Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 35. Cemburu...


__ADS_3

Pagi-pagi aku sudah menuruni tangga. Sudah menjadi kebiasaan ku, seusai sholat subuh aku langsung melakukan aktifitas seperti joging atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dan pagi ini hati ku mengarahkan langkahku menuju dapur. "Loh, Fara...sudah bangun?" ucap mama yang ternyata sudah berada di dapur terlebih dahulu. Begitu pun dengan bang David dan mbak Mikaela. Tak lupa sikecil Kenan yang terus saja membuat sibuk mbak Mikaela. "Mama masak" tanyaku sambil tersenyum. "Ya, sayang. Sudah rutinitas mama kalau pagi menyiapkan sarapan" ucap mama sambil tersenyum dan tetap sibuk membolak-balik nasi goreng dan menatanya pada pirinh. "Fara baik-baik saja? ucap mama sambil menatapku lekat. Ditatap sedemikian rupa aku jadi rikuh. "Ya,Ma. Fara baik-baik saja" ucapku sambil tersenyum tipis dan menatap penuh tanya. "Tidak sakit...?" ucap mama lagi menyelidik. "Iya, Ma. Fara sehat. Tidak sakit" ucapku sekali lagi meyakinkan. "Ow..." ucap mama singkat sambil berpandangan dengan bang David. "Kenapa, Ma? Apa ada yang aneh dengan Fara?"tanyaku penasaran. "Ah, tidak apa-apa sayang...Syukur jika baik-baik saja" ucap mama sambil tersenyum. "Kok, aneh sih..." batinku.


"Apa nieh yang bisa Fara bantu" ucapku sambil menatap meja yang penuh bahan-bahan. "Ah, sudah tidak perlu. Bantu kak Mirza mu saja bersiap-siap" ucap mama. "Em, pakaian dan lainnya sudah Fara siap kan kok,Ma" ucapku seakan meminta pekerjaan. "juice...Ya, Fara bisa buat juice" ucap mama seperti teringat sesuatu. Aku pun mengangguk, tanda bahwa aku tahu.


Dan tak perlu menunggu lama akupun segera membuat juice dengan beberapa warning yang diberikan Bu Anna. Sebentar saja aku sudah menyelesaikannya. Bersamaan dengan itu kak Mirza pun sedang menuruni tangga. Ia langsung menghampiri dan memelukku dari belakang. "Ih, apaan sih kak. Malu ada mama" ucapku berusaha melepaskan dekapannya. "Tidak apa-apa, Fara. Namanya juga pengantin baru" ucap mama terkekeh diikuti yang lain. "Tuh kan..." ucapku cemberut. " lah, tidak apa-apa kok. Semuanya mengerti" ucap kak Mirza sambil memperhatikan juice yang baru saja siap. "Enak nih..." ucap kak Mirza. "Tidak tahu juga. Belum ada yang mencoba..." ucapku sambil menyajikannya di meja.


Pukul enam lewat lima menit. Aku menuangkan nasi pada piring Kak Mirza. "Cukup, sayang...Nanti bisa tambah jika kurang" ucap kak Mirza sambil tersenyum tipis. "juice, Kak..." ucapku sambil meletakkan segelas juice di dekatnya. "Terima kasih..." ucap kak Mirza yang langsung meneguk juice beberapa tegukan. Sepintas ku lihat bang David menatapku sambil tersenyum. Dan sesekali menghela nafas. Sementara itu terlihat mbak Mikaela kewalahan menghadapi tangis Kenan, bocah yang belum genap dua tahun itu. "Kenan kenapa sayang...?" ucapku yang langsung menghampirinya. "Cup...cup...Tante gendong ya" ucapku sambil mengangkat tubuh gembulnya. Ajaibnya... tidak memerlukan waktu lama, Kenan pun sudah tenang kembali dalam buaian ku. Bahkan celotehnya pun sudah terdengar kembali.


