Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 32. Cemburu....


__ADS_3

Aku memeluk erat lututku dan duduk di sebuah sudut ruangan. Ruangan yang amat ku kenal. Kamar VIP berukuran sedang di salah satu kamar rumah milik nyonya Maghdalena. Seorang perempuan setengah baya yang masih terbilang cantik. Dan ia menjalankan usaha esek-esek di sebuah kota besar. "Ya, Robb...aku kembali ke tempat ini" ucapku dengan bibir bergetar. Tubuhku yang setengah telanjang gigil terpapar udara dingin dari pendingin ruangan.


Jam dinding berdetak sangat lambat seakan tahu akan ada yang segera terjadi di kamar tersebut. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang mendekat. Mendengar itu aku semakin kecut. Berdirilah sosok lelaki tegap di ambang pintu. Ia menatap nanar aku yang minim busana. Ia adalah tuan Darius. Dan ia pun mulai berusaha menjamah ku. Dengan tangan kekarnya, ia pun memulai aksinya pada tubuhku. Dihimpit nya tubuhku hingga aku sulit bernafas. Berontak tubuhku berusaha melepaskan diri. Teriak aku begitu histeris. "Lepaskan....! Tidak...! Jangan....!" teriakku histeris dengan berurai air mata.


"Sayang...Sayang..!" ucap ayah berulangkali dari tempat tidurnya. Namun aku tetap dengan segala kelaraan ku. "Fara, sayang...Bangun" ucap kak Mirza sambil mengguncang tubuhku berulang. Mendapat perlakuan tersebut, aku pun akhirnya terbangun. Nafasku begitu memburu. Tubuh pun bermandikan peluh. "Kak Mirza...".ucapku lirih sambil menatapnya penuh keterkejutan. Kemudian aku tersadar dan melihat kak Mirza begitu dekat. Tak kurang dari tiga puluh sentimeter wajahnya tepat di depanku. Begitu dekatnya hingga tarikan nafasnya saja dapat terdengar olehku. Ia tengah memperhatikanku. Dan ia pun begitu lekat menatapku seakan sedang mencari cara mengetahui apa yang baru saja yang kualami. Melihat itu, pecahlah tangisku. Aku bercerita melalui tangisku saja yang begitu lara..Ya...melalui tangisku, tiada kata yang terucap. Hanya melalui tangisku saja.


Dalam tangisku itu aku mencoba mengatakan bahwa ini adalah aku. Aku dengan segala kedukaan masa lalu ku. Duka yang selama lebih setahun ini selalu hadir dalam tidurku dan menjelma sebagai mimpi yang begitu buruk. Mimpi yang membuat jiwaku kecut.


Dan seakan tahu apa yang kualami dan kurasakan kak Mirza pun hanya diam. Ia hanya menatapku lekat dalam dekapan eratnya. Berulang ia mengusap lenganku, mencoba menenangkan ku. "Sayang..." ucap ayah yang duduk di atas ranjang yang sudah empat hari ini ia tempati. Dan Kak Mirza pun melonggarkan dekapannya, membiarkan aku menghampiri ayah. "Kuat, sayang. Ayah tahu bagaimana deritamu. Tapi semua sudah terjadi. Dan walau bagaimanapun, kita tetaplah harus bersyukur. Kau dapat terlepas dari cengkeramannya walaupun sekarang masih dihantui tapi paling tidak, tidak secara nyata" ucap ayah yang mendekapku. "Maafkan aku ayah. Sesungguhnya tanpa sepengetahuan ayah, aku sudah menemui tuan Darius empat hari yang lalu. Maafkan..." ucapku dalam hati.


