
Kangenku sudah terobati, namun ternyata menyisakan luka di hati. Dan lagi aku harus menerima kenyataan atas apa yang telah ku saksikan beberapa hari lalu. Sekali lagi aku harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan. Ternyata bahagianya kak Mirza telah melukai segenap jiwa ku. Dan setelah aku menimbang segala rasa aku sudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa aku harus menyelesaikan persoalan ini dengan segera. Dan hari ini aku sudah meminta bantuan pada Bu Anna. Kami bertemu pada sebuah mini market di ujung jalan. Kinanti kehadiran Bu Anna dengan berdebar. Tak lama aku melihat Bu Anna di pintu masuk areal parkir. Memarkir motor dan matanya tampak mengitari seluas areal parkir. Aku pun melambaikan tangan membaerinya isyaarat keberadaan ku. Tergopoh langkah nya menyusuri areal parkir menuju tempat dimana aku berada. "Nyonya Fara..." ucapnya dengan nafas memburu. "Maaf ya, Bu. Jadi meropatkan Bu Anna" ucapku sambil tersenyum dan membalas pelukannya. "Lama sekali, Nya. Walah semua jadi berubah sejak kepergian Nyonya" ucap Bu Anna. "Oya...?" ucapku tersenyum. Namun aku enggan menanyainya lebih jauh tentang maksud ucapannya tersebut. "Bu...Fara ingin meminta bantuan ibu. Tolong sampaikan pesan ini kepada Tuan Mirza" ucapku sambil menyodorkan amplop biru. Bu Anna pun menyambutnya dengan senyum sumringah, apalagi saat mengetahui maksud dari pesan tersebut. "Ibu bahagia, Nya. Apakah Nyonya benar-benar akan kembali pada tuan Mirza" ucapnya yang ku jawab senyum khasku.
Pukul tujuh lewat dua menit. Aku meninggalkan areal parkir minimarket dengan mobil merahku. Ku lajukan mobil dengan sedang saja menyusuri jalanan yang terbilang cukup ramai. Sepintas ku tatap langit begitu cerah membiru. Hanya ada awan putih tipis yang berarak saja yang menutupi sedikit wajah langit. Sementara itu mentari pun begitu gagah membagi sinarnya kepada bumi. Ini tanda hari akan cerah siang ini. Tak lama kemudian aku pun kembali menghentikan mobil di depan sebuah kedai yang cukup ramai. Sembari menunggu waktu aku pun memesan semangkuk bubur ayam yang menjadi kesukaanku itu. Dan memanglah dahulu kedai ini adalah kedai favoritku dan sering ku kunjungi karena kelezatan Bubur ayamnya. Tanpa ba-bi-bu lagi aku pun segera melahap bubur ayam begitu tersaji di hadapanku. Dan berulangkali aku bergumam sebagai ekspresi kepuasanku akan rasa yang ada.
Pukul delapan lewat sepuluh menit. Di sebuah hotel melati aku berdiri mematut diri di depan sebuah cermin. Ku poles tipis-tipis saja lipstik pada bibirku karena aku ingat kak Mirza senang jika aku berdandang sederhana saja. "Tipis saja, kau sudah cantik" begitu katanya dahulu. Aku terdiam. Mataku menatap pantulan diri pada cermin. Fikiranku kembali mengembara pada masa dahulu saat masih bersama kak Mirza. Saat aku berhias kerap sekali ia akan mendatangiku dan mendekapku erat. Menghujani kecupan sambil menatap bayang kami pada cermin. Manis sekali. Tak jarang ia akan bersusah-susah memilah dan memilihkan kerudung dan memakaikannya pada ku. Tak jarang ia akan membawakan ku bunga dan meletakkannya tepat dekat wajah ku saat aku tengah berhias. "Kamu cantik, sayang. Bunga ini saja kalah cantiknya denganmu" gombalnya yang masih ku ingat. Dan jika sudah demikian maka aku pasti akan langsung menghambur dalam dekapannya. Kemudian kak Mirza akan menghujaniku dengan kecupan pada kening dan pipiku.
