Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 26. Menikahlah Denagnku


__ADS_3

Pukul enam lewat lima menit. Langit bersih. Hanya awan tipis saja yang berarak tertiup angin lalu. Dan matahari pun mulai menaiki lintasannya, menyisakan semburat kemerahan di kaki langit. Perlahan namun pasti, hawa malam pun menghilang berganti kehangatan sang mentari.


Berdiri aku menatap sang mentari sambil merentangkan tangan. Nafas pun ku atur satu-satu, merasai segarnya udara pagi. Langkahku pun mulai berlarian kecil menyusuri jalanan seputaran rumah. Dan lari kecilku kadang harus terhenti saat mataku menemukan hal yang begitu menarik. Seperti saat ini, aku berada di tengah taman bunga di dekat komplek perumahan. Hamparan bunga warna-warni tertata apik. Mata ku tiada henti menatap kuncup bunga yang mulai bermekaran. Aku takjub saat melihat kuncup-kuncup bunga bergoyang tertiup angin lalu. Goyangannya seakan mengikuti irama tertentu. Sungguh cantik dan indah di pandang mata. Selain itu sebuah kolam terhamapr ditengahnya dengan ikan warna-warni yang berseliweran riang.


Aku duduk pada sebuah kursi di sudut taman. Saat sebotol air mineral disodorkan, aku pun sontak mendongak melihat wajah si empunya. Senyumku begitu sumringah saat melihat wajah tampan yang berdiri menatapku sambil tersenyum. "Kak Mirza..." ucapku. "Ya. Seneng ya aku datang...?" ucapnya sambil duduk di sebelahku. Dan matanya menatap riak kolam akibat gerak ikan yang berseliweran cantik. "Biasa saja..." dustaku. "O...jadi biasa saja. Ya sudah aku pulang" ucapnya sambil berlalu begitu saja. "Loh, kok..." ucapku sambil menatap punggungnya. "Tunggu, kak..." ucapku bernada manja. "Ih, ambekan..." ucapku sambil menghadang langkahnya. "Siapa suruh punya perasaan biasa saja. Fara...Fara, aku harus bagaimana lagi?" ucapnya sambil mengalihkan pandangannya. "Maaf, Fara bercanda..." ucapku tak berani menatap wajah tampannya. "Aku sangat khawatir. Apalagi setelah mendengar cerita Tante Vira. Entah aku harus bagaimana untuk membuatmu aman terlindungi" ucapnya sambil meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Kemudian diapitnya lenganku dan mengajakku duduk pada sebuah kursi di sisi lain taman.


"Hm, nikah yuk..." ucapnya tiba-tiba tanpa menatapku. "Ih, kakak...becanda suka kelewatan" ucapku sambil mencubit lengannya. Kak Mirza justru tertawa memperlihatkan deretan gigi putih nan rapinya. "Aku serius, sayang. Aku ingin melanjutkan perbincangan terdahulu. Aku hanya ingin menjagamu dan menjadi cinta mu satu-satunya" ucapnya yang kini begitu lekat menatapku. Aku tersenyum mendengar penuturan kak Mirza. Tak ku temukan keraguan sedikit pun di dalam tatapannya. "Kenapa...ragu? Atau tidak suka...?" ucapnya. "Situasi Fara tidak sama seperti satu tahun yang lalu. Fara sekarang sudah ternoda" ucapku sendu. "Aku tidak peduli. Sekali aku memilih, maka selamanya aku akan konsekwen atas pilihanku itu. Apakah sudah berubah atau tetap sama..." ucapnya sambil mengeratkan genggamannya pada jemariku. "Dan lagi, semua yang kau alami bukanlah kehendakmu. Itu hanya karena kau berada pada situasi dan waktu yang salah saja. Selebihnya kau tetap Fara ku. Fara yang selalu membuatku bahagia..." ucapnya lagi. Aku terdiam. Aku bulir bening yang mengambang dan sejak tadi siap meluncur.


"Terima kasih, kak. Dari dahulu hingga kini kakak lah yang selalu membuatku tersanjung dan merasa terlindungi" ucapku. Tanpa sadar aku bergelayut pada lengannya. Menyandarkan sebentar kepalaku pada bahunya sambil mengurai air mata yang tak terbendung lagi. "Menangislah, sayang. Aku akan selalu menjadi sandaran mu saat kau bersusah hati" ucapnya sambil menghela nafas perlahan.

