
Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Lewat tengah malam. Kak Mirza pamit untuk beristirahat mendahului. Dia beralasan esok hari masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Ditambah lagi skripsinya yang deadline. Minggu depan ia akan ujian. Jadi ia harus mempersiapkannya dengan baik. Akhirnya semua pun bisa mengerti. Walau dengan sedikit celoteh godaan. "Dimaklumi saja, namanya juga pengantin baru..." ucap kak Evans yang disambut tawa semua. Tak terkecuali kak Mirza. Kemudian kami pun melangkah meninggalkan obrolan yang ada di taman. Dan menyusuri setiap anak tangga menuju kamar untuk beristirahat. Melingkar lengan Kak Mirza pada pinggangku. Sesekali tangannya merapatkan baju hangat yang kupakai.
"Sayang..." ucapnya sambil mendekap erat tubuhku hingga tak berjarak sedikitpun. Dan tubuhnya mengarahkan ku pada tempat tidur yang seakan sudah memanggil-manggil untuk di tempati. Rebah tubuh kami dalam buaian kehangatan kasur berbalut warna biru. Bukan itu saja, aku pun terbuai atas perlakuan suami tampanku ini. Separuh tubuhnya menghimpit tubuhku. Mungkinkah malam ini akan menjadi malam panjang untuk kami berdua. Begitu batinku. Pikiranku mulai berkelana saat tangannya mulai nakal menyusuri tubuhku. Ternyata ia makin pandai berkelana di setiap lekuk di tubuhku. Kadang ia akan beristirahat sejenak pada tempat kesukaannya. Sekedar menghilangkan dahaga dengan menyesap penuh gairah bibirku atau pun pada dua benda kenyal dadaku. Dan hal tersebut tentu saaj selalu berhasil membuatku makin terbuai. Pengembaraan pun hampir mencapai tujuan, ketika tiba-tiba ia menghentikan pengembaraannya tersebut. Ia menghempaskan tubuhnya di sebelahku dan langsung menghambur ke kamar mandi. Ini adalah kali ketiga, kak Mirza berlaku demikian. Aku terdiam. Ada kekesalan yang menggantung di ujung hatiku. Dengan tubuh setengah telanjang aku pun berdiri di depan pintu kamar mandi menanti penjelasan kak Mirza. "Jika kakak tidak menginginkannya, maka jangan lakukan Jangan seperti ini, kakak berhenti di tengah perjalanan. Ini sudah kali ketiga. Aku berfikir pasti ada sesuatu. Kakak merasa jijik...?!" ucapku lantang penuh kesal. "Maafkan aku...." ucapnya lirih sambil menyambar piyamanya dan berlalu keluar kamar. "Aku butuh penjelasan..." ucapku setengah teriak sambil mengibaskan tangan. Tanpa sadar ternyata aku sudah mengenai vas bunga hingga hancur berserakan. Ku rapikan pakaian dan kerudungku lalu segera mengikuti langkahnya dengan setengah berlari. Hingga di ujung tangga, aku terdiam. Tenyata mama, kak Evans dan bang David masih berbincang. Pun kak Mirza turut duduk bersama mereka. Melihat ku, mama menatapku lekat. "Sayang..." ucap mama menghampiriku saat melihat bulir bening mulai meluncur tak terbendung. Mama memelukku. "Ada apa, sayang...?" ucap mama memelukku. "Mama..." ucap bang David berusaha melonggarkan dekapan mama. Tanpa berkata-kata, bang David langsung membopong tubuhku. Aku pun jadi rikuh, namun tak kutolak. Entah mengapa. Kak Mirza terkejut dan langsung menghampiri ku. Ia begitu khawatir. Kemudian bang David mendudukkan ku pada sofa. "Kakimu, Fara..."ucap Bang David lagi. Mendengar ucapan Bang David aku langsung menatap kakiku. Seakan baru tersadar aku pun berteriak saat melihat darah yang mengalir. Nyeri pun kini baru kurasa. "Astaga, sayang... Kenapa?" ucap kak Mirza. Aku menangis memeluk mama, sementara bang David mengobati lukaku.
