
Mataku membuka perlahan. Aku tertegun. Secepatnya mataku mengitari seisi ruangan yang begitu asing ini. Terlihat jelas oleh ku suasana ruangan yang di dominasi warna putih itu. Tak hanya dinding, gorden dan sprei di mana aku terbaring pun saat ini juga berwarna putih. "Di mana aku..?" kataku lirih. Sesaat kemudian aku pun memberanikan diri melangkah mendekati pintu, memutar gagang pintu dan membukanya. Ajaib tidak ada seorang penjaga pun di luar ruangan seperti saat aku diculik beberapa waktu lalu. Langkahku semakin berani terutama saat lamat-lamat aku mendengar suara percakapan. Tepatnya dari sebuah ruangan di sebelah ruangan saat ini aku berada. Aku terus memberanikan diri melangkah mendekati sumber suara tersebut.
Kulihat dua orang yang duduk berhadapan tengah asyik bercakap-cakap. Seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan yang duduk membelakangiku. "Sudah bangun sayang...?" ucap sebuah suara yang amat kukenal. "Ayah..." kataku saat mendapatinya berdiri di belakangku yang langsung ku dekap. "Oh, sudah bangun. Lama juga tidurnya" kata perempuan itu sambil tersenyum menatapku seakan ia mengenalku. Masih termangu aku menatapnya ketika ayah mengejutkanku dengan bisiknya di telingaku. "Tante Vira, sayang..." bisik ayah. "Tante Vira..." kataku sambil melangkah mendekatinya seakan tak percaya. "Eh, tunggu dulu....!" kataku sambil menghentikan langkah. "Apa penculikan ini, semuanya adalah rencana Tante? Atau kah justru Tante yang menolong Fara? Terus kapan Tante ke kota ini? Kok Tante tidak memberitahu?" kataku panjang. "Wow...stop, sayang. Banyak sekali pertanyaannya" kata Tante Vira sambil tersenyum dan menarik ku agar duduk di sebelahnya.
Matanya menatapku, sementara bibirnya menyunggingkan senyuman. "Ceritanya panjang, sayang..." ucapnya sambil mengusap pipiku. Aku menatapnya. Ada kegundahan di sana. Kemudian Tante Vira pun menceritakan hal ihwal mengapa ia sampai ke kota ku saat ini. "Jadi tuan Darius penyebabnya? Dan Tante akan tinggal di kota ini? Bersama kami?" kataku antusias sambil tersenyum dan bergantian menatap ayah dan Tante Vira. Berangguk keduanya hampir bersamaan menjawab pertanyaan ku sambil tersenyum. Mendapat jawaban tersebut aku pun langsung memeluknya."Tante....!" teriakku sambil mengeratkan dekapanku. Berayun tubuh kami saling memeluk. Melihat itu, ayah tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Aku pun berceloteh mengungkapkan rasa bahagiaku atas keputusan Tante Vira. Terlebih ku ketahui bahwa Tante Vira akan tinggal bersama kami. Entah mengapa ada rasa bahagia di ujung hatiku atas kehadiran Tante Vira. Lama aku memeluknya, seakan tak ingin melepaskannya.
Hah....ada sebuah kelegaan yang mendiami hatiku saat ini. Hal ini berkaitan dengan penculikan palsu yang Tante Vira rencanakan. Aku bersyukur penculikannya hanya pura-pura saja. "Yuph...penculikan yang pura pura" gumamku lirih sambil tersenyum tipis. Hah...lagi lagi aku menghela nafas panjang sambil menatap Tante Vira. "Wah...Tak dapat kubayangkan lagi jika penculikannya nyata adanya. Hadeeuuuuh...." batinku sambil mengusap wajahku.
Pukul empat lewat dua menit. Toko tutup atas instruksi ayah. Selain itu ayah pun mengabarkan bahwa aku baik-baik saja.
Tiga puluh menit cukup sudah berhasil menghantarkan kami hingga tepat di depan toko. Ku lihat Tante Vira tertegun menatap toko yang ternyata masih belum tutup benar. "Hebat kamu Fara. Ternyata engkau bisa membalikkan keadaan dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari yang tidak mungkin menjadi mungkin" katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kami pun berjalan beriringan menuju toko dan berhenti sejenak di ambang pintu. Kembali ia menatap sendu seisi toko. Dan lagi-lagi ia memelukku erat. Bak merasakan kehangatan pelukan seorang ibu, aku pun membalas pelukannya sambil tersenyum. Ayah yang melihat adegan tersebut pun turut tersenyum dan sendu. "Fara tidak tahu bagaimana Tante Vira sebenarnya, tapi dari apa yang semua Tante Vira lakukan Fara yakin kalau Tante adalah orang baik. Dan hari ini Fara merasa seperti mendapatkan sosok amah lagi" kataku yang membuat ayah tertegun menatapku. Seperti halnya ayah, Tante Vira pun tertegun dengan perkataan ku tersebut. Tampak keduanya saling bertatapan dan melempar senyuman.
