
"Aku...Aku" ucapku gagu. Bibir kak Keanu mendesis, berisyarat agar aku tak perlu berkata lagi. "Aku tahu. Kau hanya bimbang menentukan sikap dan memaknai setiap perasaan dalam hatimu" ucapnya mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Aku terdiam. Dalam hati aku mengiyakan semua ucapannya. Memanglah selama ini aku meragukan perasaanku, tapi malam ini tidak. Terutama setelah melihat kesungguhan di matanya. Aku memang menyukainya...
Ada sebuah kelegaan yang baru saja mampir di ujung hatiku. Kelegaan atas sebuah perasaan yang selama ini aku menimbangnya. Dan sekali lagi aku harus mengakui bahwa aku memang menyukainya.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. "Fara...sudah malam, Nak. Apa tidak sebaiknya menginap saja?" ucap mama Wina yang sudah berdiri beberapa langkah dari dari. Ku lirik kak Keanu dengan ekor mata ku, ada senyum di sana yang bergantian menatap mama dan aku. "Terima kasih, Ma. Tapi esok pagi-pagi sekali harus sudah ke cafe. Kebetulan ada event ulang tahun" ucapku sambil tersenyum. "Kan bisa berangkat dari sini..." ucap mama Wina lagi. Dan aku menanggapinya dengan senyum khas ku sambil mengangguk takzim. "Ya, kita juga belum sempat berbincang Fara" ucap Qory yang umurnya selisih tiga tahun lebih dari ku. "Terima kasih, Kak Qory. Lain kali kita berbincang. Fara janji..." ucapku sambil tersenyum. "Jadi sekarang sudah jadian, nieh...?" ucap Qory lagi berseloroh. Aku dan kak Keanu tersenyum tipis sambil saling menatap. "No. Tidak akan..." ucap kami hampir samaan lalu tertawa. Mendapati polah aneh kami berdua mama Wina menggelengkan kepalanya. "Sotoy..."ucap Qory. Tangannya menghadiahi sebuah cubitan pada lengan kak Keanu. Mendapat perlakuan tersebut kak Keanu membulatkan matanya. Sementara tangannya mengusap-usap lengannya. Aku tersenyum geli melihat polahnya. Wajahku pun sedikit tertunduk untuk menutupi reaksi di wajahku.
"Fara pamit ya, Ma..." ucapku sambil mencium punggung tangannya dengan takzim. Dan satu pelukan mama pun ku sambut dengan senang hati. Dalam hati aku bahagia, seperti memeluk amah rasanya. Begitu hangat. "Janji ya...lain waktu kita berbincang. Dua hari lagi aku pulang ke rumah" ucap Qory saat memelukku. Aku pun mengangguk sambil mengumbar senyum khas ku. "Satria akan mengiringi mobil mu" ucap kak Keanu sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut. Aku pun berisyarat dengan bibirku. "Pulang ya..." begitu kira-kira aku bibirku berisyarat. Lambaian tangan pun ku berikan dengan iringan senyum sambil melajukan mobil merah ku. Kutinggalkan halaman rumah besar itu dengan rasa bahagia dan sebuah keyakinan atas rasa yang ada kini. Rasa yang jauh sebelum aku dewasa sudah menjadi bahan perbincangan. Rasa sudah menghilang bahkan tak pernah terpikirkan saat aku dewasa. Hingga semua kehidupanku serasa jungkir balik, rasa itu kembali hadir. Walau sempat ragu tapi ternyata malam ini aku harus mengakui perasaan itu. Dan kak Mirza...aku sudah mulai dapat menutupnya. Rasa sakit yang ia berikan telah mengoyak kepercayaanku. Juga kata-kata yang dilontarkan Amara pun bak ribuan jarum menusuki hati ini. Amat perih.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Aku membelokkan mobil merahku pada sebuah kedai yang masih buka. Ku lihat sebuah mobil sport hitam pun mengikuti ku. Ku yakin itu adalah Satria. Namun ia tidak keluar mobil. Tapi ku yakin setiap gerak-gerik ku ia amati. Bodyguard handal, begitu Fikirku. Kemudian ku langkahkaon kaki menuju seorang laki-laki yang tengah sibuk merapikan sebuah meja. Tangannya begitu cekatan menata ulang pernak-pernik di meja. Dan wajah tampannya tetap terlihat di bawah temaram cahaya lampu kedai. Ia adalah Revans. Teman SMA ku yang dahulu pernah menghina dan memfitnah keadaan ku setelah peristiwa penculikan. Namun seiring waktu, justru ia menjadi pembelaku atas cacian yang terlontar untukku. "Fara..." ucapnya terkejut atas kedatanganku. Matanya hingga ia usap berulangkali, seakanntak percaya. "Apa kabar, Vans?" ucapku sambil tersenyum dan duduk di kursi pada meja yang baru saja ia bersihkan. Ia masih saja menatapku sambil duduk di hadapanku. "Baik...Darimana saja kau, Fara? Aku sempat mencari-cari mu" ucapnya sambil tersenyum. "Aku di kota ini juga. Aku membuka cafe. Sama seperti mu. Sempat menjauhkan diri dari orang-orang dan keluarga. Tapi kini aku sudah sanggup menatap kembali kenyataaan hidupku. "Aku tahu dari Sherlly saat ia tak sengaja singgah ke kedaiku ini" ucap Revans sambil tersenyum tipis. "Ya. begitulah hidup. Tapi semua sedang ku coba lalui dengan senyuman. Walau kadang perih masih ku rasa" ucapku sambil meraih lembar menu di meja. "Fara...Fara, ujian hidup mu begitu berat. Dan aku berdoa untukmu semaoga kau selalu kuat menghadapi segala ujian hidup. Dan yakinlah badai pasti berlalu" ucapnya yang mendadak bijak dan tentu saja membuat ku tersenyum. Sesaat kami terdiam dalam lamunan masing-masing.
