
"Maafkan aku Fara. Aku gagal memberi keamanan kepada mu dan juga anak laki-laki mu. Semestinya aku tidak meninggalkan mu. Maafkan aku, Fara..." begitu ucapan Aiman. Ucapan yang sama dan sudah berulangkali ia sampaikan sejak tiga hari lalu. Ya, sejak tiga hari lalu saat anak laki-laki ku diambil paksa oleh orang tak dikenal. Dan kini aku semakin memendam pilu dan amarah. Hari-hari ku pun makin gelap gulita. Setitik cahaya yang baru saja kulahirkan, kini lenyap sudah. Aku terisak pada salah satu sudut ruangan. Memeluk erat kedua lutut sambil sesekali mengusap kesal wajah ku.
"Non Fara..." ucap mbok Jum yang menghampiriku. "Sarapannya, Non..." ucapnya lagi yang tak ku gubris sedikit pun. "Non..." ucap mbok Jum lagi. Kali ini ia sedikit mengguncang tubuhku. Dan hal.itu ternyata ampuh untuk membawa kembali kesadaran ku. Aku pun memalingkan wajah dimana ia berada. "Sarapan, Non..." ucap mbok Jum lagi. Kali ini ia mengusap wajahku yang telah basah dengan air mata. "Aku tidak lapar, mbok..." ucapku lirih. "Sejak semalam non tidak makan. Mbok khawatir non sakit" ucap mbok Jum.
Aku terdiam. Fikiranku tengah asyik mengembara. Membongkar setiap keping peristiwa yang telah menjadi kenangan. Menghubungkan setiap peristiwa yang mungkin bisa menjadi titik terang keberadaan anak laki-laki ku itu. Dan aku kembali terisak saat mengingat anak laki-laki ku yang kini entah dimana.
"Aku tidak apa-apa, mbok. Aku baik-baik saja" ucapku berusaha meyakinkan mbok Jum yangasih saja berusaha merayuku untuk melahap menu pagi ini.
"Fara..." ucap Aiman yang sudah berada di dalam kamar yang ku tinggali beberapa bulan terakhir ini. Ku rasa ia sedikit ragu saat merengkuh ku. Dan Isak ku makin menjadi saat ia menenggelamkan kepalaku pada dadanya. "Maafkan aku, Fara..." ucap Aiman. "Bukan salahmu, Kak. Aku yang sebenarnya patut di salahkan. Sebagai ibu aku tak sanggup menjaga anakku" ucapku. Lama aku meluapkan tangisku pada dada bidangnya. Pun demikian wajah kak Keanu tidaklah lepas dari hati dan fikiranku. Wajahny timbul tenggelam menggoda kesadaran ku.
"Tidak mau makan juga, mbok...?" tanya Aiman kemudian sesaat setelah melonggarkan dekapannya.
"Oya, aku membawa dua kabar. Kabar pertama, ada pendonor mata untukmu. Dokter sudah memeriksanya dan cocok untuk mu" ucap Aiman yang ku tanggapi biasa saja. Bahkan biasa saja. Mungkin wajahku pun menampilkan reaksi biasa-biasa saja. Aku yakin itu.
Kemudian ku dengar denting sendok dan piring beradu. Aku yakin Aiman tengah menyusun menu untuk ku. "Buka mulutmu..." pinta Aiman. "Demi anak mu. Bagaimana kita akan mencarinya jika kau sakit" ucap Aiman lagi. Dan mau tidak mau akhirnya aku pun membuka mulut dan melahap suapan yang diberikan Aiman walau ada keraguan yang tercipta di situasi tersebut. "Good..." ucap Aiman. Tangannya cekatan membuang sisa makanan yang tak sengaja jatuh di sudut bibirku. "Ah, sedetil itu perhatianmu, Kak" ucapku dalam hati. "Terima kasih, Kak atas semua perhatianmu..." batin ku.
__ADS_1
"Em, Kabar yang kedua, aku sudah mengetahui dimana anak laki-laki mu itu berada" ucap Aiman.
Deg.
Kepalaku terangkat. Seolah aku mampu menatap wajahnya. "Benarkah...? Diamana anakku, Kak...? Dimana? Aku mohon beritahu aku..." ucapku hampir menangis. Tanganku mengguncang lengannya. Aiman pun melonggarkan dekapannya. Kedua tangannya memegang kedua lenganku. Nafasnya begitu jelas ku dengar. Terakhir ia menghela nafas begitu panjang. "Anakmu...ada pada mertuamu" ucap Aiman.
Deg.
Aku tertegun. "Mama Wina..." ucapku seakan tak percaya. Aku gamang. Langkahku surut. Tanganku mencari pegangan. "Mengapa? Bukankah jika ia ingin menemui cucunya, ia bisa datang baik-baik. Tidak perlu hingga mengambil paksa..." ucapku yang langsung duduk saat berhasil mencapainya.