Pukul lima lewat dua puluh menit. Kali ini aku sudah berada di rumah. Ku rebahkan tubuh pada sofa sekedar menghilangkan penat yang terus mengurung raga. Sementara itu terlihat tante Vira yang masih saja termenung. Entah apa yang ada dalam fikirannya.Aku tidak tahu. Hanya matanya saja yang terus menatap setiap sudut rumah. Aku pun akhirnya menghampiri dan mendekap lengannya. "Tante, mari Fara tunjukkan kamar Tante" ajakku sambil menatap wajahnya. "Terima kasih ya, sayang...Fara dan ayahmu sudah mau menerima Tante di sini" katanya sambil mengusap sebelah punggung tanganku. "Tante...itu sudah banyak membantu kami jadi apa salahnya kami pun berlaku sama. Dan lagi Tante dan ayah adalah sahabat dekat. Jadi wajar jika kami membantu Tante" kataku sambil tersenyum dan mengajaknya menuju kamar yang dimaksud. Tante Vira pun mengekori langkahku hingga ke sebuah kamar di salah satu sudut rumah. Sebuah kamar yang biasa nenek Merry tempati dahulu
Ketika sampai, seketika itu tante Vira langsung melangkah dan berdiri dekat jendela. Matanya menerawang jauh, menerobos bingkai jendela. Entah kemana. Berkali-kali ia pun terlihat menghela nafas panjang. "Semoga dengan keberadaan ku, tidak akan terjadi apa-apa pada kalian" katanya sambil memalingkan wajahnya sebentar, menatapku. Suaranya sedikit bergetar ketika ia berkata. Aku tersenyum. "Kita akan menghadapinya bersama, Tante" kataku sambil melepas kerudung yang membungkus kepalaku.
__ADS_1
Ku keluarkan beberapa barang dari lemari nenek. Dengan harapan, barang-barang Tante Vira dapat segera mengisinya. "Tante tidak tahu bagaimana kau menghadapi semua yang telah kau alami hingga kau seperti ini" katanya lagi dengan mata yang masih menatap luar jendela. "Semua karena ayah. Kami saling mendukung dan saling menguatkan. Dan yang paling utama adalah karena Tuhan. Allah Yang Maha Esa" kataku yang kali ini membuatnya tersedu. Ada kesedihan yang mendalam di kilat matanya.
"Hei...ada apa, Vir?" kata ayah perlahan yang sudah berdiri di ambang pintu. Maka cepat-cepat lah Tante Vira menyusut air matanya saat menyadari kehadiran ayah. "Aku rasa tidak apa-apa jika kau ingin menangis menumpahkan sesak dada mu. Aku bersedia menjadi sandaran mu" kata ayah sambil menghampiri Tante Vira. Rupa nya ayah tidak menyadari kehadiranku yang berdiri di salah satu sudut dekat lemari pakaian. "Ayah..." gumamku lirih, nyaris tak terdengar. "Bang..." kata Tante Vira yang membuatku tertegun. "Bang...Vira tidak tahu lagi harus bagaimana. Kami sudah bercerai, namun ia selalu saja masih menggangguku. Mengetuk pintu kamarku bahkan memaksaku untuk menemaninya. Sekali ia berhasil melakukanya. Dan ku pikir cukuplah ia memperlakukanku demikian. Karenanya aku lari" katanya yang terduduk pada lantai di bawah jendela. "Susah payah aku berusaha menghilangkan jejak darinya. Entah jika di sini. Aku berharap di sini adalah perhentian ku yang terakhir. Aku lelah jika harus berlari terus, Bang" katanya lagi sambil kembali menyusut air matanya yang sudah menganak sungai itu.
Ku lihat ayah menghela nafas panjang. Dan perlahan tangannya merengkuh tubuh Tante Vira dalam dekapannya. Aku menatap dengan terkejut atas perlakuan ayah terhadap Tante Vira. Sebegitu peduli kah ayah terhadap Tante Vira? batinku. "Kita jadikan tempat ini sebagai perhentian terakhir kita. Dan kita akan menghadapi semuanya bersama-sama" kata ayah yang membuatku terdiam. Ada bahagia di ujung hati saat melihat keduanya bersama. "Kalian berhak bahagia..." kataku dalam hati sambil terus menatap keduanya. "Fara...!" kata ayah saat menyadari kehadiranku. Aku tersenyum jahil sambil menggerakkan jari telunjukku. "Apes dech...." kata ayah segera melonggarkan dekapannya dari tubuh Tante Vira. Aku terkekeh melihat keduanya begitu kikuk, terlebih ayah...wkwkwk.
