Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 27. Kisah Hidup Kak Mirza


__ADS_3

Pukul sebelas lewat sepuluh menit. Aku melangkah mengikuti pak Dirman memasuki sebuah rumah besar nan megah bergaya klasik modern. Ada debaran yang ku rasa di seluruh jiwaku saat merasakan suasana rumah tersebut. Aku setengah terkejut atas penyambutan yang ada. Berdiri mama Melissa menyongsong kehadiranku. Dan sebuah pelukan pun ku terima dengan senang hati. Pun demikian tampak jelas ada kekhawatiran di ujung hatinya yang berusaha ia sembunyikan. "Apa kabar, ma...? ucapku sambil tersenyum. "Baik, sayang..." jawab mama Mellisa dengan senyum khasnya.


"Masuklah...kak Mirza mu sudah menunggumu sejak tadi" ucap bang David yang baru keluar dari kamar.


Deg.


"Ada apa sebenarnya dengan kak Mirza, bang..?" tanyaku. Meningkat sudah rasa penasaranku saat menatap wajah bang David. "Kak Mirza mu tidak apa-apa. Tapi Abang yakin ia sedang membutuhkanmu" ucap bang David dengan senyum khasnya. Lelaki yang pernah menjadi asa ku itu begitu tampan dan tak berubah sedikit pun terhadapku. Tetap baik, peduli dan penuh perhatian. Kemudian dengan langkah sedikit cepat aku menuju ruangan dimana kak Mirza berada dengan arahan bang David.


Aku semakin terkejut saat melihat kak Mirza yang terbaring. Setengah berlari aku mendekatinya. Menatapnya penuh tanda tanya. "Hei, sayang... Mendekat lah" ucap kak Mirza sambil mengulurkan tangan. Aku pun menyambut uluran tangannya sambil mendekatinya dan duduk pada sebuah kursi dekat tempat tidurnya. "Ada apa, Kak...Kenapa kakak terluka seperti ini" ucap ku khawatir. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu istirahat saja" ucapnya sambil menghela nafas. "Kemarilah..." ucap Kak Mirza. Tangannya menepuk sisi tempat tidurnya dekat dengannya. Aku menatap ragu tempat yang ia isyaratkan tersebut. "Yakinlah, aku tidak akan macam-macam sayang..." ucapnya seakan menangkap makna keraguan di ujung hatiku.


Sedikit ragu aku pun menuruti keinginannya. Belum betul benar aku duduk, kak Mirza sudah merebahkan kepalanya pada pangkuanku. "Menikahlah denganku agar kita dapat saling bermanja seperti ini" ucapnya sambil menggenggam jemariku. "Ya, tapi tidak hari ini kan?" ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oya, kakak belum menjawab pertanyaanku tentang penyebab kondisi kakak sekarang.." ucapku lagi. "Ini ulah kakak ku..." ucapnya yang tentu saja membuatku terkejut. "Bang David...?!" ucapku. "Bukan. Tapi kakak ku yang lain...Sesungguhnya aku masih mempunyai dua kakak laki-laki lagi. Kami berbeda ibu" jelas kak Mirza. Aku termangu setengah tak percaya.


Mirza Flashback On


Aku berlari memasuki rumah sesaat setelah aku mengetahui bahwa ada kak Roy dan Evans. Saudara satu ayah beda ibu itu. Dengan tabiat keduanya, aku begitu mengkhawatirkan mama. Dan benar saja. Sesampainya di kamar, ku lihat mama terisak dengan kak Roy dan Evans yang berada tak jauh darinya. "Apa yang kalian lakukan di sini?" ucapku ketus sambil menarik kerah baju kak Roy. "Wow...wow. Sabar Mirza. Aku ini kakak mu" ucapnya. "Kakak? Sejak kapan kau mengakui hubungan kekeluargaan kita...!" ucapku berapi penuh amarah. Tertawa kak Roy memperlihatkan deretan giginya. "Lebih baik kau pergi... sekarang!" ucapku lagi. "Aku justru akan menginap di sini. Selama aku belum menemukan orang yang ku cari" ucapnya lagi. "Bangsat...." ucapku sambil menyarangkan pukulan. Bukan Roy namanya jika tidak dapat meladeni jurus-jurus ku. Sosok pengusaha yang telah lama malang melintang di dunia abu-abu. Hal ini juga lah yang membuat kami bersebrangan.


Baik aku mau pun kak Roy sudah sama-sama merasakan sakit akibat pukulan yang mengenai tubuh. Bukan hanya satu tapi beberapa pukulan. Namun hingga saat ini belum ada satu diantara kami yang mengalah. "Cukup....!" ucap mama dengan lantang. Dan satu kata tersebut telah berhasil membuat aku dan kak Roy berhenti dan langsung mengatur jarak. "Dengar Roy, aku ini mama mu juga. Jadi mama minta hargai mama" ucap mama. "Mirza yang memulai. Roy hanya membela diri saja" ucap kak Roy sambil menyeka darah yang menitik di ujung bibirnya.