"Tapi kak..." ucapku terhenti saat terdengar langkah mendekat. Aiman pun melonggarkan dekapannya. "Fara..." suara laki-laki terdengar. Begitu khas. "Kak Faaz..." ucapku menduga. "Ya, Fara..." jawabnya jelas sekali. "Kak Faaz, anak ku...Ayo kita ambil anakku. Ayo kak..." ucapku sambil berusaha mendekatinya.
"Kemarilah Fara..." ajak dokter Faaz sambil memegang lenganku. Pada sebuah kursi dokter Faaz mendudukkan ku. Kemudian ia pun menarik sebuah kursi hingga dekat dengan ku. Ku dengar helaan nafasnya yang begitu panjang dan terasa berat. Aku yakin sebagai gambaran apa yang ada dalam hati dan fikirannya.
"Fara...Em, aku sarankan kita menyelesaikan masalah yang ada satu-satu. Menurutku untuk saat ini kesehatanmu yang utama" ucap dokter Faaz. "Maksud kakak anakku tidak pentin" ucapku kacau. "Tidak demikian. Anak lebih utama. Tapi...di situasi saat ini penglihatanmu akan menjadi penting. Mengapa? Hal ini untuk memudahkan untuk mendapatkan anakmu lagi. Jika penglihatanmu pulih maka tidak ada yang akan menghalangi langkah mu lagi" ucap dokter Faaz. Aku termenung. Mencoba memaknai setiap kata dokter Faaz.
__ADS_1
Ada perih yang kurasa, menyeruak tak terelakkan. Selain itu kegamangan pun menyelimuti hati ku. Dan akhirnya tangisku pun tak terbantahkan lagi. Bulirnya terjun bebas menitik pada pangkuanku. Setelah beberapa saat termenung akhirnya sampailah pada sebuah keputusan dengan sebuah pembenaran atas ucapan dokter Faaz. "Kapan waktu operasinya..." ucapku kemudian.
Bersyukur keduanya atas keputusanku itu. Baik dokter Faaz maunpun Aiman, keduanya menghela nafas lega. "Lusa..." ucap dokter Faaz. "Baiklah..." ucapku lagi. Pun demikian, tetap saja aku merasa ada sedikit kegelisahan di ujung hati. Sebuah kegelisahan yang membuatku gamang.
Tiktok jam kembali menyerukan waktu. Hari yang ditetapkan sudah sampai. Tepat pukul delapan pagi operasi akan dilaksanakan. Artinya saat ini masih tersisa satu jam lagi sebelum pelaksanaan operasi. Aku terdiam. Fikiranku mengembara menyusuri keping kenangan yang berseliweran. Timbul tenggelam dalam kepalaku. Tak lupa sebait doa ku munajatkan penuh pengharapan. Doa-doa panjang yang ku untai dan selalu kunanti kemustajabannya sebagai sebuah mukjizat Sang Kholik. "Aku mohon dengan sangat. Kabulkanlah ya, Robby" ucapku dalam doa.
"Tunggulah ibu, Nak. Ibu akan segera menjemputnya. Secepatnya sesaat setelah kesembuhan ibu peroleh. Kuatlah, Nak. Ibu sayang padamu, Nak. Ibu yakin Allah akan memudahkan jalan kita. Berdoalah untuk ibu, Nak..." ucapku kemudian.
Tak lama kemudian team medis membawaku pada ruang operasi. Tubuhku pun sudah terbaring bersiap untuk operasi. Pun demikian, terbersit banyak tanya di hati. Terutama tentang identitas pendonor. "Siapakah ia sebenarnya" gumamku lirih saja. "Rasanya menjadi tidak mungkin, orang yang mendonorkan matanya kepada orang lain kecuali hatinya sudah menjadi malaikat. Karena hatinya benar-benar sudah terbebas dari segala jenis penyakit hati.
"Fara..." ucap seorang laki-laki yang berdiri di hadapanku. Ia tampak tersenyum dengan wajah yang begitu berseri. Dia merentangkan kedua lengannya menyambut kehadiranku. "Kak Keanu..." ucapku dengan langkah panjang. Semakin lama langkahku semakin cepat. "Kak Keanu..." ucapku lagi saat sudah berada dalam dekapannya. Tiada kata yang terucap hanya bahasa tubuh yang berbicara. Juga derai air mata yang semakin terjun bebas.
Kemudian aku Terpekik saat wajah tampan bernuh senyum itu tiba-tiba saja pergi menjauh. Langkahnya tak sanggup ku tangkap. Kupanggil namanya berulangkali, namun tiada jawaban. Kak Keanu tetap dengan langkah panjangnya. Kali ini tangannya melambai seakan menandakan salam perpisahan.
"Kak Keanu...!" teriakku sekuat tenaga. Panggilan yang berulangkali ku lakukan. Panggilan yang diabaikannya. Tangisku pecah kembali. Kemana kak Keanu pergi...? Rindu ini belum usai, Kak. Begitu aku membatin. "Kak Keanu...!" panggilku.
__ADS_1