
Pukul delapan lewat lima belas menit. Langkahku beriringan dengan mbok Jum menyusuri lorong pertokoan yang mengular. Tak pasti apa tujuanku, yang jelas barang belanjaan ku telah banyak terjinjing. Yang paling banyak ku beli adalah berbagai penganan tradisional yang sudah lama tak ku jumpai. Tersenyum mbok Jum menatap polah ku. "Ingin diborong semua, Non...?" ucapnya. Aku tersenyum saja sambil berseloroh. "Menyenangkan mbah-mbah saja mbok" ucapku yang saat itu mataku sudah tertuju pada seorang Mbah menjual penganan lainnya.
"Berapa mbah..." tanyaku sambil menatap wajah rentanya. "Se-pincuk tiga ribu, *N*dok" jawab si mbah dengan logat kedaerahannya. "Minta sepuluh pincuk, mbah..." ucapku lagi sambil menyodorkan tiga lembar uang sepuluh ribuan. Si mbah terlihat sumringah. Dengan cekatan tangan renta-nya memasukkan penganan sesuai pesanan ku. Tangannya sedikit bergetar dimakan usia.
"Ini, Ndok. Terima kasih. Semoga ndok selalu bahagia, dikasihi oleh pasangannya, panjang umur dan di lindungi gusti Allah" ucapnya sambil menyodorkan bungkusan penganan yang ku pesan. Aku tersenyum mendengarnya. "Aamiin. Mbah juga begitu ya. Bahagia dan sehat selalu" ucapku sambil berlalu. Langkah ku tidak begitu cepat. Bahkan perlahan saja. Ah, hanya gara-gara uang tiga puluh ribu, si mbah mendoakan ku begitu panjang. Si mbah hebat, di usia senjanya tetap berusaha menghidupi penghidupannya. Aku membatin di sepanjang perjalanan ku menuju parkiran.
Mendadak hatiku berdesir. Begitu aneh. Mataku menangkap kelebat bayang laki-laki yang pernah mendiami hatiku. Laki-laki yang sudah mengajariku banyak hal, kasih syang, cinta, keberanian, dan juga kekecewaan. "Kak Mirza..." ucapku lirih sekali.
"Den Aiman...!" teriak mbok Jum tiba-tiba saja. Katanya berhasil membuyarkan lamunan liar ku. Aku terkesiap. Tangan mbok Jum mengguncang lengan ku, sementara matanya tertuju pada suatu tempat. " Ah, jangan bercanda mbok" ucapku sambil turut melihat arah yang ditilik mbok Jum. Wajah Mbok Jum begitu mengisyaratkan keyakinan atas apa yang telah dilihatnya. "Mbok mana berani bercanda untuk hal ini, Non..." ucap mbok Jum. Bola matanya bergerak mencari sosok yang berhasil ia tangkap sebentar tadi.
__ADS_1
"Ada apa, Nyonya..." tanya Azam sesaat setelah ia mendapatiku menghentikan langkah tanpa sebab pasti. Terlebih saat kegamangan terlihat di wajah ku. Mengapa keduanya muncul bersamaan. Aiman dan kak Mirza. Suatu kebetulan kah? Aku yakin demikian. "Tidak ada apa-apa..." ucapku gagu sambil menghempaskan tubuh ke dalam mobil. Sesaat Azam menatap mbok Jum sambil berisyarat perihal kegamanganku.
Tak lama kemudian, mobil pun berlalu meninggalkan parkiran pasar tradisional yang masih tampak ramai dikunjungi. Selama perjalanan aku terdiam. Fikiranku tengah asyik mengembara kembali. Bermacam spekulasi bermunculan dan sempat menggoyang keyakinanku. Jikalah benar apa yang dilihat mbok Jum, mengapa Aiman tidak menemui ku? Tanyaku tentang Aiman makin bertambah saja. Terutama sejak cahaya mulai bersemayam kembali pada mata ku, Aiman menghilang. Itu sudah dua bulan yang lalu. Masih jelas pada ingatanku saat pamitnya sebelum operasi ku dilakukan. Pekerjaan di luar kota membuatnya meninggalkanku saat itu. Hati ku makin penasaran saat waktu tak kunjung membawanya menemuiku. Sebagai orang yang baik dan telah banyak membantuku, sesungguhnya Aiman adalah sosok yang paling ku cari saat ini. Aku ingin mengenali wajahnya secara langsung. Wajah yang selama ini selalu ia sembunyikan setiap aku ingin mengenalinya melalui indra peraba ku. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih ku atas segala bantuannya. Semoga secepatnya aku dapat bertemu dengannya. Begitu aku terus membatin.
