
Ku buka pintu kamar dokter Faaz dengan keras. Daun pintunya menabrak dinding hingga menimbulkan suara gaduh. Dokter Faaz yang tengah beristirahat terkesiap atas perilaku ku itu. Ia mengusap wajah dan segera membetulkan posisi duduknya.
"Fara...?!" ucapnya saat melihatku yang berdiri di ambang pintu. Tangannya membetulkan letak kacamatanya. "Ada apa? tanyanya sambil menatapku. Dan ada tanya besar di ujung tatapannya itu.
"Mengapa kak Faaz tidak memberitahuku jika mata ini milik suami ku sendiri, kak Keanu?" ucapku dengan suara bergetar. "Fara...aku punya alasan mengapa aku tidak memberitahumu..." ucap dokter Faaz. "Karena kak Keanu yang memintanya?" ucapku dengan suara meninggi. Dokter Faaz menghela nafas berat. Sementara tangannya berulangkali mengusap kasar wajahnya.
"Maafkan aku Fara..." ucap dokter Faaz penuh perasaan. "Sebulan yang lalu, Keanu mengalami anfal sesaat setelah ia terjatuh dari tangga. Saat itu ia tengah berusaha menyelamatkan anak kalian" ucap dokter Faaz.
Deg.
Aku tertegun. Perkataan dokter Faaz berhasil melambungkan fikiranku. "Sebulan yang lalu? Menyelamatkan anak kami? Aku tidak mengerti, Kak...Bukankah kak Keanu sudah tiada sejak kecelakaan itu terjadi? Tapi mengapa kakak mengatakan sebulan yang lalu?" ucapku penuh tanya. Aku kacau. Benar-benar gamang.
"Maafkan aku Fara..." ucap dokter Faaz. Suaranya mulai bergetar. "Katakan kak yang sebenarnya. Jangan membuatku semakin kacau" ucapku lirih saja karena energi ku serasa telah menghilang bak air yang menguap begitu saja.
"Sesaat setelah peristiwa kecelakaan itu. Kami membawa kalian pada tempat yang berbeda. Karena kalian memiliki luka yang berbeda. Dan Keanu lah yang paling parah dibanding kau dan Satria saat itu. Selain ia harus kehilangan kedua kakinya, ia pun mengalami sobekan pada perutnya. Sobekan itu hingga merusak sebelah ginjalnya dan goresan sistem pernafasan ya. Sebuah keajaiban jika ia bisa selamat saat itu.
__ADS_1
Dokter Faaz Flashback On
"Faaz..." ucap Keanu terbata sesaat setelah ia sadar dari koma selama dua minggu. Ini benar-benar sebuah keajaiban. Mukjizat dari Tuhan. Dengan segala luka yang ia derita, dokter memprediksikan bahwa mustahil rasanya ia akan selamat. "Fara..." ucap Keanu masih dengan terbata dan sangat lirih. "Fara selamat. Dia ada di ruang perawatan" ucapku sambil berusaha mengurai senyum.
"Bagaimana rupaku kini? Berapa persen kerusakan ku" ucapnya berusaha tertawa. "Bro..kau masih tampan" ucapku terkekeh walau menyimpan pilu atas peristiwa yang dialami sahabatku itu. Ia pun turut tertawa sambil menahan sakitnya. "Lalu kerusakannya?" tanyanya lagi. "Sembilan puluh persen..." ucapku.
"Kaki ku?" tanyanya lagi. "Sepertinya harus diistirahatkan, Bro..." ucapku. Keanu kembali terkekeh ditengah rasa sakitnya. "Dan Fara, Bagaimana kondisinya. Katakan saja Faaz..." ucap Keanu lirih.
Aku menghela nafas berat. Apakah aku harus berbohong atas kondisi Fara? Ataukah aku harus jujur? Dan apakah aku harus mengatakan bahwa atas permintaan mamanya, kau dinyatakan telah tiada dihadapan Fara? Aku gamang. Batin ku berperang hebat. "Katakan Faaz...Jangan berdusta" ucap Keanu yang terpaksa membuatku menelan salivaku.
"Baginya kau sudah tiada, Nak. Mama yang mengatakannya. Maafkan mama...?" ucap mama Wina yang saat itu baru saja sampai. "Ma...Apa yang mama lakukan?" ucap Keanu. "Ini demi kebaikan kalian. Bukankah kau tidak ingin menjadi bebannya?" ucap mama Wina yang membuat Keanu terdiam. Hanya air matanya saja yang terus mengalir.
