
Pukul lima lewat lima puluh lima menit. Ku pacu langkahku sesaat setelah mobil parkir apik di sebuah pelataran pusat perbelanjaan. Degup jantung ku tak menentu ketika Ki lihat sosok tegap nan tampan lengkap dengan kacamata bertengger di wajahnya. "Kak Mirza..." ucapku lirih. Matanya menatapku begitu lekat. "Dari mana?" tanyanya tanpa berkedip menatapku. "Putar-putar keliling kota. Dengan bang Pandu. Lalu mampir ke boutique adiknya bang Pandu. Fara beli dech..." ucapku sedikit manja. "Memang di sini tidak ada apa, pakai beli jauh-jauh segala" ucapnya ketus. "Ga ada...buktinya Fara beli di boutique adiknya bang Pandu" ucapku lagi. "Tapi akan jauh lebih baik jika kasih kabar. Jangan main kabur saja...Bikin khawatir" ucap kak Mirza sambil berlalu melangkah menuju mobil. "Ayok mau pulang tidak..." ucap kak Mirza lagi sambil menghentikan langkahnya dan menatapku yang masih saja berdiri bak patung. "Sayang...." ucapnya lagi. "O..Ya..." ucapku setengah terkejut sambil melangkah cepat.
Tak lama mobil sport silver kak Mirza pun melesat menembus jalanan yang mulai temaram oleh lampu jalan. Sementara di langit, matahari sudah benar-benar kembali pada peraduannya dan hanya menyisakan sedikit saja semburat merahnya di kali langit. Ini adalah kekuasaan Illahi, perputaran waktu sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan sebagai tanda kebesaran kekuasaan-Nya. Dan saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk berkeluh kesah ataupun memuji keagungan dan kekuasaan-Nya. Ya...saat kumandang suara adzan maghrib terdengar.
Ku lihat kak Mirza menatapku tanpa kata. Pun demikian denganku. Aku hanya membalas tatapannya dengan senyuman. Kak Mirza, kau tidak tahu apa yang sedang kualami beberapa saat yang lalu. Seandainya ia tahu mungkin suasananya tidaklah seperti saat ini. Aku yakin ia sedang melampiaskan amarahnya pada tuan Darius. Atau paling tidak sedang merutuki ku karena kelalaian ku yang menerima minuman dari sembarang orang.
"Sayang...kita sholat dahulu" ucap kak Mirza yang membuyarkan lamunanku. Mataku menatap kacau. Ternyata mobil sudah parkir di halaman sebuah masjid. Dengan sedikit terkejut aku pun langsung mengikuti langkahnya. Kemudian kami berpisah di pintu utama masjid untuk berwudlu dan lainnya.
Untuk beberapa saat aku khusyuk dalam ibadahku. Menguntai doa-doa panjang penuh pengharapan. Ini adalah wujud penghambaan dalam ibadahku. Karena aku tahu hidup tanpa beribadah, seperti berlayar tanpa arah, seperti berlabuh tanpa pijakan. Dan hal tersebut sungguhlah sangat menyedihkan.
Pukul enam lewat tiga puluh menit. Mobil pun sudah kembali melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Suara raungan mesinnya saja terdengar semakin gahar membelah kesunyian malam di bawah temaram cahaya lampu jalan. Sementara itu di langit yang gelap gulita, tampak masih setia menggantung bulan yang begitu sempurna. Bulan yang mampu bercahaya sendirian, ikhlas tanpa pamrih menerangi bumi. Dan kehadiran bulan seakan menyampaikan pesan bahwa gelapnya malam belum tentu tidak ada cahaya sama sekali. Dan malam menjadi lebih indah dengan adanya bintang-bintang yang mengkerling manja untuk menemani sang bulan.