Tak ku hiraukan kak Mirza yang berada di sampingku karena aku sedang marah. Dan rupanya mama dapat membaca situasi diantara kami tersebut. Setelah bang David selesai, kami pun tetap duduk pada sofa. Mata mama menatap lekat pada ku dan kak Mirza. "Mama tahu ada sesuatu yang terjadi diantara kalian. Mama ingin tahu. Ceritakan. Bukan Mama ingin turut campur urusan rumah tangga kalian, tapi sebagai orang tua Mama ingin anak-anak mama hidup rukun. Itu saja. Jadi oba ceritakan dengan sejelas-jelasnya" ucap Mama sambil menatap kami bergantian. "Tidak ada apa-apa, Ma. Semua baik-baik saja" ucap Kak Mirza. "Mirza, Mama tahu semua anak mama. Kapan mereka berkata jujur, kapan berkata bohong. Jadi Mama juga tahu dengan apa yang Mirza lakukan sekarang. Sekali lagi mama minta jujur dan ceritakan semuanya" ucap mama lagi sambil sediki membulatkan matanya.
"Kak Mirza ...merasa jijik dengan Fara, Ma?" ucapku memotong. "Tidak, sayang. Kau salah Faham" ucap kak Mirza yang langsung duduk jongkok di depan ku. "Jika bukan jijik, apa namanya? Kakak tidak mau menyentuh ku. Dan tiap kali menyentuhku kakak selalu menghentikannya begitu saja. Seakan kakak jijik" ucapku yang membuat kak Mirza terdiam. "Mirza..." ucap mama. "Haruskah diungkap di sini?" ucap kak Mirza. "Mirza..." ucap mama tegas. "Okey... Mirza utarakan di sini" ucap kak Mirza.
"Sampai hari ini, Mirza memang belum menyentuh Fara selayaknya suami terhadap istrinya" ucap kak Mirza sambil menggerakkan keempat jarinya sebagai tanda kutip. "Aku bukan jijik seperti yang Fara katanya. Justru aku marah..." ucap kak Mirza. "Marah...? aku yang justru marah jika kau mempermainkan perasaan Fara" ucap bang David yang ditanggapi kak Mirza dengan tatapan tidak menyenangkan.
"Aku marah pada lelaki yang sudah berbuat tidak menyenangkan kepada Fara. Saat aku sedang ingin melakukannya dengan Fara, itu adalah saat yang paling membautku merasakan sebagai lelaki. Namun saat mengingat perlakuan lelaki itu aku jadi muak" ucap kak Mirza. "Artinya kau belum menerima Farah sepenuhnya" ucap bang David dengan kesal. "Bukan seperti itu. Kalau cinta dan sayang Jangan pernah ragukan itu aku sangat mencintai dan menyayangi Farah. Aku menerima Fara apa adanya" ucap kak Mirza. "Lalu dimana permasalahannya?" ucap bang David makin kesal, aku tahu itu. "Karena aku tahu siapa lelaki itu" ucap kak Mirza geram. Wajahnya tampannya mengeras. "Aku benar-benar marah sekaligus bingung. Aku bingung bagaimana harus melampiaskan kemarahan ku ini setelah tahu siapa lelaki itu" ucap kak Mirza lagi. Ada bulir bening yang mengambang di kedua matanya. Aku terenyuh menatapnya demikian. "Katakan Mirza, siapa lelaki itu?!" ucap Bang David geram. "Seperti yang Fara, aku, mama dan bang David ketahui tentang nama lelaki itu, Itulah dia, tapi ternyata nama itu adalah alias" ucap kak Mirza sambil mengepalkan tangan dengan kuat hingga gemetar menahan amarahnya. "Nama yang sebenarnya dari laki-laki itu adalah Roy" ucap kak Mirza yang membuat semua diam. "Ya... laki-laki itu adalah Roy. Kak Roy atau tuan Darius. Yang sejatinya adalah kakak ku sendiri" ucap kak Mirza sambil melparkan kepalan tangannya pada meja yang sejak tadi ia duduki. Dan meja kaca itu pun hancur berantakan.
__ADS_1
Semua terdiam. Mama duduk dengan kasar pada sofa. Air matanya mulai meluncur deras. Aku? Tentu saja aku menangis histeris. Bukan karena terbukanya kembali luka masa laluku, namun karena baru mengetahui bahwa seperti halnya aku ternyata kak Mirza pun terluka terlebih setelah mengetahui siapa sebenarnya lelaki itu. Dan selama ini ia memendamnya sendiri. Ya, Robb...aku harus bagaimana?
