagi..." ucapku. Mendengar itu kak Mirza pun menghela nafas. "Sesungguhnya Kak Mirza mu ini lelah, sayang..." ucapnya sambil meregangkan tubuh dan membiarkan ku termangu walau sesaat. "Em, Fara coba merileksasi tubuh dan fikiran kakak ya..." ucapku yang langsung berdiri. "Dengan apa...?" ucap kak Mirza yang menatapku berlalu ke belakang nya. "Dengan pijatan..." jawabku. "Jika kamu yakin, lakukan. Tapi jika gagal membuat ku rileks, aku tidak segan-segan menghukummu?" ucap kak Mirza sedikit menggodaku dengan kata ancaman. "Tapi jika berhasil, bagaimana" ucapku sambil memulai melentukkan jemari saat memijat. Kali ini, untuk yang pertama kali adalah bagian bahunya. Kak Mirza pun terlihat menikmatinya sambil sesekali melontarkan pujian. "Enak sayang. Pintar kamu, yank..." ucapnya. Setelah bahu, pijatanku pun menyasar pada kepalanya. Tanpa tekanan berarti, aku hanya mengusapnya perlahan dan memberikan pijatan halus pada bagian tertentu saja. "Ku beri hadiah. Ku pastikan kau akan menyukainya.."ucapnya sambil terkekeh. Aku pun tersenyum sumringah mendengar ucapan kak Mirza yang bagai janji bagiku.
Pukul sembilan lewat dua menit. Kak Mirza sudah kembali pada aktivitasnya. Menilik kembali segala persiapan pada laptop yang masih menyala atau pada tumpukan berkas yang sesekali ia buka. Sementara itu aku hanya mampu menatapi segala kesibukan kak Mirza dari tempat dudukku. Sesaat kemudian aku pun menenggelamkan segenap rasa ku pada buku bacaan yang kini aku baca. Sebuah buku bacaan yang mampu menerbangkan segala Indra ku, membawanya pada sebuah lamunan nan panjang. Dan tiada terasa aku pun mulai terlelap. Mungkin rasa lelah sepanjang hari telah mempengaruhi jiwa dan ragaku. Entah berapa lama aku terlelap. Dengan buku yang menutupi sebagian wajahku aku menyelami mimpiku. Hingga sebuah sentuhan berhasil memaksaku untuk kembali tersadar. "Kak Mirza..." ucapku. "Maaf sudah membangunkanmu" ucapnya sambil tersenyum. Mataku segera menatap lantai yang semula dipenuhi berkas kini sudah rapi kembali. Rupanya kak Mirza sudah merapikannya kembali. "Sudah selesai, Kak...?" tanyaku sambil membetulkan posisi dudukku. "Sudah..." jawabnya singkat sambil tersenyum.
__ADS_1
"Akh..." teriakku setengah terkejut saat kak Mirza mengangkat tubuhku. Bibirnya mendesis mengingatkanku agar aku tidak panik. "Sstt..." ucapnya sambil tersenyum. Aku pun terdiam seketika. Entah mengapa aku justru mengalungkan kedua tangan ku pada lehernya. Tatapan mata ku pun tertuju pada wajah tampannya. Aku tertegun saat tatapan kami saling bertemu. Bak dialiri aliran listrik aku tubuhku mendadak kaku. Tatapan ku pun serasa terkunci pada matanya yang juga menatapku. Sungguh aku tidak sanggup memalingkan wajahku sedikitpun. Aku sudah tersihir oleh segala yang ada padanya.
Direbahkannya tubuhku pada kasur yang dua malam ini sudah kami tempati. "Terima kasih untuk semuanya..."ucapnya sambil terus menatap ku. Wajahnya hanya beberapa sentimeter saja dari wajahku. Begitu dekat hingga hembusan nafasnya pun dapat ku rasakan pada wajah ku. Ia pun tersenyum. Ah, senyuman yang berhasil membuat irama jantungku berdegup hebat. Senyuman yang mampu menerbangkan fikiranku dan membawaku mengembara jauh. Dan entah sejak kapan kini ia sedang bersenang-senang pada bibirku. Tak terelakkan lagi aku pun menyukainya. Namun saat teringat di tiga kejadian lalu, aku terhenti dari buaiannya. Aku pun surut dan menolak tubuhnya. Hal tersebut tentu saja membuat kak Mirza terkejut dan menatapku dalam. Tatapannya penuh tanda tanya. "Seajuh mana Kakak menginginkannya?" tanyaku dengan nafas sedikit memburu. Kak Mirza hanya tersenyum. Tanpa kata. Ia pun kembali bersenang-senang pada bibirku dan juga pada bagian tubuhku lainnya. Aku mendesis menahan gejolak yang memenuhi jiwaku. Rasa yang belum pernah aku alami sebelumnya. Dan kak Mirza pun semakin bersenang-senang dan menikmati tubuhku yang mulai meronta penuh gairah. Terlebih saat ia bersenang-senang pada zona terpentingku. "Ya...Tuhan, akhirnya ia mampu menguasai hasratnya atas diriku" aku membatin di tengah gelora yang kian membuncah. Aku tersenyum saat ia mengerang puas. Untuk selanjutnya ia pun lunglai dan rebah di sebelahku. Di pelukannya tubuhku dan mengecup lembut keningku. "Terima kasih..." ucapnya. "Justru aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Kak. Setelah apa yang telah kau lakukan malam ini, membuatku benar-benar tersanjung. Ini adalah bentuk penghargaan mu atas diriku setelah mengetahui apa yang terjadi padaku sebelumnya" aku membatin dengan bibir yang mengumbar senyum. Tanganku pun mengelus wajah tampannya dan kembali larut dalam dekapan hangatnya.