__ADS_1
"Kak Evans..." ucap kak Mirza saat melihat sebuah mobil lain parkir di depan villa. Kami pun melangkah sedikit cepat hingga di ruang tengah dimana semua keluarga telah berkumpul. Rupanya seperti yang telah direncanakan, malam ini mama membuat acara agar semua anggota keluarga berkumpul. "Nah, ini dia pengantinnya..." ucap sebuah suara yang amat ku kenal. Mataku pun langsung mengarah pada si empunya suara. "Sherlly...!" ucapku setengah teriak. Berpelukan kami dengan erat. Ini adalah pertemuan kali kedua kami setelah pagi tadi. "Nyonya Evans..." godaku dengan menolak tubuhnya dengan sisi lenganku dan memainkan alis mataku. "Mengapa tidak memberitahu ku tentang pernikahanmu?" tanya ku. "Surprise..." jawab Sherlly singkat. "Beruntungnya aku ini orang baik..Coba kalau tidak sudah ku libas kau" ucapku sambil meraih kepalanya ke bawah ketiak ku. Sherlly pun meronta hebat. Pun demikian ia tetap tertawa sejadinya. "Ampun....Ya, aku minta maaf" ucapnya di sela tawanya. kemudian akupun melonggarkan lenganku. Dan sekali lagi aku kembali memeluk tubuhnya. "Sudah dramanya?" ucap kak Mirza ketus. "Kalau sudah mandi..." ucap kak Mirza lagi sambil sedikit membulatkan matanya dan berlalu menyusuri anak tangga. Mendapati situasi Itu aku pun terdiam. Hanya mengangkat alis sejenak lalu mengurai senyum pada Sherlly, mama dan juga yang lain sebelum kemudian berlalu. Dalam hati aku merutuki diriku sendiri. Aku sadar. Aku sudah keterlaluan bereaksi atas kehadiran Sherlly. Tapi aku kan kangen. Apa salahnya melampiaskan rasa kangen ini? "Ah, dasar tuan muda angkuh" ucapku kesal.
Sesampainya di depan pintu kamar, aku tertegun. Aku hanya mencoba menerka apa yang akan ku hadapi setelah aku melewati pintu ini. Sedikit kecut, akhirnya aku memutar gagang pintu dan memutarnya. Nampaklah separuh isi ruangan, namun tak ku dapati sosok lelaki tampanku itu. Lagi-lagi dia menghilang. Kulangkahkan kaki dengan perlahan. Menyambar handuk dan baju ganti kemudian langsung menghambur ke kamar mandi. "Tidak bisakah lebih cepat....!" teriak kak Mirza sambil menggedor pintu. Astaga ini tuan muda banyak maunya ya. Tidak tahu apa kalau aku sedang mandi. Begitu gerutuku. Pun demikian, aku tetap diam tanpa memberi jawaban atas ucapannya tersebut. "Astaga, Sa..." ucap kak Mirza terhenti saat aku membuka pintu. Aku melenggang begitu saja tanpa memperhatikannya sedikitpun. Dan kak Mirza pun menatapku sesaat ketika aku melewatinya. Aku acuh saja. Dalam hati, aku tertawa atas perlakuan ku tersebut. "Rasakan ...emang enak dicuekin" gerutuku sambil senyum-senyum.
Pukul tujuh lewat tiga belas menit. Entah mengapa rasa kantuk mulai menyerang ku. lltak tertahankan lagi. Mungkin ini pengaruh rasa lelah dari apa yang sudah aku alami siang tadi. Rebah tubuhku pada sofa. Mungkin walau ada badai sekalipun, aku tetap tak kan bergeming dari lelap tidurku saat ini. "Fara...aku mencintaimu" ucap sebuah suara yang membuatku membuka mata perlahan. Aku terkejut bukan kepalang saat mendapati tuan Darius tengah merebahkan kepalanya di pangkuanku. Aku bingung harus bagaimana terlebih saat melihat ia menggenggam jemariku dengan erat. "Jangan pernah meninggalkan aku. Aku sungguh mencintaimu. Menikahlah denganku" ucapnya. Aku menjadi gagu. Tak sanggup berucap apa pun. Hanya mata ku saja yang menatapnya. Kemudian ia menegakkan tubuhnya dan membetulkan letak duduknya. Matanya menatapku sendu penuh harap. "Aku mencintaimu....Aku mencintaimu..." begitu ucapnya berulangkali. Sementara kedua tangannya mencengkram kedua lenganku. Aku berontak berusaha menghindarinya. "Jangan... Aku mohon lepaskan aku. Lepaskan aku. Lapaskan...!" teriakku.