"Aku mencintaimu, Fara. Maafkan aku. Mungkin ini memang yang terbaik" ucap Keanu kemudian. Aku menangis dalam hati melihat derita sahabatku, Keanu. "Faaz, tolong jaga Fara. Biarkan ia tahu tentang aku seperti yang ia yakini saat ini. Dan berikan ia pengobatan yang terbaik. Segala biaya kau tidak perlu mengkhawatirkannya" ucap Keanu. Aku terdiam. Tak sanggup berucap. Hanya kepalaku saja yang mengangguk lemah.
Dokter Faaz Flashback Off
__ADS_1
Aku tertegun. Air mataku makin terjun bebas. "Aku tak habis fikir, mengapa kak Keanu memiliki pemikiran demikian. Bukankah layaknya suami istri, maka suka duka akan dijalani bersama? Tapi mengapa kak Keanu justru memilih meninggalkanku Jauh" ucapku penuh perasaan. "Keanu tidak pernah meninggalkanmu, Fara. Dia selalu dekat dengan mu" ucap dokter Faaz yang turut duduk pada lantai di sebelahku.
"Saat di tanah pekuburan sesungguhnya ia mendampingi mu. Ia memaksa ku untuk menyertai mu. Saat malam anak mu diambil paksa, ia berusaha menyelamatkannya. Dan malam itu juga menjadi malam terakhirnya" ucap dokter Faaz. Aku tertegun. Fikiranku kembali mengembara dan menyasar pada peristiwa di pekuburan. Namun tak ku temui titik terang kehadirannya. "Ghifari..." ucap dokter Faaz.
Deg.
"Ghifari...?" ucapku lirih. Mendengar nama Ghifari disebut, mendadak aku gagu. "Ia mengambil nama tengah anak kalian, Rafan Ghifari Abdullah" ucap dokter Faaz. Aku menutup wajah dan menangis sejadinya. "Alangkah bodohnya aku sehingga aku tidak mengenalinya. Istri macam apakah aku ini..?!" ucapku pilu. "Situasinya sedikit berbeda, Fara sehingga kau tidak mengenalinya" ucap dokter Faaz. Ya Robby...sesungguhnya aku sudah merasakan kehadirannya. Bahkan aku sempat menyebut kak Keanu saat Ghifari berada di dekat ku. Mengapa aku tidak mempercayai insting ku sendiri. Aku membatin.
Aku semakin terisak saat teringat malam anak laki-laki ku diambil paksa. Saat itu kak Keanu datang menjenguk ku sebaagi Ghifari. Dan ia mengucapkan selamat atas kelahiran putra pertamanya sendiri. Ya, Robby...dengan kondisinya yang sudah tidak sempurna pun ia masih mengkhawatirkan aku dan anaknya. Daya tarik anak laki-laki yang baru aku lahirkan ternyata tak mampu tak diindahkannya. Rupanya ia begitu penasaran dengan rupa dan polah bayi kecilnya sehingga ia datang menjenguk kami. Aku yakin ia bahagia atas kelahiran putra pertamanya. Tak mampu kebayangkan bagaimana reaksi wajahnya saat melihat wajah anaknya saat itu. Tapi mengapa ia masih mempertahankan dustanya? Padahal ia berkesempatan untuk mengakui siapa dia sebenarnya.
"Dan ketika anak kalian dalam bahaya, maka ia berusaha untuk menyelamatkannya. Namun sayang keterbatasannya menjadi penghambatnya. Bahkan berakibat fatal untuk dirinya sendiri. Keanu terjatuh dari tangga. Dan hal itu justru memperparah lukanya. Belum lagi luka baru yang ia derita. Malam itu menjadi malam terakhirnya. Namun sebelum kepergiannya, ia sempat membuat pernyataan tentang harta benda dan kornea matanya. Pernyataannya pun dibuat di depan pengacaranya" ucap dokter Faaz sambil menyusut air matanya. Rupanya ia pun tak sanggup menceritakan kembali derita sahabatnya itu.
Aku menangis sejadinya. Kenyataan ini begitu memilukan. Entah apakah aku akan sanggup menjalani hidup ini sendiri tanpa mu, kak. Kau laki-laki satu-satunya yang mampu memberi warna dalam hidupku. Aku yakin kau tak kan bisa menjadi kenangan dalam hidupku. Karena kau adalah masa kini dan nanti bagi ku.
"Dari Keanu..." ucap dokter Faaz sambil menyodorkan amplop berwarna biru. "Surat...? Dari kak Keanu?" ucapku sambil menatap lekat amplop biru di tangan dokter Faaz. Bergetar tanganku meraihnya...
__ADS_1
To Be Continued...