Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 61. Sekolah KARDUS


__ADS_3

"Ma, Fara...pamit ya. Anak-anak ada di kantor polisi. Ada sedikit masalah" ucapku sambil mencium punggung tangannya. "Kak kita sambung esok hari obrolannya ya. Tunggu Fara okay..." ucapku sambil menatapnya sekilas.


Tanpa menunggu jawaban kak Keanu, aku langsung berlalu. Langkahku begitu cepat menuruni anak tangga dan kemudian melajukan mobil merahku menuju kantor polisi. Laju mobilku begitu cepat karena kekhawatiran ku terhadap anak-anak. "Semoga ini hanya kesalahfahaman saja" begitu gumamku. Kurang lebih setelah dua puluh menit berkendara, aku pun sampai di halaman sebuah gedung kantor polisi sektor. Ku parkir mobil dekat kendaraan lainnya. Tak lama kak Roy datang menemuiku. Ia kembali menjelaskan kejadian yang telah dialami anak-anak. Anak-anak menjadi histeris saat melihat ku. Satu persatu mereka menyalamiku bahkan ada diantaranya yang memelukku. Rata-rata usia mereka belumlah genap empat belas tahun, kecuali Danu dan Raka yang sudah tiga tahun lebih tua dari lainnya.


"Anak-anak, kakak minta sekali lagi kalian menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya. Kakak tahu mungkin ini kesekian kalinya kalian bercerita, tapi yakinlah ini bisa membuktikan kebenaran" ucapku dengan penuh perasaan. Dan Dani menjadi juru bicaranya. Dia bercerita bahwa saat ia, Ratih dan Pardi menjajakan bunga di depan toko dua orang mendatangi mereka. Kedua orang tersebut meminta uang kepada Dani hingga memukul Dani dan Pardi. Melihat itu Dani, Ratih, dan Pardi langsung membela diri dengan jurus bela diri seadanya yang baru dipelajari. Melihat ketiganya berjibaku Raka dan Danu langsung menghambur dari toko dan membantu ketiganya. Kejadian baku hantam tersebut mengakibatkan kedua orang preman itu terluka parah. "Pak saya rasa anak-anak ini berkata jujur. Mereka tidak akan melakukan apapun jika mereka tidak merasa terancam" ucapku berusaha meyakinkan. "Apa Nyonya punya bukti jika itu hanya bentuk pembelaan" ucap seorang polisi. "Danu, dimana tepatnya kejadian tersebut?" tanyaku sungguh-sungguh. "Sudut toko dekat pohon" ucap Danu yakin.


Kemudian aku pun mengeluarkan ponsel dan membuka fitur yang terkoneksi dengan CCTV toko. Ku minta akses untuk membuka pada laptop. Dan.... Walah terbukti sudah. Cerita anak-anak benar adanya. "Saya rasa bapak justru harus menyelamatkan anak-anak ini. Anak-anak yang tidak beruntung karena keadaan. Jika bapak dan team ingin tahu bagaimana mereka bangkit, silahkan bapak datang ke sekolah KARDUS kami. Bapak akan tahu bagaimana perjuangan mereka..." ucap ku yang membuat polisi itu tersenyum tipis. "Tanda tangani di sini..." ucapnya kemudian.


Pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Bersorak anak-anak dengan hasil akhir hari ini. Hampir menangis aku melihat kegembiraan yang terjadi di sepanjang perjalanan pulang ini. Riuh rendah suara kumpul bocah di mobilku. Danu yang berusia lebih tiga tahun dari mereka menatapku sendu. "Terima kasih, Kak..." ucapnya. "Sudah jadi tugas saya. Ini resiko seorang kakak" ucapku terkekeh. "Adik-adik dengarkan Kak Olivia. Mulai saat ini kita harus lebih berhati-hati. Terkadang keadaan akan mudah menyudutkan kita sekalipun kita berpijak pada kebenaran. Semua bergantung pada caranya. Cara kita menyelesaikan masalah dan cara kita menyikapi masalah" ucapku yang tetap fokus pada jalanan.