"Jadi mau pesan apa nieh, tukang makan" ucap nya kemudian sambil terkekeh. "Tukang makan...masih ingat juga jukukanku itu?" ucapku yang juga turut terkekeh. "Ya. Sebuah kebiasaan yang membuat Sherrly kesal. Karena ketika mengikuti kebiasaan mu itu, berat badannya menjadi naik. Berbeda dengan mu yang tetap stabil" ucap Revans yang membuat kami tertawa. Kemudian aku pun memesan beberapa menu kudapan untuk di bawa pulang. Dan sambil menunggu pesanan siap, aku dan Revans pun berbincang banyak hal. Terutama cerita hidupnya yang juga terbilang miris menurutku. Revans harus bergonta-ganti pekerjaan setelah beberapa kali menjadi tumbal kesalahan pimpinan perusahaan dimana ia bekerja. Ia pun pernah merasakan dinginnya lantai jeruji besi.
__ADS_1
"Hei...mana makanan dan minumannya?!!" ucap seorang laki-laki bertubuh kekar bersama beberapa orang lainnya yang juga berubuh besar. Aku pun saling bertatapan atas kedatang pengunjung yang bertubuh kekar itu. Dengan cepat ia menghampiri keempat laki-laki bertubuh kekar itu. Dengan sopan Revans menawarkan beberapa menu andalan kedainya. Namun sayangnya perlakuan Revans tersebut ternyata mendapat tanggapan yang tidak menyenangkan dari keempat laki-laki itu. Pun demikian Revans tetap tersenyum dan berusaha mengendalikan amarahnya. Hingga sebuah tolakan terhadap dirinya membuat Revans tersungkur. Matanya menata tajam, sementara kedua tangannya mengepal hebat. "Saya sudah seramah mungkin menghadapi kekurangajaran kalian. Tapi sekarang saya tidak bisa beramah-tamah lagi dengan kalian. Dasar bangsat...!" ucap Revans. Berhamburan beberapa pengunjung yang tengah menikmati menu yang sudah tersaji. Menghambur keempat laki-laki bertubuh kekar itu. Sedikit menjauh gerak Revans dari kedai. Aku masih duduk menatap kelimanya berolah jurus. Sungguh pergulatan yang tidak seimbang.
