Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 49.Ku lihat Kau Telah Bahagia...


__ADS_3

Aku duduk dalam mobil sebelah kak Keanu yang duduk di belakang kemudi dan sedang menatapku. Tiada kata yang meluncur dari bibirnya. Ditatap demikian aku menjadi rikuh. Dan segera saja ku alihkan pandanganku pada jalanan nan lurus di depanku. Berdasar rencana yang sudah di susun, hari ini aku ingin menatap kak Mirza dan mengetahui keadaannya walau dari jarak tertentu. Semoga kangenku terobati. Selain itu semoga aku dapat menimbang rasa ini dengan tepat sehingga keputusan pun ku dapati. Dan berdasar informasi dari Satria, saat ini kak Mirza dan keluarga tengah piknik di pantai X. Kebiasaan yang biasa dilakukan para keluarga bahagia menurutku. "Kau yakin, Fara...?" tanya kak Keanu yang masih saja menatapku dan berhasil membuyarkan lamunanku. "Iya, Kak. Aku ingin melihatnya langsung. Bukan hanya dari katanya. Tapi benar-benar dengan mata kepalaku sendiri" ucapku sambil memainkan ponselku. "Apa yang ingin kau buktikan, Fara...?" tanya kak Keanu sambil menghela nafas. Helaan nya dapat ku dengar jelas. Aku pun menggeleng pelan sambil mengurai senyum tipis saja. "Aku hanya ingin melihatnya saja, Kak..." ucapku kemudian yang membuatnya tersenyum lebar. "Okey. Artinya sudah siap dengan segala kemungkinannya" ucap kak Keanu.


Deg.


Aku terdiam. Aku menyelami perasanku sendiri. Dan pernyataan kak Keanu jelas-jelas telah kembali melambungkan lamunanku jauh menyusuri lorong menembus sukma entah kemana. "Siap, Nyonya..." ucap kak Keanu dengan senyum khasnya. Aku pun tersenyum membalasnya. Sementara mataku menatap keluar jendela. Tatapanku terus tertuju pohon-pohon di tepian jalan yang tampak seolah berkejaran. Entah rasa apa yang sedang ada dalam jiwa saat ini. Aku sudah berusaha menyelami dan memaknainya. Namun aku gagal. Rasa ini begitu bercampur-aduk hingga aku sulit memilahnya. Ada bahagia, marah, kesal, khawatir, gundah hingga...kangen. Semua mengisi relung hati dan jiwaku. Bahkan lamunan ku pun menjadi liar dan kacau tak bermakna. "Nyonya baik-baik saja?" tanya kak Keanu. Mungkin ia melihat reaksi di wajah ku yang berubah-ubah. "Aku baik-baik saja. Dan stop memanggilku nyonya...!" ucapku kesal yang justru membuatnya tertawa. "Maaf. Aku hanya senang menggoda mu hingga kesal. Sama seperti dahulu saat kita kecil" ucapnya lagi sambil tertawa dan menatapku sekilas yang tampak manyun.


Pukul sembilan lewat tiga menit. Laju mobil diperlambat saat memasuki area pantai. Mata ku begitu jeli menilik deretan pengunjung ditepian pantai. Yang pasti hanya sosok kak Mirza lah yang kucari. Tak sampai menyusuri tepian pantai hingga habis, perhatianku sudah tercuri oleh sosok tampan berkacamata hitam. Ia berdiri menghadap laut lepas. Hatiku berdesir hebat. Separuh jiwaku berontak dan ingin segera menemui dan memeluknya. "Kak Mirza..." gumamku lirih. Belum usai aku menyebut namanya, ada seorang bocah yang merangkak menghampirinya. Dibelakangnya dengan gontai Amara berjalan mengiringi langkah rangkakkan bocah gembul itu. Sumringah kak Mirza menyambut sang bocah gembul itu saat ia menarik kaki all Mirza. Dan kak Mirza segera meraihnya serta memanjakannya dalam buaiannya. Kak Mirza pun menimangnya sebentar lalu menerbangkannya sesaat di udara. Tertawa renyah si bocah penuh kebahagiaan atas perlakuan tersebut. Tawanya berpadu padan bersama kekeh kak Mirza. Sementara itu sesekali tangan Amara melingkar manja pada pinggang kak Mirza. Aku terdiam. Mataku tak henti menatap kebahagiaan ketiganya yang nyata kulihat benar-benar dengan mata kepalaku sendiri, bukan katanya lagi. Hampir menangis aku menatap suguhan pemandangan dihadapan ku. Sekuat tenaga aku menahan bulir bening yang siap terjun bebas sejak tadi.


