
"Kau tidak pantas merawat bayi ini..." ucap seorang laki-laki. Suaranya begitu berat. Entah siapa. Aku tak mampu mengenalinya. "Siapa kau...?" ucap ku lagi sambil mendekap erat anak laki-laki ku itu dalam buaian ku.
"Berikan bayi itu...!" ucap laki-laki itu sedikit teriak. Aku semakin kecut. Terlebih saat ia mulai memaksa. Tangannya mulai berusaha meraih anak laki-laki ku. "Jangan...! Ini anak ku...! Tolong...!" teriakku sambil mempertahankan anak laki-laki yang baru saja ku lahirkan.
"Hanya orang bodoh yang menculik bayi pada jam dimana orang-orang masih melek mata" ucap seorang laki-laki dengan tenang. Aku yakin itu adalah Aiman. "Tolong...Kak!" teriak ku. Setelah tujuannya terbongkar, akhirnya upaya laki-laki tak dikenal itu terhenti. Langkahnya perlahan menjauh dan akhirnya menghilang begitu saja.
"Fara baik-baik saja?" tanya Aiman. Dari nada suaranya terdengar begitu khawatir. Aku terdiam. Gamang atas peristiwa yang baru saja aku alami. "Fara..." ucap Aiman sekali lagi. Kali ini tangannya mengguncang tubuhku. Namun aku tetap membisu dan tak bergeming sedikitpun. Dan kesadaran ku kembali ketika tangis anak laki-laki ku terdengar.
"Cup...cup, sayang..." ucapku sambil menimang tubuh kecilnya. "Rumah sakit ini tidak aman, Kak..." ucapku sambil mendekap tubuh mungil anak laki-laki ku yang kini sudah mulai tenang. "Aku tahu, Fara. Karenya aku akan memindahkan mu ke rumah sakit yang lebih aman untuk beberapa hari ini selama masa pemulihan mu" ucap Aiman.
"Apakah ada tempat seaman seperti yang kita harapkan? Aku rasa semua tempat menjadi tidak aman bagi ku dan anak ku, Kak..." ucapku sambil mendekap erat anak laki-laki ku.
"Ada..." ucap Aiman tiba-tiba saja. Suaranya jelas ku dengar. Ku rasa ia kini duduk di tepi tempat tidur dimana aku berada. "Dimana...?" ucapku singkat. Ada keraguan yang menyelimuti sejak banyak peristiwa menderaku. "Rumah sakit DnM..." ucap Aiman.
Deg.
__ADS_1
Aku tertegun. "Tidak, Kak..." ucapku kemudian dengan cepat. Aiman pun terdiam saat mendapati respon ku. Ku dengar ia menghela nafas panjang. Maafkan aku, Kak. Aku tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga Williams. Keluarga mantan suami ku itu. Begitu lamunan liarku.
Drrt...Drrt..Drrt...
Ku dengar ponsel Aiman berdering. Ia pun segera membuka pembicaraan. Ada banya kata umpatan yang meluncur dari bibirnya. "Bodoh...cepat cari!" ucapnya lagi. Entah apa penyebab ia berucap demikian.
"Aku akan meminta penjagaan extra untukmu
Jadi Fara tidak perlu khawatir lagi" ucap Aiman. "Bagaimana jagoan, sudah tenang kah sekarang. Anak istimewa, penjaganya saja banyak..." ucap Aiman terkekeh. Aku rasa Aiman mengusap wajah anak laki-laki ku ini dan mengecupinya. Aku tahu itu.
"Apa tidak sebaiknya Fara pulang ke rumah saja" ucap ku lirih. "Dua hari lagi Fara pulang, begitu menurut dokter. Itu bertepatan dengan kepulangan ku nanti" ucap Aiman. Dan lagi-lagi tangannya menyasar pada pucuk kepalaku. Ia mengacaknya dengan cepat dan ada tawa kecil yang ku dengar.
"Tuan..." ucap Bu An. Aku yakin itu dia. Aiman menghela nafas berat. "Nah, Fara...Bu An sudah datang. Aku pamit. Dua hari lagi kita bertemu ya" ucap Aiman. Aku pun mengangguk sambil mengurai senyum. Satu dua langkah Aiman pun sudah ku dengar. "Kak..." panggilku yang berhasil menghentikan langkah Aiman. "Terima kasih untuk semuanya..." ucapku kemudian. Setelah mendengar itu Aiman pun melanjutkan langkahnya. Entah ekspresi apa yang ia tampilkan saat mendengar ucapanku. Mungkin Aiman lupa akan keadaanku saat ini.
