Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 36. Sebuah Pengakuan ...


__ADS_3

Pukul sepuluh lewat sepuluh menit ketika kami memasuki sebuah parkiran gedung perkantoran. Sebuah perkantoran dengan taman yang asri. "Selamat siang, Tuan..." ucap pak Dirman dan seorang security. "Maaf, Tuan...Tuan sudah ditunggu di ruang meeting" ucap pak Dirman lagi. "Baik...Terima kasih, pak" ucap kak Mirza sambil melangkah. Tangannya menggenggam jemariku dengan erat. Entah mengapa ia melakukannya, padahal ini di kantor. Tempat yang tak lazim untuk melakukan hal seperti ini. Langkah kak Mirza pun terkadang amat panjang, sehingga terkadang aku sulit mensejajarinya juga. Namun yang membuatku rikuh adalah saat ada banyak pasang mata yang menatap, terlebih pada genggaman tangan kami. Mungkin mereka bertanya-tanya tentang keberadaan ku saat ini. "Siang, Tuan..." ucap seorang pegawai setengah baya yang ternyata wakil kak Mirza di kantor. "Sudah ditunggu di ruang meeting. Bahan meeting saya kirimkan kemarin. Tuan sudah menerimanya?" ucap pak Danu. Kak Mirza pun mengiyakannya sambil menerima salinan berkas yang dimaksud. "Pak Danu tolong siapkan satu kursi lagi di ruang meeting" ucap kak Mirza sesaat setelah menghentikan langkahnya. "Untuk apa, Tuan..." ucap pak Dani terssnyum. Sepertinya pak Danu sebenarnya mengetahui keinginan kak Mirza. "Untuk istriku.." ucap kak Mirza sambil melihat padaku. Mendengar itu pak Danu terlihat terkejut. Ia tertegun dan menatapku. "Pak Danu..." ucap kak Mirza. "O...Ya, Tuan. Maaf..." ucap pak Danu gagu. "Nanti saya ceritakan. Sekarang tolong siapkan, pak" ucap kak Mirza. "Apa tidak sebaiknya saya menunggu di tempat lain saja, kak..." ucapku. "Tidak perlu seperti itu. Ikuti saja ya, sayang..." ucap kak Mirza sambil mengusap pucuk kepalaku. Dan pak Danu pun tersenyum melihat polah direkturnya. "Baiklah, Tuan...Saya siapkan" ucap pak Danu sesaat sebelum berlalu.


Pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Aku memasuki ruang meeting. Beruntung aku memakai blazer jadi hampir mirip dengan pakaian kerja. Berdiri seluruh pegawai menyambut kehadiran kak Mirza yang tampak tersenyum ramah. "Silahkan Nyonya..." ucap pak Danu kepadaku. Sebuah kursi ternyata benar sudah disiapkan untuk ku. Melihat itu aku memandang kak Mirza dan ia pun sedikit membulatkan matanya ke arah ku. Itu adalah sebuah perintah bagiku agar aku memenuhi segala keinginannya. Dan dengan demikian, aku pun segera duduk pada kursi yang sudah disiapkan.


"Baik kita mulai meeting hari ini..." ucap kak Mirza penuh kharisma. Aku melihatnya seperti melihat sisi lain kak Mirza Pembawaan yang amat berbeda saat berada di rumah ataupun saat di kampus seperti yang tadi ku lihat. Hampir tiga puluh menit aku berada dalam ruang meeting dan aku semakin jatuh hati pada semua yang ada padanya. Kedewasaan kak Mirza dalam beradu pendapat dengan segenap kepala seksi telah menawan ku. Ia begitu piawai berolah kata memberikan ide-ide luar biasa yang mampu diterima semua kepala seksi.


