Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 89. Mertua Oh Mertua


__ADS_3

Nyiur melambai mengiringi deburan ombak yang menghempas karang. Lambaiannya seakan memanggil siapa saja untuk mendekat. Aku tegak berdiri menatap lepas lautan. Menguras habis segala makna yang ada. Namun tak satu pun yang mampu menenangkan hati. Semua menjadi samar bahkan nyaris hilang di tengah kegamangan ku saat ini.


Tak berapa lama kemudian, aku pun menyimpan tatapanku pada ujung kaki yang tengah dibasuh riak gelombang yang datang dan pergi ke tepi pantai. Ah, mungkin seperti inilah perasaan kak Keanu terhadapku. Kadang kuat merapat, kadang menjauh tak berarah entah kemana. Bak perahu di tengah gelombang. Terombang-ambing berharap ditenangkan nahkoda. Ini fakta, terlebih sejak kedatangan Dania. Perempuan pilihan mama. Perempuan yang disiapkan mama untuk menggantikan posisiku di sisi kak Keanu. Aku gamang mendapati situasi ini. Tak terasa bulir bening jatuh dekat kakiku yang sedang dibasuh riak ombak.


Jatuhlah terus air mata. Jatuhlah... Biarkan riak itu membawamu serta. Dan ku ikhlaskan menjauh dari ku. Habis...habislah air mata. Aku berharap dengan demikian hanya akan menyisakan bahagia saja untuk ku. Ombak...jangan bawa kembali air mataku ke tepian. Biarkan ia menjadi bagian mu di tengah samudera. Aku berharap dengan demikian hanya akan menyisakan tawa saja untuk ku. Aku meminta nya dengan segala harap...


Kemudian aku terkesiap ketika memercik riak gelombang ke wajah. Ah, ternyata riak ombak tetap kembali ke pantai. Riaknya membawa kembali bulir air mata ku yang telah samar. Aku menjadi sadar bahwa duka dan bahagia itu selalu beriringan. Tak pernah terpisah. Seperti siang-malam, Hitam-Putih, gelap-terang, dan suka-duka. Masing-masing berdampingan bak kedua sisi mata uang.


Dan berbekal pada sebuah keyakinanlah aku masih mampu bertahan, bahwa Allah sudah menyiapkan cerita terindah untuk ku setelah badai menerpa. Mentari akan menjadi kuat kembali setelah badai melanda. Dari semua itu, aku masih berusaha ikhlas menerima semua keadaan ku.


Namun pada situasiku saat ini, aku harus apa? "Dania..." ucapku lirih penuh pilu. Aku menyusut air mata sambil menatap kembali lautan. Hamparannya masih menawarkan bermacam makna yang pada situaaiku menjadi masih samar.


Terbayang kembali gerai rambut hitamnya, tutur katanya yang merayu manja dan wajahnya yang selalu menampilkan kecantikan paripurna juga gairahnya yang ia tampakkan begitu menggoda. Ah, sempurna Allah menciptakan mu Dania. Kemudian fikiranku menyasar pada gelak tawa milik kak Keanu. Gelak yang begitu bahagia saat menerima candaan Dania malam tadi. Hah...rasanya begitu menyesakkan dada hingga berulangkali aku harus menghela nafas dalam.


"Aku harus apa?" ucapku lirih kembali. Haruskah aku bertahan? Ataukah memilih pergi? Aku gamang. Dan air mata ku pun tak sanggup ku bendung lagi. Seiring isak ku yang kian menjadi, angin pun berhembus menerbangkan ujung kerudungku yang panjang menjuntai juga sebagian baju panjang longgar ku pakai. Terpaannya seakan berbisik dan membuaiku. Sesaat aku terlena dengan buaian itu. Begitu lembut dan tenang sapuannya. Namun kemudian aku terhenyak oleh suara deburan ombak yang menghempas batu karang. Suaranya bergemuruh mengikat kegamangan ku. Kegamangan yang berbuah perang batin dan sulit ku damaikan.


Inilah kegamanganku, sisi lain jiwaku ternyata membenarkan perbuatan mama. Memilihkan perempuan lain untuk kak Keanu. Aku yakin mama ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan mungkin ini jalan terbaik untuk aku dan kak Keanu. Mungkin mama mengingat situasiku yang tak kunjung pulih sempurna. Selain itu, belum hadirnya momongan di hampir tiga tahun pernikahan kami menjadi kali kedua alasan mama untuk memisahkan ku dari kak Keanu. Aku semakin terenyuh ketika mengetahui alasan mama tersebut dipercakapan kak Keanu bersama mama waktu itu.