"Wah... sepertinya sudah siap-siap nieh. Bagaimana, Yah? Sudah merasa baikan?" ucap bang David sambil tersenyum dan menghampiri ayah. "Ayah rasa sudah baikan. Terima kasih atas perawatannya" ucap ayah sambil tersenyum dan menjabat tangan bang David. "Harus sudah baik, Yah. Apalagi Minggu ayah menikah..." ucap bang David tersenyum lebar memperlihatkan dua lubang pada pipinya. Ya..Robb, ini kakak-adik gantengnya sama-sama membuat meleleh siapapun yang menatapnya. "Hei...Fara. Sejak dengan Mirza, kau sering menangis. Ada apa?" tanya bang David dengan gaya menggoda. "Hei...jangan bawa-bawa nama Mirza ya. Em, dan lagi kalau dengan bang David yakin tidak akan pernah menangis" ucap kak Mirza kesal. "Kau tanyakan saja dengan Fara. Begitu kan, Fara?" ucap bang David sambil mendekatkan wajahnya padaku. Begitu dekat. Sontak kak Mirza langsung menarik lenganku dan menjauhkan ku dari bang David. "Cemburu ya..." goda bang David. Dan kak Mirza hanya tersenyum tipis. "Ayo, Yah...kita pulang. Sudah siap?" ucap kak Mirza lagi saat melihat Tante Vira datang. Melihat polah keduanya, ayah tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Pukul lima lewat lima menit. Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya dan hanya meninggalkan semburat kemerahan di kaki langit. Berdiri kami dalam lift. Aku, ayah, Tante Vira, kak Mirza, bang David dan bang Pandu. Sepintas ku lihat dengan ekor mataku kak Mirza surut ke belakang. Sedikit menyandarkan tubuhnya pada sisi lift. Kemudian aku yakin betul jika tangannya berusaha meraih dan menggenggam tanganku. Aku tersenyum dan berlaku cuek seakan tidak terjadi apa-apa saat ia berhasil melakukannya. Kak Mirza tersenyum jail sambil memainkan alisnya naik-turun saat pandangan kami beradu. Sementara tangannya menggenggam erat jemariku. Sungguh aku menahan tawa melihat polahnya itu. Seorang Mirza, pengusaha muda dengan takdir menjadi lelaki tampan ternyata bisa juga bertingkah konyol dan kekanakan seperti itu. Ahai....aku tertawa dalam hati. Jiwaku berontak saat ia tersenyum menatap bang David yang menggelengkan kepalanya karena ia mengetahui polah adik lelaki tampannya itu. Aku tertawa tertahan. Ku tutup sebagian wajahku dengan sebelah tanganku atas polah kakak-beradik itu. Sesampainya di lantai dasar genggaman kak Mirza pun melonggar. Dan ku lihat kedua kakak-beradik itu berjalan saling berangkulan hingga ke areal parkir.


"Bang David, mau kemana?" tanyaku. "Mau pulang, sayang. Istirahat" ucap bang David yang mengurungkan membuka pintu mobilnya. Ia berbalik dan tersenyum menatapku yang berdiri tak jauh. Mendapat jawaban itu aku pung meng-o singkat sambil tersenyum. "Kenapa? Masih kangen ya...?" tanya bang David sambil tersenyum. Senyum yang sama saat ia menghiburku dahulu sekali. Senyum yang pernah mengisi hari-hari ku.

__ADS_1


"Bang, jangan buat aku khilaf ya..." ucap kak Mirza datar sambil menyandarkan tubuhnya pada sisi mobilnya. "Khilaf....?" ucap bang David. "Ya, khilaf. Khilaf kalau bang David ini adalah kakak ku. Mau merasakan kepalan tinjuku?" ucap kak Mirza sambil mengacungkan kepalan tinjunya ke arah bang David. Tertawa bang David melihat polah adiknya tersebut. Pun demikian dengan kami semua. "Ayah...kalau ingin membuat marah Mirza, maka goda atau ganggu saja Fara. Pasti tuh tanduk di kepalanya akan langsung muncul" ucap bang David di sela tawanya. "Dasar dokter sotoy..." ucap kak Mirza. "Pandu, bagaimana menurut mu?" tanya bang David sambil tersenyum. "Memang seperti itu tuan Mirza itu, tuan..." ucap bang Pandu sambil menahan tawanya. "Pandu, kau kerja pada siapa? Mau ku potong gajimu..." ucap kak Mirza sambil membualatkan matanya. "Maaf, Tuan..." ucap bang Pandu sambil tersenyum dan mengangguk takzim.