Aku lunglai. Bersandar tubuhku bak tak berenergi. Tanganku meremas ujung kerudungku. Dan bulir bening yang sejak tadi ku tahan kini tumpah sudah. Mengalir meng-anak sungai begitu saja. Ku palingkan wajahku, tak ingin menatapnya. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, kak Keanu pun langsung men-stater mobil. Namun aku mencegahnya. "Apa yang kau cari, Fara...? Apa yang ingin kau buktikan?" tanyanya yang menatap ku lekat. "Aku ingin mencari kebenaran akan perasaan yang ku rasakan ini. Perasaan yang sudah menyiksaku. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaannya kepadaku" ucapku sambil menyusut air mataku. "Sudah kau dapatkan?" tanyanya. "Sudah..." jawabku singkat. "Jika sudah kita pulang" ucap kak Keanu. "Tunggu kak. Ada satu orang lagi yang ingin ku lihat" ucapku sambil mencegahnya men-stater mobil. Dan sekali lagi aku melihat Kak Keanu menghela nafas panjang. Matanya yang semula menatapku kini beralih kembali pada kak Mirza yang sedang tertawa bahagia dalam canda bersama putri cantiknya. Menyaksikan itu aku pun kembali menangis. Isak ku mampu mengguncang tubuh. Walau berulangkali aku menyeka air mata, namun tetap saja mengalir tak terbendung. "Kita pulang..." ucap kak Keanu tegas. "Sebentar kak..." ucapku setengah histeris. "Cukup, Fara. Aku sudah tidak sanggup lagi melihatmu seperti ini. Kita pulang..." ucapnya yang hampir melajukan mobil. "Sebentar kak. Aku mohon..." begitu pintaku yang akhirnya berhasil membuat kak Keanu mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Masih di tepian pantai. Dan masih menilik kebahagiaan kak Mirza saat bersama bocah perempuan gembul itu. Tak lama kemudian, ku lihat mama Melissa mendatangi ketiganya. Ia pun mulai bercengkrama dengan bocah cantik itu. Mama pun merengkuh bocah gembul itu dari buaian kak Mirza dan berisyarat agar kak Mirza dan Amara berkumpul bersama yang lain. Menyaksikan hal tersebut aku menjadi pilu. Ku gigit bibir dan ku remas ujung kerudungku. Tak ada kebencian atau ketidaknyamanan, semua berjalan normal saja. Dan hal itu yang membuatku semakin kecewa. "Kau fikir, Mirza dan keluarga nya akan merasa kehilangan dengan ketiadaan mu? Atau kau berharap Mirza sedang meratapi dirimu di tengah kebahagiaan keluarganya?" ucap kak Keanu. "Kita pulang..." ucapku lirih sekali. Bak tiada energi lagi, aku menghapus air mataku perlahan saja.


Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Mobil kembali melaju perlahan saja. Aku menatap pintu yang mestinya dilewati saat keluar areal pantai berada jauh dibelakang, terlewati begitu saja. Tak lama kak Keanu menghentikan laju mobilnya di sisi lain pantai tersebut. Jauh dari keberadaan keluarga kak Mirza. Dan sekali lagi aku mendengar helaan nafas kak Keanu. Aku yakin perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Pun demikian, aku tak sanggup menanyai dan mencari tahu penyebabnya. Sebab aku sendiri sedang tak baik-baik saja.


