
Ku parkir mobil merah ku pada halaman yang selalu berhasil menyambut kehadiranku dengan tanaman sayur hijau yang menumbuh di sisi kanannya. Hmm..sangat ranum dan begitu menyegarkan mata. Setelah berhenti sejenak menatap tanaman tersebut, aku pun langsung melangkahkan kaki. Di tanganku, selain perlengkapan pribadiku juga terdapat sebuah kotak berwarna hitam dengan pita silver di atasnya. Ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur beserta seluruh barang yang kubawa tadi. Lelah ku rasa seluruh jiwa dan raga ini. Mengingat aktifitas yang kujalani. Pun juga karena banyak peristiwa yang begitu menguras akal dan hati ku.
Pukul enam lewat empat puluh lima menit. Aku masih terpekur di atas sajadah. Mukena pun masih aku kenakan. Dan sesekali mataku menatap gaun merah muda yang sudah terurai dari wadahnya. Secarik kertas berwarna biru menyembul dari wadah tersebut dan isinya pun masih jelas ku ingat. Tapi entah mengapa Hinga saat ini masih merasa bimbang. Hati ku sudah banyakenimbang rasa yang hinggap, namun semua gagal ku maknai dengan pasti. Sementara itu langit mulai berteman gelap karena mentari sudah berselimut pekatnya malam. Lampu jalanan pun sudah sejak tadi satu-satu berpendar memberi warna temaram di sekitarnya. Ku kirim sebuah pesan melalui ponselku. "Kak, tidak perlu menjemput. Saya masih ada acara. Jika sudah selesai aku akan datang sendiri" pesan ku pada kak Satria. "Baik, Nyonya..." balas kak Satria.
Pukul tujuh lewat lima belas menit. Langit mulai ditemani bintang. Satu-satu mulai muncul dan memberi kerling kepada siapa saja yang memandangnya. Sementara itu hatiku kembali Berdesir saat mataku tertumbuk pada gaun merah muda pemberian kak Keanu. Kemudian kembali kuhempaskan tubuh ke atas kasur dekat gaun setelah merapikan mukena dan sajadah. Sejenak mata ku terpejam, namun tidaklah tidur. Fikiranku mengembara entah kemana. Tiba-tiba saja satu-satu peristiwa yang sudah menjadi kenangan timbul tenggelam dalam ingatanku. Bermain sejenak lalu menghilang kembali.
Tok...Tok...Tok...
Pintu kamar di ketuk. Suaranya ternyata mampu membuyarkan lamunanku. Pun demikian, aku tetap tidak bergeming dan tetap memejamkan mata. "Kak...Dara masuk ya" ucapnya sambil membuka pintu. "Kak..." panggilnya sekali. Dari suaranya Dara sedikit terkejut saat mendapatiku masih berada di tempat tidur. "Astaga, Kak Olivia. Belum bersiap juga? Sudah hampir jam delapan, Kak" ucapnya kemudian. Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya tersebut. Dara pun tampak sedikit kesal karena senyumku itu. "Haruskah kakak datang, Dara..?" ucapku sambil membetulkan posisi duduk ku. "Dara mengerti, Kak.Tapi kak Keanu kan sahabat kakak. Kesampingkan perasaannya terhadap kakak. Datanglah sebagai sahabatnya" ucap Dara meyakinkanku. "Sebenarnya bukan karen perasaan kak Keanu terhadap ku yang membuat anggan, tapi karena ada kehadiran perempuan lain di samping kak Keanu. Aku khawatir terjadi kesalahfahaman antara kak Keanu dengan tunangannya itu" ucapku dalam hati, sementara bibirku mengurai senyum menatap Dara.
Aku terdiam. Hati dan fikiranku masih menimbang segala kemungkina baik itu buruk atau pun tidak. Dan kalimat terakhir Dara membuatku makin menimbang rasa. Sahabat. Datanglah sebagai sahabat. "Tapi ini sudah jam delapa" ucapku enggan. "Ayolah, Kak. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" ucapnya lagi. Aku pun mengangguk menyetujui ucapannya.
