
"Ya, Nyonya..." ucap bang Pandu sambil tersenyum tipis dan menatap ku. "Bagaimana bisa..." ucapku menggantung saat ia berisyarat untuk tidak bersuara. "Ya, Tuan. Saya segera mencari Nyonya..." ucap bang Pandu saat menerima sebuah sambungan dari ponselnya. Aku yakin itu adalah kak Mirza. Lagi-lagi bang Pandu menatapku dari spion utama mobil. Dan ia tersenyum. "Nyonya tidak usah khawatir. Saya tidak akan memberitahukan keberadaan Nyonya untuk saat ini. Saya tahu Nyonya sedang tidak baik-baik saja" ucap bang Pandu sambil sesekali menatap ku. "Terima kasih..." ucapku lirih sambil membetulkan posisi dudukku. Ku lemparkan tatapanku keluar jendela. Menatapi titik hujan yang semakin deras mengguyur bumi.
"Kenapa berputar, Bang...?" ucapku saat tersadar dari lamunanku. "Tenang, Nyonya. Saya bermaksud mengembalikan taksi ini pada empunya. Sekaligus mengambil mobil saya" ucap bang Pandu dengan suara khasnya. "Maksudnya bagaimana...?" tanyaku sambil menelengkan kepala mencoba memaknai setiap katanya. "Saya tahu situasi, Nyonya. Dan saya fikir Nyonya membutuhkan bantuan saya. Jadi saya meminjam taksi ini kepada teman saya" ucapnya sambil sedikit tersenyum dan fokus pada jalanan. Aku pun mengangguk kecil tanda mengerti. "Terima kasih..." ucapku yang disikapinya dengan anggukan kepala.
Kemudian berhenti ia pada tepian jalan dimana sebuah mobil berwarna hitam parkir di bawah guyuran hujan. Dibukanya jaket hitam yang ia pakai dan menyodorkannya kepadaku. "Pakai lah, Nyonya..." ucapnya menyakinkan ku sesaat melihat keraguanku. "Terima kasih..." ucapku sambil tersenyum dan memakai jaket bang Pandu.
Tak lama, berlari seorang lelaki berjas hujan dan membawa payung mendekat. "Tuan..." ucapnya saat pintu mobil terbuka. Tangannya menyodorkan payung yang sudah terbuka. Bang Pandu pun meraihnya dan bersegera mengitari mobil. "Nyonya...Mari" ucapnya sesaat setelah pintu mobil terbuka. Aku tersenyum tanpa menatap wajahnya dan langsung mensejajari langkahnya dalam naungan payung yang sama. Dibukanya pintu mobil, namun ku tolak. Aku memilih membuka pintu depan. Dan langsung duduk. "Tapi Nyonya..." ucap bang Pandu yang ku jawab dengan isyarat tangan bahwa hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Ia pun tersenyum sambil mengangguk takzim dan menutup pintu. Dan mataku tak lepas dari gerak-geriknya selama ia memutari mobil hingga duduk di kursi kemudi. Sepintas wajahnya tidak mengisyaratkan bahwa ia seorang bodyguard seperti situasinya saat ini. Aku sempat berfikir bahwa ia adalah layaknya tuan muda dari keluarga berada. Mengingat penampilan dan pembawaan setiap kali bertemu, tampan, wibawa, sedikit acuh tapi perhatian, rapi juga wangi. Tutur bahasanya pun tertata sempurna. Sebelas duabelas dengan kak Mirza. Dan semakin aku meneliti wajahnya, aku semakin merasa dekat dengannya jauh sebelum saat ini. Tapi kapan dan dimana aku tidak tahu.
Tanpa bertanya tujuanku, bang Pandu langsung melajukan mobil menerobos derasnya hujan. Aku pun tidak mempedulikannya, selain karena aku begitu mempercayainya. Mataku kembali pada jalanan yang tampak basah. Sementara langit pun masih saja belum menunjukkan tanda-tanda hujan akan mereda. Ku seka kaca jendela yang buram karena titik hujan yang menempel dan kemudian jatuh satu-satu.
Aku pun tak berkata apa pun saat bang Pandu membelokkan mobil pada sebuah halaman dari sebuah rumah yang terbilang cukup mewah. Sesaat bang Pandu menatapku kemudian tersenyum. "Saya tahu suasana hati Nyonya sedang tidak baik-baik saja. Karena itu untuk sementara mungkin Nyonya bisa tinggal di rumah ini" ucapnya tanpa berkedip menatapku. "Rumah siapa?" tanyaku tanpa ekspresi. "Nanti juga Nyonya tahu..." ucapnya sambil turun dari mobil dan langsung mengitari mobil dengan membawa payung yang sudah terbuka. Ia pun membukakan pintu mobil untukku dan melangkah bersama dalam naungan payung yang sama. Sesaat aku kembali terbuai dengan aroma maskulin tubuhnya. Aku yakin wangi ini berasal dari parfum dengan merk tertentu. Sebuah merk yang biasa dipakai keluarga kaya.