Dibukanya pintu mobil dan menutupnya sedikit keras membuat aku harus mendamaikan jantung dari rasa terkejutku. Berdiri ia ditepian pantai, memandang laut lepas. Dibiarkan kakinya dihempas riak ombak yang silih berganti selalu kembali ketepian pantai itu. Dan berulangkali ia mengusap kasar wajahnya. Aku pun akhirnya mengikuti jejaknya. Berdiri mensejajarinya, menatap laut lepas dan membiarkan kaki basah dihempas riak ombak. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanyanya tanpa menatapku. "Entahlah..." ucapku singkat. "Artinya hari ini percuma jika tetap tiada hasil..." ucapnya dengan senyum tipis saja. "Yang aku tahu aku tidak ingin merusak kebahagiaan yang ada. Jika tanpa aku saja kak Mirza sudah bahagia, kenapa aku harus bersusah hati mengambilnya dari tawa putrinya itu" ucapku. "Saran ku temui lah Mirza. Penuhi janji mu padanya. Setelah itu bicarakan semuanya dengan baik-baik" ucap kak Keanu.


"Aku baru tahu, ada bodyguard yang sedekat ini dengan yang dijaganya" ucap seorang lelaki dan membuat aku juga kak Keanu saling menatap. "Bang David..." ucapku saat mendapatinya tengah berdiri di belakangku. "Apa kabar, Fara...?" ucapnya sambil menatapku. Aku berkaca-kaca mendapati bang David yang berdiri di hadapanku. "Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Apa kau tidak ingin bercerita pada abang mu ini?" ucapnya lagi yang membuat ku duduk pada hamparan pasir yang basah dibasuh air laut. Aku terisak pilu. Tubuhku guncang menahan tangisku itu. "Fara..." ucap bang David yang langsung merengkuh kepalaku dan membenamkan pada dadanya. Tiada kata yang mampu ku ucap, hanya derai air mata sebagai gambaran bagaimana perasaan ku sebenarnya saat ini.


Pukul satu lewat lima menit. Mobil pun melaju meninggalkan pantai. Tempat yang sudah menyuguhkan pemandangan cukup menyesakkan jiwa dan berhasil mengaduk-aduk perasaanku dengan hebatnya. Sepintas aku masih melihat bang David yang melambaikan tangan sejenak sebelum memutar tubuh dan berlalu. Dan padanya aku meminta agar pertemuan ini tidak diberitahukan kepada siapapun terutama kak Mirza. Dan bang David pun mengiyakan tanda menyetujuinya.

__ADS_1


Sementara itu, mata ku masih saja menatap tepian pantai yang selalu dihempas ombak. Suara deburannya pun mampu membuatku ciut. "Bagaimana...?" tanya kak Keanu yang tetap fokus pada jalanan. "Bantu aku ya, Kak. Bantu aku melewati ini semua. Rasanya aku tak kan sanggup menghadapinya sendiri" ucapku yang bersandar pada sandaran kursi. "Pasti aku akan berusaha membantumu sekuat tenaga dan sebisaku. Apalagi aku ini kan suami masa kecilmu.." ucapnya sambil tertawa. "Kakak ini loh...aku malu mengingatnya" ucapku yang tertawa. Tanganku tak henti memukuli lengan kekarnya. Satu, dua, tiga, empat kali aku pun memberikan cubitan pada perut sebelah kirinya. Ia pun mengaduh berulang karena perlakuan ku tersebut. "KDRT namanya ini, Fara..." ucapnya sambil mengacak pucuk kepalaku. "Nanti di rumah ku hukum ya..." ucapnya sambil terkekeh.


"Oya, kenapa kak Keanu belum memiliki pasangan? kekasih atau istri gitu..?" tanyaku sambil menatapnya. "Em, karena aku belum kau ceraikan.." jawabnya membuatku kesal. "Suka bercanda ya.." ucapku yang kembali melayangkan cubitan pada perut sebelah kirinya. Dan kak Keanu pun kembali mengaduh berulangkali sambil berusaha menghindarinya. "Kau ingin tahu siapa kekasihku?" tanyanya sambil mengusap bagian perut yang baru saja ku hadiahi beberapa cubitan kecil itu. Aku pun mengangguk kecil dan membetulkan posisi dudukku. Aku menatapnya dengan wajah penasaran. Kak Keanu lagi-lagi tersenyum. "Coba lihat di kaca spion itu" ucapnya dengan yakin. Aku semakin penasaran. Tanpa ba-bi-bu lagi aku pun langsung menengok ke dalam spion. Lama aku menatapi bayang di dalam kaca spion itu. Aku pun tertawa karena baru tersadar saat melihat hanya wajahku saja yang ada di daalm kaca spion itu. "Ada...?" ucap kak Keanu tertawa kecil. Aku manyun. "Lugu banget sih..." ucapnya. Dan sekali lagi ia mengacak pucuk kepalaku.