"Wah... Kenan langsung lengket nieh sama Tante Fara. Emang Kenan sudah kenalan..." ucap Bu Anna sambil mencubit gemas Kenan. "Sudah dong ya... Kenan sudah kenalan" ucapku sambil menciumi pipi dan perutnya ataupun mengangkatnya ke udara. Dan tentu saja bocah gembul itu terkekeh tak henti. Dan semua pun tersenyum melihat polahku yang bukan saja berhasil menenangkannya, tapi juga membuatnya tertawa. "Sini sama ibu, tantenya sarapan dulu..." kata Bu Anna sambil meraih Kenan dari buaian ku. Setelah itu aku kembali ke meja makan yang di sambut tatapan yang aku sendiri sulit memaknainya. Aku tersenyum sambil duduk dan menyantap kembali menu sarapan pagi ku. "Em, juice nya sedikit berbeda. Apa ya..." ucap kak Mirza. "Kenapa...tidak suka ya?" tanya ku. "Bukan tidak suka. Tapi beda rasanya" ucap bang David. "Em, tadi pakai madu. Nenek Merry, neneknya Fara yang mengajarkannya. Menurut beliau lebih sehat ketimbang ditambahkan gula. Maaf kalau tidak suka" ucapku. "Suka sekali kok. Dari dahulu..." ucap bang David yang membuat kak Mirza menghentikan suapannya. Ia terdiam sejenak. sementara matanya menatapku. Kemudian ia pun berdiri dari kursinya sambil tersenyum. "Em, maaf masih ada yang harus Mirza siapkan. Hari ini pengajuan skripsi. Sayang...kau pun harus bersiap-siap" ucap kak Mirza sesaat sebelum berlalu. Dan kak Mirza pun terus saja memacu langkahnya tanpa menghiraukan setiap tatapan yang mengarah kepadanya. Bahkan panggilan mama pun tak diindahkannya


Melihat gelagat yang kurang baik aku pun segera menyelesaikan sarapanku dan berpamitan. "Sabar ya, Fara..." ucap mama sambil mengusap kepala ku. Aku hanya tersenyum sambil melangkah menyusuri anak tangga menuju kamar.


Sesampainya dalam kamar, mataku langsung mengitari seluas ruangan. Aku mencari sosok kak Mirza. Dan nihil. Tak ku temui lelaki tampanku itu. "Hei...kemanakah kak Mirza?" batinku. Kemudian serasa selembut hembusan angin lalu menerpa wajahku dan sedikit menerbangkan ujung kerudungku. Aku pun langsung mengarahkan pandangan pada balkon dengan pintu yang sedikit terbuka. "Mungkin kak Mirza di balkon" ucapku lirih sambil melangkahkan kaki. Dan benar saja, kudapati kak Mirza tengah berdiri memunggungi. Matanya menatap jauh ke depan. Tangannya terlipat di depan dada. Sedikit ragu aku pun menyapanya. "Kak..." ucapku sambil mensejajarinya. "Ternyata sudah banyak kenangan yang tercipta diantara kalian" ucap kak Mirza.


Deg.

__ADS_1


Aku tertegun menyimak penuturannya. Fikiranku langsung tertuju reaksi kak Mirza di meja makan barusan. Sedikit ragu, ku beranikan meraih lengannya dan bergelayut manja. "Em, Bang David itu sudah lama mengenal Fara dan nenek. Karena bang David kan pernah menjadi dokter di puskesmas dekat rumah Fara. Rumah kost bang David pun dekat dengan Fara" ucapku hati-hati. Bang David yang selalu menolong kami saat kami kesulitan. Dan bang David juga yang sudah menghapus air mataku saat aku kehilangan nenek Merry, satu-satunya orang sudah menemaniku selama ini. Bang David juga yang membiayai sekolah dan hidupku selama beberapa waktu, juga yang memberiku semangat hidup. Jadi wajar sudah banyak hal yang dilalui bersama. Bang David itu bukan sekedar penolong bagi Fara, tapi lebih dari itu. Ia sudah layaknya seorang kakak yang selalu ada untuk Fara"ucapku mulai berurai air mata. Aku terduduk sambil memeluk kedua lututku.