"Wah, kalau tidak segera dihentikan bisa-bisa Ayah menginap di halaman parkir rumah sakit nieh..." ucap ayah terkekeh. Tersadar dengan hal tersebut kami pun turut terkekeh. Berbeda halnya dengan kak Mirza dan bang David. Keduanya langsung bungkam mendengar ucapan ayah sambil tersenyum tipis kemudian. "Pandu, kau satu mobil dengan Satria ya. Mobil ini biar aku yang mengemudi" ucap kak Mirza. Sorot matanya kembali menunjukkan ketegasan. "Baik, tuan" ucap bang Pandu sambil menyerahkan kunci mobil kepada kak Mirza.


Tak lama kemudian mobil sport silver kak Mirza pun melaju cepat menyusuri jalanan di bawah temaram lampu jalan. Saat itu pukul lima lewat empat puluh lima menit. Selama perjalanan kak Mirza lebih banyak diam. Hanya sesekali saja katanya terdengar, itu pun untuk menjawab pertanyaan ayah atau pun Tante Vira.


Drrt... Drrt...Drrt...


Ponsel kak Mirza berpendar. Sebuah panggilan yang berhasil membuyarkan lamunan. "Ya, Pandu..." ucap kak Mirza. "Oya...?" ucap kak Mirza lagi. Kali ini matanya melihat kaca spion utama mobil. "Ya, saya melihatnya. Dan sepertinya kiita harus berputar arah dahulu untuk menghilangkan jejak. Sedikit menjauh dari rumah" ucap kak Mirza yang sesekali terus menatap spion. "Ayah...kita berputar-putar dahulu. Mobil hitam di belakang mengikuti kita sejak kita keluar rumah sakit" ucap kak Mirza. "Baiklah..."ucap ayah yang turut memperhatikan mobil hitam di belakang.


"Ayah baik-baik saja?" tanyaku saat sepintas ku lihat wajahnya menahan sakit. "Ayah baik-baik saja, sayang..." ucap ayah berusaha tenang. Jalan F pun sudah kami masuki. Dan benar saja bang Pandu dan Satria langsung memotong laju mobil hitam tersebut. Hampir terjadi slip pada kedua mobil tersebut. Namun beruntung sepertinya baik bang Pandu maupun pengemudi mobil hitam cukup piawai mengendalikan mobil, sehingga tidak sampai terjadi hal yang membahayakan.


Pukul enam lewat sepuluh menit. Adzan pun sudah berkumandang. Ayah menyarankan untuk berhenti sejenak pada sebuah masjid yang akan kami lewati. Kak Mirza pun langsung mengiyakan. Kemudian laju mobil pun melambat ketika memasuki areal parkir sebuah masjid. "Tetap waspada, sayang..." pesan kak Mirza ketika kami berpisah di ambang pintu masjid. Aku pun megangguk sambil tersenyum.


Tak lama kemudian aku pun sudah khusyuk dalam peribadahan ku, sholat maghrib. Ini adalah cara ku dan juga setiap insan dalam mengekspresikan cinta, pemujaan, dan kekaguman kepada Tuhan 'Azza Wajalla. Dengan beribadah dan melalui doa, semua keluh kesah dapat diungkapkan. Selain itu beribadah akan makin mendekatkan ku kepada kebaikan. Hidup tanpa beribadah, seperti berlayar tanpa arah, seperti berlabuh tanpa pijakan. Kemudian tengadah tanganku mengakhiri sholat. Bermunajat penuh pengharapan dalam untaian doa-doa ku. Karena aku yakin doa adalah obat bagi jiwa yang hampa, pikiran yang bimbang, dan hati yang terluka. Doa adalah permohonan, pengharapan seorang hamba pada Tuhannya. Doa juga dapat diibaratkan sebuah senjata, obat dan juga pintu segala kebaikan.

__ADS_1


"Sayang...." ucap Tante Vira mengusap lenganku. Aku pun segera mengusap bir bening yang sudah mengiringi untaian doaku dan juga merapikan mukena.