Tak lama aku pun mulai bersiap-siap. Mematut diri pada cermin di depanku. Ku pakai riasan wajah tipis-tipis saja. Ku poles bibirku tipis-tipis saja. Juga pada pipi yang kupakai kan perona sekedarnya saja. Aku memanglah bukan penyuka riasan tebal. "Cantik, Kak.." ucap Dara yang menatap pantulan bayanganku pada cermin. Tak lupa ia pun mengumbar senyum khasnya. "Semoga kakak bahagia selalu..." ucapnya lagi. Kali ia sambil memeluk ku erat. "Terima kasih, Sayang. Kakak harap juga Dara bahagia selalu. Dan segera menemukan jodoh. Kak Roy, bagaimana?" ucapku yang membuatnya tersipu. Ada rona merah di wajahnya karena malu. Aku tersenyum melihatnya demikian. "Memang kakak mu ini tidak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua?" ucapku sambil menarik hidung bangirnya. "Kakak...." ucapnya tertunduk.
__ADS_1
Pukul delapan tujuh lewat empat puluh lima menit. Sekali lagi aku memeluk Dara dengan erat sesaat sebelum aku duduk di belakang kemudi. "Apa sebaiknya saya antar saja, Kak Olivia..." ucap kak Roy yang mulai terbiasa memanggilku kak Olivia seperti halnya pegawaiku yang lain. "Maksudnya agar seperti putri Cinderella yang hendak ke pesta sang pengeran?" candaku yang membuat kak Roy dan Dara terkekeh. "Tidak perlu terima kasih..." ucapku lagi kemudian. "Tapi janji, kakak akan swgwra menghubungi saya jika ada sesuatu yang terjadi" ucap kak Roy yang berdiri menatapku.
Kemudian aku pun segera melakukan, mobil merahku. Meninggalkan keduanya yang semakin lama semakin menjauh tertinggal di belakang ku. Melaju mobilku dengan kecepatan sedang menembus keremangan malam menuju rumah kak Keanu. Pun demikian, hatiku masih saja menimbang rasa yang ada. Bukan hanya itu, termasuk juga kekhawatiran akan terjadinya hal yang tidak diinginkan. "Aku harus menjaga jarak dengan kak Keanu demi menjaga kenyamanan dan perasaan tunangan kak Keanu" ucapku kemudian sambil membelokkan mobil merahku pada sebuah halaman rumah yang megah di antara deretan mobil mewah. Sekeluarnya aku dari mobil, aku tak langsung menuju taman tempat berlangsungnya acara. Aku lebih memilih berdiam diri dan menatap langit yang begitu cerah dengan hiasan bintang yang mengkerling genit. Sementara di sisi lain sebentuk bulan menggantung sempurna memancarkan sinar nan indah dan menenangkan itu. Aku masih menahan langkahku, terlebih saat lamat-lamat terdengar alunan lagu ucapan selamat hari kelahiran. Hingga lagu berakhir barulah aku melangkahkan kaki menuju taman.
Berdiri aku pada anak tanggah terakhir. Mataku menatap pada pusat acara saat ini, dimana kak Keanu berada. Pada sisi kanan-kirinya berdiri mama Wina yang begitu sumringah. Juga ada seorang gadis cantik yang memakai gaun berwarna senada dengan kak Keanu. Mungkinkah ia tunangan kak Keanu? Jika demikian, sungguh pasangan yang serasi sekali.
Kemudian tatapan ku mengarah pada sebuah meja dengan kursi di susut taman dan sepertinya tak bertuan. Langkahku semakin cepat khawatir di dahului undangan lainnya. Fiuh... akhirnya aku berhasil menguasai tempat tersebut. "Minum Nyonya..." tawar seorang asisten rumah tangga dengan takzim. Aku pun mengambil segelas sirop dan meletakkannya di atas meja. "Terima kasih..." ucapku sambil mengumbar senyum. Mataku menatap seisi taman yang begitu riuh dengan suara obrolan dan juga musik yang berirama sedikit menghentak.
Dari tempat yang tidak seberapa jauh dari pusat acara, aku melihat banyak tawa yang diperlihatkan kak Keanu dan gadis tunangannya itu. Bahkan dengan manja gadis itu menggelayuti lengan kak Keanu ataupun mengusap perlahan wajah kak Keanu. Sesaat kulemparkan pandanganku ke tempat lain. Terutama pada sebuah tempat yang begitu meriah dengan obrolan dan gelak tawa. Seorang pemuda berwajah tampan menjadi pusat perhatian. Astaga...pemuda itu mengarahkan matanya kepadaku. Ia pun tersenyum menatap ku. Aku pun membalasnya dengan sedikit rikuh karena polahku yang memperhatikannya diketahui olehnya.
