Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 121. Hari Pernikahanku


__ADS_3

Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Aku tengah dipersiapkan menjadi pengantin Keenan. Ya...hari ini tepatnya hari seperti yang sudah direncanakan Keenan. Tepat pukul delapan acara akad nikah akan berlangsung. Aku berdiri menatap pepohonan yang tampak bergoyang ditiup angin lalu. Goyangannya bak seirama dengan kegamangan dan kegelisahan yang menyelimuti jiwa ku. "Aku mohon pertolonganmu ya, Robby..."gumamku.


"Fara, minta Keenan untuk mempertemukan mu dengan Rafan. Katakan ini syarat pernikahanmu" ucap kak Mirza dari ear phone yang terpasang pada telinga kiri ku. Seorang polwan yang menyamar sebagai satu diantara crew dari Wedding organizer telah memasangkannya beberapa saat lalu.


"Fara... apakah ini yang kau inginkan?" ucap mama Wina yang berdiri di ambang pintu. Aku menghampirinya sambil tersenyum tipis. "Demi Rafan, Ma..." ucapku sambil mengecup lembut punggung tangannya dengan takzim. "Kau yakin Keenan yang menculik Rafan?" tanya mama sambil memegang tanganku. "Menurut pengakuannya demikian..." ucapku lagi. "Baiklah. Mama berjanji akan menjaga mu dan cucu mama" ucap mama sambil mengecup keningku dan berlalu. Ada sedih yang mendalam di ujung tatapannya. "Mama...ucapku lirih. Aku menghela nafas panjang. Sementara tatapan ku tak lepas mengiringi langkahnya hingga menghilang di balik dinding. Ada gemuruh dalam dada ini yang berusaha ku tahan agar tak jadi badai yang berkecamuk.


Segera ku tutup kembali pintu dengan rapat. Kemudian ku sandarkan tubuhku pada daun pintu yang tertutup tersebut. Berulangkali aku menghela nafas dengan mata terpejam. Aku tengah berusaha mendamaikan segala rasa di dada ini. "Kau gugup, Fara..." ucap kak Mirza. "Sedikit..." jawab ku singkat. "Kau bisa Fara. Aku yakin..." ucap kak Mirza lagi.


Tok.


Tok.


Tok.


"Nona Fara, acaranya segera dimulai. Nona bisa keluar sekarang..." ucap seorang crew WO. Ini kesempatan ku. Begitu Fikirku. "Aku tidak mau. Sampaikan pada tuan Keenan aku mempunyai syarat yang harus ia penuhi sekarang juga...!" ucapku lantang.


"Apa maksud mu, sayang...? Syarat apa yang harus ku penuhi" ucap Keenan yang ternyata memang sudah berada di depan pintu. Ia mencoba membuka paksa pintu, namun gagal. "Aku ingin bertemu Rafan sekarang juga...!" ucapku sambil menahan gemuruh di dada.

__ADS_1


"Jika aku tidak mau..." ucapnya. "Aku akan bunuh diri. Aku akan melompat melewat jendela..!" ucapku berdusta. Mendengar ucapanku, Keenan tertawa. "Aku tidak bodoh, sayang. Aku sudah menutup rapat jendela dan membuang segala benda tajam di dalam. Jadi lebih baik kau keluar saja. Jangan berulah bodoh seperti ini...!" ucapnya.


Deg.


Aku hilang kata. Harus bagaimana lagi aku bercara agar ia memenuhi permintaan ku. Kemudian mataku menangkap isyarat Bripda Selvi. Ia mengantukkan kepala pada dinding. Aku pun mengangguk tanda mengerti. "Sayang...bukalah. Jangan berlaku bodoh" ucapnya. "Aku mohon pertemukan Rafan dengan ku, jika tidak aku akan membenturkan kepalaku pada dinding" ucapku dari balik pintu.


"Jangan mengancam ku, Fara...!" teriak Keenan sambil menggebrak pintu. Surut langkahku saat ia melakukan itu. "Pertemukan aku dengan Rafan..." ucapku berulangkali sambil mulai mengantukkan kepala pada dinding. Bukan sekali atau dua kali, tapi berulangkali.


Duk.


Duk.


Duk.


"Hentikan, Fara...! Jangan lakukan lagi" ucap Keenan khawatir saat suara bergedebuk pada dinding masih terdengar. Namun kali ini bukanlah berasal dari kepalaku, melainkan dari kepalan tangan Bripda Selvi. Sementara itu aku terduduk lesu. Aku meringis menahan sakit. Ternyat kepala ku mulai menitikkan darah. Pun demikianaku tidak segera menyekanya. Hal ini sebagai bukti kesungguhan atas perlakuan ku barusan.


