
Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Aku berdiri pada suatu tempat seperti yang diarahkan Azam, asisten Aiman. Lebih tepatnya bodyguard. Sudah beberapa waktu ini Azam melakukan pengintaian untuk mengetahui keberadaan anak laki-laki ku. Dan hari ini, ketika kesehatanku sudah pulih, kami akan berusaha menemui dalang dibalik penculikan anak laki-laki ku.
Sudah lima belas menit namun belum ada tanda-tanda kebenaran akan keberadaan anak ku. Khawatir usaha menjadi nihil, aku bersiap menyusun rencana. Belum lagi rencana ku sampaikan, pintu pagar rumah terbuka. Perempuan setengah baya terlihat menjinjing bungkusan dan memasukkannya ke dalam tong sampah yang berada di sisi kanan. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Aku tertarik pada sosok perempuan itu.
Deg.
Jantungku berdegup hebat saat mengenali sosok perempuan itu. "Mbak Min...?" ucapku terkejut. "Nyonya mengenalnya?" ucap Azam yang menatapku tak berkedip. Aku mengangguk sambil terus melempar tatapan ke arah mbak Min. "Dia asisten rumah tangga di rumah ku dahulu" ucapku. Ada tanya yang mulai menggelayuti ujung hati. Mengapa mbak Min ada di sini? Apakah ia berkaitan dengan penculikan anak ku? Ah, tapi rasanya itu suatu kemustahilan. Tapi jika bukan mbak Min lalu siapa?
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di dekat mbak Min. Dan aku semakin terkejut saat mengetahui perempuan yang berada di dalam mobil. "Mama Wina...?!" ucapku hampir terpekik. Apakah mama Wina dalang dibalik penculikan anakku? Tapi mengapa? Bukankah ia bisa memintaku baik-baik jika ingin menemuinya? Mengapa, Ma? Aku membatin. Fikirku tak mampu menilik dan atau menghubungkan setiap peristiwa sehingga aku mengetahui penyebabnya.
Kemudian dengan mengenakan kacamata hitam dan tongkat aku bermaksud memasuki rumah tersebut. Dan Azam akan menyertaiku. Aku duduk berusaha setenang mungkin dalam mobil yang melaju, menyasar rumah dimana anak ku berada.
"Aku ingin bertemu Nyonya. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan" ucapku. Pintu pun dibuka lebar. Bahkan diantarkan oleh scurity. Rupanya ia tak menaruh curiga sedikitpun. Duduk aku pada sebuah kursi berukir berwarna maroon.
Kemudian aku mendengar tangisan bayi dari satu diantara kamar yang ada. "Anak siapa, Pak.." tanyaku sesaat sebelum ia berlalu. "Anak Tuan Muda..." ucap scurity. "Tuan muda yang mana? Keanu atau Keenan?" tanyaku lagi. "Tuan Keanu.." ucapnya lagi.
Deg.
__ADS_1
Artinya itu anak laki-laki ku. Jantungku berdegup hebat. Ada desiran aneh yang menyasar. Kemudian aku mendengar senandung. Rupanya Mbak Min tengah menenangkan anak laki-laki ku. Ku lihat Azam berdiri di depan sebuah pintu. "Di sini..." bisiknya. Segera saja aku menuju kamar tersebut. Dan benar saja aku mendengar tangisan dari dalam kamar. Perlahan aku memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan hingga terbuka sedikit demi sedikit. Langkahku perlahan saja hingga tepat berdiri di belakang mbak Min.
"Mbak Min..." ucapku lirih saja. Sontak ia memutar tubuh dan menatapku. "Non Fara..." ucap mbak Min kemudian dengan suara bergetar. "Boleh aku gendong...?" ucapku sambil mengulurkan tangan. Mbak Min pun menyodorkan bocah kecil laki-laki yang masih terus menangis itu. Segera aku meraih dan mendekapnya. Menenangkannya dalam buaian ku sambil sesekali mengecup pipi gembulnya.
Dan untuk memastikan aku pun menilik tanda lahir pada bawah telinga kanannya. "Allahu Akbar..." ucapku saat melihat tanda lahirnya. "Anak ibu. Kesayangan ibu..." ucapku berulangkali. Dan tangisku pun tak dapat terbendung lagi. Semua meluncur begitu saja. Ku dekap erat bayi mungil ku dengan sejuta bahagia.