Gelap mulai menjemput malam. Mataku pun mulai diserang rasa kantuk. Pun demikian aku tak dapat terpejam dan terlena. Fikiranku terus menyasar pada peristiwa siang tadi. Dan aku menjadi khawatir akan keselamatan anak laki-laki ku.
__ADS_1
Mendadak telingaku menangkap derit pintu dibuka. Aku tersentak. "Siapa...?" tanyaku mulai khawatir.
"Tuan...." ucap Bu An yang terbangun. "Ghifari..." ucap laki-laki itu. Mendengar nama itu aku tertegun. Fikiranku kemudian menyasar pada sosok laki-laki yang digambarkan Aiman. "Ah, ya...kak Ghifari" ucapku ketika teringat.
"Maaf, malam-malam aku datang. Kebetulan aku sedang berada di rumah sakit ini. Aku menjalani perawatan. Kemarin aku jatuh di tangga" cerita Ghifari. "Mengapa bisa sesembrono itu, Kak? Apakah tidak ada yang bersama mu?" tanyaku. "Entahlah mengapa bisa demikian. Em, kemarin beruntung bertemu Aiman. Dia yang menolong ku. Dan aku tahu kabarmu juga dari Aiman. Karena itu aku menemuimu. Tapi maaf harus malam-malam begini" ucap Ghifari. "Hei...jagoan, tidur yang nyenyak ya nak. Jangan seperti ibu mu. Matanya terpejam, tapi fikirannya mengembara" ucap Ghifari seakan tahu kondisiku. Aku tertawa mendengar ucapannya itu.
"Kenapa Bu An?" tanyaku saat ku dengar isak tertahan. Aku yakin itu isak Bu An. "Tidak apa-apa, Non. Bu An bahagia melihat non tertawa" ucapnya dengan suara bergetar karena menahan tangis. "Bu An...." ucapku penuh perasaan. Ah, ada-ada saja. Menangis kok bahagia. Sungguh aku sudah tidak percaya lagi dengan ungkapan seperti itu. Bagiku tangis ya tangis, tawa ya tawa. Tak mungkin bercampur di situasiku saat ini.
"Siapa.." ucap Ghifari saat mendengar langkah di luar kamar dan berhenti tepat di depan ruang perawatan ku. Aku segera meraih dan mendekap anak laki-laki ku yang masih terlelap. Ghifari pun segera keluar ruangan. Derit kursi rodanya semakin samar ku dengar.
"Siapa kau...!" ucap Bu An saat terdengar langkah memasuki ruanganku. "Jangan ganggu nona ku...!" ucap Bu An sambil memberi perlawanan. Ku dengar suara benturan. "Bu An...!" ucapku. Namun tiada suara Bu An yang ku dengar.
"Jangan mendekat...! Tolong, siapa saja" ucapku. Mungkin karena waktu yang sudah malam, maka teriakan ku tiada mendapat respon. Sebuah tangan merengkuh anak laki-laki ku dari buaian ku dengan paksa. Susah payah aku mempertahankannya. Namun gagal. Dia berhasil merebut anak laki-laki ku. Aku histeris. Kondisiku yang masih lemah pasca melahirkan membuatku sulit bergerak. Di tambah lagi dengan kebutaan ini. Lengkaplah derita ku saat ini.
Aku meraih tongaktku dan mengayunkan tongkatku kesana-kemari menuju pintu. Langkahku begitu lemah sehingga tak mampu mengejar penculik itu. Aku histeris hingga lorong rumah sakit. "Tolong...anak ku di culik. Tolong...!" ucapku berulangkali dengan histeris. Tangisku sudah tak terbendung lagi. Bahkan tangisku makin menjadi. "Nyonya..." ucap beberapa orang ketika mendapatiku dengan kondisiku. Kemudian aku tidak tahu apa-apa lagi. Karena kesadaran ku telah direnggut oleh kesedihan yang begitu mendalam.
__ADS_1