
Aku berlari menghampiri kak Keanu yang sudah hampir rebah pada lantai. Setengah teriak saat melihat kondisinya kini. Apalagi saat melihat sebuah kursi roda di dekatnya. "Kak Keanu..." ucapku setengah sambil berusaha merengkuh tubuhnya. Aku begitu khawatir saat melihatnya. Mendadak amarahku memudar. "Kak Keanu, kau...." ucapku terhenti. Mataku terus menatap kursi roda di dekatnya. "Ya, Fara...Aku sudah tidak bisa menjagamu lagi. Kondisiku sudah seperti ini" ucap kak Keanu pilu. Kepalanya rebah pada pangkuanku. Sementara matanya menatap langit. Aku menangis melihat kondisinya kini. "Apa yang terjadi, Kak..."tanyaku memendam pilu amat dalam.
"Saat kau terluka aku tahu. Dan sepenuh jiwa ku berontak ingin segera menemui mu. Maka segera ku selesaikan semua pekerjaan ku yang baru dua hari ku kerjakan. Aku langsung memutar setir mobil menuju kepadamu. Aku begitu khawatir hingga tak tahu lagi berapa kecepatan ku saat itu" ucap kak Keanu. Matanya menerawang, ingatannya kembali pada hari itu.
Keanu Flashback On
Pukul sepuluh malam. Aku mendapat kabar bahwa Fara-ku terluka. maka segera saja ku putar setir dan melajukan mobil sport hitam dengan kecepatan tinggi. Aku sendiri tidak tahu berapa kecepatan saat itu. Yang ku inginkan hanya berada bersama Fara. Perempuan yang merupakan istri masa kecilku, hasil perjodohan orangtua kami. "Kuatlah, sayang. Aku segera menemuimu" ucapku dengan fikiran dipenuhi Fara. Ya, hanya Fara saja yang ada. Karena kekhawatiran ku, maka aku tidak memperhatikan laju mobil ku. Hingga di persimpangan jalan aku dikejutkan oleh sebuah sepeda motor yang tiba-tiba potong kompas jalur laju ku. Aku menjadi panik. Ku buang setir ke sisi kiri jalan. Men-cicit mobilku pada jalanan hingga menabrak pembatas jalan. Kemudian mobil pun terbang melewati pembatas dan untuk kemudian berguling beberapa kali pada sisi jurang dan berakhir dengan meluncur ke lembah yang begitu curam. "Mungkin ini adalah akhir dari seorang Keanu Athmaja" Fikirku saat itu. "Tapi tidak aku masih mempunyai orang-orang yang aku sayangi. Masih ada mama dan Fara. Ya, Fara. Karena itu tolong aku ya Robb..." doaku saat itu.
Tubuhku sudah tak dapat ku rasakan lagi apalagi setelah terombang-ambing dan diterbangkan kesana-kemari beberapa saat lalu. Luka ku sudah bukan kepalang dengan darah yang membasahi hampir seluruh tubuhku. Aku pasrah saat itu. Namun jika bisa aku masih ingin bertemu mama dan Fara istri masa kecilku itu. Dan setelah itu aku sudah tidak mengingat apa pun. Aku sudah tak sadarkan diri.
Entah berapa lama aku hilang kesadaran. Yang pasti saat aku membuka mata aku sudah berada di rumah sakit, pada sebuah ruangan yang berwarna putih dan itu sudah satu bulan lamanya. Aku koma. Ku lihat seorang perempuan yang berdiri di sampingku begitu bahagia saat melihat mataku terbuka. Walau sebagian wajahnya sudah basah dan matanya sembab dengan air mata. Dari pengakuannya ia adalah mama ku sendiri. "Dimana aku..?" tanyaku ku kacau saat itu. Apalagi saat aku tidak mengingat apapun bahkan sekedar namaku. Ya, Aku mengalami amnesia global sementara. Tragis hidupku. Aku terisak hebat dalam dekapan mama saat itu. "Tidaaak....!!" teriak ku begitu putus asa. Dan akhirnya aku jadi manusia baru saat itu. Menjalani hidup tanpa kenangan dan tanpa mengetahui siapa diriku. Dan yang membuat aku semakin kacau dan terpuruk adalah saat mengetahui bahwa aku mengalami kelumpuhan. Pupus sudah harapan hidupku saat itu.