Pukul satu lewat dua menit. Mobil sudah parkir kembali di halaman toko diantara kendaraan lainnya. Berhamburan anak-anak toko menemui Danu dan Raka. "Syukurlah..." ucap mereka saat berjabat tangan ataupun memeluk keduanya. Hari ini aku berkantor di cafe. Langkah ku sedikit cepat menaiki anak tangga diiringi Danu. Aku pun langsung menuju office. Meletakkan tas yang sejak tadi kubawa sambil duduk pada kursi. Terpejam mataku sambil sesekali menghela nafas panjang. "Fiuh...semoga selanjutnya berjalan sebagaimana mestinya" ucapku lirih sambil membuka mata perlahan. "Kak Roy...Astaga" ucapku hampir terlonjak saat mendapati kak Roy sudah berdiri di hadapanku dan menatapku. Sejenak aku terdiam. Aku berusaha mendamaikan irama degup jantung yang sempat tak beraturan. Kak Roy pun tersenyum melihat reaksi ku tersebut. "Maaf sudah membuat mu terkejut" ucapnya sambil tersenyum dan mengangguk takzim. Aku pun bertanya tentang kehadirannya saat ini. "Tidak ada. Hanya ingin mengingatkan kak Olivia ada jam bersama anak-anak tiga puluh menit lagi" ucapnya. "Astaga...hampir aku lupa. Terima kasih, Kak sudsh diingatkan. Oya, bagaimana toko dan cafe? " tanyaku sambil merapikan beberapa kertas di atas meja. "Tapi sebelum ini kak Olivia sebaiknya bertemu dengan seseorang dahulu" ucap kak Roy yang membuatku menatapnya dan berisyarat penasaran. "Wait..." ucapnya sambil berlalu sejenak memanjangkan kepala melalui pintu. Sesaat kemudian datang dua orang dengan senyum penuh keramahan. Keduanya memperkenalkan diri sebagai jurnalis dari salah satu penerbit koran terbesar di kota. Haris dan Devina. Begitu nama yang tertera pada id card keduanya. Keduanya sempat menyaksikan interaksi ku dengan anak-anak jalanan di kantor polisi sektor tadi. Keduanya merasa tertarik setelah mendengar apa yang aku utarakan terutama tentang sekolah KARDUS. Dan di ujung pembicaraan keduanya mengutarakan keinginan untuk memuat berita berkenaan sekolah KARDUS. Aku terdiam menyimak setiap penuturan kedua jurnalis tersebut. "Sudah saatnya kak Olivia terang-terangan. Tidak perlu lagi bergerilya" begitu kak Roy berpendapat. Aku tersenyum mendengarnya. Kedua jurnalis itu pun mengutarakan keuntungan dari pemuatan berita yang membuatku tak tertarik sama sekali. Bagiku apa yang aku lakukan ini biasa saja tidak ada istimewanya. Karena semua orang bisa melakukannya. Dan sekolah KARDUS ini tidaklah berizin seperti sanggar belajar lainnya, karena sekolah KARDUS hanyalah gerakan spontan dari sebuah kepedulian terhadap nasib anak bangsa. Dan untuk berbuat baik tidak membutuhkan izin dari siapapun karena itu adalah hubungannya langsung dengan Tuhan. Kedua jurnalis tersebut tersenyum mendengar penuturan ku. "Semua pemikiran kak Olivia di luar batas dari pemikiran seusia kakak. Saya amat respek usia dua puluh satu tahun sudah menjadi pengusaha muda dan penggerak sekolah KARDUS bagi anak jalanan" ucap kak Haris sambil tersenyum. "Sangat inspiratif..." ucap kak Davina. Aku hanya tersenyum tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan. "Terima kasih. Tapi kakak berdua terlalu berlebihan memuji" ucapku kemudian.

__ADS_1


"Jadi kak Olivia berkenan ya?" ucap kak Davina lagi. "Ya. saya menyambut baik. Dan harapan saya yang diterbitkan nanti serupa dengan yang saya utarakan, tidak dilebih-lebihkan ataupun dikurang-kurangi. "Kapan bisa wawancara..." ucapk kak Haris. "Saya rasa sejak tadi sudah di mulai" ucapku tertawa. Keduanya pun turut tertawa. "Dan jika ingin melihat aktifitas sekolah KARDUS kebetulan sepuluh menit lagi saya aja Jan kegiatan di sana" ucapku sambil tersenyum. Dan kedua jurnalis tersebut tersenyum sumringah mendengar pernyataan ku tersebut.


Pukul dua lewat sepuluh menit. Berjalan beriringan aku dan kedua jurnalis menuruni anak tangga menuju sekolah KARDUS yang letaknya hanya bersebelahan dengan kedua tempat usahaku. "Kak Olivia..." ucap anak-anak yang riuh menyambutku. Satu-satu mereka menyalamiku dan lagi-lagi bahkan ada yang memelukku. "Apa kabar...!" ucapku semangat. "Baik..." ucap semua bak koor di sebuah paduan suara. "Hari ini kita kedatangan dua orang kakak. Namanya kak Haris dan kak Davina. Keduanya seorang jurnalis. Apa sih jurnalis. Nanti kita akan simak cerita dari kedua kakak tersebut. Nah, sebelum itu kita akan mulai kegiatan kita. Diawali dengan kalimat penyemangat kita. Apa semangat kita?!" ucapku. " Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah" ucap semua anak. "Apa kekuatan kita..?! ucapku lagi. "Usaha dan Doa. Giat bekerja, rajin berdoa dan selalu membantu" seru anak-anak dengan semangat. "Apa cita-cita kita?! ucapku lebih semangat lagi. "Selalu menjadi pribadi yang lebih baik..!" jawab anak-anak berapi-api.