Pukul sebelas lewat lima menit. Meeting masih berlangsung. Segala ide brilliant pun tertuang pada forum. Dan untuk selanjutnya terkumpullah langkah-langkah terbaik untuk lebih menyukseskan perusahaan. "Bagaimana, menurut Nyonya Fara..?" tanya kak Mirza tiba-tiba yang tentu saja membuat hatiku kalang kabut. Namun bukan Fara namanya jika aku tidak dapat menutupi kegundahan ku tersebut. Aku tersenyum menatap kak Mirza. "Silahkan, Nyonya. Penting juga mendengar pendapat nyonya" ucap kak Mirza lagi sambil sedikit menaikkan alisnya. Mendapat desakan tersebut, ingatanku langsung tertuju pada ayah saat menyusun strategi marketing. "Em, maaf. Saya rasa untuk pengenalan produk baik barang ataupun jasa promosi yang paling jitu adalah promosi dari kita untuk kita" ucapku. "Bisa dijelaskan, Nyonya maksud dari promosi dari kita untuk kita" ucap seorang pegawai. "Em, maaf. Promosi dari kita untuk kita adalah..." ucapku terhenti dan melihat kak Mirza yang mengangguk sebagai isyarat agar aku melanjutkan penjelasan. "Setiap karyawan adalah duta promosi. Bukankah setiap karyawan mempunyai jaringan berbagai media sosial. Jadi setiap karyawan mempunyai tanggung jawab untuk berpromosi melalui media sosialnya masing-masing. Dengan demikian, biaya promosi dapat lebih ditekan" ucapku lagi. Dan kali ini membuat Kak Mirza hingga memberikan applause untuk ku yang diikuti oleh kepala seksi yang ada di ruang meeting. Senyumnya mengembang. "Kemudian ia merengkuh bahu dengan sebelah lengannya. Sontak hal tersebut membuat semua mata menatap ke arah kami. "Dia Nyonya Mirza. Kemarin kami menikah" ucap kak Mirza tersenyum sumringah. Dan pernyataan tersebut justru membuat mereka saling bertatapan seakan tak percaya.


"Ini..." ucap kak Mirza menunjukkan sebuah video dari laptopnya dan menayangkannya. Video yang berisi rekaman pernikahan kami. Suasana jadi riuh. "Wah, mengapa tuan tidak mengundang kami" ucap seorang kepala seksi. "Nanti akan diundang. Ini baru acara ijab qobulnya. Nanti akan ada acara lainnya. Yang pasti, tolong bantu saya untuk menghilangkan rumor-rumor yang ada di kantor ini. Sudah sejak lama saya mengetahuinya dan saya juga merasakan upaya-upaya dari semua orang untuk menjadikan nyata rumor tersebut" ucap kak Mirza dengan tegas. "Baik, Tuan..." ucap semua hampir bersamaan. "Baik, meeting hari ini cukup. Jadwalkan kembali meeting untuk breakdownd rencana kita dalam Minggu ini juga" ucap kak Mirza dengan kharismanya.


Pukul sebelas lewat lima puluh menit. Aku mengiringi langkah kak Mirza keluar ruang meeting. "Pak Danu tolong panggilkan pak Bowo. Saya ingin memesan sesuatu" ucap kak Mirza sambil mengeratkan genggaman tangannya. Langkah kami tak surut sedikitpun walau ada banyak tatapan penuh tanda tanya dari segenap karyawan. Terutama dari seorang perempuan yang berdiri di sudut ruangan dan sejak tadi tiada henti menatap setiap langkah kami. Wajahnya begitu pasi.


Hingga dalam ruangan kak Mirza, barulah aku merasa lega. Aku serasa terbebas dari berbagai macam tatapan yang ada. Duduk aku pada sofa sambil memandang kak Mirza yang sudah asyik kembali dengan pekerjaannya. "Masuk..." ucap kak Mirza ketika pintu ruangan diketuk. "Maaf, Tuan. Tuan memanggil saya?" ucap seorang OB. Mungkin ini pak Bowo. "Em, Ya...Pak" ucap kak Mirza sambil tersenyum. "Pak tolong ke resto yang biasanya. Pesan menu yang biasa saya pesan. Buat dua porsi ya untuk saya" ucap kak Mirza sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada pak Bowo. "Baik, Tuan..." ucap pak Bowo sesaat sebelum berlalu.


Sepeninggalan pak Bowo, kak Mirza duduk di sebelahku. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang begitu khas. "Kita makan di sini saja ya, sayang..." ucap kak Mirza yang langsung mengusap pucuk kepalaku. "Em, Kak. Maaf sebelumnya. Fara penasaran dengan kata rumor tadi. Kalau boleh tahu apakah itu?" tanyku hati-hati. Mendapat pertanyaan tersebut kak Mirza pun menghela nafas dalam. Cukup lama dia hanya diam, tanpa kata. Dan hanya matanya saja yang menatapku lekat. Sesekali tangannya, lagi lagi mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. "Ayolah, Kak. Cerita... Oya, tadi ada pegawai perempuan cantik yang menatap tiada henti. Siapa dia? Pacar kakak yang berhasil dipatahkan hatinya?" ucapku. "Aku tidak pernah memiliki seorang perempuan yang istimewa selain kau. Sungguh..." ucap kak Mirza sambil membetulkan letak kerudungku. "Lalu siapa perempuan itu?" tanyaku. "Ada yang mencoba menjodohkan kami. Namun gagal, karena aku tidak pernah menggubrisnya. Karena di hatiku hanya ada Fara. Walaupun saat itu aku sedang kalut karena kau menghilang bak ditelan bumi" ceritanya. "Oleh karena itu, aku ingin segera menghalalkan mu agar aku tidak kehilanganmu lagi" ucapnya sambil mencubit hidungku. Aku tersenyum dan merasa tersanjung atas penuturan kak Mirza tersebut.

