
Pukul sepuluh lewat lima menit. Perlahan aku menaiki anak tangga. Aku mengekori langkah kak Mirza menuju atap seperti yang dimaksud. Pintu pun terbuka. Hawa dingin merangsek masuk, menyapa ku yang berdiri di ambang pintu.
"Sebagian basah..." ucap kak Mirza. Matanya mengitari sekitar yang tampak basah karena hujan baru saja usai mengguyur bumi. Bahkan rintiknya pun satu satu terkadang masih menyapa. Kemudian aku duduk pada sebuah ayunan yang beratap warna hijau tua. Berayun sejenak walau tak kencang. Sementara mataku menatap langit yang tak bercahaya. Begitu gelap. Tiada Kerling bintang ataupun lembutnya cahaya rembulan yang menenangkan. Aku menghela nafas saat seulas wajah berkelebat dalam ingatanku. "Kak Keanu..." ucapku lirih sekali. Sosoknya selalu datang menyapaku terutama saat sedih atau saat diamku menatap langit seperti saat ini. Karena hal ini merupakan kebiasaan kami berdua.
"Sungguh aku iri dengan Keanu..." ucap kak Mirza sambil duduk di sebelahku walau sedikit ragu. "Aku iri karena Keanu sangat kau cintai. Apakah Keanu cinta pertama mu?" ucap kak Mirza yang membuat tatapanku langsung beralih padanya.
Ah, kak Mirza. Apakah yang kau inginkan dari ucapan mu itu? Jangan katakan kau tengah memancing dalam air keruh atau paling tidak kau tengah mencari jawaban atas pertanyaan dalam hati mu yang sesungguhnya? Dan jawaban apa yang sebenarnya kau inginkan?
Ku lihat tangan kak Mirza mengepal. Jangan katakan kau cemburu atas cintaku pada kak Keanu. Karena aku akan sulit menerima rasa cemburu mu itu. Luka ini sesungguhnya belumlah sembuh benar. Walau sikap ku telah lunak pada mu, itu karena semua kebaikan yang telah kau berikan. "Apakah Keanu cinta pertama mu, Fara...?" tanyanya lagi. Kali ini matanya menerawang jauh.
"Kenapa...?" tanyaku yang ditanggapinya dengan senyuman dan gelengan kepala. "Hanya ingin tahu saja..." ucapnya kemudian. "Kenapa kakak masih baik saja dengan ku? Bukankah jelas-jelas aku sudah meminta hal yang tidak baik kepada kakak?" ucapku. "Maksudmu bercerai...?" ucapnya menatapku. "Ya..." jawab ku singkat sambil berayun. "Itu sebuah pilihan. Itu saja. Dan aku tidak menyalahkan mu. Mestinya aku yang bercermin..." ucapnya tenang seakan tanpa beban.
Terima kasih ya, Kak sudah membantu di waktu susah ku" ucap ku sendu.
"Hei...sudah kukatakan demi diri mu apa pun akan aku lakukan. Ada atau tidak ada hubungan pun aku akan selalu melakukan apa pun untuk mu" ucapnya sambil menatapku. "Kau memang orang baik, Kak" ucapku. "Itu memang bawaan ku sejak lahir" ucapnya sambil terkekeh. "Semoga kau bahagia selalu..." ucapku sambil turun dari ayunan dan meregangkan tubuh. Dan kak Mirza, ia tampak tersenyum dan menatapku.
__ADS_1
Kemudian aku terkesiap saat hujan mendadak kembali menyapa. Berlari kami ke sebuah gazebo menyelamatkan tubuh agar tak terbasuh hujan. Ku sapu wajah dengan tangan, mencoba menghilangkan titik hujan yang tersisa. Namun, mata ku kembali menatap kak Mirza yang ternyata juga tengah menatapku. Berisyarat kepalanya mengarah pada ruang yang tengah dibasahi hujan. Aku tersenyum. Dan mengangguk pasti karena aku tahu maksud isyarat tersebut.
Ini adalah sebuah kegilaan dari kebiasaan kami. Aku dan kak Mirza. Berlari kami ke tengah guyuran hujan. Membiarkan tubuh dibasuh hujan yang terus menghunjam. Berputar sejenak dan kemudian berjingkrak kaki memecah genangan air yang ada. Tawa kami pun pecah dalam suasana yang tercipta. Tiada sadar kedua jemari tangan kami terpaut dalam tarian bersama hujan. Tarian yang selalu kami tarikan saat hujan datang.