"Terima kasih sudah ada tuk mama. Tapi tidak perlu hingga beradu jotos begini. Kau juga yang rugi" ucap mama sambil mengelap ujung bibirku yang juga menitikkan darah. "Jika sudah berkaitan dengan keduanya, darah ku selalu mendidih" ucapku sambil menghempaskan tubuh ku pada sofa di kamar mama. "Ada badai kah...?" ucap bang David tiba-tiba. "Telat...telat" ucapku kesal sambil melempar bantal sofa. Apalagi saat melihat senyum tipis yang tersungging pada bibirnya itu, maka kesal ku auto meningkat.


Mirza Flashback off

__ADS_1


Aku termangu menyimak penuturan kak Mirza. "Kakak yang lainnya..." gumamku.


Fikiranku menerawang jauh entah kemana. "Hei..." ucap kak Mirza membuyarkan lamunanku. "Kakakku itu tinggal di kota lain. Kami tidak pernah bersama. Karena sikap dan tabiatnya, maka memilih untuk tidak mengindahkannya. Apalagi keduanya terkadang melakukan pekerjaan abu abu. Hal itu juga yang membuat papa pergi meninggalkan dunia ini" ucap kak Mirza. "Wah, hidup kakak juga penuh kejutan-kejutan rupanya" ucapku sambil tersenyum tipis menatapnya. "Hahaha... Fara" ucapnya sambil bangkit dan menuju balkon.


Pukul satu siang. Aku menuruni anak tangga yang cukup mengular. Tujuanku adalah dapur. Dan mata ku langsung menyapu seisi ruang dapur mencari air mineral yang menjadi kebutuhanku saat ini. "Non Fara....Cari apa?" ucap Bi Inah. "Air mineral bi..." ucapku sambil tersenyum. "Walah...kok tidak panggil saya saja tadi, non?" ucapnya lagi sambil mengambil air mineral dari lemari pendingin. "Tidak apa-apa, Bi..." ucapku sambil duduk dan meneguk air mineral. "Nona Fara yang cantik, sedang apa di sini?" tanya sebuah suara yang membuat ku langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. "Kak Evans..." ucapku setengah terkejut saat mengetahui si empunya suara. "Dunia ini sempit ya, Fara. Buktinya kita bertemu lagi di sini" ucapnya sambil terkekeh. Aku hanya tersenyum tipis. "Hei... pertanyaan ku belum kau jawab. Kenapa di sini...?" ucapnya sambil duduk di sebelah ku. "Dia tunangan ku. Calon istriku..." ucap kak Mirza yang sudah berdiri di belakangku. "Ho...ho. Ternyata nona cantik ini adalah tunangan mu Mirza? Boleh juga seleramu" ucap kak Evans sambil tertawa dan menyolok ujung dagu ku. Hal tersebut tentu saja membaut ku terkejut. Terlebih kak Mirza. Wajah nya langsung mengeras dengan tangan yang mengepal. "Kau....!" ucap kak Mirza sambil menarik kerah baju Evans. "Wow...wow..Sabar lah tuan Mirza. Aku hanya memegang ujung dagunya. Aku tidak akan macam-macam" ucap Evans sambil mengumbar senyum sinis. Sementara kedua tangannya tampak menahan tangan kak Mirza.


"Ada apa ini...?" ucap mama yang berdiri di anak tangga. "Anak mama yang satu ini pemarah sekali" ucap Evans sambil merapikan baju setelah lepas dari cengkraman kak Mirza. "Ingat Evans, mama mengizinkan kalian di sini bukan berarti harus selalu ribut dengan anak mama yang lain" ucap mama. "Maaf..." ucap Evans sesaat sebelum berlalu dan melempar senyum kepada ku. "Kamu kenal dengan Evans...?" tanya kak Mirza menyelidik. Ditanya demikian aku jadi rikuh. "Hm, tidak juga. Kami hanya bertemu sepintas di sekolah saat acara kelulusan. Dan...sekali lagi di toko. Ia berbincang dengan ayah" ucapku mengingat-ingat. "Toko bersama ayah...?" ucap kak Mirza. "Ya. Dari perbincangan keduanya, Fara dengar jika Meraka rekan kerja dahulu" ucapku. "Rekan kerja...? Berarti keduanya pernah bekerja untuk tuan Darius?' ucap kak Mirza yang ku balas dengan anggukan kepala. "Lalu...apa maksud kedatangannya ke kota ini? Apa ada hubungannya dengan tuan Darius?" tanya kak Mirza lagi. "Jika ingin menyelidiki, mama minta dengan perlahan dan hati-hati. Bagaimanapun, Evans adaalh kakak mi juga" ucap mama yang disambut anggukan oleh kak Mirza.