"Adik-adik hari ini kita akan berbincang tentang cita-cita" ucapku sambil sesekali memainkan gitar yang ku pegang. Sebuah lagu tentang cita-cita pun mengantar kegiatan hari ini. Agar lebih menguasai, aku menampilkan baris demi baris lagu melalui proyektor. Wal hasil semua ikut menyanyi seiring petikan irama gitarku. Tak terkecuali kedua jurnalis tersebut. Aku tersenyum saat mendapati keduanya menyertai kami bernyanyi.


Usai bernyanyi aku terdiam. Menatapi wajah anak-anak dihadapan ku. Pun mereka turut terdiam, menanti kelanjutan. "Cita-cita. Apa sih cita-cita itu? Mengapa kita harus punya cita-cita? Untuk apa sih..? Sepenting apa sih? Bagaimana cita-cita itu dapat di capai?" tanyaku dengan senyuman yang tak henti menghiasi wajah. "Ya Dani..." ucapku saat melihat Dani mengangkat tangan. "Cita-cita itu keinginan yang harus diwujudkan. Mengapa? Karena cita-cita itu adalah tujuan hidup kita. Cita-cita itu sangat penting. Bagaimana mencapainya? Ya...berusaha dan rajin berdoa" ucap Dani dengan mata berbinar. "MasyaAllah..." ucapku sambil bertepuk tangan diikuti yang lainnya.


"Kak Olivia juga punya cita-cita. Apa cita-cita kak Olivia? Kak Olivia ingin jadi orang sukses. Bagaimana? pertama kak Olivia sekolah lalu punya dua usaha. Apakah itu sudah sukses? Belum. Karena suksesnya kak Olivia belum tercapai sepenuhnya. Kak Olivia dikatakan sukses jika kakak sudah dapat membantu banyak orang" ucapku sambil tersenyum. "Jadi cita-cita itu bisa lebih dari satu?" tanya Ratih. "Betul. Bukan hanya satu, tapi dua, tiga, empat, lima dan seterusnya selama kita hidup" ucapku sambil tersenyum. "Apa cita-cita, Ratih?" tanyaku. "Dokter..." jawab Ratih. "Bagaimana cara agar bisa tercapai?" tanyaku sambil menatapnya dan mengumbar senyum. "Belajar dan berdoa" jawab Ratih. "Jika nanti sudah jadi dokter apa yang akan Ratih lakukan?" tanyaku lagi. "Membantu menyembuhkan orang yang sakit. Membantu orang miskin agar bisa berobat dengan murah. Oya, Ratih juga ingin mendirikan rumah sakit gratis. Jadi orang miskin bisa berobat di sana" ucap Ratih. Aku tersenyum mendengar penuturannya tersebut. Dan memeluknya.


"Jadi cita-cita itu bukan hanya sekedar mencapai keinginanmu, tapi lebih penting lagi apa yang akan kau lakukan setelah kau mencapai cita-cita mu" ucap ku. Dan aku senang anak-anak itu menatapku dengan penuh binar. Aku harap semua perbincangan ini bisa memberi gambaran tentang apa yang harus mereka lakukan. "Dan satu lagi. Sukses bukanlah kebetulan. Sukses terbentuk dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting, cinta akan hal yang sedang atau ingin di lakukan." ucapku tersenyum "So...apakah kalian memiliki cita-cita?" ucapku semangat. "Ya, Kak...!" jawab semua anak. "Jika begitu kakak ingin tuliskan cita-cita kalian di kertas yang nanti kakak bagikan. Tuliskan sebanyak-banyaknya. Tuliskan juga apa yang akan kalian lakukan jika sudah mencapai cita-cita itu. Buatlah salinannya. Satu akan kalian bawa pulang ditempel di rumah. Satu lagi akan kita simpan di kotak ini. Jadi harta Karun kalian kelak. Kertas boleh dihias indah ya..." ucapku. "Dan setelah ini kita akan sama-sama simak cita-cita dan pekerjaan kak Haris dan kak Davina" ucapku sambil menatap keduanya yang sejak tadi sibuk mengambil gambar dan memperhatikan segala aktifitas sekolah KARDUS.