Sesampainya di ambang pintu, kedatangan kami disambut senyum hangat seorang perempuan setengah baya. Ku tilik usianya tidak jauh berbeda dengan ayah atau amah. Ku lihat bang Pandu tersenyum sambil menatap perempuan tersebut. Bang Pandu pun meraih tangan perempuan itu dan mengecupnya takzim. Aku yang berdiri di sebelah bang Pandu sedikit terkejut atas perlakuannya tersebut. "Apa kabar, Fara..." sapanya yang tentu saja membuatku sedikit terkejut. Pun demikian aku berusaha setenang mungkin. Ku raih tangan perempuan setengah baya tersebut dan mengecupnya. "Alhamdulillah...baik Tante" ucapku sambil tersenyum dan menatap wajahnya. Hei...ada bulir bening yang mengambang di kedua matanya saat ia menatapku dan mengusap pucuk kepalaku. Anehnya ia pun mendaratkan sebuah kecupan pada keningku. Hal ini tentu saja semakin membuatku penasaran dan menyimpan pertanyaan besar di hati. "Tidak sekarang, Ma..." ucap bang Pandu sambil tersenyum dan mengusap bahu perempuan yang disebutnya Ma. Apakah yang dimaksud ma adalah mama? Ibu dari bang Pandu. "Oya, maaf. Tante jadi terbawa suasana. Mari silahkan masuk. Anggap rumah sendiri ya, Fara..." ucapnya sambil meraih tanganku dan membawaku duduk pada sebuah kursi berwarna maroon. Di sebagian pegangan dan sandarannya terdapat ukiran yang sangat indah. Mataku mengitari seisi ruangan yang tampak begitu indah dengan ornamen bergaya klasik modern.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Beliau ini mamaku..." ucap bang Pandu yang membuatku langsung mengalihkan pandangan kepadanya. Aku pun mengangguk kecil, mengiyakan sambil mengumpat senyum. "Panggil saja Mama seperti halnya Keenan" ucap perempuan setengah baya tersebut. "Keanu...?" ucapku dengan menelengkan kepala sebagai isyarat meminta penjelasan. "Nak, kamu belum memberitahunya?" ucap perempuan setengah baya itu. Bang Pandu pun menggeleng perlahan saja sambil menatapku sendu. "Belum saatnya dan lagi waktunya tidak tepat" ucapnya yang masih menatapku. Mendapat tatapan itu aku menjadi sedikit rikuh. Dalam hati ada banyak pertanyaan yang menggelayut. "Baiklah..." ucap perempuan setengah baya itu lagi yang berkenan di panggil mama. "Em, Nyonya istirahat dahulu. Tidak perlu sungkan. Dan...mari saya antar ke kamar Nyonya" ucap bang Pandu yang sepintas terlihat sedikit gagu. Aku tersenyum menatapnya sekilas dan bersiap untuk mengikuti langkahku. "Em, Tante... Ow, Mama. Saya izin istirahat dahulu" ucapku hati-hati sesaat sebelum berlalu. "Jangan sungkan ya, Nak. Panggil mama jika butuh sesuatu" ucap mama dari bang Pandu sambil tersenyum dan mengusap lembut lenganku. "Iya, Ma. Terima kasih..." ucapku gagu sambil mengangguk takzim.
Lagi-lagi anak tangga yang mengular harus ku susuri hingga di sebuah kamar dengan pintu besar berukir. Pintu pun berderit saat dibuka. Suaranya begitu khas. Sebuah kamar dengan dinding berwarna putih dengan ornamen berwarna coklat dan gold. Bang Pandu pun menyodorkan pakaian ganti untukku yang ternyata sudah disiapkan di atas tempat tidur sambil tersenyum. Tangannya berisyarat pada sebuah pintu di sudut kamar. Mungkin itu kamar mandinya. Aku pun tersenyum dan langsung menuju tempat yang dimaksud bang Pandu.