"Dengarkan mama, Keanu. Mama tidak memintamu meninggalkan Fara. Mama tahu kau mencintai Fara. Tapi mama hanya meminta mu untuk menerima Dania sebagai istri keduamu" ucap mama. "Ma, itu akan menyakiti Fara. Jika Fara tersakiti, maka aku pun akan merasa demikian" ucap kak Keanu menenangkan hati. "Mama ini sudah tua, siapa yang nanti mengurus mu jika mama tiada? Mama juga ingin menggendong cucu dari mu. Terimalah Dania, Keanu. Dia baik dan bisa mengurus mu" ucap mama sendu. Dan hal itu membuat kak Keanu terdiam. Tatapannya sendu. Tangannya merengkuh mama dan memeluknya. "Ma..." ucap kak Keanu lirih. "Aku akan mencobanya, Ma..." ucap kak Keanu.


Deg.


Kalimat terakhir membuatku terhenyak. Tak bisakah kau menolaknya, kak? Aku tahu kata-kata seorang ibu bak perintah bagi anaknya, tapi setidaknya mengertilah bagaimana perasaan ku.


Alih-alih aku mengerti kekhawatiran mama, ternyata benarlah separuh jiwaku menolak keras apa yang dilakukan mama. Aku tidak mampu menolak atau membuang semua perasaan ini. Perasaan yang selalu menyelimuti sukma. Ya, perasaan bahagia dan cinta. Perasaan yang benar-benar aku inginkan. Perasaan yang selalu hadir hanya untuk laki-laki yang sudah memenuhi janjinya untuk kembali padaku. "Kak Keanu....!" teriakku yang langsung samar karena deburan ombak yang menghantam batu karang.

__ADS_1


Aku kembali terisak. Ada pilu yang menelusup dan menggelayut di ujung hati. Pilunya begitu menyayat. Ini adalah buah kegamangan ku yang lain. Guncang tubuhku hebat. Dan serasa tak sanggup menahan beban tubuh, kaki ku lunglai. Aku terduduk dan membiarkan sebagian tubuhku dihempas riak gelombang. Dengan demikian, mungkin aku terbangun dari mimpi dan menjadi sadar akan kenyataan yang tengah aku alami. Ini adalah pengingat duka yang ada.


"Nyonya..." panggil mang Dudung, sopir ku yang berdiri tak jauh dari ku. "Aku baik-baik saja, Mang" ucapku kemudian. "Nyonya..." panggil mang Dudung lagi. Akhirnya aku pun mendongakkan wajah dan menatapnya. Namun ternyata mataku menyasar pada sosok yang berdiri di sebelahnya. Sosok laki-laki pengganti ayah. Ia saudara laki-laki ku walau berbeda ibu. Ia menatapku pilu walau senyum berusaha ia sunggingkan.


Seketika aku berdiri dan menghambur dalam dekapannya. Tangisku pecah. Tubuhku kembali guncang. "Kak Noah..." ucapku berulangkali. "Aku tahu, Fara. Aku tahu semuanya..." ucap kak Noah sambil mendekapku dan sesekali mengusap pucuk kepalaku.


"Kak, kemana saja? Hampir dua tahun menghilang tanpa kabar" ucapku saat duduk pada sebuah kursi kayu sambil menyusut air mataku. Ia tersenyum menatapku. "Ada misi yang harus kakak selesaikan. Tapi jangan kau kira, aku tidak tahu semua hal tentang adik kesayanganku ini" ucap kak Noah sambil mengacak pucuk kepalaku.


"Aku harus bagaimana, Kak...?" ucapku sendu sambil menatap hamparan luas lautan. "Ikut, aku..." ucap kak Noah. Sebelah tangannya menarik lenganku. "Kemana...?" tanyaku sambil mengekori langkah kak Noah walau sedikit sulit. "Mang, saya bawa Nyonya ya. Jangan bilang tuan muda" ucap Kak Noah. Seakan mengetahui situasiku, mang Dudung pun langsung diiyakan.


Aku masih menatap kak Noah yang fokus pada jalanan. Ah, pekerjaan kakak ku satu-satunya ini telah membuatnya datang dan pergi bak angin semilir di penghujung pagi. Tiada yang tahu kapan ia datang ataupun pergi. Semua terjadi begitu saja, tiada berkabar. Sejenak aku melupakan kepiluan atas masalahku..Kini hati dan mataku menyasar pada setiap goresan yang ada pada wajah dan lengan kak Noah. Profesinya telah membuat kak Noah harus menerima segala resiko. Mulai dari deraan fisik hingga nyawa pun hampir melayang. Ah, tapi lagi-lagi itu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang telah mendarah daging pada diri kak Noah.