"Jadi yang selama ini Kak Roy cari adalah Fara? Dan Kak Ray sebelumnya sudah melakukan tindakan tidak menyenangkan kepada Fara? Ya...Tuhan!" ucap kak Evans sambil mengacak rambutnya. "Aku hampir percaya bahwa Roy bisa berubah. Tapi setelah mendengar ini kepercayaan itu sedikit demi sedikit memudar" ucap bang David yang duduk sambil mengepalkan tangan.
"Mama..." teriak kak Evans tiba-tiba saat melihat mama melunglai tak sadarkan diri. "Bawa mama ke kamar. Cepat...!" ucap kak Mirza. Aku makin berurai air mata menyaksikan semua yang terjadi. "Sayang...Maafkan aku" ucap kak Mirza sesaat ketika mendekap erat tubuhku. Lagi-lagi aku menyerah pasrah pada dekapannya yang menenangkan itu. Aku membenamkan kepalaku pada dada bidangnya. Kembali mengurai air mata yang sejak tadi belum dapat ku susut. Lama kami saling berpelukan hingga sebuah suara berhasil melonggarkan pelukan kami. "Mama ingin esok persoalan ini selesai. Hubungi kakak mu Roy. Suruh ia ke villa ini..." ucap mama yang ternyata sudah sadarkan diri dan berdiri tegak di anak tangga. Di belakangnya tampak bang David dan kak Evans. Mendengar itu aku dan kak Mirza saling menatap. "Tapi, Ma..." ucap kak Mirza sedikit ragu. "Tidak bisa. Besok harus selesai. Mama tidak ingin berlarut-larut. Fara jangan takut, ada mama" ucap mama yang kembali menaiki anak tangga.
Pukul satu lewat lima puluh menit. Dini hari. "Jemput kakak ku Roy. Bawa ke sini. Jika dia menolak, jangan segan tuk memaksanya" ucap kak Mirza menyimpan kemarahan. "Baik, Tuan..." ucap Bang Pandu mengangguk takzim. Sekilas matanya menatap ku. Ia menyimpan kekhawatiran diujung tatapannya. Entah mengapa ia melakukan itu. Tapi yang pasti aku merasa seakan aku mengenalnya telah lama jauh sebelum aku sendiri mengenal kak Mirza. Ah, mungkin karena kebaikannya aku jadi berfikiran demikian. Entahlah...
Pukul dua lewat tujuh belas menit. Dini hari. Mataku tak dapat terpejam. Aku hanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Atau menghitung detak jarum jam yang terasa begitu menggelitik rongga telinga.
Dan fikiranku pun kembali mengembara entah kemana. Sesekali mencoba menerka peristiwa yang akan terjadi esok saat bertemu kembali dengan tuan Darius ataupun Roy. Entahlah...aku tak dapat menekannya.
__ADS_1
Pukul lima lewat tiga puluh menit. Terjadi ke gaduhan di lantai dasar. Aku yang baru saja menyelesaikan sholat shubuh, bersegera merapikan mukena dan sajadah yang baru saja ku pakai. Sedikit tertatih langkahku karena luka yang kualami. "Di sini saja, sayang. Biar aku yang melihatnya"ucap kak Mirza mencegah langkahku. Untuk sementara aku pun menuruti ucapannya. Dan langkah Kak Mirza menjadi cepat menuruni setiap anak tangga yang tampak mengular. "Apa ini Mirza? " ucap sebuah suara lelaki yang sepertinya ku kenal. Suara yang beberapa waktu ini menjadi momok dalam hidupku. Dengan tertatih aku melangkah keluar kamar sebagai penawar rasa penasaranku. Berdiri aku pada dinding kayu berukir dekat tangga. Di bawah ku lihat kak Mirza berdiri tegak di hadapan seorang lelaki yang aku yakin adalah Darius. Ternyata benar tuan Darius adalah Roy. Kakak lelaki kak Mirza sendiri. Ya, Tuhan...batinku sambil menggigit bibir ku swndiri5. "Atas suruhan mu kah, aku diikat dan dibawa paksa? Aku kakak ku, mengapa kau perlakukan aku bak tahanan saja" ucap Darius lagi yang dibalas senyuman tak menyenangkan kak Mirza. "Kau memang seperti penjahat, Kak..." ucap kak Mirza tersenyum tipis. "Kurang ajar kau, Mirza. Aku lebih tua darimu. Seenaknya saja kau berkata demikian...!" ucap Darius atau Roy kesal sambil berontak berusaha melepaskan ikatan pada tangannya. "Lepaskan aku. Biar ku beri kau pelajaran..! Ternyata kau hanya berani berdiri di balik anak buahmu saja. Cih...!" ucap Darius atau Roy. Ku lihat kak Mirza hampir terpancing perkataan kakak lelakinya yang berbeda ibu itu. Tangannya sudah mengepal dan kakinya sudah hampir melangkah, ketika suara mama berhasil menghentikannya. "Mirza....!" ucap mama lantang dengan langkah yang begitu cepat dari kamarnya. "Apa ini, Ma...?" ucap Darius atau Roy. Matanya menatap mama sendu. "Pandu lepaskan ikatannya..." ucap mama. "Duduklah..." ucap mama kepada Roy saat ikatan pada tangan Roy sudah terlepas.