Aku terduduk. Nafasku memburu. Peluh membanjiri tubuh. Ku lihat kak Mirza duduk di sebelahku. Ia menatapku lekat. "Kak..." ucapku dan langsung menghambur memeluknya. Dalam dekapannya aku kembali menangis. Menangis sejadinya. Melampiaskan segala kegundahan dan kekhawatiran yang tersimpan di hati. "Sayang... sudahlah. Semua hanya mimpi. Dan semua sudah berlalu" ucap kak Mirza yang mendekapku erat. Mengusap kepala ku dan juga mengecupnya hingga aku menjadi tenang. "Mama dan yang lainnya menunggu kita. Tapi jika kau merasa sedang tidak baik, maka kau tidak perlu bergabung" ucap kak Mirza yang menatapku. "Aku baik-baik saja, Kak..." ucapku sambil menghapus air mataku. Kak Mirza pun tersenyum dan mengusap pucuk kepalaku. "Good..." ucapnya dan mengecup keningku. "Bersiaplah..." ucapnya yang langsung ku balas dengan anggukan kepala.
"Mirza, ayolah mainkan. Sudah lama kau tidak pernah memainkannya" ucap kak Evans sambil menyerahkan sebuah gitar. Aku menatapnya heran. Mataku menatapnya tanpa berkedip. Selama aku mengenal kak Mirza, belum sekalipun aku melihatnya memainkan gitar. "Diantara kami, Mirza paling jago memainkan alat musik. Bukan cuma gitar, piano pun ia kuasai" ucap bang David tersenyum. "Mirza lebih memilih piano ketimbang bermain sepak bola dengan kami" ucap kak Evans terkekeh. Pun dengan bang David. "Hei...tapi bukan berarti aku lemah ya"ucap kak Mirza dengan nada tinggi. "Yuph, tuan pemarah..." kata bang David tertawa lagi memperlihatkan deretan gigi putihnya. Sementara mama Melissa yang sejak tadi memperhatikan polah ketiga putranya turut larut dalam perbincangan. Berkali-kali terdengar gelaknya. "Gitar sangat mirip dengan kehidupan, dapat dipetik dengan lembut atau dimemainkan dengan keras, bagaimanapun juga, semua resonansinya bersifat sementara. Selain itu bagiku gitar adalah alat meditasi untuk menyentuh Tuhan dan menemukan cinta di dalam diri perempuan terkasihku, Fara" ucap kak Mirza sambil tersenyum dan menatapku. "Ini yang tidak ada pada diri kami, Fara...Hanya ada pada Mirza" ucap kak Evans sambil terkekeh. "Apa...?" tanyaku lugu. "Romantis....Fara" ucap mama Melissa tersenyum. Aku pun meng-o singkat. "Fara, bersiaplah terkagum-kagum melihat kepiawaian Mirza mu itu" ucap kak Evans sambil mengeratkan dekapannya pada Sherlly, perempuan yang baru ia nikahi beberapa bulan lalu.
Malam mulai merangkak jauh dan gelapnya mulai menjadi selimut bagi pemimpi siang. Saat ini pukul sepuluh lewat lima menit. Kami masih duduk menghangatkan tubuh di sekitar api yang masih membara. Ada banyak canda dan tawa yang sudah tercipta saat ini. Dan suguhan petikan gitar kak Mirza yang sangat indah mengalun, membuat ku terlena. Iramanya melambungkan harmoni cinta dalam kidung asmara membentuk atmosfer romantis dalam jiwa yang sedang dahaga. Aku takjub melihat kepiawaian jemarinya memainkan setiap melodi dari alat sesederhana gitar.
__ADS_1
"Sudah kukatakan kau akan terkagum-kagum, Fara. Ini baru satu belum yang lainnya..." ucap kak Evans menggodaku. "Bagaimana..." bisik kak Mirza dekat telingaku. "Bagus banget..." ucapku. "Cuma itu..." tanya kak Mirza seakan sedikit kecewa. "Sempurna..." ucapku lagi. Ia pun sumringah. Lagi-lagi tangannya mengacak sembarang pucuk kepalaku.