Tak perlu menunggu lama, aku pun berdiri dan mulai melangkah mendekati kelimanya. Ku singkap gaun dan mengikatnya rapi dan menyisakan celana legging panjang ku. "Hei..." teriakku lantang. Dan hal tersebut tentu saja berhasil membuat pergulatan mereda. Terkekeh seorang laki-laki melihatku. "Ow...ada nona cantik yang ingin ikut campur. Sudah bosan hidup...?!!" ucapnya dengan lantang dengan mata yang menatap begitu tajam. Aku tersenyum sinis karena sudah diremehkan. Ku lihat Revans menatap khawatir padaku yang ku balas senyuman. Sementara itu dua orang laki-laki bertubuh kekar mulai menghampiriku. Mata keduanya begitu jahat menatap tubuh ku berulang dari ujung kaki hingga kepala. Tak lama keduanya memulai jurus dan menyerang ku. Bukan menjadi masalah bagi ku saat ini kak Roy sudah mengajariku ilmu bela diri sejak beberapa bulan yang lalu. Dan beberapa pukulan dan tendangan ku berhasil membuat keduanya sedikit kewalahan. Pun demikian ternyata hal tersebut tak berlangsung lama. Sesaat kemudian aku terdesak. Langkahku terkunci. Dan sebuah tentangan mengarah ke tubuhku satu sentimeter lagi, ketika sebuah bayangan berkelebat cepat menarik tubuhku. Tak hanya itu ia memintaku untuk berpegangan pada lengannya. "Kak Keanu..." ucapku saat melihat wajahnya. Dan segera aku memegang lengannya dan ia pun berhasil melentingkan tubuhku aehingga aku dapat bermain pada tubuh kedua laki-laki dengan kaki ku. Ya... beberapa tendangan mulus me darat pada tubuh keduanya. Wal hasil keduanya jatuh tersungkur. Wajah keduanya menggambarkan bagaimana kondisi tubuhnya akibat tendangan ku itu. Dan sekali lagi kak Keanu menghadiahi keduanya dengan sebuah tendangan yang membuat keduanya tak sadarkan diri. "Tuan putri di sini saja..." ucap kak Keanu sesaat sebelum menghambur ke dalam pergulatan Revans dan lawannya. Aku terdiam. Mataku menatap punggung kak Keanu yang begitu cepat berlalu. Sebuah pemandangan yang sudah biasa ku lihat sejak ia menjadi bodyguard kak Mirza dan mendampingi atas perintah kak Mirza.
Pukul sebelas lewat tiga menit. Kak Keanu masih berjibaku meladeni jurus-jurus seorang laki-laki. Sementara laki-laki lainnya telah roboh terhempas tak sadarkan diri di sudut halaman kedai dengan Revans yang terduduk tak jauh dari laki-laki tersebut. Aku terpekik ketika sebuah pukulan mengenai wajahnya. Kemudian tak lama kak Keanu berbalik membalas laki-laki tersebut dengan beberapa tendangan beruntun. Aku terpaku melihatnya. Hati ku Berdesir. Jantungku berdegup hebat. Sebuah perasaan yang sama hebatnya saat menatap kak Mirza, saat ia berolah jurus dahulu. Tak henti aku menatapnya. Sungguh laki-laki yang banyak digilai perempuan pastinya seperti halnya kak Mirza dahulu.
"Hei..." ucap kak Keanu yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat ku. Tangannya mengusap lembut pucuk kepalaku. "Jadi yang mengiringi mobil ku bukan Satria. Tapi kak Keanu sendiri?" ucapku sambil menatap wajah tampannya. "Apa dayaku, sayang. Kekhawatiranku tak dapat diindahkan" ucap kak Keanu sambil tersenyum menatapku lekat. Aku pun Tertawa renyah. Tak lama sebuah mobil patroli menghampiri. Setelah mendapat penjelasan Revans dan beberapa pengunjung, akhirnya polisi pun membawa keempat laki-laki bertubuh kekar itu.
"Terima kasih, Kak..." ucap Revans henti. Matanya menatap kak Keanu. Ada rasa keterkejutan hebat di ujung tatapannya. Dan yang tak kalah terkejutnya adalah kak Keanu. Dengan cepat tangannya mencengkram kuat lengan Revans. "Kau..." ucapnya dengan mata yang membulat, rahang yang mengeras. Ada amarah di ujung tatapannya. Aku pun berusaha menenangkan, namun kak Keanu diam saja. "Katakan yang sebenarnya. Jangan kau sembunyi dibalik kata teman atau sahabat...!" ucap kak Keanu sambil menghempaskan tubuh Revans. Dan tak ayal lagi tubuh Revans pun terhempas mengenai tepian meja. "Kak...!" ucapku setengah teriak. "Kau tanyakan pada nya. Mengapa aku berlaku demikian..." ucap kak Keanu penuh amarah. Dia berdiri membelakangi ku.
Revans Flashback On
__ADS_1
Hampir empat tahun yang lalu aku mendapati kakak ku tengah menangis pilu. Walau ia adalah saudara berbeda ayah namun kami lahir dari rahim yang sama. "Kak...ada apa?" tanyaku. Kakak itu bercerita bahwa ia mencintai seorang laki-laki. Teman kampusnya. Namun sudah memiliki perusahaan sendiri. Aku tertegun menatap tangisnya yang begitu pilu itu. "Ada perempuan lain yang begitu ia cintai. Namanya Fara. Aku ridak dapat menerimanya, Revans. Tolonglah aku Revans..." ucapnya yang semakin terisak pilu. "Apa yang harus aku lakukan, kak..?" tanyaku. "Aku tidak tahu..." teriaknya sambil memelukku.