Tak lama kami pun sudah melenggang beriringan keluar masjid menuju parkiran. Tampak ayah dan kak Mirza sudah berada terlebih dahulu di sana. Keduanya tengah asyik berbincang dan...hei, ternyata bang Pandu dan Satria pun juga sudah berada di sana. Tak ingin mengganggu obrolan keempatnya, aku dan Tante Vira pun memilih langsung masuk mobil. "Sayang...kamu kenal Ratu?" ucap kak Mirza sambil men-stater mobil sport silver-nya. mendengar pertanyaan Kak Mirza pikiranku pun langsung mengembara mencoba mengingat sosok dari nama yang baru disebut. "Ratu..." ucapku kemudian. "Jika yang dimaksud adalah ratu teman sekelasku, tentu Fara kenal Kak. Fara tahu betul" begitu ucapku setelah mengingat-ingat. "Ratu adalah pengemudi mobil hitam tadi". ucap Kak Mirza yang tentu saja membuatku terkejut bukan kepalang. "Ratu..? Lalu mengapa ia melakukannya? Apa ada hubungannya dengan ku? Atau dengan Kak Mirza? Atau dengan ayah dan Tante Vira" ucapku lagi. "Apakah kau lupa sayang, Ratu adalah adik dari Anita. Dan Anita adalah....." ucap kak Mirza ku potong. "Ya. Fara tahu. Artinya ini berkaitan dengan kak Mirza dan juga Fara" ucapku sambil menatap jauh ke depan, entah kemana. "Anita juga yang membawamu ke rumah nyonya Maghdalena" ucap ayah. "Ya...." ucapku lirih. Ada kemarahan yang menggantung di ujung hatiku. Kemarahan yang akan sulit di padamkan.


"Sayang..." ucap kak Mirza. "Hemm...." gumamku sebagai jawaban atas pertanyaan kak Mirza. "Apa yang kau fikirkan...?" tanya kak Mirza. "Tidak ada. Fara hanya mencoba merunut peristiwa yang sudah dialami. Dan permasalahan utamanya ada pada perasaan" ucapku. "Ehem....maksudnya?" tanya kak Mirza. "jika Kakak Mirza menerima cinta Anita, tentu semua runitan peristiwa yang Fara alami tidak akan terjadi" ucap ku kacau. "Pernyataan macam apa itu, Fara...?" ucap ayah dengan sedikit keras. "diakui atau tidak itulah kenyataannya..." ucapku yang membuat kak Mirza membanting kemudi ke kiri jalan. Mobil pun men-cicit. "Maaf ayah, Tante Vira..." ucap kak Mirza. Nafasnya memburu. Matanya menatap tajam ke depan. "Ada apa, Tuan...?" tanya bang Pandu saat sampai di sisi kanan mobil. " Maaf ayah, Tante Vira. Mirza ingin berbincang dengan Fara. Jika berkenan ayah dan Tante berpindah dahulu ke mobil bersama Pandu..." ucap kak Mirza perlahan dengan takzim. Ayah pun tersenyum dan berlalu berpindah mobil. "Selesaikan..." ucap ayah sambil menepuk bahu kak Mirza. Setelah itu kak Mirza hanya diam. Hanya jemarinya saja yang mengetuk-ngetuk kemudi berulangkali. Kemudian pandangannya beralih kepadaku. Ia menatapku lekat sambil terus mengetuk-ngetuk kemudi. Sesekali ia menghela nafas nafas berat. Ditatap demikian aku menjadi rikuh. Lidah pun jadi kelu.


"Aku harus mulai darimana? Tentang perasaanku kepadamu? Atau tentang Anita? Menurutmu mana yang lebih penting sehingga aku harus dahulukan penjelasannya? Beri aku kunci untuk memulainya. Atau begini...penjelasan mana yang lebih kau butuhkan saat ini?" ucap kak Mirza sambil merapikan rambut dengan sebwlah tangannya. Sementara itu matanya tetap menatapku lekat, seakan ia mencari keinginanku. Ditanya demikian, lagi-lagi membuat ku kacau. Aku kelu. Tidak tahu harus berkata apa. Di ujung hatiku, ada secuil penyesalan yang ku simpan dalam-dalam. "Jawab, Fara..." ucap kak Mirza sedikit keras. "Aku.. Aku tidak tahu Kak" ucapku gagu.