"Mama cukup telepon Roy saja jika ada keadaan darurat. Roy pasti datang" ucap Roy. "Yakin akan datang? Undangan mama semalam saja hanya kau penuhi secara sembunyi-sembunyi. Pengecut...!" ucap kak Mirza yang duduk pada sebuah meja kaca. besar di tengah ruangan. "Kau....!" ucap Roy hampir berdiri dan melangkah menuju kak Mirza. Namun lagi-lagi suara mama berhasil menghentikan niat kak Roy. "Duduklah, Roy
Mama ingin bicara" ucap mama sambil menatap anak lelaki pertamanya dari istri suaminya yang lain itu. Bak tersihir, Roy pun langsung terdiam dan menuruti perkataan mama.
"Mama dengar kau sedang mencari cinta sejatimu? Sudah kau temukan?" ucap mama hati-hati. "Ya, Ma. Aku sudah menemukannya. Aku sudah dua kali menemuinya" ucap Roy sambil tersenyum. Menemuinya atau menculiknya?" ucap kak Mirza geram. "Mungkin aku menculiknya, namun setelah itu aku jadi tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Ini adalah hasil kepeduliannya terhadap ku" ucap Roy sumringah sambil menunjuk balutan pada luka dikepalanya. Kak Mirza tergelak hebat. "Kepedulian sebagai manusia bukan berarti cinta. Bodoh sekali...tidak dapat membedakan" ucap kak Mirza di sela gelaknya. "Ma, Aku yakin lambat lain dia akan mencintaiku..." ucap Roy lagi yang disambut tawa kak Mirza. "Bagai pungguk merindukan bulan..." ucap kak Mirza yang membuat Roy naik pitam. Ia tak mampu menahan amarahnya lagi. Bahkan ucapan mama pun tak dihiraukan nya. Langkah Roy begitu cepat menghampiri kak Mirza dan melayangkan beberapa jurus. Bukan kak Mirza namanya jika ia tak mampu menangkis segala serangan beruntun tersebut. Melihat hal tersebut kulihat mama beberapa kali menghapus pipinya. Mama menangis. Aku terenyuh melihat situasi saat ini.
Kemudian dengan tertatih aku melangkah menuruni setiap anak tangga. Hingga di anak tangga terakhir aku mencoba menghentikan baku hantam kakak-beradik itu. "Cukup...! Hentikan...!" ucapku lantang. Hal hasil adu jurus kedua kakak-beradik itu pun terhenti. Sontak keduanya menatap ke arah ku. "Fara...!" ucap keduanya hampir bersamaan. Berlari Roy bermaksud mendekatiku. "Berhenti...Jangan mendekatiku. Kau Darius atau siapapun. Kau sudah banyak bercerita tentang cintamu kepada Fara. Sekarang giliran Fara yang akan bercerita bagaimana cinta Fara..." ucapku lantang hampir menangis. Kulihat kak Evans, bang David dan Sherlly pun sudah berada pada ruangan tersebut. Aku pun terduduk pada anak tangga terakhir karena merasakan nyeri karena luka di kaki.