Sepuluh menit berlalu. Belum ada kabar kedatangan Rafan. "Sayang...kau tidak apa-apa?" ucap Keenan sambil mengetuk pintu berulangkali. "Rafan..." ucapku dengan merintih. "Mengapa kau nekat, sayang. Padahal kau bisa bersabar. Setelah menikah Rafan bisa langsung kau miliki" ucap Keenan. "Tapi aku merindukannya. Aku begitu mengkhawatirkannya. Karena itu aku menjadi tidak sabar ingin memeluknya" ucapku mengulur waktu sekaligus membuatnya lengah.

__ADS_1


"Rafan menuju tempat mu" ucap kak Mirza. Lega kurasa saat mendengarnya. Tak lama kemudian terdengar beberapa langkah kaki. "Sayang, Rafan ada di sini..." ucap Keenan sambil mengetuk pintu. "Panggil mama, sayang..." pinta Keenan berulangkali.


"Mama..." ucap seorang bocah yang aku yakin itu Rafan, anak laki-laki ku. Perlahan ku buka pintu yang semula terkunci. Meronta Rafan saat melihatku. Aku pun langsung merengkuh tubuhnya dan mendekap dan menciumi pipi gembulnya.


"Aku sudah memenuhi permintaan mu. Kini giliran mu. Mari..."ucapnya. "Tak bisakah Rafan tetap berada dalam dekapan ku saat kita menikah?" ucap ku.


"Jangan serakah, Fara. Ayolah..." ucap Keenan sedikit kesal. Aku terdiam. Wajahku menampakkan penggambaran isi hati ku yang tengah gerimis saat ini. "Baik...Baiklah. Rafan akan ada saat kita menikah. Tapi di ruangan lain dari gedung ini. Atap... Berjaga-jaga jika kau mendustaiku" ucap Keenan sambil menatapku lekat. "Kau..." ucapku geram sambil membulatkan mata. Dan Keenan pun berisyarat mengancam Rafan. Aku pun terdiam. Apa dayaku?


"Baiklah..." ucapku lesu dan membiarkan Rafan diraih kembali oleh mbak Min yang menatapku pilu.


Ku tatap kepergian Rafan yang dikawal tiga orang laki-laki bertubuh kekar. "Tenang, Fara. Kini giliran aparat yang beraksi menyelamatkan Rafan" ucap kak Mirza.


Pukul delapan lewat dua puluh menit. Aku terkesiap saat jemariku di genggam Keenan. "Mari..." ajaknya sambil melangkah. Tak ia lepaskan sebentar saja pegangannya pada jemariku hingga di tempat acara berlangsung. "Sayang, kenapa...?" ucap mama Wina saat melihat darah pada dahiku. "Ma...sudahlah. Biarkan saja" ucap Keenan yang mencegah mama Wina mendekatiku. Rupanya Keenan sudah menjadi tidak sabar.


"Fara, Rafan sudah aman..." ucap kak Mirza. Mendengar itu aku langsung berdiri. Dan hal tersebut tentu saja membuat Keenan terkejut. Wajahnya merah padam, amarahnya mulai menjalari hatinya. Karena keinginannya selalu mendapat halangan.


Langakhku surut beberapa langkah menjauhi Keenan. "Fara...Fara...!" ucap Keenan berupaya meraihku. "Aku tidak ingin menikah dengan mu, Keenan. Kau laki-laki tak punya hati. Kau egois, kau tega melakukan penculikan anak kakak mu sendiri. Sungguh menyedihkan kau Keenan..." ucapku dengan suara bergetar karena tangis yang sudah tak sanggup ku tahan lagi.

__ADS_1


"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Fara. Fara...!" ucap Keenan setengah teriak karena aku langsung berlalu. "Berhenti, Fara...!" teriak Keenan dengan lantang berbarengan dengan suara desing peluru. Aku tersentak. Bahkan tak sedikit tamu yang hadir histeris mendengarnya. "Berhentilah, Fara. Dan kembali pada kursi mu. Jika tidak, maka peluru selanjutnya akan bersarang di tubuh mu..." acam Keenan sambil memuntahkan kembali butir peluru. Suaranya begitu memekakkan telinga. "Akh..." teriakku.


To Be Continued...


__ADS_2