"Mirza..!" teriak mama Mellisa dari ambang pintu. Dan hal tersebut berhasil membuat kami tersadar dan langsung menuju gazebo. "Apa yang kalian lakukan...?" ucap mama saat sudah berada di dekat kami. Saat itu hujan mulai reda.
"Jam berapa ini?!" ucap mama sambil mengeringkan kepala dan tubuh kami bergantian dengan handuk. Bak anak kecil kami menurut saja diperlakukan demikian. Bahkan tawa kami pun kembali pecah. Kami menertawai kegilaan yang baru saja terjadi. Sementar mama terus menatap kami bergantian dan tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Aku sudah mengganti pakaian ku. Secangkir wedang jahe pun sedang ku nikmati. Duduk bersebrangan kak Mirza tak jauh dari ku. Sesekali tubuhnya gigil tak sanggup menahan dingin yang menyergap. Sementara matanya sesekali menatapku yang kadang ku balas dengan senyuman seadanya.
"Sebelum bercerai, setelah bercerai hingga kau pergi menjauh, aku masih Mirza yang sama..." ucapnya sendu tanpa menatapku. "Kak..." ucapku lirih.
"Biarkan aku bicara, Fara. Kata ini telah tersimpan lama. Dan rasanya cukup menyesakkan dada ini. Bukan sehari atau dua hari tapi lebih dari cukup terutama sejak kita bercerai. Hidup ku penuh penyesalan, Fara. Aku yang bersalah, karena aku tak memiliki keyakinan dan ketegasan. Saat itu aku dibutakan dengan wujud kemanusiaan. Tapi itu tetaplah sebuah kesalahan yang tak termaafkan bahkan oleh diriku. Terlebih saat aku mengiyakan untuk meluluskan permintaan ceraimu" ucap kak Mirza panjang.
"Sudahlah, Kak. Itu sudah berlalu..." ucapku. "Walau sudah berlalu tapi bagiku terasa baru lah kemarin terjadi. Dan penyesalanku tak kunjung usai. Mungkin akan ku bawa mati" ucap kak Mirza. "Cukup kak. Jangan bawa-bawa kematian. Aku baru saja kehilangan kak Keanu. Dan aku tak ingin kehilangan mu lagi" ucapku begitu saja. Terkejut kak Mirza mendengar ucapanku.
__ADS_1
Hei...apa yang baru ku katakan, hingga kak Mirza begitu terkejut? "Sungguh kau tak ingin kehilangan ku lagi" ucap kak Mirza sambil membetulkan posisi duduknya.
Deg.
Kehilangan? Apakah ucapanku tadi mengenai itu. Aduh...aku hilang kendali atas lidahku sendiri. Tapi sungguh aku tidak menyadari ucapanku kali ini. Ada apa dengan diriku? Melihat kegamanganku, kak Mirza tersenyum. Tangannya mengacak pucuk kepalaku. "Lucu...Kau yang berbicara tapi kau gamang atas ucapan mu sendiri" ucap kak Mirza sambil berlalu. Ia meninggalkanku yang masih termangu. Aku benar-benar gamang.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel ku berpendar. Ada sebuah panggilan masuk yang tak terjawab dan sebuah pesan. "Aku akan membawa Rafan. Temui aku sendirian saja. Jika tidak, kau akan menyesal." begitu pesan yang tertera pada layar ponsel ku. Namun aku yakin jika pesan itu dari Keenan. Ada hawa panas yang merebak pada kedua mataku saat aku membacanya. Hawa panas yang berusaha ku tahan. Terlebih saat aku melihat bayang di balik dinding di ujung anak tangga. Aku yakin itu kak Mirza. Ia belum beranjak berlalu meninggalkanku sepenuhnya. Dan ia masih memperhatikan ku. Mungkin ia masih mengkhawatirkan ku.
Kau masih seperti dahulu, Kak. Kau masih selalu mengkhawatirkan ku. Kini aku harus bagaimana? Apakah aku harus memberitahu deritaku saat ini? Kegamanganku saat ini? Aku terus membatin. Tanganku menimang-nimang ponsel di tanganku.
__ADS_1
"Berikan padaku..." ucap kak Mirza sambil meraih ponsel di tanganku. Matanya segera saja bergerak mengikuti baris demi baris kata yang tertera pada ponsel. "Hal sepenting ini akan kau sembunyikan dariku?" ucapnya sambil menatapku. "Kak...Aku. Aku..." ucapku gagu.