Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 87. Dan Permainan Pun Dimulai


__ADS_3

Ku tatap kak Keanu lekat deng resttoan sedikit mendongakkan wajahku karena benar aku berada dalam dekapannya. Dan sesekali keningku ia hadiahi kecupan nan lembut. Nice... Terima kasih, kak Keanu...


Pukul dua lewat lima belas menit. Sebuah suara mengejutkan kami. "Sepertinya tidak perlu menunggu kabar darimu, tuan Keanu. Karena aku yakin kau tidak akan melakukannya. Jadi aku berinisiatif datang kemari. Tante Wina pun menyetujuinya" ucap perempuan itu yang tak lain adalah Dania. Perempuan yang sedang bermain untuk mendapatkan perhatian dan hati kak Keanu. Menatapnya, ingin rasanya aku langsung menariknya keluar rumah. Perempuan yang akan mencoba mengambil kak Keanu dari ku.


"Fara...kenalkan ini Dania. Anak teman mama yang kuceritakan siang tadi. Dia akan menginap di rumah kita selama satu minggu karena ada pekerjaan" ucap kak Keanu sambil menatapku dan tersenyum. "Fara..." ucapku sambil mengulurkan tangan. "Dania..." sambut Dania dengan uluran tangannya. Matanya menatapku lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapan jijik atau tidak suka atau apalah. Yang pasti tatapan matanya begitu aneh kurasa.


"Mbak Min...tolong antarkan non Dania ke kamar tamu ya" ucap kak Keanu. "Baik, Tuan muda" ucap mbak Min, asisten rumah tangga kami. Dania pun mengekori langkah mbak Min sambil sesekali tersenyum dan menatap kak Keanu. "Cantik..." ucapku sambil menyenggol lengan kak Keanu. "Istriku jauh lebih cantik" ucap kak Keanu yang langsung membopongku. Terkejut aku atas perlakuan tersebut hingga terpekik. "Bagaimana jika kita mengulang kembali malam pertama kita" ucap kak Keanu sambil tertawa dan melangkah menyusuri anak tangga. "Apaan sih..." ucapku sambil mencubit lengannya. Sepintas ku lihat Dania tengah berdiri di ambang pintu. Matanya menatap kami lekat. Hihi... bagaimana rasanya Dania, melihat kemesraan kami? Semoga kau akan kalah dengan sendirinya.


Pukul enam lewat sepuluh menit. Seperti biasa setelah sholat Maghrib berjamaah, aku dan kak Keanu akan muroja'ah bacaan Al-Qur'an kami. Saling menyimak bacaan yang dilantunkan. Ini adalah cara kami menyatukan cinta dalam keridhoan Illahi. Hingga masuk waktu isya barulah kami menyudahi bacaan dan melanjutkannya dengan sholat isya berjamaah di mushola yang ada di sudut ruangan lantai dasar.


Sebuah kenikmatan yang tiada Tara, jika pasangan suami istri saling menyempurnakan peribadahan sehingg kelurga menjadi sakinah, mawaddah dan rahmah pun dapat terwujud. "Maafkan Fara ya Kak, belum bisa menjadi istri yang baik" ucapku sambil mencium punggung dan telapak tangan kak Keanu. "Sama-sama, sayang...Aku pun meminta maaf karena belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Dan juga belum bisa membimbing mu dengan baik" ucap kak Keanu sambil merengkuhku ke dalam dekapannya. Kemudian kak Keanu pun menghadiahi ku dengan kecupan pada kening ku. Sebuah kebiasaan yang tak kan pernah terlewatkan selama kami menikah.


"Masih lama, ya? Laper nieh..." ucap Dania manja. Namun di ujung tatapannya, aku yakin ada sebuah kesal dan cemburu yang terpancar. Aku tersenyum dan bertatapan dengan kak Keanu. "Baiklah...kita langsung santap malam" ucap kak Keanu sambil membantuku merapikan mukena dan sajadah.


Pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit. Duduk aku bersebelahan dengan kak Keanu. Sementara Dania duduk di hadapan kami, tepatnya di hadapan kak Keanu. "Keanu mau makan pakai lauk apa, nieh?" tanya Dania sambil mengambil piring yang dimaksudkan untuk kak Keanu. Sementara itu kak Keanu tersenyum menatapku tanpa kata. Kuambil nasi beserta lauk yang menjadi kesukaan kak Keanu. Dan hal itu membuat wajah Dania memerah. Dan kutangkap ada kekesalan di ujung tatapan matanya. Ia meletakkan kembali piring yang ia ambil dan dimaksudkan untuk kak Keanu. "Hanya istriku saja yang berhak memperhatikan segala makananku" ucap kak Keanu.


"Jazakillah....sayang" ucap kak Keanu lagi. Kali ini sebelah tangannya sambil mengacak pucuk kepalaku. Ini awal kemenangan ku di hari pertama ketika permainan dimulai. Semoga selanjutnya segala sesuatu akan di mudahkan oleh Allah. Aamiin...


Makan malam pun kami lalui bersama. Dan beberapa perilaku manis yang biasa kak Keanu lakukan, malam ini dipertontonkan kembali di hadapan Dania. "Jangan terlalu mengumbar kemesraan, nanti menjadi basi" ucap Dania. "Basi...? Sudah lebih dari dua tahun kami seperti ini. Apa adanya. Cinta yang nyata bukan mengada-ada. Maaf jika kau terganggu" ucap kak Keanu. Yuph...cinta yang nyata, apa adanya. Love untuk mu selalu, sayang. Suami ku yang begitu aku cintai.


Pukul sepuluh lewat lima menit. Malam menjelang tidur. Ponsel kak Keanu berpendar berulangkali.

__ADS_1


Drrt...Drrt...Drrt...


Dan anehnya kak Keanu hanya melihatnya sebentar dan hanya sekali saja. Setelah itu ia memilih untuk tidak mempedulikan pendaran ponselnya. Penasaran atas perilakunya aku pun meraih ponsel kak Keanu. Ku lihat sebuah foto berpenampilan **** terpajang di layar ponsel. Dania. Ada apa malam-malam begini? Ku gugah kak Keanu dan memberitahunya. Namun kak Keanu hanya berisyarat dengan mengibaskan tangannya. Aku tersenyum melihat polahnya. Kak Keanu...


Khawatir ada keperluan mendesak, aku pun bermaksud menemui Dania. Namun kak Keanu menarik tanganku. "Kemana...?" tanyanya tanpa membuka mata ataupun merubah posisi tubuhnya saat aku beranjak dari sisinya. "Menemui Dania. Dia tamu kita. Khawatir ada sesuatu yang ia butuhkan" ucapku. "Kan ada mbak Min. Biarkan saja..." ucap kak Keanu. "Sebentar saja ya..." ucapku sambil mengusap sebelah wajahnya. "Oke...aku temani" ucap kak Keanu kesal sambil bangkit dari tidurnya.


Kami pun keluar kamar menuju kamar tamu di lantai dasar. Menuruni setiap anak tangga sambil bergandengan hingga ujung. Dan saat itulah aku melihat Dania berdiri di depan pintu kamarnya. Dania berdiri dengan gaya yang begitu menggoda. Pakaiannya pun begitu menggoda, begitu tipis dan kadang melayang diterbangkan angin lalu dari jendela yang terbuka, sebagian lekuk tubuhnya terlihat. Aku tercekat, tak bisa berkata saat melihat Dania mempertontonkan kemolekan tubuhnya di hadapan suamiku. "Ah, kak Keanu. Apakah dia...." Aku membatin sambil melihat wajah kak Keanu dengan ekor mata. Fiuh...Aku merasa lega. Aku bersyukur, ternyata ia memalingkan wajahnya. Dan tak menatap Dania. "Mubazir tuh..." bisikku menggoda. "Astaghfirullah..Tak tertarik sedikitpun, yank. Istriku sempurna dan jauh lebih memiliki dari apa yang ia pertontonkan saat ini. Perempuan macam apa yang memperlihatkan aurat kepada yang bukan mahramnya?" ucap kak Keanu yang membuatku tenang.


"Mbak Dania, membutuhkan sesuatu?" ucapku yang membuatnya terdiam dengan wajah cantiknya yang menggoda. Matanya menatap kak Keanu penuh perasaan. Wuih, sungguh tak tahu malu Nieh perempuan. Di depan istri nya kau menatapi kak Keanu. Ingin rasanya ku gulung ini perempuan dan membulatkan seperti bola. Kemudian melemparnya ke dalam mesin cuci agar hati dan fikirannya dicuci dan dibersihkan sehingga tidak kotor lagi.