Pukul sembilan lewat dua belas menit. Malam hari. Aku sedang merapikan meja di teras rumah. Membersihkan dan menata kembali tata letaknya agar lebih sedikit berbeda suasana. Ketika tengah asyik melakukan aktifitas yang sudah menjadi kebiasaan ku itu, tiba-tiba aku merasa seakan sedang diawasi seseorang. Dan segera saja aku menghentikan aktifitasku itu dan memilih untuk masuk kedalam rumah. Berdiri aku dekat jendela. Mataku tak henti mengintai seputar halaman dari balik gorden jendela. Begitu teliti aku menatap setiap sudut yang dimungkinkan menjadi tempat persembunyian.
Deg.
Melompat batinku saat selintas aku melihat bayang di balik rimbunnya pohon pada sudut halaman. Sialnya, aku tak dapat jelas melihat karena minimnya penerangan pada sudut tersebut. "Astaga....!" kataku setengah teriak saat sebuah hentakan mendarat pada bahuku. "Ayah..." kataku spontan sambil mengusap dada. "Sepertinya ada orang di sana, Yah. Sepintas aku melihat bayangnya..." kataku sambil menunjuk sebuah tempat yang langsung menjadi perhatian ayah dan Tante Vira. "Tunggu di sini..." kata ayah sambil berlalu. Aku dan Tante Vira saling berdekapan dan menatap cemas ke luar jendela. Tak lama ku lihat ayah sudah berada di halaman. Langkahnya setengah berlari seperti mengejar sesuatu. Dari balik rimbunan pohon ku lihat ayah berhasil menarik seseorang. Ayahpun membawanya ke teras rumah dan menghempaskannya begitu saja. Mengaduh lelaki bertubuh tegap itu saat tubuhnya menyentuh lantai. Pun demikian ia tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Melihat itu aku dan Tante Vira berhambur keluar rumah.
Kemudian lelaki itu pun segera mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan beberapa angka. Segera ku sambar ponselnya itu dan mengamati deretan angka yang tertera. Benar itu adalah nomor ponsel kak Mirza. "Kenapa tuan Mirza mengirim mu?" kataku. "Tuan sedang berada di luar kota. Karena itu saya diperintahkan untuk menjaga nyonya muda. Maaf jika keberadaan saya mengganggu kenyamanan nyonya muda dan keluarga.." kata lelaki tersebut. "Lain kali jangan mengendap-endap seperti itu. Membuat curiga saja. Beruntung tidak ku dor kau tadi" kata ayah lagi. "Maaf, Tuan...sebenarnya saya pun sedang mengejar sosok bayangan yang mencurigakan. Sejak tadi sosok itu juga mengawasi rumah ini" jelas lelaki suruhan kak Mirza itu. Kami tertegun menyimak penjelasannya. "Jangan-jangan orang suruhan Darius..." kata Tante Vira. "Bisa jadi..." kata ayah. "Oya, terima kasih atas kesigapanmu dan maaf atas kesalahfahaman ini" ucap ayah lagi. "Baik tuan. Tidak apa-apa..." ucap lelaki itu. "Oya, aku sarankan lebih baik mengawasinya dari jauh. Dan mohon tidak terlalu menarik perhatian" kata ayah sambil menepuk bahu lelaki tersebut. "Baik tuan. Sekali lagi maaf...Kalau begitu saya pamit dan sialhkan tuan dan nyonya kembali beristirahat. Jika ada sesuatu mohon hubungi saya" katanya lagi sambil menyerahkan secarik kertas bertulis sederet angka. Ia pun mengangguk takzim dan berlalu dengan cepat.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Tubuhku mulai rebah di sebelah Tante Vira yang sudah terlelap. Malam ini kami tidur satu kamar mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Dan mataku kini mulai terpejam, namun tak tidur benar. Fikiranku sedang traveling. Dan sebuah nama pun ku sebut berulangkali. "Kak Mirza..." kataku dalam hati.
Drrt...Drrt...Drrt...
__ADS_1
Ponsel ku berpendar dan berhasil menarik perhatianku. "Assalamu'alaikum...sayang. Sudah tidurkah?" sebuah pesan dari kak Mirza. Pucuk dicinta ulam pun tiba. "Wa'alaikumussalam...sayang. Tak bisa tidur" jawabku. "Kangen kah pada ku?" pesannya lagi. "Menurut kakak bagaimana?" kataku balik tanya. "Hahaha....sangat kangen" pesannya.