"Tiga anak mama sudah hadir. Tinggal satu lagi. Mama tahu dia sedikit berbeda. Tapi apa salahnya jika kita mampu mendekapnya juga. Seperti yang diamanatkan papa kalian..." ucap mama Melissa sendu. "Kak Roy sudah berubah, Ma. Sudah tidak berada di dunia abu-abu lagi. Namun saat ini ia sedang mencari cinta sejatinya" ucap kak Evans. "Bukankah ia sudah menikah? Mama kira itulah cinta sejatinya.." ucap mama lagi. "Pernikahan pertamanya hanya berdasarkan untung dan rugi saja, Ma. Kak Roy tidak mencintai istrinya itu" ucap kak Evans. "Lalu siapa perempuan yang menjadi cinta sejatinya itu?" ucap mama. "Entahlah, Ma. Evans sendiri tidak tahu. Kak Roy tidak pernah membicarakannya. Yang pasti perempuan itu sudah berhasil mengubah cara berfikir kak Roy dalam waktu singkat" ucap kak Evans. "Aku tidak yakin jika kak Roy berubah seperti yang sudah ia utarakan. Aku yakin itu hanya sebuah pembelaan atas apa yang sudah, sedang dan akan ia lakukan. Jika perempuan itu juga mencintai kak Roy, lalu mengapa ia pergi meninggalkan kak Roy?" ucap kak Mirza yang membuat semua terdiam. Semua berada dalam fikirannya masing-masing. Pun demikian dengan ku. Pertanyaanku adalah mengaap kak Mirza bisa seyakin itu tentang kakak lelakinya itu? Bukankah ia sama halnya seperti bang David yang berada jauh dari kedua saudara lelakinya yang beda ibu itu? Sulit dipercaya...
"Aku pun tidak percaya. Tapi sebagai saudara laki-lakinya, aku berusaha mempercayainya bahwa ia bisa berubah. Aku pun pernah mencoba menawarkan bantuan untuk mencari perempuan itu. Tapi ia menolaknya. Katanya : cinta sejati hanya akan ditemukan oleh cinta sejati lainnya, yaitu hanya dirinya" ucap kak Evans lagi. Mendengar itu aku jadi bergidik. Ada juga orang yang mencintai seperti itu. Tapi kurasa itu bukan cinta tapi sebuah kegilaan. Seperti tuan Darius. "Hei...kenapa nama itu kembali terbersit diujung fikir ku? Pergi...pergi sana. Jauh-jauh..." batinku.
"Maaf, Nyonya. Ada tamu yang ingin bertemu nyonya" ucap Pak Darmin kepada mama. "Suruh masuk saja, Pak..." ucap mama. "Dia tidak mau nyonya. Dia ada di pintu gerbang..." ucap pak Dirman. Mama pun bangkit dari kursinya dan mengikuti langkah pak Dirman. "Mirza temani ya, Ma..." ucap kak Mirza yang sudah berdiri hendak melangkah. "Tidak usah... biar mama saja" ucap mama yang langsung mw ghentikan langkah kak Mirza. "Yakin, Ma..." tanya bang David yang langsung dijawab mama dengan mengangkat satu ibu jarinya ke udara tanpa menghentikan langkahnya.
Ku tatap punggung mama yang semakin lama menghilang di balik keremangan malam. Lama mama belum kembali juga. Aku sedikit penasaran terhadap tamu itu. Hampir tengah malam begini, bertamu. Kemudian selang beberapa waktu, ku lihat mama melangkah kembali. Pada tangannya terdapat sebuah paper bag. Aku semakin penasaran. "Ini hadiah pernikahan kalian. Dari kakak mu, Roy. Dia belum dapat menyertai kita" ucap mama sambil menyerahkan paper bag tersebut kepadaku. "Jadi tadi kak Roy?" ucap kak Mirza seakan tak percaya. Matanya menatapku lekat. Entah apa makna dari tatapannya tersebut. "Ya. Dia meminta maaf tidak datang malam ini dan menemui kalian" ucap mama yang kembali duduk.
"Jika memungkinkan, bantulah kakak kalian. Roy. Bagaimanapun juga ia adalah saudara kalian. Keinginan mama sama seperti papa, yaitu keempat anak lelakinya dapat rukun dalam kebaikan" ucap mama. "Baiklah, Ma. Nanti akan coba David hubungi kak Roy. Siapa tahu ia akan lebih terbuka dan menerima bantuan kita. Dengan demikian kak Roy akan dapat segera bersama kita" ucap bang David sambil tersenyum. Sementara mbak Mikaela yang berada disebelahnya hanya menatap bang David dengan senyumnya walau tipis saja.
__ADS_1