"Mungkin kecoanya laki-laki, mbak. Jadi senang dengan mbak Dania. Apalagi pakaian mbak Dania seperti ini" ucapku sambil mengajaknya ke dalam kamar. Sepintas ku lihat kak Keanu sibuk mengutak-atik ponsel yang sejak tadi di tangannya. Ia tak memperhatikan Dania sedikitpun. Mendapati perilakunya tak mendapat respon kak Keanu, Dania kesal. Ia mengumpat lirih, namun masih dapat ku dengar. "Sial kau, Keanu. Kau tidak melihatku sedikitpun. Apa kau bukan laki-laki?" begitu gerutu Dania.


"Maaf, Tuan muda. Ada yang harus saya kerjakan?" ucap pak Dudung, sopir kami. "Coba cek di kamar yang non Dania tempati. Menurutnya ada kecoa. Tolong di cek dengan teliti. Dan kalau memang ada tolong di bersihkan" ucap kak Keanu. "Baik, tuan muda..." ucap mang Dudung sesaat sebelum ia berlalu. Tak lama kemudian Mang Dudung pun beraksi. Mang Dudung mulai mengobrak-abrik isi dalam kamar. Mulai dari bawah tempat tidur, bawah nakas, bawah meja rias hingga kamar mandi. Semua ia geledah mencari makhluk kecil yang bernama kecoa yang sudah mengganggu Dania. Dan nihil. Mang Dudung tak menemukan makhluk yang dimaksud Dania. Aku menyimpan senyum dan hampir tertawa melihat reaksi Dania. Aku yakin ia menyimpan kekesalan atau mungkin amarah sebesar gunung atas ketidakpedulian kak Keanu terhadap dirinya.


Kemudian mendadak di tengah untain anak tangga kulihat kak Keanu menghentikan langkahnya. Seakan ia mendengar gerutuku. Melihat itu, aku pun menghentikan langkah dan memutar tubuh, berbalik arah. Aku menatap setiap langkahnya yang begitu cepat menuruni anak tangga. Apakah Mungkin ia akan kembali ke kamar Dania karena ia berubah fikiran? Atau...


"Jiaaahh..." teriakku. Ternyata kak Keanu justru mengangkat tubuhku. Ia membopongku. "Tak kan kubiarkan istriku dalam kesulitan sedikitpun. Walaupun itu hanya menaiki anak tangga yang tak seberapa ini" ucapnya sambil melangkah.


"Tak seberapa? Ini sulit kak..." ucapku sambil mencubit dadanya yang turun-naik dengan teratur. Pun demikian, setelahnya aku mengecupnya. Tepat pada bekas cubitan ku. Ia pun tersenyum sambil berisyarat dengan bibirnya. Jika diartikan, maka isyarat itu berbunyi I love you. Duuhh....tuan muda, fikiranku jadi melambung dengan hati yang melonjak kegirangan. Tuan muda, sesungguhnya aku pun sama. Aku pun mencintaimu. Bahkan teramat mencintaimu. Tapi apa dayaku. Aku malu jika harus mengutarakannya secara gamblang. Dan akhirnya aku hanya membenamkan kepalaku pada dadanya dan mengeratkan kalungan lenganku pada lehernya.


"Malam ini kecoa, besok apalagi?" ucapku kesal saat kak Keanu menurunkanku pada sofa. "Salah mu sendiri, sayang. Sudah ku beri isyarat untuk tidak menggubrisnya kau malah bersikeras menemuinya. Sekarang rasakan, malam-malam begini kau harus mengobrak-abrik kamar hanya untuk mencari kecoa hayalan" ucap kak Keanu sambil meregangkan tubuh.

__ADS_1


"Ku pikir dia benar-benar membutuhkan pertolongan. Dan lagi dia anak teman mama. Kalau kenapa-kenapa kita juga yang dapat masalah" ucapku sambil membetulkan posisi dudukku. "Em, tapi apa mungkin Dania sengaja ke rumah ini untuk merebut kakak dari ku?" ucapku seakan belum mengetahui maksud kedatangan Dania ataupun permainan yang sedang mereka mainkan.