Ku guyur tubuhku dengan air hangat. Gemericik air nya dapat dipastikan mampu menyamarkan isak ku saat ini. Ya, air mata yang sejak tadi ku tahan kini kembali terjun bebas seiring derasnya guyuran pada tubuhku. Ku peluk erat kedua lututku. Guncang tubuhku menanggung isak tangis yang begitu lara. Sesekali aku mengusap wajah sedikit kasar sebagai wujud pelampiasan amarah ku. "Kak Mirza...!" Teriakku setengah tertahan. Dan teriakkan ku sedikit mereda saat bang Pandu memanggilku. "Nyonya...Nyonya baik-baik saja?!" ucapnya setengah teriak sambil mengetuk pintu sedikit kuat. Mendengar itu segera ku jawab singkat dan ku sudahi mandi. Ternyata hampir tiga puluh menit aku berada dalam kamar mandi. Kusambar pakaianku dan dengan cepat memakainya.
Seulas wajah, ku dapati saat aku membuka pintu. Wajah begitu khawatir. "Nyonya baik-baik saja...?" tanya bang Pandu atau Keenan atau siapapun itu. Aku diam. Hanya senyum tipisku saja yang menghiasi wajahku sebagai jawabanku atas pertanyaan bang Pandu. Setengah gigil aku melangkah menuju sofa berwarna maroon. Ku lihat di atas meja ada secangkir teh yang masih mengepul lengkap dengan kudapannya. "Maaf Nyonya. Tadi saya mengantarkan teh ini, tapi saat mengetahui Nyonya masih di kamar mandi sudah begitu lamanya, saya menjadi khawatir. Terlebih saat mendengar tangis dan teriakkan Nyonya" ucapnya yang berdiri tak jauh dariku. "Aku bisa apa, Bang...? Jika sudah begini...Entahlah" ucapku sambil menahan tangis. "Saya faham..." ucap bang Pandu yang terus menatapku.
"Rasanya tidak adil. Kau mengambil masalahku, tapi masalahmu tidak boleh ku ketahui..." ucapku sambil meraih cangkir berisi teh dan menyeruputnya. Ku lihat ia tersenyum lebar. "Bukankah memang seperti itu hubungan antara bodyguard dengan tuannya..." ucapnya sambil berdiri dari duduknya. "Oya, kalau berkenan panggil Keanu saja" ucapnya sesaat sebelum berlalu. "Baiklah bang... Keanu" ucapku saat ia membalikkan tubuhnya. Langkahnya pun menjadi tertahan karena ucapanku tersebut. Tampak dari pantulan cermin di hadapannya ada seulas senyum menghiasi wajahnya. "Terima kasih, Nyonya. Em, Fara..." ucapnya kemudian yang juga membuatku tersenyum. Hilang rasanya beban panggilan Nyonya itu dari jiwa ku.
Pukul tujuh malam. Hujan sudah reda. Hanya titik-titik halus saja yang masih menyambangi balkon. Itu pun karena diterbangkan hembusan angin yang juga membawa hawa dingin hingga menerpa tubuhku.
Tok...Tok...Tok...
__ADS_1
Pintu kamar diketuk. "Non..." panggil seseorang di balik pintu. "Maaf, Non. Saya mbak Mar. Asisten rumah tangga di sini" ucapnya memperkenalkan diri dengan senyuman. Aku pun mengangguk kecil sambil tersenyum. "Anu...Non. Non Fara di tunggu tuan Keanu dan Nyonya di bawah" ucapnya lagi sambil menjura takzim. "Terima kasih, mbak Mar. Saya segera ke bawah" ucapku sambil tersenyum dan kembali ke daalm kamar. Ku rapikan baju dan kerudungku untuk kemudian melangkah keluar kamar.
Langkahku sedikit cepat menuruni setiap anak tangga yang cukup panjang itu. "Di sini, Nak..." ucap sebuah suara mengarahkanku. Aku pun tersenyum sambil mengarahkan langakhku menuju meja makan dimana Keanu dan mama berada. "Kemari, sayang..." ucap mama yang dengan jemarinya menunjukkan tempat duduk ku. Tepat dekat mama di hadapan bang Pandu ataupun Keanu yang sejak tadi tak menatapku sedikitpun. Suapan demi suapan ku nikmati dengan lahap. Satu atau dua kali aku memuji masakan yang tengah dinikmati. Pun demikian, sebenarnya rasa laparkulah yang semakin membuat rasa setiap makanan terasa jauh lebih enak.