"Fara...Fara. Aku sangat sangat yakin kau berbeda dengan gadis lainnya. Kau sosok yang kuat dan dewasa. Cara berfikirmu yang membuatku takjub saat itu. Tapi saat ini, kau sudah berubah. Berubah menjadi gadis remaja selayaknya gadis seusiamu. Kau kekanakan..." ucapan kak Mirza menohok ku. Aku terdiam. Kualihkan tatapanku pada tempat lain. Lebih tepatnya sisi kiri ku yang menerobos kaca jendela mobil. Ada bulir bening yang mengambang di sudut mata ku yang sejak tadi aku tahan. "Sudah kukatakan berulang kali tentang perempuan itu, memandang dengan sebelah mata pun aku tidak Sudi apalagi mencintainya ataupun menerima cintanya. Apa kau belum mengerti juga?" ucap kak Mirza yang raut wajahnya tak sanggup ku lihat. "Astaga, Fara...lihatlah aku" ucap kak Mirza lagi. "Maafkan Fara, Kak. Fara lelah menghadapi masalah yang ada. Masalah yang intinya hanya itu-itu saja. Apa salah,Fara? Fara hanya mencintai dan ingin dicintai, disayangi. Lalu dimana letak kesalahan Fara dengan semua perasaan ini...?" ucapku dengan suara bergetar karena menahan tangis.


"Kemarilah, sayang..." ucap kak Mirza yang langsung merengkuh kepalaku dalam dekapannya. Pecahlah sudah tangisku saat itu hingga terguncang bahuku untuk beberapa saat. "Aku mengerti dengan semua kedukaan mu. Karena itu biarkan cintaku menjadi obat setiap luka yang ada dalam jiwa dan ragamu, sayang..." ucap kak Mirza sambil mengusap kepalaku dengan sebelah tangannya. "Jangan ragukan cinta dan kasih sayangku karena itu hanya akan membuat kita sama-sama terluka..." ucap kak Mirza. Ucapan yang berhasil membuat tenang hatiku. Dan tentu saja meningkatkan kepercayaan ku kepadanya. Lelaki yang sudah mencintai dan menyayangiku apa adanya, bagaimanapun situasi dan kondisi ku. "Terima kasih ya, Kak. Kakak sudah memahami ku. Kakak sudah membuatku jatuh cinta berulangkali..." ucapku. "Gombal..." ucap kak Mirza mengacak pucuk kepalanya dengan gemas dan senyum yang mengembang.


"Jangan pernah membuat pernyataan dan atau keputusan ketika sedang marah, karena air yang mendidih tidak bisa digunakan untuk bercermin" ucap kak Mirza lagi sambil men-stater mobil sport silver-nya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang saja. Pun demikian suara raungan mesin nya masih terdengar begitu gahar mengisi udara sepanjang jalan yang dilaluinya. Sementara itu di langit tampak menggantung bulan begitu sempurna dengan pendar cahaya nan lembut. Tak lupa disekitarnya bertuburan bintang dengan kerlingnya yang begitu menggoda.


Pukul sembilan lewat lima menit. Lebih dari separuh perjalanan kak Mirza kembali menghentikan mobil pada sisi Jalan. Namun kali ini di pusat taman kota. Elephant Park, namanya. Sebuah taman yang menjadi icon kota M, kota kelahiranku. Tanpa turun dari mobil kak Mirza memesan ice cream, satu diantara penganan desserts favoritku.

__ADS_1


"Fara tahu, yang itu adalah Fara" ucap Kak Mirza sambil menunjuk ke langit. "Yang mana...?" tanyaku singkat. "Yang dikeliling bintang-bintang" ucap kak Mirza. "Oh, ya..." ucapku tak percaya sambil tersenyum menggodanya. "Ya begitulah. Dan bintang-bintang itu adalah aku, bang David, Darius dan mungkin beberapa lelaki lainnya" ucap kak Mirza dengan senyum khasnya. "Begitukah menurut Kakak? Tapi mengapa harus ada Bang David?" ucapku sambil menatap langit. "Fara tanyakan saja pada hati Fara sendiri. Dimana tempat untuk Bang David itu?" ucap Kak Mirza yang sekarang menatapku. "Fara rasa tidak ada tempat lagi. Karena hati Fara sudah penuh, penuh dengan Kak Mirza saja" ucapku menggombali nya. "Sudah pandai menggombal, ya..." ucap kak Mirza. Lagi-lagi ia mengacak pucuk kepalaku yang terbungkus kerudung. Tak lupa senyum khasnya menyata di wajah tampannya....


__ADS_2