__ADS_1


Pukul dua belas lewat empat puluh menit. Ketukan di pintu berhasil melonggarkan dekapan kak Mirza sesaat setelah kami menunaikan sholat Dzuhur. Dan sekali lagi aku mengecup punggung dan telapak tangannya. "Masuk..." ucap kak Mirza sambil melipat sajadah dan memberikannya padaku. "Maaf, Tuan, Nyonya..." ucap pak Bowo sambil meletakkan pesanan kak Mirza di meja. "Terim kasih, Pak..."ucap kak Mirza sesaat sebelum pak Bowo berlalu.


Tak lama kemudian, kami pun sudah khusyuk menikmati menu yang tersaji. Saling membagi makanan atau saling menyuapi dengan tangan langsung atau pun membersihkan sisa makanan yang menempel pada wajah pun kami lakoni. Dan ini bukan keromantisan pasangan pengantin baru, namun kak Mirza memanglah sosok romantis sebelum dan sesudah kami menikah.


"Oh, maaf. Aku kira tidak ada tamu..." ucap seorang laki-laki bertubuh tegap yang sekonyong-konyong membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. "Kak Evans..." ucapku lirih. "Hei, Kak...masuklah" ucap kak Mirza sambil membetulkan posisi duduknya yang semula begitu dekat denganku. Dan yang dipersilahkan pun langsung masuk dan duduk pada sofa. Matanya langsung tertuju pada ku. "Apa kabar, Fara..?" ucapnya sambil tersenyum. "Baik, Kak..." ucapku pada salah satu kakak lelaki kak Mirza dari ibu yang berbeda itu. "Ada apa, Kak?" tanya kak Mirza. "Aku hanya menyampaikan laporan ini..."ucap kak Evans sambil menyodorkan sebuah berkas. "Baik. Terima kasih, Kak. Nanti saya periksa" ucap kak Mirza sambil tersenyum. "Oya, menurut istriku kalian sudah bertemu di kampus ya?" ucap kak Evans yang menatapku. "Fara...? istri kak Evans...?" ucapku sambil berusaha mengingat-ingat. Aku pun menatap kak Mirza yang ternyata juga sedang menatap ku seakan ada yang ia cari. "Fara tidak tahu, Kak...Maaf" ucapku kemudian yang membuat kak Evans terkekeh. "Aduh, Fara. Yang kumaksud adalah Sherlly..." ucap kak Evans.


Deg.


Aku tertegun. Mataku lekat menatap kak Evans. Seakan tak percaya. Namun ku lihat tiada keraguan sedikitpun terbersit di sana. Hanya ada kesungguhan. Seiring aliran darah yang kembali mengaliri setelah sesaat seakan berhenti, aku pun memberanikan diri berkata singkat. "Sherlly.." ucapku. "Ya, Sherlly. Kak Mirza mu tidak bercerita?" ucap kak Evans yang membuatku langsung menatap kak Mirza, meminta penjelasan. "Jangan libatkan aku. Aku lelah..." ucap kak Mirza sedikit kesal.


Evans Flashback On


Hatiku berdegup hebat saat melihat gadis yang telah dijodohkan kepadaku. Tak henti aku selalu mencuri pandang kepadanya. Wajahnya yang cantik dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos membuat aku semakin tertarik. Dan walaupun pandanganku kutujukan pada para sosok gadis yang lainnya yaitu Fara namun sesungguhnya hatiku sudah terpaut pada Sherlly. Gadis yang sudah dijodohkan denganku. Kuperahtikan dengan ekor mataku, sosok gadis yang sudah memikat ku itu, terutama saat ia berbicara ataupun bercanda dan mengolok Ferry. Semuanya telah membuatku jatuh hati, mungkin berulang kali setiap ia berpolah yang berhasil membuat irama jantungku tak menentu. Dan aku makin bahgaia saat aku mengantarnya pulang ke rumah. Situasi saat ini benar-benar mendukungku. Rintik hujan yang tak berkesudahan membuat Ferry, Fara dan Sherlly tak dapat menolak penawaran ku.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menembus guyuran hujan yang semakin deras. Sesekali mataku mencuri pandang pada Sherly dari kaca spion mobil. Kuakui Fara memang jauh lebih cantik, namun entah mengapa hatiku lebih memilih Sherlly.