Pukul delapan lewat dua menit. Aku duduk bersebelahan dengan mama Wina, ibu dari bang Pandu yang sesekali tergelak meyaksikan polah komedian di sebuah stasiun televisi swasta. Mungkin jika aku sedang baik-baik saja, aku pun akan tergelak seperti halnya mama. Kenyataannya walau mataku menatap polah komedian di televisi, namun fikiranku sedang mengembara. Satu-satu peristiwa siang tadi kembali bermunculan dan bermain di ingatanku. Dan hal tersebut membuat ku semakin terluka. "Ikut aku..." ucap bang Pandu sambil meraih tanganku dan menarikku. Langkah ku sedikit terganggu karena tentulah kesadaran ku belum sempurna akibat lamunanku tadi. Pun demikian bang Pandu tetap saja menarikku. "Kemana...?!" ucap mama Wina saat melihat kami berlalu. "Roof..." ucap bang Pandu.
Aku terkesima saat sampai di atas. Langit tampak bersih setelah hampir seharian menurunkan hujan ke bumi. Ada banyak bintang yang mengkerling manja seakan menyapa ku. Sementara itu tampak menggantung sempurna. Cahayanya begitu lembut dan begitu menenangkan hati. Aku berputar-putar, wajah ku menengadah menatap langit. Senyumku mengembang menyaksikan keindahan yang disuguhkan alam. Keindahan ini membuatku tertawa. Ku rentangkan tanganku sambil terus menengadahkan wajah ke langit. Aku merasakan hembusan angin yang sedikit dingin menerpa tubuhku. Tak lama kemudian aku merasa lunglai hingga aku terduduk. Nafasku memburu. Tubuhku goncang menahan isak ku. Tak membutuhkan waktu lama bang Pandu pun langsung menghampiriku. Merengkuh tubuhku dan mendekapnya. Aku terkejut atas perlakuannya saat ini, namun aku begitu naif. Lara ku mengalahkan rasa keterkejutan ku itu. Aku menangis sejadinya dalam dekapannya. "Fara..." ucapnya sambil mengusap air mataku. "Dulu...kau juga pernah menangis dalam dekapanku. Kau mungkin sudah lupa. Tapi aku tidak akan bisa melupakannya" ucap bang Pandu yang membuatku semakin terkejut. Kepalaku hingga tegak menatap wajahnya. Ia tersenyum menatapku. "Saat itu usiamu enam tahun. Aku dua belas tahun. Kau menangis dalam dekapanku saat tahu aku akan pindah ke kota lain" ucapnya sambil duduk di sebelahku pada lantai yang masih basah bekas hujan tadi. Aku semakin menatapnya. Mencari guratan yang bisa membawaku mengingat masa lalu seperti yang ia utarakan. "Kedua orangtua kita bersahabat, Fara. Mama ku adalah sahabat amah mu. Dan kau tahu apa yang kau katakan saat aku akan pergi?" ucapnya lagi. Aku pun menggeleng perlahan dalam kebingungan ku. "Kak Keanu adalah sahabatku. Kak Keanu adalah suamiku. Pokoknya tidak boleh pergi..." ucap bang Pandu menirukan gaya anak kecil. "Saat itu mungkin kita tidak mengerti, tapi kata-kata itu sampai sekarang masih terngiang di telingaku. Dan kau tahu apa jawabanku...?" ucapnya lagi yang ku jawab gelengan kepala. "Aku tidak akan lama. Aku pasti akan kembali padamu, sahabatku dan istriku" ucapnya sambil tergelak menatap langit.
"Dan aku memenuhi janjiku itu. Aku kembali padamu. Walau situasinya sudah berbeda" ucapnya sambil terkekeh dan tak menghiraukan tatapanku. "Maafkan aku. Semula aku tidak bermaksud mengatakannya. Namun hatiku berkata lain. Aku tak sanggup menyimpannya lagi. Melihatmu dengan semua kekecewaan dan kedukaanmu, aku merasa terpanggil. Aku tidak rela. Siapa pun dirimu, kau tetap sahabatku" ucapnya sambil menyodorkan selembar foto. "Itu kenangan terakhir kita, saat kita akan berpisah dahulu..." ucapnya sambil menunjuk foto lusuh yang sedang ku pegang. Mataku tak henti menatap foto lusuh itu. Dan benar di sana ada aku yang masih bocah, ayah, Amah, mama Wina, seorang laki-laki yang menggandeng tangan mama Wina dan seorang anak laki-laki yang juga menggandeng tanganku. Aku menatapnya tak percaya.
"Ikut aku..." ucapnya dan lagi-lagi ia menarik tanganku. Ia pun membawaku pada sebuah ruangan tak jauh dari tempatku berada tadi. Mataku kembali dikejutkan dengan isi ruangan tersebut. Hatiku berdesir saat menatap setiap foto yang ada. "Kau sudah ingat, Fara...?" tanya nya yang membuatku kembali menatap wajahnya. "Kau..." ucapku ragu.
To Be Continued...
__ADS_1