"Keanu..."!" panggil seorang laki-laki yang berhasil menghentikan langkah kak Keanu. "Perempuan secantik ini mengapa kau perlakukan demikian?" ucapnya sambil menatapku. "Hei...apa kabar?" sapa kak Keanu. "Baik. Oya, sekali lagi selamat ya. Semoga kau bahagia selalu" ucapnya dengan sumringah. Dan sesekali ia menatap ku kembali. "Oya, kenalkan ia..." ucap kak Keanu terhenti saat laki-laki itu langsung menyebutkan namaku. "Fara...Aku sudah tahu. Karena kami pernah bertemu. Tapi mungkin nona Dara sudah melupakannya" ucapnya sambil tersenyum menatapku. Di tatap demikian aku jadi rikuh. Dan anehnya sepertinya aku memang pernah melihatnya, namun aku tidak mengingat dimana tepatnya dan kapan. "Oya...?" ucap kak Keanu sambil tersenyum dan menatap ku sekilas. Aku tertegun mendapat tatapan yang demikian. Tatapan yang membuat hatiku berdesir.
Pukul delapan lewat lima puluh lima menit. Aku masih berusaha mensejajari langkah kak Keanu hingga di meja utama. Tersenyum mama Wina melihat kedatanganku, terutama saat melihat tangan kak Keanu yang menggenggam erat jemariku. Dan buru-buru aku pun berusaha melepaskan genggaman tersebut. "Ma..." ucapku sambil mengecup punggung tangannya dengan takzim. "Dan kenalkan dia Qory. Tunanganku" ucap kak Keanu.
__ADS_1
Deg.
Serasa sesaat tak berdegup jantungku. Kata-kata kak Keanu benar-benar membuat hatiku bergejolak. Walau sebelumnya aku sudah menduganya, namun tetap saja membuatku cukup mengejutkan. Pun demikian, aku tetap berusaha tersenyum sebaik mungkin untuk menutupi gejolak yang ada. "Keanu..." ucap mama Wina seakan tidak setuju dengan yang dilakukan kak Keanu barusan. Sementara Qory tersenyum menatap kak Keanu dan sebentar kemudian menatapku dengan lekat. "Ayolah, Ma..." ucap kak Keanu sambil duduk bersebelahan dengan Qory yang langsung disambut Qory dwngan bergelayut manja pada lengannya. Dan aku duduk berdekatan dengan mama Wina yang sesekali mengusap pucuk kepalaku. Entah mengapa mama Wina melakukannya berulangkali kepadaku.
Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Aku mengumpat hebat dalam hati saat harus menyaksikan keromantisan kak Keanu dan Qory. Alih-alih ingin menyelamatkan hati, aku pun pamit pulang. Dan hal tersebut tentu saja tidak diizinkan mama yang berdiri beberapa langkah tak jauh dariku. Mama tengah asyik meladeni obrolan dari seorang laki-laki dan perempuan. Sepertinya itu adalah relasi bisnis keluarga mama Wina.
Kemudian aku izin ke toilet. Namun tujuan utama ku bukanlah itu. Aku hanya ingin menghindari untuk menyaksikan keromantisan keduanya. Karena sesak di dada ini tak lagi dapat ku bendung. Dan bukannya aku ke toilet, aku justru melangkahkan kaki menuju sisi lain taman dekat areal parkir. Berdiri aku bersandar pada sebuah mobil. Mataku menatapi pendaran lampu taman. Sesaat aku memejamkan mata dan lelehan bulir bening itu pun akhirnya terjun bebas juga. Tertunduk kepalaku menghindari tatapan beberapa orang yang melewati ku. Kemudian aku sedikit terkejut saat seorang laki-laki turut bersandar. Tangannya menyodorkan sapu tangan biru. Dan tanpa melihat wajahnya aku langsung meraih sapu tangan biru tersebut dan meghapua air mataku. "Kenapa di sini.." ucap laki-laki itu yang langsung ku ketahui dari suara khasnya. Dia adalah kak Keanu. "Kenapa pula menangis..?" ucapnya lagi. Aku bingung harus menjawab apa. Karena aku sendiri tidak tahu penyebabnya. "Kemari..." ucapnya sambil merengkuh kepalaku dan mendekapnya erat. Terbenam kepalaku pada dada bidangnya. Dan kembali aku terisak. "Kini aku tahu bagaimana perasaan mu. Maafkan aku ya sudah membuatmu seperti ini?" ucap kak Keanu yang aku sendiri tidak mengerti maksud dari ucapannya tersebut. Aku sungkan mempertanyakannya karena aku sendiri tengah sibuk menimbang rasa di hati, terutama saat arom maskulin tubuh kak Keanu menggelitik indra penciuman ku.
