Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 22. Ceritaku Hari ini...


__ADS_3

Langkahku begitu Cepat menyusuri teras kelas sekolahku. Karena waktu ujian jam pertama akan segera dimulai. Hari ini adalah hari kelima ujian akhir sekolah ku. Semangatku masih membara hingga saat ini. Dan rasa syukurku pun tak pernah berkurang atas semua kesempatan yang sudah diberikan. "Hei...Gadis malam. Selamat pagi...Pulang jam berapa? Subuh ya?" ucap Rivan yang mensejajari langkahku. "Kebiasaan jual fitnah murahan ya...?" ucap sebuah suara dari belakang sambil memukul Rivan. Aku dan Rivan pun memalingkan wajah ke sumber suara. "Bu Ratna...." ucap aku dan Rivan hampir bersamaan. "Jika ibu mendengar fitnah seperti ini, ibu tidak segan-segan melaporkanmu ke kepala sekolah" ucap Bu Ratna. "Ujian selesai, kalian temui ibu" ucapnya lagi sesaat sebelum berlalu. Rivan pun terlihat kecut dan menganggukkan kepalanya.


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Ku mulai dengan menyebut nama Tuhan saat memulai mengerjakan soal ujian hari ini. Ku baca dengan teliti setiap soal yang tertera. Kurang lebih tiga puluh menit aku menyelesaikan empat puluh soal yang ada. Pun demikian, sekitar sepuluh menit aku mengecek ulang setiap jawaban yang sudah ku selesaikan. "Alhamdulillah..." ucapku lirih sambil merapikan perlengkapan ku. Kemudian aku pun segera menyerahkan lembar jawaban dan soal kepada pengawas di depan. Ada banyak pasang mata yang melihat saat aku meninggalkan ruang ujian.

__ADS_1


Langkahku terhenti saat seseorang memanggilku. Dari ciri khas suaranya aku yakin itu adalah , Sherlly. Dan benar saja, saat aku mendapati sosoknya yang tengah duduk di kursi taman. "Hei...bagaimana ujiannya" kataku sambil duduk di sebelahnya. "Alhamdulillah... lancar. Terima kasih ya, sudah membantuku belajar" katanya sambil memelukku. "Lebay..." kataku sambil mengacak rambutnya. "Ferry, mana?" kataku. "Sibuk dengan pacar baru nya" kata Sherlly sambil mencomot penganan yang kubawa tadi. Aku pun meng-o panjang mendengar perkataan Sherlly tersebut. "Sepulang ini mau langsung ke toko?" katanya sambil menatapku dengan mata bulatnya. Aku pun mengangguk mengiyakan. "Mau kemana lagi. Itulah satu-satunya tempat ku mencari sebongkah berlian" kataku sambil tertawa. "Aku ikut ya...? Aku mau bantu-bantu. Dibayarnya pake cup cake aja. Bagaimana...?" kata Sherlly sambil menatapku. Em...ini bocah pasti ada maunya. Aku membulatkan mata dan menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Begitu berulang-ulang. Hal tersebut tentu saja membuatnya rikuh. "Karyawan ku ada yang kau taksir, ya...?" kataku sambil mencolek dagunya. "Ah, tidaaak..." katanya gugup sambil sedikit mengerucutkan bibirnya dan mengibaskan sebelah tangannya. Aku tersenyum melihat tingkahnya tersebut. Dan aku hafal betul bagaimana tabiat sahabat rasa saudara ku yang satu ini.


"Fa, dipanggil Bu Ratna" kata Rivan sambil melangkah cepat. Aku pun akhirnya mengekori langkah cepat Rivan. Sesampainya di ruangan Bu Ratna kami pun duduk agak berdekatan. "Darimana asalnya rumor tentang Fara?" kata Bu Ratna menatap Rivan yang hanya diam tertunduk. "Katakan, ibu ingin tahu" kata Bu Ratna lagi. "Dari obrolan di group, Bu? kata Rivan. Akhirnya Rivan pun menceritakan asal mula rumor tersebut. Aku termangu. Betapa orang-orang begitu penasaran prihal kehidupan pribadiku. Sebuah foto pun diperlihatkan. Di dalamnya terdapat sosok ayah dan aku. Aku tersenyum saja melihatnya. "Jika tidak tahu betul kehidupanku, maka jangan menghakimiku. Kau tahu? itu ayah ku. Ayah yang selama ini meninggalkanku. dan karena kondisi tertentu kami dipertemukan kembali" kataku tegas. "Jika kau tidak percaya kau boleh menyertaiku pulang hari ini. Kebetulan aku akan pergi ke toko tempat dimana ayahku berada. Bagaimana?" kataku lagi. "Baiklah aku akan ikut denganmu. Kalau perkataanmu benar, maka aku akan menjadi orang pertama di sekolah ini yang membela mu mati-matian" katanya berapi-api. Aku dan Bu Ratna tersenyum mendengar perkataan Rivan.

__ADS_1


Pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Seorang pegawai toko menjemput ku. Aku, Sherlly dan Rivan pun segera menghambur ke dalam mobil karena hawa panas yang teramat sangat. Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan kami pun sudah sampai pada tujuan, yaitu toko kue KUN dimana aku dan ayah menggantungkan hidupku dari pendapatannya. "Assalamu'alaikum... ayah" kataku sedikit manja sambil mencium punggung tangannya. "Wa'alaikumussalam..." kata ayah sambil mengusap kepalaku dengan sebelah tangannya. "Apa kabar, Sherlly..?" kata ayah saat menyambut tangan Sherlly. "Baik, Om... Wah, lagi ramai nieh toko. Sherlly bantu ya, Om" kata Sherlly sambil memakai apron. "Rivan, Om..." kata Rivan memperkenalkan diri dan ikut serta mencium punggung tangan ayah. Aku tersenyum melihat Rivan berlaku demikian. "Jadi siap membela nieh?" kataku sambil menyikut perutnya. Ia pun mengaduh dan salah tingkah.


Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Aku, Sherlly dan Rivan melangkah menuju masjid yang tidak terlalu jauh. Karena itu kami berjalan saja. "Aku salut padamu Fara. Luar biasa..." puji Rivan yang aku balas dengan senyuman. Sedang berjalan kami pada trotoar menuju masjid tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di sebelah kami. Dan sebuah tangan berhasil merengkuh dan menarik tubuhku hingga terduduk di dalam mobil. Fikiranku sudah membayangkan hal buruk akan menimpaku lagi. "Tidak...! Jangan lagi. Aku mohon ya Allah..." begitu batinku. Berusaha keras aku meronta dan berusaha membuka pintu mobil, namun gagal. Usahaku sia sia saja. Ku lihat di kejauhan Sherlly dan Rivan panik melihat aku yang dibawa paksa seperti itu. Men-cicit mesin mobil karena dipaksa berhenti oleh sebuah mobil yang tiba- tiba menghadang di tengah jalan. "Tolong..." teriak ku histeris.

__ADS_1


"Ya Allah...apakah harus ku alami kembali seperti beberapa bulan lalu. Rencana apa yang sedang Kau siapkan untuk ku ya Tuhan..." kataku dalam hati.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2