"Mbak Min, saya akan membawa anak saya" ucapku sambil berdiri dan bersiap melangkah. "Tapi...Non. Bagaimana dengan saya" ucap mbak Min. Aku tersenyum mendengar pertanyaan konyol itu. "Kau punya hak memilih. Pilihlah..." ucapku sambil melangkah. Langkah ku semakin cepat hingga hampir ambang pintu.
"Berhenti Fara...!" ucap seorang perempuan. Suaranya begitu lantang hingga berhasil menghentikan langkahku. Aku yakin itu mama Wina. "Kau tidak bisa membawa Rafan. Dia cucuku" ucap mama Wina. "Tapi dia anakku. Aku yang mengandung dan melahirkannya. Apa mama lupa?" ucap ku setenang mungkin. Aku melakukannya karena aku masih menghormatinya, terlepas dari segala yang sudah ia lakukan kepadaku.
"Berhenti Fara...! Apa kau tidak puas dengan satu bagian tubuh Keanu?!" ucap mama histeris. Dan aku pun kembali menghentikan langkahku. "Apa maksud, Mama?" tanyaku.
Tok.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Langkah kaki mama yang bersepatu high heels semakin mendekat. "Ow...kau tidak mengetahuinya Fara? Atau kau pura-pura tidak mengetahuinya?" ucap mama menatapku sinis. "Aku tidak mengerti maksud, mama" ucapku menatapnya yang kini berdiri tegak di hadapanku.
"Ini kebenarannya. Kau sudah mengambil anak laki-laki ku Keanu hingga ia mampu berkorban apa pun untukmu. Bahkan nyawanya sekalipun. Di akhir hidupnya ia masih saja memikirkan kebahagianmu. Dan ia telah memberikan penglihatannya kepadamu. Mata mu itu adalah mata Keanu. Kau tidak tahu? Kau tanya saja pada dokter Faaz" ucap mama Wina.
Deg.
Bagai badai datang menerpa. Luruh semangat ku. Juga kekuatan pada tiap sendiku. Aku lunglai. "Jadi kak Keanu lah pendonorku. Dan dokter Faaz mengetahuinya. Mengapa ia tak mengatakannya?" aku membatin. Fikiranku makin dilambungkan antara rasa bersalah dan rasa penasaranku.
"Kau sudah memiliki matanya, maka apa salahnya jika aku mengambil anaknya. Toh aku pun memiliki hak atasnya" ucap mama lagi. Aku terisak. Dekapanku melonggar. Ku tatap wajah bayi mungil yang tengah terlelap dalam buaian ku dengan pilu. "Siapa yang memberi hak itu kepada mama? Kak Keanu kah? Atau aku? Aku rasa tidak keduanya" ucap ku sambil menyusut tangisku dan terus menatapi wajah gembul anak laki-laki ku. Ku lihat mama terdiam. Matanya pun telah basah dengan air mata. Aku yakin ia pun menyimpan kedukaan mendalam atas kehilangan kak Keanu.
"Ma...tak bisakah kita berdamai? Dan bersama-sama mengasuh dan membesarkan Rafan?" ucapku sambil berdiri. "Aku tidak mampu berbagi dengan perempuan yang sudah mencelakai anak laki-laki ku. Walaupun perempuan itu sangat dicintai anak laki-laki ku" ucap mama Wina yang membuatku semakin pilu. Kemudian aku pun terdiam. Tak mampu berkata-kata menanggapi ucapan mama Wina. Aku hanya menangis pilu. Bahkan saat mama Wina mengambil anak laki-laki ku dari buaian, aku membiarkannya.
Aku gamang. "Ma..." ucapku kemudian. "Cukup, Fara. Hentikan ushamu untuk mengambil Rafan. Biarkan aku yang merawatnya. Dan kau silahkan melanjutkan hidupmu" ucap mama Wina. "Oya...kau jangan khawatir, aku akan tetap menyebutmu sebagai ibunya. Menceritakan kepadanya bahwa kau ibu yang hebat" ucap mama Wina yang membuatku semakin terisak. Langkahku jadi kaku sehingga tiada kekuatan untuk berlari mencegah mama Wina membawa anakku. Bahkan kataku pun jadi gagu untuk sekedar menghentikan langkahnya.
Aku hanya diam dan terisak pilu. "Nyonya..." ucap Azam yang kemudian membawaku keluar rumah mama Wina.
"Kak Keanu...! Aku harus bagaimana..?!" ucapku setengah teriak ketika di dalam mobil. "Alangkah bodohnya aku..." ucapku berulangkali.
__ADS_1