Pukul Delapan lewat lima menit. Di sekolah. Aku duduk menyendiri di sudut sekolah dekat toilet. Tak lama ku lihat Ratu melangkah menuju toilet. Melihat aku yang duduk terpekur sendiri, Ratu pun menghampiriku. "Ada apa?" tanyanya sambil mengangkat sedikit dagunya. Kemudian aku pun menceritakan prihal kakak ku yang begitu menyukai laki-laki teman kampusnya itu. Mirza Adhiatma namanya. Mendengar nama yang ku sebut Ratu terkejut. Tangannya mengeras. Dan ku lihat ada kemarahan di ujung tatapannya. Kemudian ia pun memberi saran untuk menculik perempuan yang dimaksud kakak ku itu. Yang akhir-akhir ini ku ketahui sebagai Fara. Seorang gadis yang baru saja kehilangan neneknya dan menyambung hidup dengan berjualan kue. Dan Fara adalah teman sekolahku sendiri. Sempat bimbang atas usulan Ratu tersebut, namun akhirnya aku setujui apalagi saat melihat kakak perempuan ku satu-satunya itu murung, hilang selera hidup.
Pukul satu lewat lima belas menit. Saat pulang sekolah. Ku lihat Faraelangkah beriringan bersama Sherlly dan Ferry. Langkahnya menuju sebuah cafe tak jauh dari sekolah. Aku pun segera menghubungi Ratu untuk menjalankan rencana kami tersebut. Dan Ratulah yang memfasilitasi semuanya sehingga rencana dapat berjalan lancar seperti yang telah direncanakan.
Sebuah mobil berwarna hitam telah bersiap dekat cafe. Jaraknya beberapa meter saja. Tak lama kemudian, beriringan Fara bersama Sherlly dan Ferry keluar cafe. Aku sudah bersiap di dalam mobil. Ku lihat tawa Fara yang begitu manis sempat membuat hatiku goyah. Tawa yang polos tanpa dosa. Namun saat mengingat kepiluan kakak Perempuanku, hatiku kembali menguat. Dan segera saja ku sambar tubuh Fara dan menariknya ke dalam mobil. Meronta hebat Fara, namun itu tak lama. Karena aku berhasil me dekap wajahnya dengan sapu tangan yang sudah kubububi sebelumnya dengan obat bius. "Tuhan, ampuni aku.." ucapku dalam hati saat melihat wajahnya yang cantik dan polos itu.
Mobil pun melaju meninggalkan kota menuju sebuah kota lain yang cukup jauh. Terakhir meninggalkannya pada sebuah rumah remang-remang milik tanya Maghdalena. Aku terpekur saat meninggalkan Fara yang saat itu masih tak sadarkan diri. Aku tak mengerti, aku sanggup melakukan semuanya. "Maafkan aku Fara.." gumamku lirih sambil menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi mobil.
Revans Flashback Off
__ADS_1
Aku tak sanggup berkata-kata saat Revans bercerita. Hanya mataku saja yang semakin basah dengan air mata. Tanganku gemetarenahan gejolak dalam hati. Dan kemudian mendadak tanganku menjadi ringan sehingga langsung menghadiahinya sebuah tamparan yang ku yakin cukup keras mengenai wajahnya. "Apa mata hati mu sudah menjadi buta..! Hanya demi membahagiakan kakak mu, kau tega merusak kebahagiaan dan kehidupan gadis lain..?!" ucapku histeris. "Maafkan aku, Fara..." ucapnya penuh penyesalan. "Kau tidak tahu bagaimana hari-hari ku jalani setelah peristiwa itu..? Hampir aku berusaha meninggalkan dunia ini" ucapku pilu di sela isak ku. "Kau berhak marah, Fara. Aku salah. Mungkin juga tak patut di beri maaf" ucap Revans yang terus menyimpan wajahnya.
Bersandar kepalaku pada bahu kak Keanu yang sejak tadi duduk di sebelahku. Isak ku telah usai. "Lalu apakah kakak mu itu sudah bahagia?" tanyaku polos. Dan itu membuat Revans mendongakkan wajahnya dan menatapku. "Katakan...!" ucapku setengah teriak. "Dari kabar yang ku terima darinya, kakak ku itu sudah bahagia bersama Mirza" ucap Revans tak enak hati. Aku tertegun dan menatapnya tajam. "Jangan katakan jika kakak mu adalah orang yang aku pikirkan saat ini" ucapku lagi hampir menangis. "Apa dayaku, Fara. Tapi itu semua sebauh kebenaran. Kakak ku itu adalah Amara..." ucap Revans. Mendengar itu mataku memanas. Tanganku mencengkram lengan kak Keanu kuat. Dan jantung ku yang semula berhasil ku damaikam kini kembali bertalu. Aku lunglai. Apa dayaku kini...