__ADS_1
Bulan kedua setelah peristiwa kecelakaan, ingatanku kembali. Dan aku pun mulai merajut kembali gambaran peristiwa yang telah terjadi juga kenangan-kenangan sepanjang hidupku. Yang paling penting aku mampu mengingat orang-orang yang aku sayangi.
Pukul satu lewat lima belas menit. Langit begitu bersih. Warna birunya tak mampu ditutupi oleh tipisnya awan putih yang kadang berarak. Karenanya terasa matahari begitu terik. Hawa panasnya mampu menerobos ruangan yang dingin karena AC. Aku duduk pada kursi roda dekat jendela, menatapi dedaunan yang kadang bergoyang tertiup hembusan angin lalu. "Bagaimana kondisi Fara..?" tanya ku pada Satria, sumber informasi tentang Fara. Ia duduk tak jauh dariku. "Semua dukanya sudah mampu ia lewati, walau dengan beribu tangis. Bahkan kasus perceraiannya pun mampu di lewati. Dan Roy membantunya melewati ini semua duka tersebut" ucap Santria. Hatiku terenyuh saat nama Roy disebut. "Mestinya aku yang ada di dekatnya, bukan Roy. Mestinya aku yang akan selalu menenangkan dan menyemangatinya, bukan Roy...!"ucap kesal ku dalam hati.
"Tuan...Tuan tidak apa-apa" ucap Satria Khawatir saat melihat kegundahan dan sedikit amarah di ujung tatapanku. "Aku ingin menemuinya, Satria. Namun aku tidak berani. Dengan kondisiku saat ini, aku khawatir ia justru akan semakin bersedih dan akan memandangku sebelah mata saja" ucapku pilu. "Saya yakin Nyonya Fara tidak demikian. Ia sosok perempuan yang baik, lembut dan pengertian" ucap Satria memuji Fara. "Saya belum siap, Satria..." ucapku penuh perasaan. "Apa saya saja yang memberitahu Nyonya Fara?" ucap Satria. "Tidak perlu Satria..!" ucapku setengah teriak. "Saya khawatir Nyonya menjadi salah faham karena ketidakhadiran tuan beberapa waktu ini. Paling tidak berbicaralah lewat telepon" ucap Satria yang membuat ku tertegun. Ada kerinduan yang memang sejak dahulu ingin di basuh tawanya. Namun sebagian jiwaku berontak tak sanggup menemuinya. Saat ini keberanianku sedang terkikis oleh duka yang menghiasi raga dan sukmaku.
Hari berganti. Dan hari ini adalah bulan ketiga sejak peristiwa kecelakaan itu menimpaku. Dengan demikian hampir empat bulan sudah aku tidak menemui Fara. Entah sampai kapan...
Keanu Flashback Off
"Hei... anak-anak mama. Tuan dan Nyonya yang terhormat, mengapa duduk di bawah?" tanya mama Wina saat mendapati kami yang asyik duduk di lantai. Aku dan kak Keanu hanya tersenyum saling menatap sesaat. Tak lama Satria pun membantu kak Keanu kembali duduk pada kursi rodanya. "Jadi aku sudah tidak bisa menjaga mu, cantik..."ucapnya sambil menatapku. Ada kepiluan di ujung tatapan matanya. "Em, jika begitu aku yang akan menjaga kakak mulai sekarang" ucapku sambil menatap mama Wina yang matanya sudah berkaca-kaca. "Ma..." ucap kak Keanu saat melihat mama Wina mulai menangis. "Mama bukannya sedih. Mama justru bahagia. Apalagi saat melihat kalian bersama. Semoga amah kalian melihat ini semua" ucap mama Wina sambil menyusut air matanya.
__ADS_1
"Makan malamnya di lanjut tidak nieh...?" ucap Kaka Keanu sambil tersenyum. "Tentu saja. Kita makan bersama di sini saja, bagaimana?" ucap mama Wina yang langsung tersenyum sambil menyeka air matanya. Aku dan kak Keanu pun mengiyakan, tanda setuju. Tak lama beberapa asisten rumah tangga membawakan menu makan malam saat ini. "Silahkan dinikmati...Nyonya" ucap kak Keanu menatapku sambil tersenyum. "Stop memanggilku nyonya...Aku bukan nyonya siapapun" ucapku sambil sedikit membulatkan mataku. Kak Keanu pun tertawa melihat polah ku itu diikuti mama Wina dan Satria. Ada banyak tawa saat itu.