Pukul sembilan tepat. Aku terkesiap saat alarm pada ponselku berbunyi. Aku pun langsung menyambar tas dan sebuah paper bag berisi hadiah untuk kak Mirza. Hadiah yang sudah ku siapkan sejak semalam. Entah apa aku sanggup memberikannya nanti atau tidak. Aku tidak tahu. Yang pasti aku hanya ingin membawakannya hadiah saja. Melaju mobilku menuju sebuah tempat yang sudah ku rencanakan. Fikiranku sedikit mengembara tentang kejadian yang akan ku alami nanti, tentang apa yang harus ku katakan nanti. Semua bermain di fikiranku. Tiba-tiba...
Ciiiiit....
__ADS_1
Mobilku Mendadak ku hentikan. Suara cicit rodanya begitu membuatku gusar. Aku pasi atas apa yang baru saja ku alami. Keluar seorang lelaki dari sebuah mobil. Wajahnya begitu kesal menghampiri mobilku. Tangan kekarnya menggebrak pintu mobilku. "Bisa bawa mobil, tidak...!" ucapnya garang. Aku kecut. "Keluar...!" ucapnya lagi. Perlahan ku buka kaca mobil dengan perasaan khawatir. "Maaf..." ucapku mengakui kesalahanku begitu aku sudah membuka benar kaca mobil. Dan lelaki itu tampak terdiam. Hanya matanya saja yang menatapku. Di tatap demikian aku jadi rikuh. "Maaf..." ucapku ku ulangi lagi dan itu membuatnya terkesiap. "Lain kali hati-hati..."ucapnya sambil menyodorkan ponsel kepadaku. Aku bingung dan sebentar menatapnya. "Jika terjadi sesuatu dengan mobilku karena peristiwa saat ini, maka aku akan menghubungimu" ucapnya sedikit ketus sambil menatapku. Tanpa ba-bi-bu lagi aku pun langsung mengetik dua belas angka pada ponselnya. "Olivia..." ucapku memberitahunya. Ia pun tersenyum tipis sambil meraih kembali ponselnya dari tanganku dan berlalu begitu saja. "Dasar sinting..." gumamku sambil melajukan kembali mobilku. "Fiuh...mimpi apa semalam sehingga aku mengalami hal seperti ini. Dan lagi siapa laki-laki angkuh tadi? Huh...buat kesal saja" ucapku kesal sambil melajukan kembali mobil merahku. Mobil yang hampir setahun ini menemani segala aktifitas ku.
Pukul sepuluh lewat lima menit. Aku sudah berada pada tempat dan waktu seperti yang sudah tertulis pada pesan yang ku tulis dan ku kirim melalui Bu Anna. Tempat dengan suara deburan ombak yang begitu bergemuruh dan angin sepoi-sepoi yang selalu menjanjikan Ketenangan. Tempat yang sama saat aku melihat tawa kak Mirza bersama bocah gembul berambut sebahu beberapa hari lalu.
