
Ku mulai pagi ini dengan melajukan Scooter ku. Berteman semburat merah mentari pagi dengan awan putih tipis yang berarak dan hembusan angin yang selalu berhasil menerbangkan ujung rambut hitam panjang ku. Sambil berdendang kecil aku mengantarkan beberapa box kue untuk toko - toko langganan. "Pagi koh... Dua ratus sesuai pesanan" ucapku. "Pagi, Fara... Lo datang on time ya. Saya suka. Nah, ini uang kue kemarin. Lo kasih sama Lo punya nenek. Jangan lupa. Eh, Hari Sabtu ada pesanan kue kotak, Lo orang sanggup ga? 150 kotak. Masing masing tiga kue. Lo pilih kue - kue yang bagus ya. Jam tujuh orangnya ngambil kesini. Gimana, Lo orang sanggup ga?" ucap Koh Ahong. "in sya Allah...sanggup, Koh. Nanti Fara sampaikan nenek" ucapku sambil tersenyum sumringah dan berlalu menuju toko kue selanjutnya. " Antaran kue, Cih Amel..." ucapku sambil menyodorkan box kue. "Fara besok Lo ada pesanan 200 kue pie. Lo orang sanggup ga? Besok jam tujuh diambil yang pesen. Sanggup ga? ucap Cih Amel. "Sanggup, Cih....Nanti Fara sampaikan ke nenek" ucapku sambil berlalu. Ada rasa yang luar biasa menyeruak dalam dada. "Alhamdulillah...usaha nenek makin lancar" gumamku sambil tersenyum. Ku lajukan kembali scooter dengan perasaan bahagia. Terbayang sudah wajah sumringah nenek mendapat kabar yang menggembirakan ini.
Karena rasa bahagiaku itu, maka aku menjadi kurang waspada. Saat itu aku langsung menge-rem scooter hingga men-cicit. Tentu saja bukan karena tiada sebab. Hal ini terjadi ketika sebuah mobil tiba - tiba saja potong kompas lajur jalan ku. "Ya, Allah....!" teriakku terkejut. Seketika itu, scooter ku jadi oleng dan ....
Bruk....!
__ADS_1
Aku tersungkur. Beberapa saat aku terdiam. Hanya mataku saja yang menatap sembarang dengan nafas memburu karena rasa terkebutku. Ketika kesadaran ku maksimal barulah aku merasakan nyeri pada kedua kakiku. Aku meringis menahan sakit di tepian jalan. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku. Tak sanggup rasanya melihat box kue dengan isi yang berantakan hingga ke tengah jalan. Dan terlindas kendaraan yang melintas. Aku terisak hebat. Beberapa pengendara tampak menghentikan laju kendaraannya. "Kamu tidak apa - apa?" ucap seorang laki - laki setengah baya. "Maaf sopir saya tidak melihat mbak tadi. Ia kurang cermat jadi ia langsung memotong jalan begitu saja. Kita ke rumah sakit,mbak" ucapnya lagi. "Saya tidak apa - apa, om. Cuma lecet saja dan ..." ucapku menggantung. Mata ku tertuju pada kue - kue yang berserakan. "Saya ganti semua kerugiannya" ucapnya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya kepadaku. "Kebanyakan, om..." ucapku sambil mengambil dua lembar uang seratus ribuan. "Tidak apa - apa. Kamu ambil saja" ucapnya lagi. Tapi aku bersikeras menolaknya. "Kalau tidak begini saja, kamu simpankan nomor kontak mu di ponsel saya. Jadi sewaktu-waktu saya bisa menanyakan keadaanmu" ucapnya sambil menyodorkan ponselnya. Sedikit ragu aku menerima ponsel tersebut. Dan laki - laki setengah baya itu pun kembali berusaha meyakinkan ku. "Tidak apa-apa. Jangan takut" katanya lagi. Akhirnya aku pun mengetik dua belas angka nomor ponsel ku. "Fara tukang kue..." ucapku sambil tersenyum dan menyodorkan kembali ponsel kepada lelaki tersebut. "Terima kasih. Ini kartu nama saya. Jika ada sesuatu tolong hubungi saya" katanya sambil menatapku.