"Kenapa menatapku seperti itu" tanya kak Noah sambil melihatku dengan ekor matanya. "Tak bisakah beralih profesi? Semakin hari Fara semakin khawatir saja" ucapku sambil terus menatapi bekas luka yang ada. "Hei, aku abdi negara. Apa Fara tidak bangga?" ucap kak Noah sambil membelokkan mobil memasuki halaman sebuah rumah. "Aku bangga, kak. Tapi kakak ini satu-satunya keluargaku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kakak" ucapku sambil memegang lengan kekarnya. "Jangan cengeng ach. Fara yakin dsn berdoa, maka kakak mu ini akan baik-baik saja" ucap kak Noah sambil mengacak pucuk kepalaku. Aku pun tersenyum menatapnya. Jika sudah demikian, aku akan memilih nyerah mengungkapkan keluhan.


Matahari semakin kuat membagi sinarnya. Hawanya saja begitu menyengat. Sedikit tergesa, langkahku mengekori kak Noah hingga tepat di depan pintu kayu berukir. "Rumah siapa..?" tanyaku setengah berbisik. "Nanti Fara juga tahu..." ucap kak Noah sambil membunyikan bel di sudut dekat pintu.


"Tuh..." ucap kak Noah kemudian. Aku pun langsung mengedarkan pandangan pada sosok laki-laki yang berdiri memunggungi. "Hei, pak dokter..." ucap kak Noah. Dan sepertinya panggilan tersebut telah mengejutkan laki-laki yang berdiri memunggungi dan dipanggil dokter itu. Namun bukan dokter itu saja yang satu-satunya berhasil dikejutkan. Ya...aku lah orang selanjutnya yang justru paling terkejut. Terlebih saat laki-laki yang dipanggil dokter itu memutar tubuh. Wajahnya benar-benar tidak asing. "Dokter Faaz..." ucapku lirih sambil sedikit membulatkan mata.


Berjabat tangan dan berpelukan kedua laki-laki di hadapanku. Seakan keduanya adalah teman baik yang sudah lama tak bertemu. Mataku masih saja menatap dokter Faaz dan kemudian menatapku. Ia tersenyum sambil mengangguk ke arahku. "Dia adikku, Fara..." ucap kak Noah mengenalkan ku. "Kami sudah bertemu" ucapnya sumringah. "Oya...?" ucap kak Noah sambil tersenyum dan menatapku. "Em, ya. Di rumah sakit. Aku ingat. Seminggu yang lalu..." ucapku gagu karena matanya tak lepas menatapku. "Hei...dia sudah menikah" ucap kak Noah yang kembali mengejutkannya. "Waaah...sayang sekali" ucap dokter tergelak.


Semilir angin menerpa tubuhku. Hawanya menelusup ke balik pakaian ku yang basah sebagian. Aku sempat gigil karena hembusan angin tersebut. "Jadi ini adikmu yang kau ceritakan itu, Noah? Cantik..." ucap dokter Faaz. "Em, silahkan duduk, Nyonya. Saya akan memeriksa kaki mu lagi" ucap dokter Faaz. Tangannya berisyarat menunjuk pada sebuah kursi kayu dekat kami berada. Sedikit ragu aku pun menuruti ucapannya.


Kemudian terkekeh dokter Faaz. Aku tertegun. Apa yang membuatnya terkekeh sedemikian rupa. "Noah, kau culik darimana adikmu ini? Bajunya basah seperti ini" ucap dokter Faaz. Kak Noah pun terkekeh sambil menepuk keningnya. "Sebentar ya..." ucap dokter Faaz sesaat sebelum berlalu.


"Maaf ya, aku tidak memperhatikan mu" ucap kak Noah sambil mengusap pucuk kepalaku. It's okay...aku baik-baik saja kak. Aku membatin sambil mengurai senyum menatap kak Noah yang juga masih menatapku. Berulangkali ia menghela nafas panjang dan ku rasa begitu berat. Sepertinya ada Beban yang sedang menghinggapinya. "Ada apa, Kak..." tanyaku sambil mencubit pipinya karena aku tahu fikirannya sedang mengembara entah kemana.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, dokter Faaz datang. Ia menjinjing sebuah paper bag berwarna biru. "Ruang gantinya di sudut sana" ucap dokter Faaz sambil menunjuk sebuah tempat dan menyodorkan paper bag yang ia bawa. Aku pun menatap kak Noah seakan meminta persetujuannya. Seakan mengerti maksudku kak Noah pun mengangguk sambil tersenyum.