Kemudian kak Mirza pun memelukku dengan erat. Tanpa kata, hanya pelukan erat saja. "Yang aku kecewa dengan bang David adalah tindakannya yang telah mencium ku paksa. Aku tidak terima, karena aku bukan pelacur yang bisa dimainkan sesukanya. Aku tahu jika aku sudah dihinakan oleh Darius atau pun Anita ataupun Ratu. Tapi itu bukan kehendakku..." ucapku setengah teriak. "Ku kira kakak sudah mengerti itu, tapi nyatanya tidak. Kakak sudah berdusta...!" teriakku lagi sambil meronta dari pelukannya dan berusaha berlalu. Namun lagi-lagi apa dayaku, dekapannya begitu kuat. Ia mencengkram lengan ku saat ia kembali merasai bibirku. ******* paksa bibirku. Hingga ia puas.


"Kau milikku, Fara! Hanya milikku...! Jangan pernah coba-coba mengkhianatiku...!" ucap kak Mirza sambil mengguncang tubuhku. "Aku memang milikmu, Kak. Aku istrimu...! Tidak ada lelaki dalam hidupku yang mampu membahagiakanku seperti yang selalu kakak lakukan" ucapku sambil menangis dan memukuli perlahan dada bidangnya. Mendengar itu kak Mirza dengan cepat merengkuh ku kembali dalam pelukannya. Dan menghujaniku dengan kecupan dan kata maaf. Aku tersedu pilu dalam dekapannya.


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Suasana sudah Kembali tenang. Tangisku pun sudah reda bahkan hampir hilang. Kak Mirza pun sudah tenang, tanpa amarah. Bahkan senyum nya pun sudah menghiasi wajah tampannya, Walau tipis saja. Ku lihat ia menghela nafas beberapa kali. "Terima kasih. Kini aku tahu betul bagaimana perasaan mu sebenarnya kepadaku. Kau memang milikmu. Selamanya..." bisik kak Mirza sambil kembali memelukku erat. "Maukah istri tersayang ku ini menyemangati ku?" ucap kak Mirza yang membuatku mendongakkan kepala menanti penjelasan. Ia tersenyum sambil mengecup keningku. "Kau lupa? Skripsiku..."ucap kak Mirza sambil menatap ku dan sedikit membulatkan matanya. Aku pun tersenyum sambil menepuk kening ku. "Kalau begitu Fara bersiap, ya... Sebentar saja" ucapku sambil bangkit dari dudukku. "Hei... tunggu dulu"ucapnya sambil menggenggam jemariku.


Kemudian ia merengkuh pinggangku dan menariknya begitu dekat padanya hingga tak berjarak sedikitpun. Kak Mirza pun melingkarkan kedua lenganku pada lehernya. "Naikkan kaki mu di atas kaki ku" ucapnya yang membuat aku sedikit membulatkan mata. "Ayolah..." ucapnya lagi sambil memeluk erat pinggangku. Mau tidak mau akhirnya aku pun menurutinya. Kunaikkan kaki ku satu-satu di atas kakinya. Sementara tanganku melingkar erat pada lehernya. Dan....perlahan namun pasti kak Mirza pun mulai melangkah satu-satu. "Berpeganganlah..."ucapannya mengingatkanku sambil tersenyum. "Kak, ada yang bergerak di bawah sana" bisikku meledek dan tersenyum. Aku pun merebahkan kepalaku dan mengeratkan lingkaran lenganku. "Abaikan saja, karena bukan itu tujuan saat ini" ucap kak Mirza terkekeh. "Please...jangan dibahas. Itu senjata rahasia" ucapny lagi sambil terkekeh.


