
Mentari belum lagi habis di barat. Karena semburat merahnya masih menerangi kaki langit. Hanya burung-burung saja yang sudah tampak gusar dan segera kembali pulang ke sarang. Sepoi angin pun sudah berangsur menjadi dingin. Semilirnya menggoyangkan dedaunan sebentar saja. Ku langkahkan kaki memasuki rumah besar dan megah itu. Berputar mataku mengitari seisi ruangan. Sepi. Tak ku dapati seorang pun. "Taman..." bisik kak Keanu. Aku pun langsung menuju taman. Dan benar saja kak Mirza dan kak Amara sedang berada di taman. Langkahku sempat terhenti saat melihat kemesraan keduanya. Kak Mirza tengah mengusap-usap perut kak Amara. Ku gigit bibirku menyaksikan itu semua. Surut langkahku hingga kak Keanu menyadarkan ku. "Jangan biarkan amarah menguasai cintamu" ucap kak Keanu. "Tunggu di sini..." ucapnya kemudian sambil melangkah cepat menghampiri keduanya. Jaraknya hanya beberapa meter saja dari tempat ku berada. "Tuan..Ada nyonya" ucap kak Keanu yang masih dapat jelas ku dengar. Spontan kak Mirza mengalihkan pandangannya dan mengikuti arahan isyarat tangan kak Keanu. Kak Mirza pun tersenyum menatapku. Langkahnya semakin cepat menghampiriku. "Sayang..." ucapnya sambil memelukku erat. "Jangan pergi lagi. Aku mohon..." ucapnya yang membuatku tersenyum tipis sekali. "Kau masih marah?" tanyanya tanpa melepaskan pelukannya. "Sedikit..." jawabku singkat. "Semarah apa sih?" ucapnya sambil menatapku dalam. Tatapan yang selalu membuat jantung ku berdegup hebat. Aku tertunduk. Membenamkan tatapanku pada tanah yang ditumbuhi rumput nan hijau. Satu titik, dua titik air mata pun jatuh pada ujung sepatuku. "Aku kecewa, Kak..." ucapku kemudian. "Aku tahu. Aku juga kecewa pada diriku sendiri..." ucapnya. "Kulihat kakak bahagia bersama Amara" ucapku sambil duduk pada kursi teras. "Yang kau lihat tidak seperti yang aku rasakan, sayang. Aku mencari mu selama dua hari ini. Kemana saja?" ucapnya lagi. Aku tersenyum sangat tipis. Dan sedikitpun aku tak menatap wajah tampannya itu. "Ikut aku..." ucap kak Mirza lagi. Kali ini ia menarik ku menaiki anak tangga yang cukup panjang. "Apakah rumah orang kaya selalu memiliki anak tangga yang mengular?" oceh ku yang membuat kak Mirza terkekeh. Dan tanpa ba-bi-bu lagi kak Mirza pun membopongku hingga dalam kamar.
"Beratmu bertambah, sayang..?" ucapnya terkekeh dengan nafas yang tak beraturan. Kepalanya pun rebah pada pangkuanku. Sementara itu aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya itu. Dan kata-kata indah pun meluncur dari bibirnya. Bagaimana perasaannya, bagaimana harapannya. Semua ia utarakan. Begitu pun dengan kata maaf, berulangkali ia utarakan. Aku tersenyum saja menatap wajah tampannya itu yang masih rebah pada pangkuanku.
Mataku mengitari isi ruang kamar yang ku rasa ada yang berbeda. Dan mataku tertuju pada tumpukan pakaian di atas kasur. "Baju siapa itu?" ucapku sambil menatap dan menunjuk setumpuk pakaian. "Amara. Sepertinya ia belum sempat merapikannya" ucap kak Mirza. "Jadi Amara tidur di sini?" ucapku. "Sementara, sayang..." ucap kak Mirza. "Sementara...? Sementara aku tidak ada?"ucapku ketus. "Tidak begitu, sayang..." ucapnya sambil mendekapku yang bermaksud berlalu. "Tidak apa-apa, kak. Aku hanya ingin mengambil barang-barang ku. Aku pakai kamar tamu saja" ucapku. Dan kak Mirza pun melarang ku keras. "Tidak, sayang... kalau pun harus keluar dari kamar ini, itu bukan kau tapi Amara..." ucapnya sambil mendekapku. "Baik aku akan pergi..." ucap sebuah suara. "Amara...?" ucap kak Mirza. "Bukan begitu juga. Maksudku...kau kan sedang hamil jadi kalau naik turun tangga, maka akan merepotkan mu" ucap kak Mirza. "Siapa bilang aku repot. Tidak sama sekali...! Bilang saja kau ingin mengusirku, Fara...!" ucap Amara histeris. Aku tertawa melihat situasi tersebut. Dan langsung keluar kamar dengan membawa barang dan perlengkapanku.