__ADS_1


Pukul tiga lewat sepuluh menit. Kedua jurnalis tengah berbagi pengalaman. Perlahan namun pasti keduanya berbincang dengan anak-anak yang ada terutama seputar jurnalistik dan cita-cita keduanya. Aku tersenyum menatap antusias keduanya dalam membagi pengalamannya dengan anak-anak.


"Walah...di depan anak-anak itu ternyata lebih sulit ketimbang menghadapi nara sumber yang berdasi" ucap Haris sambil tertawa. "Kak, terima kasih ya kesempatannya. Em, kalau diperkenankan saya ingin ikut jadi sukarelawan" ucap Haris. Matanya penuh kesungguhan. "Dengan senang hati kak Haris. Anak-anak pasti senang" ucapku sambil tersenyum dan menatapnya sekilas saja.


Hingga kedua jurnalis itu pergi, aku masih duduk bersama anak-anak. Bercerita tentang banyak hal. Sedang asyiknya kami bercerita, kami pun dikejutkan dengan kedatangan Maria yang juga pesdik (\=peserta didik) sekolah KARDUS. Ia mengabarkan bahwa Rania dan keluarganya tengah dianiaya oleh seorang rentenir dan bodyguard nya karena belum menyelesaikan pinjamannya. Aku pun terkesiap dan segera melajukan mobil menuju rumah Rania. Tak sampai lima menit aku sudah sampai di rumah Rania. Sedikit berbeda dengan pesdik yang lain, Rania dan keluarga termasuk keluarga yang hidup serba kekurangan. Kebutuhan kesehariannya hanya setengahnya saja yang dapat dipenuhi dari hasil mengumpulkan barang bekas.


"Hentikan...!" ucapku dengan lantang saat melihat seorang laki-laki bertubuh kekar memukul ayah dari Rania. Memohon Rania dan ibu dengan berurai air mata agar diberi kelonggaran waktu kepada si empunya uang. "Ow...ada pahlawan kesiangan sepertinya" ucap si rentenir sinis. "Kau jangan ikut campur, cantik. Mereka berhutang jadi harus dibayar sesuai perjanjian" ucapnya lagi. "Betul hutang harus dibayar tapi tidak dengan cara seperti lah. Mestinya lebih manusiawi" ucapku. Rasanya belum selesai aku berbicara sebuah tangan mencengkram lengan ku. "Ah, banyak bicara kau perempuan...!" ucap seorang laki-laki bertubuh kekar. Refleks gerakku atas cengkraman tersebut aku langsung memutar tubuh dan berhasil melepaskan cengkeraman tangannya dengan menyarangkan pukulan pada perutnya. Pukulan ku pun tepat mengenai sasaran. Bisa jadi karena ia tidak menduganya sama sekali.


"Kau...!" ucapnya geram. Ia pun kembali menyerang ku. Bersyukur aku sudah melatih ilmu bela diriku bersama kak Roy beberapa bulan ini sehingga aku mampu meladeni setiap jurus-jurus laki-laki bertubuh kekar itu. Dan disuatu kesempatan aku berhasil melayangkan tendangan ku pada tubuh laki-laki bertubuh kekar itu hingga membuatnya tersungkur. Pasi si rentenir melihat bodyguard nya jatuh tersungkur. Langkah seribu pun hampir ia ambil, namun aku berhasil menghentikannya. "Tunggu...Berapa hutang keluarga ini?" tanyaku. "Lima ratus ribu. Dihitung beserta bunganya. Maka menjadi satu juta lima ratus ribu rupiah" ucap laki-laki itu bersemangat. Ku buka dompetku dan ku keluarkan uang sejumlah yang ia sebutkan. "Jika ku lihat anda datang menemui keluarga ini lagi atau menganiaya keluarga lainnya, maka tak segan-segan aku melaporkanmu kepada polisi. Ini...! lunas...!" ucapku sambil menyodorkan uang kepadanya. Sumringah ia menerimanya dan langsung berlalu.


"Bapak, ibu, Rania..." ucapku sambil mendekatinya. "Kak Olivia, Terima kasih..." ucap Rania sambil menangis dan memeluk ku erat. Kemudian aku pun turut duduk pada kursi dengan banyak tambalan di sana-sini. Mataku pun mengitari seisi rumah yang hanya sepetak itu. Ada banyak tambalan di sana-sininya. Aku terenyuh. "Terima kasih kak Olivia..." ucap ayah dan ibu Rania tersedu. "Ya, Robb...aku harus bagaimana?" batinku.

__ADS_1


__ADS_2