Kulihat kak Keanu sedikit terkejut. Ia menatapku lekat. "Kau curiga ada maksud lain dari kedatangannya? Ah, bilang saja cemburu..." ucap kak Keanu sambil mengacak pucuk kepalaku setelah merengkuh kepalaku dalam dekapan lengan di bawah ketiaknya. Jelas aku meronta atas perlakuan tersebut. Ku pukul sembarang tubuhnya agar dapat terbebas dari dekapannya. Namun justru perilaku ku tersebut membuatkan tergelak.


Setelah puas menertawaiku, kak Keanu pun melepaskan dekapannya. Namun tidak melepaskan dengan sempurna. Kedua tangannya menakup wajahku dan menciuminya berulangkali. Wew....


"Puas..?!" ucapku kesal sambil melemparnya dengan bantal yang saat ini masih saja tergelak. Aku pun beranjak dari sofa meninggalkan kak Keanu dengan gelaknya. Ada kesal yang berhayut di ujung hati ku. Dan tujuanku satu-satunya kini adalah tempat tidur. Setelah apa yang ku alami sepanjang hari ini, sudah tentu membuatku letih. Terutama kedua kaki ku yang sudah bersusah payah menluluskan semua permintaanku atas segala aktifitasku. Beruntung ini kaki buatan Allah, seandainya buatan manusia mungkin ia sudah tak berbentuk lagi dan sudah tak layak disebut kaki. Hehe...


Wooaam...aku menguap. Rasa kantuk sudah menghantuiku. Segera saja ku rebahkan tubuh ini dan membelakangi kak Keanu yang masih duduk di sofa dengan gelak yang sekali-kali masih ku dengar. Dasar tuan muda labil. Gerutuku kesal...


"Hei, jangan marah. Nanti aku pindah kelain hati loh..." ucap kak Keanu sambil mendekapku yang masih memunggunginya. "O...jadi kakak bermaksud pindah kelain hati? ingin meninggalkan Fara. Berpindah ke Dania? O...jadi begini setelah diumpan kemolekan tubuh Dania, kakak jadi berubah?" ucapku panjang. "Hei...tidak begitu sayang. Aku hanya bercanda. Untuk apa aku menginginkan yang lain jika istriku saja jauh lebih sempurna dari perempuan manapun" ucap kak Keanu. "Aku kan tidak sempurna, kak. Sampai saat ini saja kaki ku belum sembuh sempurna" ucapku sendu. "Sayang...sempurna itu bukan hanya di fisik saja. Bagiku sempurna itu letaknya ada di hati, di fikiran dan di perilaku" ucap kak Keanu. Ces...rasanya.


Aku terisak. Air mataku jatuh seiring hembusan angin yang menerobos sela pintu balkon. Satu-satu bulir bening ini jatuh. Entah mengapa aku menangis. Apakah karena bahagia atas ucapan dan keyakinan kak Keanu atau sedih karena ada perempuan lain yang siap merebutnya dariku. "Sayang..." ucap kak Keanu yang mengeratkan dekapannya.


"Entah sampai kapan kau akan tahan atas semua godaan Dania? Aku jadi gamang melihat hari esok, kak. Terlebih saat melihat Dania yang begitu agresif berupaya menarik perhatianmu dengan segala kesempurnaannya. Aku semakin gamang, kak..." ucapku.


"Em, kata pak ustadz membelakangi suami di tempat tidur itu berdosa loh..." ucap kak Keanu yang menurutku bukan jawaban yang kuharapkan atas keluhanku. Aku diam hanya isak ku saja yang satu dua kali terdengar.


"Jangan ragu kan cintaku, sayang. Sudah ku katakan kesempurnaan itu tidak terletak pada fisik semata. Tapi lebih pada hati, fikiran dan perilaku. Dan lagi mana ada sih yang sempurna di dunia ini, sayang..." ucap kak Keanu sambil berusaha menghadapkan tubuhku padanya.


Aku makin terisak saat menatap wajahnya yang tampak sendu menatapku. "Kau istriku. Kekasih hatiku. Selamanya akan selalu begitu. Percayalah..." ucap kak Keanu. "Aku...Aku..." ucapku gagu di sela isak ku.

__ADS_1


Cup.


Eng...ing...eng...😁


__ADS_2