Sedikit ragu langkah ku menyusuri jalan setapak diantara kuncup bunga-bunga yang tampak basah setelah di hujani air oleh dokter Faaz tadi. Bulir beningnya masih menempel dan hanya satu dua yang terjatuh dihembus angin lalu. Tak lama langkahku berhenti pada sebuah pintu. Kemudian segera saja aku memasukinya. Dan mengganti pakaianku. Pun demikian, mataku terus beredar waspada menilik tiap sudut ruangan. Hingga selesai berganti pakaian pun kewaspadaan ku tak pernah surut. Bahkan langkah ku pun menjadi begitu hati-hati.


"Sudah selesai, Nyonya...?" ucap seorang laki-laki mengejutkanku. Karena rasa terkejut yang berlebihan, aku refleks melayangkan sebuah serangan kepada si empunya suara. Tak ayal lagi ia mengaduh ketika perutnya menjadi sasaran empuk pukulan ku. Aku terpekik saat mengetahui siapa laki-laki tersebut yang kini tengah mengaduh. "Maaf...dokter" ucapku gagu. Em, salah sendiri kenapa tiba-tiba muncul di hadapanku. Kan jurus kan. Untung bukan wajah tampannya yang terkena bogem mentahku. Seandainya terkena saja, mungkin ia makin meratap. Hehe...


Sementara itu, menyaksikan hal tersebut kak Noah tergelak hebat. Ia pun membantu dokter Faaz yang masih terduduk lesu karena bogem mentahku. "Maaf..." ucapku sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada dan menatapnya penuh salah. "It's okay..." ucapnya saat bangun dibantu kak Noah. Aku menyimpan tawa saat melihat bagaimana reaksi wajahnya. "Kakak-adik sama saja. Suka main jurus" gerutu dokter Faaz.


Pukul dua lewat lima menit. Saat dokter Faaz memeriksaku dengan teliti. Tak lebih dari sepuluh menit dokter Faaz memeriksa dan memberi stimulan pada kaki ku. "Sepertinya Nyonya terlalu lelah ini. Jangan terlalu dipaksakan. Semua ada waktunya" ucapnya ketika menyudahi stimulan singkatnya. "Kapan terakhit terapi?" tanya dokter Faaz menatapku. Aku tersenyum tanpa jawaban. "Mestinya jika ingin sembuh total, jangan hentikan terapinya. Dan satu lagi, jangan paksakan untuk melangkah berlebihan" ucap dokter Faaz.


"Jadi apa tindak lanjutnya?" ucap kak Noah penuh harap. "Bilang saja ke suami Nyonya, jika tidak bisa menjaga nyonya maka biarkan saya yang akan menjaga nyonya. Termasuk menjaga hati nyonya.." ucap dokter Faaz. Yaelah...dokter bisa saja.


"Aku serius, Faaz..." ucap kak Noah sedikit kesal. "Wow...tuan Noah marah" ucap dokter Faaz. " Begini saja, antarkan Fara satu kali dalam seminggu terapi dengan ku. Di rumah ini" ucap dokter Faaz. "Alternatif lain..." tanya kak Noah. "Em, panggil terapis ke rumah. Tapi aku tidak jamin cepat pulih ya kalau terapisnya selain aku" ucap dokter Faaz menatap kak Noah. "Astaga...bilang saja harus kau terapisnya dokter Faaz" ucap kak Noah sambil bermaksud melayangkan bogem mentah. "Eit...KDRT kalau begini caranya" timpal dokter Faaz sambil memasang jurus pertahanan.


Pukul dua lewat empat puluh lima menit. Saat mobil kak Noah melaju menerobos hujan yang baru saja mulai. Hingga pintu pagar kak Noah mengantarku. Dan sebuah lambaian tangan pun mengiringi laju mobil kak Noah hingga menghilang di ujung gang.


"Astaga...Fara. Darimana saja?" ucap mama Wina yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku. "Em...." belum sempat aku menjawab pertanyaan mama, aku mendengar suara terbatuk dari kamar Dania. Tapi ini suara laki-laki. Aku jadi penasaran. Langkahku langsung menyasar pada kamar yang ditempati Dania.


"Kak Keanu mu tadi jatuh di depan pintu" ucap mama.


Deg.


Tak ku hiraukan lagi apa yang diucapkan mama. Fikiranku hanya tertuju pada kak Keanu saja. Kulihat kak Keanu terbaring dengan luka pada dahinya. "Kak...." ucapku lirih sambil mengusap lengannya. "Kamu kemana saja Fara? Mama datang pun kau tidak ada. Untung tadi ada Dania. Jadi Keanu bisa cepat tertolong..." ucap mama.


Berapa kali mama harus menyebut namanya? Lalu mengapa harus di kamar yang di tempati Dania. Tak bisakah di kamar kami sendiri. "Maafkan aku, kak..." ucapku lirih. "Kau akan tersingkir, Fara..." bisik Dania.

__ADS_1


Deg.


__ADS_2