Pukul tiga lewat sepuluh menit. Aku berdiri di halaman menunggu kak Mirza yang akan mengantarku pulang. Ups...ku rasa bukan pulang ke rumah, tapi ke toko kue dahulu. Ada banyak tanya yang kak Mirza simpan tuk ayah saat ini. "Cantik...." ucap sebuah suara yang ku yakin itu suara Evans. Dan benar saja ia berdiri di ambang pintu tak jauh dari tempatku berdiri. Astaga.... tatapannya membuatku bergidik dan melempar pandanganku ke tempat lain. "Evans....!" ucap mama Melissa yang tiba-tiba saja muncul dari balik punggung Evans. "Hehe...mama. Seru saja, Ma menggoda calon adik ipar" ucap Evans sambil tersenyum. "Oya...selain dari Mirza, mama juga akan mendapat menanti dari kak Roy" ucap Evans. "Oya..." ucap mama sambil duduk pada kursi di teras. "Tapi sayang, calon pengantinnya kabur..." ucap Evans sambil tertawa kecil. "Ah, itu mah masih lama. Kenapa Roy tidak kembali saja dengan istrinya?" ucap mama. "Kak Roy sdh tidak mencintainya. Dan lagi sekarang ia mencintai wanita lain. Wanita yang jauh berbeda. Wanita yang mampu mengubah nya, Ma..." ucap Evans. "Maksudnya...?" ucap mama yang langsung menghentikan aktifitas membacanya. "Kak Roy sampai rela meninggalkan dunia abu-abu nya. Dan kini ia sedang mencari wanitanya yang pergi itu" ucap Evans setengah berbisik. "Bisa bucin juga tuh orang..." ucap mama seakanntak percaya. "Evans juga sudah capek, Ma. Evans juga ingin hidup normal. Karena itu Evans ke sini menemui mama. Sebenarnya Evans ingin mengakui satu hal kepada mama, yaitu Mama benar, Evans salah" ucap Evans yang menatap mama tiada henti. "Ga bercanda kan...?' ucap mama. "Atau kamu lagi sakit? Atau habis kejedot gitu...?" ucap mama. "Evans serius, ma..." ucap Evans lagi. "Jangan mudah percaya, Ma. Sekali buaya tetap buaya" ucap kak Mirza yang berdiri di ambang pintu. "Tau apa kamu, Mirza...." ucap Evans. "Sudah jangan mulai lagi dech..." ucap mama sambil memukul kepala Evans dengan majalah yang dipegangnya. "Astaga, Mama..." ucap Evans sambil mengusap kepalanya.


Tak lama kemudian mobil sport silver kak Mirza pun melaju meninggalkan halaman rumah nan megah tersebut. Lajunya pun sedang saja. Mataku menatap pepohonan yang seakan berkejaran dan tampak basah melalui jendela mobil. Rupanya hujan baru saja menyapa bumi walau sebentar. "Evans itu garangnya hilang jika sedang berhadapan dengan mama" ucapku. "Begitulah Evans. Sesungguhnya ia hanya sosok manja yang haus kasih sayang. Kamu tahu, dulu kami berdua benar-benar layaknya saudara. Walau berbeda ibu tapi papa selalu mendekatkan kami sebagai saudara. Tapi seiring waktu Evans menjadi berubah. Terlebih karena mendapat pengaruh dan hasutan dari kak Roy dan mama Melinda" ucap kak Mirza. "Dan kak Roy, ia sumber segala masalah. Kedengkiannya seperti menjadi sumber kekuatannya untuk melakukan segala cara agar mendapatkan perhatian penuh papa. Dan itu berhasil. Semua aset milik papa berhasil ia kuasai. Hanya rumah yang kami tinggali saat ini dan deposito beberapa M yang papa berikan untuk kami bertiga mama Melissa, aku dan bang David. Dan dengan uang yang ada sudah berhasil menghidupi kami, membuat bang David menjadi dokter dan membangun rumah sakit" ucap Kak Mirza yang tetap fokus pada jalanan. "Mama pun berhasil membuka usaha kuliner dan boutique untuk menopang hidup kami dari uang warisan tersebut. Sementara mama Melinda, kak Roy dan Evans bergelimang harta. Bukan hanya perusahaan yang berhasil diambil alih, tapi juga villa di beberapa tempat yang nilainya ber-MM. Juga tiga rumah mewah lainnya berhasil beralih ke mama Melinda" ucap kak Mirza. "Kami tidak bisa berbicara banyak, karena itu adalah keputusan papa yang berkekuatan hukum. Dan lagi saat itu kami lebih fokus pada kesehatan papa yang semakin menurun setelah mengalami kecelakaan" ucap kak Mirza lagi. Kali ini kedua matanya hampir basah dengan bulir bening yang sudah mengantung dan siap terjun bebas itu.

__ADS_1


"Kak...sabar ya. Pasti dari semua kejadian itu ada hikmahnya" ucapku sambil tersenyum dan mengusap lengannya. "Ya. hikmahnya ketemu dengan kamu...Ayo donk menikah dengan ku" ucap kak Mirza.


__ADS_2