"Fara...." ucap mama setengah teriak saat melihatku. Langkahnya begitu cepat menyongsong ku. Mama pun memeluk ku erat sambil memberondong ku dengan banyak pertanyaan. Terlebih saat melihatku membawa koper. Dan semuanya kut tanggapi hanya dengan senyuman. "Fara, pindah kamar saja, Ma" ucapku saat mama bertanya sekali lagi saat melihat koperku. "Kenapa...?" tanya mama singkat. "Di atas ada yang lebih berhak..." bisik ku pada mama yang membuat mama membulatkan mata sipitnya. "Tapi..." ucapnya menggantung karena aku memotongnya. "Tidak apa-apa, Ma..." ucapku sambil tersenyum. "Baiklah. Mama bantu beres-beres ya..." ucap mama dengan membawa salah satu koperku yang berukuran kecil. Aku sudah menolaknya, namun mama bersikeras. Dan akhirnya aku pun mengalah.
__ADS_1
Pukul tujuh lewat tiga menit. Tergelak mama mendengar celotehku. Sementara tangannya masih saja membantuku merapikan beberapa barang ku. "Seru sekali Sepertinya...?" ucap bang David yang berdiri di ambang pintu. "Hei pak dokter..." ucap mama sambil menerima uluran tangan bang David yang langsung ia kecup dengan takzim. Dan bang David pun tersenyum menatap ku sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. "Tante sudah pulang..." ucap mbak Mikaela menirukan suara anak kecil. Baby Keanu pun meronta-ronta saat melihatku. "Sini,, sayang..." ucapku sambil merentangkan kedua lenganku. Bocah satu tahun itu makin meronta dari buaian mbak Mikaela. Mau tidak mau mbak Mikaela pun menurunkannya. "Sedang belajar jalan, Tante..." ucap bang David. Aku pun sumringah mendengar nya. Aku semakin semangat menyemangati baby Keanu. "Ayo sayang..." teriakku sambil bertepuk tangan. Selangkah, dua langkah, tiga, empat, lima, enam bahkan tujuh langkah berhasil ia lakukan. Aku bertepuk tangan gembira dan langsung menyambar tubuh bocah gembul itu. Menghujaninya dengan ciuman dalam buaian ku. Mengangkatnya Hinga ke udara. Dan baby Keanu pun tergelak karena perlakuanku tersebut. Pun demikian dengan mama, mbak Mikaela dan bang David. Ketiganya turut tertawa-tawa melihat polah kami berdua.
"Wah...kalau sudah main dengan Tante Fara, Keanu jadi lupa mama ya. Hadeuuh... alamat ini mah" ucap mbak Mikaela yang diikuti tawa kami semuanya. "Serunya..." ucap kak Mirza yang langsung menerobos masuk menghampiri ku. Di ambang pintu berdiri Amara. Ia menatapku. Di ujung tatapannya ada sedikit kekesalan. "Ayo...Za" ucapnya. "Mau kemana sih?" ucap bang David sambil menatap kak Mirza sedikit kesal. "Ke dokter, Bang" ucap kak Mirza sambil menatapku. "Boleh...?" tanya kak Mirza kepadaku. "Ajak saja Fara sekalian Mirza" usul mama sambil berkedip kepadaku. "Cuma mau ke dokter loh, ma. Tidak kemana-mana" ucap Amara. Ku dengar nada bicaranya sedikit ketus. "Ayolah, Za. Nanti terlambat..." ucap Amara kesal. Aku tersenyum mendengar ajakan Amara tersebut. Dari nada nya, bisa ku tebak ia tidak menginginkan aku turut menyertai kepergian keduanya. "Pergilah, nanti bayinya ngambek lagi" ucapku ketus. "Oya, aku minta izin ya..aku ingin berbelanja keperluanku. Cuma sebentar kok" ucapku. "Oke, pakai ini. Masih ingat kan nomor PIN nya? dan...ini ponselmu" ucap kak Mirza sambil menyodorkan debit card dan ponselku yang tak kubawa saat kepergian ku lalu. "Aku berangkat,ya..." ucap kak Mirza sambil mengecup lembut kening ku dan kemudian berlalu. Ku tatapi punggungnya hingga menghilang di balik dinding. Ada banyak kegundahan yang mendiami hati dan jiwaku saat ini. Dan lagi-lagi hampir menitik kembali air mataku.