"Oya, Mirza bagaimana Fara" tanya mama Wina tiba-tiba yang berhasil menunda suapanku. "Ayolah...Ma. Jangan rusak suasana malam ini" ucap kak Keanu. "Tidak apa-apa, Kak" ucapku sambil tersenyum dan meneguk air mineral. "Em, aku dan kak Mirza sudah resmi bercerai bulan lalu, Ma" ucapnku sambil tersenyum. "Bagaimana perasaanmu saat ini, sayang?" ucap mama Wina. "Ma..." ucap kak Keanu. Aku pun berisyarat bahwa aku tidak mempermasalahkannya. "Lega. Mungkin karena sebelumnya aku dan kak Mirza sudah berpisah hampir dua tahun, jadi rasa sakit itu mudah diobati. Memang beberapa waktu lalu sempat kecewa karena kak Mirza lebih memilih perempuan itu ketimbang Fara. Perempuan yang berhasil memotong kompas cinta Fara. Perempuan yang sudah membuat luka di tubuh ini dan juga merusak sumber penghidupan Fara dan pegawai Fara. Tapi sudahlah. Toh matahari masih tetap hadir di pagi hari. Dan Tuhan pun masih memberikan kesempatan kepadaku bangun di waktu pagi. Artinya masih ada waktu memulai hal baru" ucapku yang begitu panjang. Sesekali aku menghela nafas panjang dengan sedikit berat. Semoga perasaan luka ku tak tampak saat aku berbicara tadi. Sementara itu mama menghadiahiku dengan tatapan yang begitu. Mendapati tatapan itu aku jadi tersenyum. Pun dalam hati aku masih terus merasakan kepiluan. "Em, izin ke toilet boleh" ucapku setengah berbisik. Setelah mendapat arahan letak toilet, aku pun langsung menuju tempat yang sangat kuinginkan saat ini. Bukan untuk merapikan make up atauelaksanakan ritual pribadiku. Aku hanya ingin menyembunyikan tangisku saat ini. Dusta jika perpisahan ku dengan kak Mirza tidak membuat ku kecewa dan merana. Dusta jika ketiadaannya membuatku bahagia. Sebaliknya aku begitu tersiksa. Lama aku berada dalam toilet hingga Satria harus mengetuk pintu toilet berulangkali. Tersadar dari lamunan, aku pun bersegera merapikan make-up dan membuka pintu. "Nyonya baik-baik saja?" tanya Satria yang tatapan menyelidik. "Tuan Keanu mengkhawatirkan, Nyonya..." ucapnya lagi. Aku pun mengangguk sambil tersenyum dan melangkah menuju tempat dimana kak Keanu dan mama Wina berada.
"Maafkan mama, sayang..." ucap mama sesaat aku telah duduk kembali dekat kak Keanu. Jemariku pun digenggamnya erat. "Kenapa harus minta maaf, Ma. Fara baik-baik saja" ucapku. "Satu pertanyaan lagi. Maad tapi mama penasaran" ucap mama. "Ma...Ayolah" ucap kak Keanu tidak suka. "Apa, Ma...?" ucapku tersenyum. "Em, menurut Fara kak Keanu mu ini sudah pantas menikah belum?" ucap mama yang membuat kak Keanu tersedak. "Mama..." ucapnya kesal. "Dari segi usia Sepertinya sudah pantas sekali, Ma. Memang sudah ada calonnya? Kok Fara tidak diberi tahu?" ucapku Sumringah. "Ma...Jangan mulai lagi dech" ucap kak Keanu makin kesal. "Justru mama ingin tanya pada Fara. Selama ini apa Keanu tidak pernah bercerita tentang siapa kekasihnya?" tanya mama. "Seingat Fara tidak pernah, Ma. Salah Fara juga, Ma. Kak Keanu justru sibuk memikirkan masalah Fara. Dan Fara kurang memperhatikan masalah kak Keanu. Tapi pernah Fara tanya, kak Keanu justru berseloroh. Fara kan jadi kesal, Ma.." ucapku sambil sesekali menatap kak Keanu. "Aku belum tua sampai dikhawatirkan begitu" ucap kak Keanu dengan nada kurang suka. "Dan siapa bilang aku tidak punya kekasih. Aku punya, Ma. Tanyalah Satria" ucap kak Keanu lagi. "Maaf tuan. Saya tidak ikut-ikutan" ucap Satria terkekeh, bodyguard rasa saudara itu sepertinya mengetahui segala rahasia kak Keanu.