Pukul dua tepat. Masih di perjalanan. Namun kali ini tidak ada obrolan yang terjadi. Baik aku mau pun kak Keanu sama-sama dalam alam fikiran masing-masing. Aku sendiri duduk bersandar dengan fikiran yang mulai mengembara. Beberapa peristiwa yang baru saja ku saksikan timbul-tenggelam dalam ingatanku membuat pilu hatiku bertambah. Aku ingat bagaimana roman wajah kak Mirza yang tampak baik-baik saja, normal-normal saja tanpa ada rasa kehilangan ku atau pun penderitaan akibat rasa kangen yang akut. Semua berjalan normal-normal saja. Sekali lagi aku kecewa mendapati semua kenyataan tersebut. "Boleh makan dahulu...?" ucap kak Keanu tiba-tiba. Dan tentu saja lagi-lagi membuyarkan lamunan liarku. Aku pun mengangguk tanda mengerti. Dan seketika itu juga kak Keanu pun langsung membelokkan mobil pada areal parkir sebuah cafe.


"Ingin pesan apa?" tanya kak Keanu saat kami sudah benar-benar duduk dan seorang pramusaji menghampiri kami. Kemudian dua menu ku pesan dari daftar menu yang ku baca. Pun demikian kak Keanu. Mataku tak berani mengitari seisi ruangan. Bahkan pandangan dan wajahku lebih banyak menatapi ujung sepatu atau ponsel yang sesekali berpendar. Sebegitu khawatirnya aku atas kerahasiaan identitas ku terbongkar karena ada yang mengenaliku. Dan kak Keanu pun tersenyum menatap polahku tersebut.


"Emmm...enak, Kak" ucapku saat menikmati suapan pertamaku. Dan kak Keanu pun hanya tersenyum menatapku sambil menikmati menu santap siangnya. Tengah asyik-asyiknya menikmati hidangan yang tersaji aku dikejutkan oleh sosok perempuan cantik yang selalu mencari masalah denganku. Aku pun langsung lebih membenamkan pandanganku pada makanan di hadapanku. Dan kak Keanu yang menatapku berisyarat dengan mengangkat wajah dan alisnya sedikit. Mungkin jika ku artikan, ia menanyakan berkaitan dengan perilaku ku saat ini atau singkatnya : Ada apa?. Belum lagi aku menjawab pertanyaan kak Keanu aku sudah dikejutkan oleh suara seorang perempuan di belakangku. "Wah, pacar Lo ganti lagi. Kenapa, sudah dibuang Mirza ya?" ucap Ratu sinis yang membuat kak Keanu mendongakkan wajah menatap tidak suka pada Ratu. "O.. lelakinya marah. Kau tidak tahu siapa perempuan ini? Dia tidak lebih hanya seorang *****, pecung...!" ucap Ratu setengah teriak yang berhasil menarik perhatian beberapa orang di sekitar meja ku.

__ADS_1


Aku hampir menangis mendengar semua itu. "Cukup...! sepertinya kau salah orang. Perempuan yang kau sebut ***** dan pecung ini adalah istriku" ucap kak Keanu yang membuatku langsung menatapnya. "Jangan suka lempar batu sembunyi tangan, siapa tahu kau sendiri yang *****" ucap kak Keanu lagi. "Nona...kemana saja? Ku hubungi tidak pernah mau menjawab. Kau sudah punya pelanggan baru yang lebih tajir ya?" ucap Satria yang tiba-tiba saja muncul. "Aku...aku" ucap Ratu gagu sambil berlalu meninggalkanku. "Maaf terlambat, Tuan" ucap Satria yang disambut senyum oleh kak Keanu.


"Jangan difikirkan ya...kita lanjutkan makan" ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut. Juga meletakkan sebelah tangannya pada sebagian wajahku. Dan mengusap lembut pipiku dengan ibu jarinya. "Kak..." ucapku menggantung karena ia sudah berisyarat memintaku diam. "Terima kasih..." ucapku sendu sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan juga senyum khas ku.


__ADS_2