Pukul tujuh lewat lima puluh menit. Aku menuntaskan ritual mandiku dan segera bersiap. Tak sampai lima belas menit aku pun sudah bersiap. Pun demikian dengan kak Mirza. Ia sudah rapi dengan kemeja dan jas almamater di tangannya. "Kakak, tidak mau cukur dulu" ucapku sambil membawa jas almamaternya dan mengiringi langkahnya. "Em, Ya... kita mampir dahulu di barber" ucap kak Mirza dengan senyuman khasnya. Setengah berlari kami menuruni tangga. Sepi, tiada seorang pun. Hanya ibu Anna yang sedang merapikan bunga potong di meja. "Sepi... Pada kemana, Bu?" tanya kak Mirza. "Nyonya besar ke pasar bersama nyonya Mikaela. Tuan David sudah ke rumah sakit. Den Kenan sedang tidur" ucap Bu Anna. "O...begitu..Bu, kami berangkat ya. Bilang mama seandainya bertanya" ucap kak Mirza sambil berlalu dan merangkul ku. "Baik, tuan...?ucap Bu Anna.


"Selamat pagi...." ucap kak Mirza sambil merentangkan kedua tangannya ke arah matahari yang mulai menghangatkan bumi. Sebelum ia kembali melangkah ke mobil yang sudah ku dahului. "Okey...kita berangkat sayang" ucapnya sambil men-stater mobil sport silver-nya yang langsung meraung gahar menghiasi halaman villa.


Pukul delapan lewat sepuluh menit. "Selamat pagi, Tuan..." sapa seorang barber. "Pagi... Hm, saya ingin model ini" ucap kak Mirza sambil menunjuk sebuah gambar. "Berapa lama? ucap kak Mirza lagi. "Tiga puluh menit.." ucap pegawai tersebut. "Jika bisa lima belas menit ku bayar dua kali lipat dan ini untukmu" ucap kak Mirza sambil mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. "Baik, Tuan" ucap pegawai sumringah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dengan cekatan pegawai tersebut langsung memangkas rambut kak Mirza sesuai permintaan. Dan lima belas menit pun berlalu, pemangkas tersenyum karena pekerjannya telah selesai. Kini ia tengah merapikan potongan-potongan yang belum rapi. "Selesai, Tuan..." ucapnya. Kak Mirza pun tersenyum menatap potongan rambut barunya pada pantulan cermin di depannya. "Good... aku suka" ucap kak Mirza sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribuan seperti janjinya. "Terima kasih, Tuan..." ucap pegawai tersebut sumringah sambil mengangguk takzim. Kami pun berlalu setelah menyelesaikan pembayaran pada kasir.


Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Aku menatapi kak Mirza dengan tampilan barunya. "Kenapa....? Tampan banget ya...?" ucap kak Mirza membuyarkan lamunan nakal ku. Aku tertunduk menyembunyikan rona di wajahku. Kak Mirza pun tergelak menatapku. Tak lupa sebelah tangannya mengusap pucuk kepalaku. Lima belas menit sudah kami lalui dan menghantarkan kami pada deretan gedung-gedung. Ini adalah kampus, satu diantara perguruan tinggi ternama di kotaku


Kampus yang pernah menjadi kujadikan mimpi.


"Kak Mirza...!" teriak beberapa mahasiswi saat melihat kedatangan kak Mirza di depan sebuah gedung. Obrolan pun terjadi diantara mereka. Dan kak Mirza meladeninya dengan senang hati. "Dasar Playboy..." ucapku yang menatapnya dari dalam mobil. Ada desiran aneh yang menelusup di dalam hatiku. Aku sadar, aku sedang cemburu. Mataku terus menatap kerumunan mahasiswi dimana kak Mirza berada. Kesal dengan situasi tersebut aku pun membuang pandanganku ke arah lain. Dan baru saja aku melakukannya, aku dikejutkan dengan hasil tangkapan saat ini. Ku tajamkan pandanganku, sekedar meyakinkan. Dan benar mataku menangkap sosok yang ku kenal tengah berjalan melintasi halaman parkir. "Sherlly....!" teriakku. Yang dipanggil pun segera mencari sumber suara. Aku pun melambaiakan tangan penanda bahwa aku lah yang telah memanggilnya.