Aku berdiri di atas hamparan pasir di pinggir pantai. Kubiarkan kakiku dihempas air. Sesaat air akan meredamnya sebagian. Sesaat juga hilang lenyap dan menjauh. Dan mata ku menatap lautan luas yang airnya tampak berkilauan saat diterpa sinar mentari. Dan dari bayang yang tampak di pasir, ku lihat ujung kerudungku terbang dihembus angin lalu. "Fara..." panggil seorang lelaki yang suaranya amat ku kenal. Panggilan yang beberapa waktu ini amat ku rindu. Bergetar jiwaku saat namaku disebut olehnya. Bergejolak terasa begitu luar biasa. Ingin sekali aku langsung menghambur memeluk dan merasakan kembali dekapan hangatnya. Namun sebagian jiwaku melarang ku demikian. Dan pada akhirnya aku hanya diam. Hanya gemuruh di dada ini yang membalas panggilannya itu. Sesaat kemudian aku menangis. Guncang bahuku menahan tangis yang selama setahun enam bulan ku sembunyikan darinya. "Fara..." panggilnya sekali lagi. Namun kali ini, ia langsung mendekapku. Mengecup lembut bahuku beberapa kali. "Lama sekali janjimu baru kau tepati, sayang. Setahun enam bulan... Kemana saja? Aku sudah mencarimu, tapi langkahku selalu terhenti karena jejakmu selalu hilang bak ditelan bumi, sehingga amat sulit ku ikuti. Apakah kau tidak merasakan kangen sedikit pun? Padaku...?" ucapnya begitu penuh perasaan. "Kangen ini begitu menyiksaku. Bukan hanya di waktu tidurku, namun di waktu terjaga ku pun rasa ini tak pergi dan begitu menyiksaku karena kau tak kunjung nyata di dekapanku. Walau bibir ini tersenyum atau mungkin tertawa, tapi hati ini tetap menyimpan tangis karena kerinduan yang begitu mendalam kepadamu" ucapnya lagi yang tak memberiku kesempatan sedikit pun untuk bicara. "Katakan padaku apakah kau tidak merindukan ku sedikit pun, kakak Mirza mu ini?tanyanya sambil terus mendekapku. "Bukan hanya sedikit, namun berlebih rasanya hingga aku tak sanggup lagi menahannya" ucapku akhirnya memecah kebisuanku. Dan hal tersebut membuat ku berbalik mendekapnya. Membenamkan kepalaku pada dadanya. Merasakan kembali Jetak jantungnya yang begitu bertalu juga menciumi aroma maskulin tubuhnya yang selaku membuatku terlena. Dan tangis ku pun tumpah tak dapat ku bendung lagi. Sesekali tanganku menggedor dadanya perlahan sebagai wujud pelampiasan dari amarahku. Dan ia pun membiarkan saja perlakuanku tersebut. "Kau pergi begitu jauh dan begitu lama, sayang. Kau menyiksaku. Katakan sayang...Kau masih milikku, hanya milikku saja. Katakan.." ucapnya sambil mengguncang tubuhku perlahan. "Aku...Aku..." ucapku gagu saat tatapan kami bertemu. Dan...
Cup.
Aku pun menatap wajahnya sambil tersenyum dan mengalungkan kedua lenganku pada lehernya. Kau sudah berubah, Kak..." ucapku saat mengusap wajahnya yang mulai ditumbuhi bulu halus. "Tapi hatiku masih sama. Aku masih kak Mirza mu yang dulu. Yang selalu mencintaimu..." ucapnya sambil menatapku. Mendengar itu aku langsung rebah pada dadanya dan mengecup lembut dada bidangnya itu.
__ADS_1
"Mas Mirza..." panggil seorang perempuan. Dan panggilan itu berhasil melonggarkan dekapan kami. "Kak..." ucapku sesaat setelah mengetahui si empunya suara. "Kau sendiri yang mengatakan tidak boleh berahasia diantara kita" ucap kak Mirza yang membuatku tertegun. Mataku bergantian menatap keduanya. "Tapi tidak di pertemuan pertama kita, Kak..." gumamku lirih nyaris tak terdengar. "Fara apa kabar?" ucap Amara sambil memelukku. "Kedatangan mu merusak kebahagiaan anak ku. Dasar pencuri...Lebih baik kau pergi saja atau mati sekalian" bisik Amara saat memelukku. Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya itu. "Naif sekali kau Amara. Di hadapan kak Mirza kau bermanis-manis, namun saat berpaling kau begitu keji mencaci diriku" ucapku dalam hati.
Tanpa menhiraukan keberadaan ku, kemudian ia pun bergelayut manja sambil sesekali menatapku nyinyir. Ku tatap kak Mirza yang menatapku penuh penyesalan. "Maaf..."ucapnya dalam isyarat gerak bibirnya. Aku tersenyum tipis menanggapi isyaratnya itu. "Keanu sudah bosan, Mas. Sudah rewel. Ayolah mas, kita pulang" ucap Amara. Kak Mirza pun menatapku dan tersenyum. Sebelah tangannya yang menggenggam tanganku melonggar hingga akhirnya terlepas. Namun tangannya berhasil membuat isyarat agar aku menghubunginya lagi. Kemudian keduanya berlalu meninggalkanku sendiri. Tak ingin berlama-lama menatap kepergian kak Mirza, aku langsung memunggunginya dan kembali pada lautan yang menyuguhkan kekhasannya. Laut yang luas, deburan ombak yang menghantam batu karang, atau ombak yang selalu kembali ke bibir pantai, angin semilir yang selalu menerpa tubuhku sekaligus mengirimiku aroma khasnya.