Pukul sembilan lewat lima menit. Hanya aku dan Keanu-suami mainan masa kecilku. "Terima kasih ya, sudah bersedia datang dan memakai gaun yang ku berikan" ucap kak Keanu. Aku tersenyum sambil menatapnya sekilas. "Terima kasih juga gaunnya. Cantik sekali. Aku suka" ucapku. Ia pun kembali tersenyum dan menatapku tengah asyik menatap langit. "Duduklah..." ucapnya sambil menarik kursi yang berada tak jauh darinya. "Jika berkenan aku ingin meminta bantuanmu" ucap kak Keanu sesat setelah aku duduk di sebelahnya. Aku menatapnya sesaat dan mengangguk. "Bantu aku melewati keadaanku saat ini. Aku ingin kembali seperti dahulu. Aku ingin menjaga mu?" ucap kak Keanu penuh perasaan. Ditanya demikian, aku jadi menghela nafas panjang. "Sesungguhnya tak kakak minta pun aku pasti akan membatu dan bersama kakak" ucapku yang membuatnya sumringah. Ada bahagia di ujung tatapannya. "Sungguh...?" tanyanya singkat penuh perasaan. "Yuph...Sebagai seorang sahabat dan adik tentu aku akan membantumu,Kak" ucapku. "Adik...?" tanyanya sedikit terkejut hingga alisnya terangkat yang tentu saja membuat kedua matanya sedikit membulat. "Emang siapa? Pembantu? Bodyguard...?" selorohku. Ia pun tertawa. "Bodyguard saja kalau begitu" ucapnya kemudian. "Baik tuan muda....labil" selorohku lagi. "Hei...." ucapnya sambil membulatkan matanya. Benar bulat. Pun demikian, kemudian kami pun tertawa.
Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Aku pun pamit. Sekaki lagi ditatapnya diriku sambil mengucapkan terimakasih berulangkali. "Maaf aku tidak dapat mengantar..." ucap kak Keanu sambil tersenyum tipis. "Tak perlu khawatir aku sudah jadi pemberani..." ucapku sambil mengangkat sebelah lenganku. Ia pun tersenyum dan menatap setiap langkahku. Kemudian aku menuruni anak tangga diekori Satria hingga lantai dasar. Mendadak aku memghentikan langkahku, teringat sesuatu. "Ponsel..." ucapku yang membuat Satria menatapku. Setelah berbincang sebentar dengan Satria aku pun kembali menaiki anak tangga. Tanpa sengaja aku mendengar perbincangan mama dan kak Keanu ketika sampai mencapai pintu. "Ma, ternyata Fara tidak mencintaiku. Ia hanya menganggap ku sebagai kakak. Tak lebih sepertinya" ucap kak Keanu sendu.
Deg.
__ADS_1
Jantungku serasa terhenti sesaat. Aku tertegun. "Cinta...? Aku bodoh. Mengapa aku tidak menyadarinya. Jika begini aku harus bagaimana?" ucapku dalam hati. "Mau bagaimana lagi, Nak..."ucap mama sedikit terisak. "Tapi wajar, Ma. Kondisiku juga seperti ini. Siapa yang berkenan menerimanya" ucap kak Keanu sendu. "Cinta sejatimu. Pasti akan menerima mu apa adanya" ucap mama sambil memeluknya. Mendapati situasi tersebut aku pun mengurungkan niat ku. Kembali aku menuruni anak tangga hingga kembali harus tersenyum saat mendapati Satria yang berdiri menatapku. Melalui dirinya lah akhirnya aku berpesan untuk menyimpan ponselku. Dan segera ia menyampaikannya kepada kak Keanu melalui lesan singkatnya.
Kemudian mobil pun kembali melaju meninggalkan halaman rumah besar tersebut. Mataku menatapi bayang pepohonan di sisi kanan-kiri jalan yang seakan berkejaran. Diam ku saat ini karena fikiranku sedang dilambungkan dengan ucapan Kak Keanu yang baru saja ku dengar. Fiuh....Apa yang harus aku lakukan??