"Bagiamana jika kita ke mall saja, kita nonton bioskop. Ayolah...sudah lama tidak kita lakukan" ucap mbak Mikaela. "Aku setuju..." ucapku sedikit gagu sambil menyembunyikan air mataku. "Keanu dengan pengasuh dulu ya...mama dan papa ingin menemani Tante Fara berbelanja dahulu " ucap mbak Mikaela sambil mengedipkan mata ke bang David. "Aku sudah siap..." ucapku tanpa berganti pakaian. Aku hanya mengganti kerudungku saja. Semua tertawa melihat polahku itu. "Bisa secepat itu ya...Curang nieh, Fara." ucap mama sambil mencubit hidungku.
Ah, Terima kasih Ma, bang David dan mbak Mikaela telah menghiburku saat ini. Aku membatin. Dua puluh menit berlalu dan menghantarkan kami pada sebuah bioskop terbesar di kotaku. Langkahku begitu berat saat itu ketika mulai menapaki lantai demi lantai. Mata ku menyapu seisi ruangan. Begitu panjang antreannya hingga aku sendiri enggan melihatnya. Pun demikian, tiba-tiba saja perhatian tercuri oleh dua sosok yang tengah berdiri turut mengantri. "Kak Mirza..." gumamku. Rupanya Bang David dan mama yang duduk di sebelahku mendengar gumamku tersebut. "Mana..?" ucapnya. Tanganku menunjuk ke barisan antrean dimana kak Mirza berada. "Astaga...bukankah mereka ke dokter?" ucap bang David yang langsung berdiri. Mungkin ia ingin menghampiri keduanya. "Aku saja, bang..." ucapku sambil melangkah cepat. Berdegup hebat jantungku saat hampir dekat dengan keduanya. Kemudian aku pun mensejajari keduanya yang berdiri berdekatan. "Fara..." ucap kak Mirza terkejut. Aku pun tersenyum menatapnya. "Aku baru tahu jika di bioskop ini ada dokter kandungan..?" celotehku. Merah padam wajah kak Mirza mendengar ucapanku. Tanpa mendengar pernyataannya, aku pun langsung meninggalkan keduanya begitu saja. Berdiri bang David mensejajari dan langsung menarik mbak Mikaela juga mama. Kami pun berlalu meninggalkan bioskop tanpa saling berkata.
__ADS_1
"Ma, Fara izin istirahat duluan ya..." ucapku sambil melangkah setengah berlari. Aku berlaku demikian, karena khawatir mama akan melihat air mataku yang sebentar lagi akan terjun bebas. Ku tutup pintu kamar dan segera menguncinya. Bulir bening yang sejak tadi kutahan pun akhirnya jatuh juga. Ku hempaskan tubuhku pada kasur yang tadi sudah ku rapikan. Berurai air mataku saat kata-kata kak Mirza timbul-tenggelam dalam fikiranku. Kecewaku tiada terkira. Rasa ku tak terperi.
Tok...tok...tok...