"Mungkin ombak bisa menghapus namamu yang ku ukir di pantai ini. Namun, bagaimana dengan hatiku?" ucapku pada diriku sendiri.
Pukul sebelas lewat lima belas menit. Aku masih setia menatap lautan nan luas sambil memaknai setiap rasa yang ada setelah pertemuan ku dengan kak Mirza sesaat yang lalu. Rasa yang kuakui berhasil menetralisir amarahku beberapa waktu ini terselip di ujung hatiku. Dengan lamunanku itu ternyata aku tak menyadari waktu berlalu cepat dan langit sudah berangsur berubah warna. Kini ada awan hitam yang sudah mulai merangkak menutupi langit. Gelapnya selalu berhasil menyambunyikan mentari di baliknya. Tak lama kemudian, rintik hujan pun mulai menyapa bumi. Aku yang sedang termenung, tersadar saat beberapa titik hujan menerpa wajahku. Aku menjadi panik. Kaki ku hampir melangkah, namun langsung terhenti saat sebuah payung memayungi tubuhku. Aku kembali tertegun menatap sosok yang sedang memayungi. "Maaf, aku terlambat..." ucap kak Keanu sambil tersenyum menatapku. Tanpa menjawabnya, aku kembali menatap lautan sesaat untuk selanjutnya berisyarat agar segera meninggalkan tepian laut.
Pukul sebelas lewat dua puluh lima menit. Kami masih melangkah cepat di tengah guyuran hujan. Sejauh kaki melangkah, belum kami jumpai lagi tempat berteduh. Dan akhirnya mobil ku adalah tujuan kami selanjutnya dan satu-satunya. Tersenyum kak Keanu menatapku. "Apa...?" tanyaku sambil berusaha mengeringkan wajahku dengan sapu tangan biru milik kak Keanu. "Aku hanya ingin tahu apa perbedaanmu setelah bertemu Mirza..."ucapnya sambil meraih saputangannya yang baru saja ku kembalikan. "Lalu...?" tanyaku sambil meraih kembali saputangan dan membantunya mengeringkan wajah dan rambutnya. "Dasar tuan muda. Repot sekali cuma mengeringkan rambut" selorohku. Ia pun tertawa mendengar selorohku itu.
__ADS_1
"Lebih ceria dan sepertinya jauh lebih bahagia..." ucapnya begitu saja. "Apaan..." tanyaku berpura-pura tidak tahu. "Em, ya itu. setelah bertemu dengan Mirza. Kau jauh lebih bahagia" ucapnya lagi sambil mengacak pucuk kepalaku. "Cemburu ya..." selorohku sambil tertawa kecil. "Iya, aku cemburu sekali" ucapnya dengan wajah serius. Mendapati itu aku jadi bingung. Lama ia menatap ku. "Aku bercanda, sayang..." ucapnya kemudian sambil tertawa-tawa. "Kakak....!" teriakku sambil menghujaninya dengan cubitan kecil di seputar perutnya. Ia masih saja tertawa sambil menghindari seranganku itu. Kemudian ia memegang kedua tanganku dan menatapku lekat. Aku terdiam menatapnya. "Dengar...Aku memang bukan siapa-siapa bagi mu saat ini. Aku hanya suami mainan masa kecilmu. Tapi sungguh melihat mu bahagai adalah menjadi tujuanku saat ini. Dan aku tidak rela melihat mu kecewa atau terluka" ucapnya sambil tersenyum. "Aku...Aku..." ucap ku gagu. Tak tahu harus berkata apa. Hanya air mata yang jatuh begitu saja. "Hei...jangan menangis istri masa kecilku" selorohnya sambil mengusap air mata ku.
To Be Continued...