"Fara....!" teriaknya setelah mengetahui si empunya suara. Berpelukan kami melepas rindu. "Kemana saja. Ponselmu tak dapat kuhubungi. Ferry juga..." ucapku sendu. "Panjang ceritanya sayang. Em, ponselku hilang. Ferry kuliah di luar kota dan telah ganti nomor ponsel. Ia sempat memberikannya kepadaku, tapi karena ponselku hilang jadi lose contact dech..." ceritanya. "Bagaimana kabarmu? ucapnya sambil menatapku. "Baik. Aku baik. Oya, bukankah kau pun kuliah di luar kota juga?" ucapku sambil mengingat. "Yuph...panjang ceritanya. Kapan kita bisa ngobrol? Aku kangen loh. Oya, emang kak Mirza tidak cerita apa pun?" ucap Sherlly. Aku menggeleng. "Emang apaan..?" tanyaku. "Nanti aku ceritakan. Nomor ponsel mu, sayang..." ucap Sherlly sambil menyodorkan ponselnya. Aku pun langsung mengetikkan dua belas angka pada ponselnya.


"Aku buru-buru. Ada jam kuliah. Oya, ada urusan apa di kampus ini?" ucapnya. "Aku menemani kak Mirza..." ucapku yang disambutnya dengan meng-o singkat. "Okey...nanti disambung lagi. aku buru-buru sayang..." ucapnya sambil memelukku dan berlalu. Aku menatapnya tanpa berkedip. Sejenak aku tertegun. "Cerita... Cerita apa ya. Seingatku kak Mirza tidak cerita apa pun tentang Sherlly" ucapku lirih.


"Hei...melamun ya!" ucap kak Mirza membuyarkan lamunanku. "Astaga, kak Mirza...!" ucapku sambil memukuli lengannya. Ia pun tertawa sambil mengucap maaf. "Bagaimana skripsinya?" ucapku penasaran. Kak Mirza hanya tersenyum. "Ayolah... penasaran nieh" ucapku sambil mengguncang lengannya. "Skripsiku di terima dan minggu depan aku sidang seperti yang dijadwalkan..." ucap kak Mirza sumringah. "Alhamdulillah...." ucapku yang langsung memeluk erat lengannya. "Selamat ya, kak.." ucapku. "Masih satu tahap lagi, sayang. Dan bagian ini yang terberat" ucap kak Mirza dengan senyum khas dan dua lubang pada pipi yang menghiasinya. Jika sudah begitu, auto meningkatlah ketampanannya. "Em, Fara yakin kakak bisa melaluinya" ucapku sambil mengusap lengannya.


"Tapi Fara kesal..." ucapku lirih sambil melepaskan gelayutanku pada lengannya. "Kenapa...?" ucap kak Mirza yang tetap fokus pada jalanan. "Memang seperti itu ya menanggapi obrolan dari banyak mahasiswi?" ucapku sambil membetulkan letak dudukku. "O...cemburu ya?" ucapnya terkekeh. "Seperti apa rasanya cemburu, sayang...? Enak?" ucap kak Mirza yang ku jawab dengan gelengan kepala. "Seperti itulah perasaanku jika melihatmu bahagia dan tertawa bersama laki-laki lain, walaupun itu bang David" ucapnya sambil mengacak sembarang pucuk kepalaku. Aku terdiam. "Wah, istri cantikku sudah mulai merasakan cemburu. Yes...!" ucapnya sambil tergelak. "Ya , memang aku cemburu...Puas!" ucapku setengah teriak. "Sini..."ucapnya berisyarat agar aku mendekat padanya. Dan benar saja sebelah lengannya langsung merengkuh bahuku. "Kita ke kantor ku dahulu ya..." ucapnya.

__ADS_1


To Be Continued....


__ADS_2