Pintu kamar diketuk berulang kali. "Sayang...buka. Sayang...ini aku, Mirza" ucap kak Mirza berulang kali. Namun tak sedikit pun aku mengindahkannya. "Aku minta maaf. Ayolah, sayang...buka pintunya" ucap kak Mirza sambil terus mengetuk pintu kamar. Namun sekali lagi hati ku menolak untuk meluluskan permintaannya tersebut. Aku larut dalam tangisku tanpa mempedulikannya. Aku lara. Hatiku luka. Jiwa ku merana. "Fara buka...!" ucap kak Mirza sedikit keras. "Fara...!" kali ini ia berteriak dan bukan lagi mengetuk tapi menggedor pintu. Namun aku tetap diam. Ku benamkan kepalaku pada bantal dan menutup rapat telingaku. Berharap tak ku dengar lagi panggilannya ataupun gedoran di pintu kamar. Sialnya...semua masih dapat ku dengar walau lamat-lamat.
"Buka pintu, Fara...Atau ku dobrak pintu ini!" ucap kak Mirza berang. Dan benar saja ia pun mulai mendobrak pintu. "Mirza...Apa yang kau lakukan?!" ucap mama. "Biarkan,Ma. Aku ingin tahu seberani apa Fara ini?" ucap kak Mirza. Khawatir terjadi sesuatu pada mama, akhirnya aku membuka pintu. Namun sebelumnya aku sudah merapikan pakaian dan makeup ku. "O...keluar juga akhirnya" ucap kak Mirza dengan geram. Nafasnya turun naik tak beraturan. Matanya menatapku tajam. "O...jadi begini tabiat perempuan yang kamu cintai, Za? Buruk sekali.." ucap Amara. "Cukup Amara...! ini urusanku. Jangan ikut campur..!" teriak kak Mirza. Tangannya berisyarat agar Amara diam. "Masuk...!" ucap kak Mirza kepadaku. Ia pun membanting pintu cukup keras. Aku cukup terkejut dengan perlakuannya tersebut. "Sekarang Fara maunya, apa?" Aku sudah hilang cara menghadapi Amara" ucap kak Mirza yang memaksa ku duduk pada tepi tempat tidur. Mendapat pertanyaan tersebut aku terdiam. Lama aku menatapnya.
__ADS_1
"Kita menikah baru sepuluh hari. Dan aku belum merasakan bahagia atas pernikahan ini. Sebaliknya, dalam waktu sepuluh hari kakak sudah memberiku kejutan-kejutan yang luar biasa dan pastinya membuat aku kecewa. Sebelum terlambat, aku ingin untuk sementara kita tidak bertemu dahulu. Aku harap masing-masing dari kita bisa menyelami kembali perasaan dan keinginan sebenarnya. Selain itu aku harap setelah menjauh, kakak akan mempunyai keputusan yang pasti di saat kita bertemu nanti" ucapku panjang sambil menatapnya tanpa henti. "Saran macam apa itu, Fara? Aku tidak setuju...Kau milikku. Hanya milikku. Tak akan ku biarkan kau pergi dariku" ucapnya tegas. Matanya sedikit membulat, namun tampak besar karena jarak wajah kami hanya beberapa sentimeter saja. "Jika aku tetap di sini, hatiku akan semakin terluka dengan polah kalian berdua yang tidak jujur" ucapku yang membuat ia tersenyum kecut. Baru kali ini aku melihat kak Mirza sekecut demikian. Ia pun terdiam. Mata nya menatapku ragu. Lagi-lagi ia mengucap kata maaf begitu lirih berulangkali. Mungkin sesal di hatinya sedang menguasainya. "Dengan kejadian malam ini, aku menjadi sadar apa kedudukanku..." ucapku lagi yang membuatnya berusaha menatapku dalam. "Apa...?" ucapnya lirih saja. "Perempuan pengganggu hubungan kalian alias pelakor" ucapku lirih. Getar tangannya yang seakan tak mampu menopang tubuhnya. Ia pun akhirnya menghempaskan tubuhnya di sebelahku. Ia duduk terpekur. Matanya sesekali menatapku penuh penyesalan.
"Aku salah. Maafkan aku. Tapi sungguh tiada maksudku demikian" ucapnya lagi. Kemudian ia pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Kutatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu. Pilu rasanya hatiku melihat sikapnya yang demikian. Entah bagaimana aku menyikapinya lagi. "Ya, Robb...tolong aku" begitu pintaku.