"Sejak pertama bertemu hingga pertemuan terakhir, aku tidak pernah merasakan apapun selain rasa jijik dan amarah" ucapku hampir menangis. Memang benar aku peduli padamu. Melihat mu terkapar dengan darah yang mengalir membuatku iba. Entah mengapa aku bisa iba padamu. Orang yang sudah menjadikan hari-hari ku dihantui ketidakpercayaan pada diri sensiri. Namun ku kupastikan rasa peduliku itu bukan karena aku mencintaimu. Itu sebatas rasa kemanusiaan ku saja" ucapku mengalir begitu saja. Entah darimana kuperoleh keberanian sebesar itu. "Fara...dengarkan aku dahulu" ucap Roy. "Cukup...Jangan bicara lagi. Aku minta jangan usik hidupku lagi. Aku sudah bahagia. Aku sudah dapat mengikis ketakutan ku atas perlakuan kotormu itu. Aku sudah bersama orang yang aku cintai dan mencintai ku jauh sebelum kita bertemu" ucapku lagi-lagi menghentikan langkahnya. "Aku tahu kau sudah menikah. Aku tidak peduli. Karena aku tidak percaya jika kau sudah menikah"ucap Roy menatapku. "Cukup..." ucap kak Mirza. "Ow...tukang pengganggu. Bisa kau menghentikanku?" ucap Roy. "Tentu saja aku bisa. Karena aku suaminya...!" ucap kak Mirza. Entah mengapa Roy justru tertawa hebat sambil bertepuk tangan. "Bravo...bravo. Drama yang apik sekali" ucap Roy yang lebih memilih opsi tidak percaya ketimbang menghadapi kenyataan. "Kak..sudahlah" ucap kak Evans. "Tidak bisa,Vans...Ini adalah pertarungan ku. Kau membela mereka...?" ucap Roy. "Pertarungan apa, Kak? Kakak menolak kenyataan. Mereka benar. Mereka sudah menikah. Dan mereka saling mencintai jauh sebelum kakak bertemu Fara" ucap kak Evans. "Persetan dengan semua ini. ucap Roy sambil berlalu. "Kak...tunggu dahulu...!" ucap kak Evans. "Roy...tunggu, Nak!" ucap mama setengah teriak. Mama yang sejak tadi diam dan memberikan kesempatan kepada ku untuk meluapkan keluh kesah ku dengan berani. "Maaf, Ma. Lain waktu kita bicara lagi" ucap Roy tanpa menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Sudah puas...?" ucap kak Evans sambil menatap kak Mirza. "Sekarang kau audah faham bagaimana meluapkan amarahmu atas ketidakberdayaanmu...?"ucap kak Evans. "Kak...kalau kakak diposisi ku, pasti kakak akan merasakan dan melakukan hal yang sama seperti ku" ucap kak Mirza. "Ya. Sekarang aku mengerti situasinya. Fara maafkan kak Roy ya. Walau kau belum memafkannya tapi setidaknya jangan mengutuknya. Aku memintanya padamu. Walau bagaimanapun, ia adalah kakak ku. Juga kakak dari suamimu, walau dari ibu yang berbeda. Kalau pun aku bisa memilih tentu aku akan memilih dilahirkan mama Melissa" ucap kak Evans yang menatapku lekat. "Sayang...." ucap mama sambil mendekap kak Evans. "Walau aku tidak melahirkan kalian, aku tetap merasa bahwa kalian adalah juga anak mama" ucap Mama dengan air mata yang mulai menggenang dan siap terjun bebas. "untuk selanjutnya Evans akan membantu Fara dari segala bentuk ancaman Kak Roy. Aku pasti kan kak Roy tidak akan menyerah begitu saja. Aku sangat mengenal Kak Roy" ucapkan Evans sambil menatapku lekat. Tak lupa senyuman terukir di sudut bibirnya.
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Semua sudah kembali pada aktifitasnya seakan tidak ada yang terjadi beberapa menit lalu. Kak Mirza pun sudah siap dengan stelannya. Kali ini warna navy menjadi pilihannya. Dan tak lupa kacamata hitampun bertengger dan menambah tingkat ketampanannya. "Istirahat saja. Jangan kemana-mana. Nanti segala keperluan mu akan di urus Bu Anna" ucap kak Mirza sambil memeluk ku. "Oya, maafkan aku ya...Aku sudah tidak adil padamu" ucapnya lagi sambil mengecup keningku. Aku pun membalasnya dengan mengecup punggung tangannya dengan takzim. "ucapku mengiringi langkahnya. "Ya sayang..." ucap kak Mirza sambil berlalu dan mengumbar senyum.