Kemudian fikiranku terus berlari pada pengembaraanku. Tiada satu hal pun yang mampu menghentikannya. Dan mungkin aku salah mengenali kelebat bayang yang semula kutaksir sebagai kak Mirza. Ah, entahlah. Fikirku kembali mengembara jauh hingga menyasar pada masa saat bersama kak Mirza. Masa yang sempat dipenuhi cinta dan bahagia, namun berujung kecewa dan luka.
Mendadak mobil terhenti. Cicitnya begitu nyaring menyasar di telinga. Aku terpekik terlebih saat tubuh ini bergeser dari tempat duduk. Kulihat Azam pun pasi mendapati situasi tersebut. "Ada apa...?" tanyaku sambil menepuk bahunya. Segera Azam pun terkesiap. Tangannya menunjuk ke arah kerumunan tepat di badan jalan. Aku pun mengikuti arah yang dimaksud Azam.
Hati ku tergelitik rasa penasaran. Aku dan mbok Jum terpekik saat melihat sosok yang tengah berduel dengan jurus-jurus yang begitu mantap. Dan akhirnya kami pun masing-masing menyebutkan nama yang berbeda saat tahu pasti siapa laki-laki yang tengah berduel itu secara bersamaan. "Kak Mirza..." ucapku. "Den Aiman..." ucap mbok Jum. Sesaat aku menatap mbok Jum dengan penuh selidik. "Kak Aiman...?" ucapku lagi memastikan sambil menatap mbok Jum. "Ya, Non. Yang sedang berduel itu den Aiman. Mbok tak mungkin salah" ucap mbok Jum dengan yakin. "Yang mana..?" tanya ku untuk lebih meyakinkan hati. "Yang memakai kaos lengan panjang warna hitam" ucap mbok Jum menjelaskan.
__ADS_1
Deg.
Sang waktu serasa terhenti melaju. Jantungku menjadi bertalu tak menentu. Aiman...? Jadi yang dimaksud Aiman oleh mbok Jum itu sebenarnya adalah kak Mirza bagi ku. Astaga... Aku lesu. Wajah ku pasi. Tubuhku langsung rebah pada sandaran kursi. Ada kegamangan yang mulai menjalari jiwa. Aku harus apa? Aku terdiam seribu bahasa. Hatiku kembali gerimis saat ingatanku menyasar pada sosok yang baru aku dan mbok Jum debatkan.
"Jalan, Zam" ucapku singkat. Mataku masih menilik sosok berbaju hitam yang masih berjibaku meladeni jurus-jurus lawan. Mataku benar-benar tak mampu lepas dari sosok tersebut ketuka melewatinya. Bahkan wajahnya masih bermain dalam ingatanku. "Kak.Mirza..." ucapku kembali lirih. Ada gusar yang tiba-tiba saja menyeruak dalam hati dan tak terbantahkan lagi.
Jika benar kak Mirza itu adalah Aiman, aku harus bagaimana? Apa maksud kak Mirza berganti menjadi Aiman dan membantuku selama beberapa waktu lalu? Mengapa ia tak jujur padaku selama ini? Astaga...bodohnya aku lebih mempercayai ucapannya ketimbang insting ku sendiri selama ini. Jika benar Aiman atau kak Mirza adalah orang yang sama, maka terjawab sudah segala tanya yang ada selama ini. Kak Mirza atau Aiman, aku akan memastikannya nanti saat hati ini menjadi lebih siap menghadapi sebuah kenyataan pahit sekali pun tentang identitas keduanya.
Pukul sepuluh lewat lima menit. Mentari ternyata gagal bernegosiasi dengan angin untuk tidak membawa awan gelap menyelimuti langit. Buktinya langit mulai menjadi gelap. Awan hitam menggantung manja menghiasi langit dan mulai menyamarkan sinar mentari. Dan pada akhirnya langit mulai menurunkan gerimis sedikit demi sedikit. Begitu pun halnya suasana hatiku saat ini. Mendung dan mulai dilanda gerimis. Semoga tidak menjadi badai. Semoga...
__ADS_1