Deg.
Ditatap demikian aku jadi kikuk. Entah mengapa demikian. Seperti ada perasaan aneh yang menelusup di relung hatiku. Tak perlu menunggu lama, aku pun mengangguk sambil tersenyum. Segera ku melangkah menuju scooter ku berada. Sedikit tertatih aku melangkah karena luka pada lututku. "Terima kasih...." ucapku pada seorang ibu yang telah memapah ku.
__ADS_1
Sesampainya di klinik aku langsung di periksa dokter Tiara. Dokter cantik yang baik hati. Satu jam pelajaran pertama telah ku lewati. "Dok, aku harus ke kelas. Ada ulangan" ucapku memelas. "Baiklah...." ucapnya sambil tersenyum.
Segera aku melangkah menuju kelas. Berdiri aku di ambang pintu sambil menerima tatapan teman - temanku. "Astaga Fara..." ucap Bu Andini guru matematika ku sambil mendekatiku. "Kamu baik - baik saja, Fara?" ucap Bu Andini sambil mengamatiku. Aku pun mengangguk yakin. Berlari Ferry dan Sherlly menyongsong ku. Keduanya membantu langkah ku hingga kursi. "Kok bisa...?" bisik Ferry. "Bisa. Namanya juga musibah" ucapku sambil menyiapkan kertas folio dan peralatan lainnya.
Sejurus kemudian, sepuluh soal matematika pun ku kerjakan kurang dari dua puluh menit. Setelah ku periksa ulang aku pun bermaksud mengumpulkan lembar jawabanku, namun Ferry mencegahku. Dengan cepat Ia Ferry menyambar lembar jawabanku dan langsung menyerahkannya kepada Bu Andini yang tampak tersenyum sambil menatapku. Ku rebahkan kepalaku di atas meja sambil memijatnya yang terasa sedikit pusing. Entah berapa lama aku demikian. Yang pasti aku terbangun saat Ferry menggugah ku. "Fara..." ucapnya sambil mengguncang lenganku. "Astaga...aku tertidur. Bu Andini?" ucapku. "Sudah habis. Satu jam pelajaran kau tertidur. Dan Bu Andini membiarkanmu" ucap Ferry sambil tersenyum dan memandangku. Aku menghela nafas sambil meregangkan tubuh. "Lelap sekali kau tidur. Lelah ya...?" kata Ferry sambil menolak tubuhku dengan sisi lengannya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum...Nek. Nek, Cih Amel pesen dua ratus kue pie tuk besok. Terus lusa koh Ahong pesen kue seratus lima puluh kotak" ucapku menyampaikan pesanan yang tentu saja disambut ucap syukur nenek di ujung telepon. "Banyak pesanan? Aku bantu ya?" ucap Ferry sambil mencubit hidungku. "Aku juga mau bantu. Hari sabtu ya? Berarti jum'at malam kami menginap di rumahmu. Yes..." ucap Sherlly sambil mengangkat tangan ke udara. Ini bocah-bocah, yang dapat orderan siapa yang senang siapa. Aku terkekeh melihat polah Sherlly.
Perbincangan pun berlanjut. Kali ini kedua sahabatku ini menanyakan prihal yang menimpaku. Keduanya ingin cerita selengkap-lengkapnya. Dan aku pun menceritakannya sekenanya saja tanpa didramatisir ataupun dilebih-lebihkan. Cerita yang sebenarnya dan cukup sederhana aku menceritakannya. "Beruntung sekali..." ucap Sherlly sambil memeluk ku. "Aku mau peyuk juga donk.." kata Ferry sambil mengembangkan kedua lengannya. "Nih...." ucap aku dan Sherlly hampir bersamaan sambil mengepalkan tinju ke arah Ferry. "Oke...Oke. Hanya bercanda" kata Ferry sambil mengangkat tangan dan duduk kembali pada kursinya. Kami pun tertawa atas polah Ferry tersebut.