__ADS_1


"Jadi...ajakan menikah ku diterima, nieh" ucap kak Mirza saat tangisku susut. "Ya...mau gimana lagi" ucapku sambil menegakkan kepala. "Hei..maksudnya?" ucap kak Mirza yang langsung menatapku lekat. Aku pun tersenyum lebar melihat reaksinya yang sedemikian rupa sambil mengangkat alisku seakan mengisyaratkan bahwa 'aku bercanda'. "O... mengerjaiku ya. Dasar nakal..." ucapnya sambil berusaha meraih tanganku. Aku pun mengelak sekenanya dan berlalu dengan cepat. Jadilah kami berkejaran saat itu. Ada banyak banyak tawa yang tertuang saat itu.


Pukul delapan lewat dua puluh menit. Masih dalam langkah cepat kami menyusuri jalanan di bawah mentari yang mulai memberi kehangatan di bumi. "Yes, akhirnya menikah juga" ucap kak Mirza sumringah saat berhasil mensejajari langkah lariku. "Kakak yakin?"ucapku yang di balasnya dengan senyuman dan lagi-lagi usapan di kepalaku. "Situ yuk..." ajaknya sambil menunjuk sebuah kedai bubur ayam. "Turun dua ons, naik sekilo..." ucap ku sambil tertawa dan mengarahkan langkah menuju kedai yang dimaksud. "Sekali-kali loh, sayang..." ucap kak Mirza terkekeh. "Kamu tuh ya.. Paling bisa..." ucapnya lagi sambil mengacak pucuk kepalaku.


Baru saja kami memilih temapt duduk, kami dikejutkan dengan keberadaan ayah dan Tante Vira. "Ayah...Tante Vira...?" ucapku. "Hei..kemari, sayang" ucap ayah yang langsung dekati. "Sedang apa ayah dan Tante Vira?" ucapku sambil duduk dan menyomot kerupuk di mangkuk. "Ya makan lah. Masa nyuci baju..." ucap ayah konyol. Aku pun terkekeh mendengarnya. "Bagaimana lari paginya, sudah menghasilkan apa?" tanya ayah sambil tersenyum melirik kak Mirza. Eh, yang dilirik malah tertawa dan asyik dengan suapan dari semangkuk bubur ayam yang baru saja tersaji. "Ga da yang penting, yah" ucapku seenaknya. "Masa ga da yang penting?" ucap Tante Vira. "Iya. ga da yang penting. Sebab semua baru rencana yang bisa saja hanya berupa angan" ucap ku.


Kak Mirza meletakkan sendok pada mangkok begitu saja. Matanya menatapku. "Yang Fara anggap biasa saja, bagi sya tidak. Yang Fara anggap bisa saja hanya berupa angan, bagi saya tidak. Kalau ayah dan Fara setuju, sekarang pun saya siap menikahi Fara" ucap kak Mirza tanpa keraguan. Matanya menatap ku lekat sambil sesekali menatap ayah yang mendadak juga menghentikan aktifitas makannya. Mungkin ia menanti reaksi ayah atas pernyataannya tersebut. "Ini adalah kali kedua sejak kembalinya Fara, Mirza mengungkapkan keinginan tuk menikahi Fara. Walau Fara mengiyakan namun sepertinya Fara belum seratus persen menganggapnya serius. Fara masih ragu, yah. Hm, tapi tidak apa-apa Mirza akan sabar hingga waktu yang tepat itu tiba" ucap kak Mirza dengan wajah seriusnya. Hanya sedikit senyum saja yang menghiasi sudut bibirnya. "Ayah...punya keinginan tuk putri ayah satu-satunya ini, yaitu melihatnya bahagia lahir dan batin. Ayah pun turut berdoa semoga niat yang terbaik akan disegerakan" ucap ayah yang langsung diaminkan Tante Vira dan kak Mirza. Pun demikian denganku. Walau dalam hati, namun sesungguhnya itulah yang menjadi harapan terbesarku saat ini, bahagia.