__ADS_1


Setelah pertemuan dengan Sherlly, aku langsung menemui Mama Melisa. Aku meminta mama untuk meminang Sherly. Lebih cepat lebih baik begitu kata aku. Di luar dugaan, mama menyetujuinya. Menurut mama hal ini memang sudah semestinya dilakukan, karena perjodohan ini sudah terjadi sejak lama dan mungkin ini adalah waktunya.


Malam harinya Mama, aku, Mirza dan Bang David berkunjung ke rumah Sherly. Mama pun mengutarakan kembali maksud dan tujuan kami saat itu. Dan keluarga Melisa pun menerima dan menyetujuinya. Sherly, ia begitu terkejut saat melihat ku apalagi setelah mengetahui siapa diriku dan apa maksud tujuanku sebenarnya. Pun demikian ia menerima perjodohan ini. Dan malam ini juga waktu pernikahan pun ditetapkan yaitu 2 minggu setelah pertemuan saat ini. Ada rasa bahagia yang berseliweran di relung hatiku.


Waktu pun berlalu begitu cepat dan tibalah di waktu seperti yang sudah ditetapkan yaitu hari dimana pernikahanku dengan Sherlly. Walau waktu persiapan begitu singkat namun segala sesuatunya berjalan sesuai dengan keinginan. Beriringan kendaraan menuju rumah Sherlly. Mama Melissa, Mirza, bang David dan beberapa kerabat mengantarku dengan sukacita. Sayangnya Kak Roy tidak menyertai kami. Ia masih saja sibuk mencari perempuan yang ia cintai itu. Perempuan yang menurutku hanya khayalannya saja. Tentang siapa dan bagaimana perempuan itu kak Roy tidak pernah menceritakannya. itu menjadi kerahasiaannya.


Pukul delapan tepat. Acara pun dimulai. Jantungku tiada henti berdegup hebat. Degupnya sungguh tak menentu. Entah kram apa yang sedang dimainkannya. "Aku terima nikah dan kawinnya Sherlly Maheswari Az-Zahra binti Hermawan Kertajaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai..." ucapku dengan lantang dan tiada keraguan sedikit pun. Ucap syukur pun terucap ketika dua saksi menyatakan sah atas kalimat ijab kabul ku tersebut. Aku tersenyum bahagia menatap Mama Melisa dengan bulir bening yang mengambang di kedua matanya ataupun senyum sumringah Mirza dan Bang David. Terlebih saat menatap rona bahagia di wajah Sherly, gadis yang kini sudah sah menjadi istriku. "Kau bahagia...?" ucapku sesaat setelah ia mengecup lembut keningnya. Ia pun mengangguk dan tertunduk malu.


Evans Flashback Off


Aku tertegun menyimak penuturan kak Evans yang menurutku begitu tiba-tiba. Aku masih saja belum mempercayainya. "Kenapa, tidak percaya ya...?" ucap kak Evans. "Sherlly itu sahabatku bahkan bagai saudara. Rasanya aku..." ucapku menggantung dan menatap kak Mirza yang sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya. "Tidak rela? Ow...pasti Mirza sudah bercerita tentang kehidupan abu-abu ku? Itu masa lalu. Aku sudah bertaubat. Aku ingin memulai hidup baru bersama Sherlly. Sungguh..." ucap kak Evans sendu. "Tolong jaga Sherlly ya, Kak. Jangan pernah kecewakan ia..." ucapku yang di jawabnya dengan senyuman dan anggukan kepala.


"Oya, Bagaimana dengan tuan Darius? Waktu itu Kak Evans pernah menemui ayah dan berbicara tentang tuan Darius..." ucap ku. "Kau kenal tuan Darius seperti ayahmu?" tanya kak Evans menatapku. "Darius Dia adalah..." ucap kak Evans menggantung saat dipotong kak Mirza. "Cukup...cukup... pembicaraan nya dilanjutkan kapan-kapan lagi. Kak Evans aku minta berkas bulan kemarin. Tolong ambilkan..." ucap kak Mirza berusaha menyudahi pembicaraan. Kak Evans pun menatap kak Mirza sesaat sebelum berlalu. "Ayolah kak...jangan menghambat pekerjaanku" ucap kak Mirza sambil sedikit membulatkan matanya. Aku menatap keduanya sambil tersenyum. Namun diujung hatiku ada pertanyaan besar yang menggantung.


To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2