Kangen bukan milikmu saja...
Pejamkan lah mata..Menarik kata dari puisi.
Membilang detik-detik hampa. Mengukur waktu kian berdebu. Masih dengan rindu yang sama. Setiap yang kutemui merupa dirimu
Impian utuh memanggil dari jauh. Melambai tanpa angin labuh. Tersangkut di ujung doa.
Pesan kak Mirza lagi yang membuatku tersenyum saat membacanya. Melonjak rasanya hati ini mendapat pengakuan perasaannya terhadapku. Kangen...
Aku titipkan kangenku pada angin yang berlalu, menyelusuri malam yang syahdu. Dan ku harap kau merasakan kangenku. Pulanglah sayang. Hati yang mencintamu menunggumu. Pulanglah, sayang. Mohon jangan tersesat atau lupa jalan pulang. Dan sudut hati aku yakin cinta ku pasti akan membawamu pulang. Hanya untukku. Sampai waktu itu tiba, aku akan menantimu bersama kangenku...
Begitu isi pesan ku, sesat sebelum aku terlelap bersama senyumku yang terkembang.
Pukul dua belas lewat sepuluh menit. Jendela kamarku diketuk berulangkali. Aku terlonjak. Pun demikian dengan Tante Vira yang disebelah ku. Kami pun duduk sambil menajamkan mata dan telinga atas suara ketukan tersebut. Dan lagi-lagi suara itu terdengar mengusik perhatianku. Hatiku sedikit kecut. Namun demikian, tetap ku beranikan diri untuk membuka gorden jendela. "Maaf nyonya muda. Tuan meminta saya mengantarkan ini" kata lelaki yang sempat beradu jurus dengan ayah itu. "Cake...?" kataku sambil membuka jendela dan mengambilnya. Ada sebuah tulisan di atasnya. "Selamat hari lahir, sayang...." kataku saat membaca tulisan tersebut. "Kak Mirza, ada-ada saja" kataku sambil menutup kembali jendela dan meletakkan cake di atas meja. Kulihat Tante Vira tersenyum menatapku. "Dia benar-benar mencintaimu..." kata Tante Vira yang ku jawab dengan senyuman sambil menatap cake di atas meja. Dan hatiku pun berubah syahdu. Sungguh aku tersanjung atas semua perlakuannya.
__ADS_1
Pukul lima lewat dua puluh menit. Aku membuka pintu kamar sesaat setelah merapikan mukena dan sajadah yang baru saja ku pakai. "Hai, cantikku.." ucap suara yang amat ku kenal. Dan langsung saja aku mencari yang empunya suara. Seorang lelaki berdiri bersandar pada dinding dengan menumpukan sebelah kakinya pada dinding. Dan sebelah tangannya tersimpan pada kantong celananya. Sementara sebelahnya lagi memegang seikat bunga. Ia tampak tersenyum menatapku. "Kak Mirza..." kataku. "Selamat hari lahir,ya..." katanya sambil menyodorkan seikat bunga. "Maaf semestinya semalam. Namun ada pekerjaan mendadak yang harus aku selesaikan" kata kak Mirza tersenyum dan mengusap pucuk kepalaku. "Bodyguard kakak sudah menyampaikannya semalam" kataku lirih. "Maaf..." katanya lembut sambil tersenyum dan menatap ku begitu lekat. Aku hilang kata ditatap sedemikian rupa. "Hei...ada apa?" katanya lagi saat melihat polahku sambil mengusap perlahan kepalaku. Belum sempat aku berkata, ayah dan Tante Vira sudah menghampiri kami. Lagi-lagi cake dan seikat bunga untuk ku. Kali ini ayah dan Tante Vira yang memberikannya. "Terima kasih, Ayah..." ucapku yang langsung menghambur memeluk ayah. "Putri hebat, Ayah..." katanya yang memelukku erat. "Terima kasih, Tante..." ucapku lagi sambil memegang tangannya.
Pukul enam tepat. Aku tersenyum menatap ketiga orang di depanku bergantian. Tante Vira, ayah dan kak Mirza. Semua perlakuan ketiganya membuat hari-hari ku jadi semakin berwarna. Di satu sisi menguatkan ku bak mentari di siang hari, dan di sisi lainnya terasa melembutkan ku bak rembulan di malam hari. Hari ini aku kembali tersanjung atas kejutan-kejutan yang ada...Terim kasih.