Pukul sembilan tepat. Kami berpisah karena tujuan berbeda. Ayah dan Tante Vira menuju toko, sementara aku dan kak Mirza menuju rumah. Masih dengan berlari kecil, kami menyusuri kembali jalanan yang sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan maupun pejalan kaki seperti halnya aku dan kak Mirza. Lima belas menit sudah kami lewati dan kini terduduk lah kami pada kursi di teras rumah, mengatur nafas satu-satu. Dan berusaha berdamai dengan degup jantung yang berirama tak menentu. "Aku harus bagaimana, Fara? Jujur aku bingung. Kau menerima tapi kau masih berkata demikian, seakan kau tidak mempercayaiku" ucap kak Mirza. "Bukan aku tidak percaya. Justru aku sanagt percaya. Tapi aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Pantaskah aku yang hina ini bersanding dengan kak Mirza" ucapku. "Sudah ku katakan , Fara ku masih seperti dahulu. Tidak ada yang berubah. Yakinlah...dengan pinanganku ini" ucap kak Mirza. "Fara menerimanya, Kak. Tapi beri Fara kesempatan untuk meyakinkan diri Fara sendiri. Fara mohon. Fara masih butuh waktu untuk memulihkan kepercayaan diri Fara setelah apa yang Fara alami." ucapku. "Baiklah sayang, aku mengerti" ucap kak Mirza sambil mengusap kembali pucuk kepalaku. Namun kali ini benar-benar membuat hatiku merah jambu. Perlakuan nya walau simple terhadapku sudah mampu membuatku tersanjung mengingat kondisiku saat ini. Rasanya tak mungkin ku temui lagi lelaki sepertinya di dunianya. Hanya satu diantara seribu ku rasa. Pun demikian, lagi-lagi bukan karena aku menolak atau mengulur waktu atas pinangannya namun terlebih pada persiapan diri sendiri. Aku berusaha membangun kepercayaan dan memantaskan diriku untuknya. Sudahkah....?

__ADS_1


Aku tersenyum menatap lalu wajah tampannya yang masih menatapku lekat. "Kau segalanya bagi ku. Menikahlah dengan ku, Fara...Segera yakinkan dirimu, kau sangat pantas mendampingi hidupku. Karena hanya kau yang mampu memberikan senyum di hatiku. Dan hanya kau yang mampu memberikan tawa di jiwaku. Dan segala duka mu pun akan menjadi duka ku. Kau pantas mendapatkan semua yang kau inginkan, sayang...yaitu senyum dan tawa berbungkus bahagia. Menikahlah denganku..." ucapnya lagi sesaat sebelum ia berlalu bersama mobil sport silver miliknya. Aku tersenyum sambil melambaikan tangan. Menatap kepergiannya sambil menyelipkan doa terbaik untuknya : semoga kau bahagia selalu, kak. Siapa pun pendamping mu aku berharap ia mampu membahagiakanmu.


pukul sembilan lewat lima belas menit. Aku berdiri mematut diri di depan cermin. Memulas tipis bibirku. Dan sesaat aku terdiam menatap pantulan diri pada cermin. Kembali terngiang segala keinginan kak Mirza. "Menikahlah dengan ku..." kata ini yang paling lekat dalam hati dan fikiranku. Ya, Robb...pantaskah aku untuknya? Tak ku pungkiri aku memang mencintainya, namun mampukah aku menjadi pendamping hidupnya seperti yang ia harapkan? Menjadi bagian dari keluarga yang begitu baik....


Drrt....Drrt...Drrt...


Ponsel ku berpendar beberapa kali. "Menikahlah denganku...Aku yakin mampu membahagiakanmu. Jika aku tak mampu, maka aku rela membiarkan mu bahgaia dengan siapa pun yang mampu membahagiakanmu. Namun sebelum itu bersiaplah karena sesaat lagi sopirku akan menjemputmu. Aku membutuhkanmu saat ini..." pesannya yang membuatku termangu. "Ada apa, Kak..? Kemana...?" balasku. "Jangan banyak tanya. Segeralah....! aku menunggumu" pesannya lagi.


"Ada apa dengan tuan Mirza, pak Dirman?" ucapku saat duduk dalam mobil kiriman kak Mirza. "Nanti nyonya muda pun akan tahu..." jawabnya sambil melajukan mobil. Ada apa sebenarnya? "Mengapa kak Mirza berteka-teki seperti ini?" gumamku lirih. Aku begitu penasaran dibuatnya...

__ADS_1


__ADS_2