Pukul sembilan lewat dua puluh menit. Kak Keanu memintaku untuk kembali ke tengah keriuhan pesta. Namun aku menolaknya. Dan aku bersikeras untuk kembali ke rumah, pulang. Namun lagi-lagi kak Keanu mencegah ku. Matanya menatapku penuh makna yang terkadang gagal ku maknai. "Aku masih ingin berbincang dengan mu. Tinggallah sebentar lagi. Atau menginap sajalah..." ucap kak Keanu. Aku tertegun. Mata ku sedikit membulat saat mendengar kalimat terakhir kak Keanu. "Bercanda, sayang. Tapi jika ditanggapi serius, aku senang sekali.." ucapnya terkekeh. sambil mengacak pucuk kepalaku. Ia menatapku penuh perasaan. Itulah yang ku rasa setidaknya dari tatapannya itu. Kemudian kak Keanu kembali menarik tanganku, namun aku bertahan. Ia pun kembali menatapku dan berisyarat kepadaku melalui gerak bibirnya. "Kenapa...?" begitu ku maknai. "Pulang..." ucapku singkat sambil berusaha melepaskan genggaman tangan kak Keanu.
"Fara..." kak Keanu memanggilku sesaat setelah aku berhasil melepaskan tanganku dari genggamannya. Langkah ku pun menjadi sedikit lebih cepat. "Fara...!" panggil kak Keanu lagi. Kalo ini ia berusaha mensejajari langkahku. Namun aku tidak menghiraukannya. Langkah ku pun semakin cepat bahkan setengah berlari. "Aku mencintai mu, Fara..." ucap kak Keanu.
Deg.
__ADS_1
Jantungku kembali berdegup tak menentu mendengar kalimat yang terlontar dari nya. "Tunggu.." ucap kak Keanu.. Lagi-lagi ia menarikku dengan cepat hingga tubuhkan terhentak ke belakang. Sedikit limbung tubuhku karenanya, namun kak Keanu berhasil menyeimbangkan tubuhku dengan merengkuhnya. Astaga...kini wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Ia menatapku begitu lekat hingga ke relung hati ku seakan mencari sesuatu di dalamnya. "Aku mencintaimu. Hanya mencintaimu. Tiada yang lain..." ucapnya setengah berbisik sambil terus menatap ku. Sekilas wajah Qory menyata dalam ingatan. Dan begitu saja tanganku bergerak menampar wajah tampannya. "Jangan pernah mempermainkan perasaan perempuan. Qory akan kecewa, Kak..." ucapku yang berusaha melepaskan cengkeraman tangannya pada kedua lenganku. Dan aku berhasil melakukan itu. Bahkan tubuhku pun langsung ku putar dan segera berlalu dengan cepat menuju mobil merahku. "Tunggu...Berhenti. Jadi patung...?" ucapnya sedikit teriak. Ini adalah permainan masa kecil kami. Jadi patung, seketika aku menghentikan langkahku. Tiada bergerak sedikitpun. Kak Keanu berdiri di hadapanku. Matanya menatapku lekat. Sementara bibirnya menyunggingkan senyuman. "Maafkan aku. Aku sudah mengerjaimu. Qory bukan kekasihku ataupun tunanganku. Qory adalah adik sepupu ku yang baru saja pulang dari luar negeri karena pendidikannya telah usai" ucap kak Keanu. Mendengar itu hatiku semakin bergejolak. Tak terasa bulir bening pun mengalir begitu saja. "Jangan pergi lagi dari hidupku. Aku tak kan sanggup. Cukup sudah aku menyaksikan mu bersama yang lain. Kau hanya milikku. Dari dahulu, dari sejak kita masih bocah. Kau istri masa kecilku. Kekasihku...Yang selalu ku rindu" ucap kak Keanu yang langsung merengkuh kepalaku dan kembali membenamkannya ke dadanya. "Selesai..." bisiknya untuk mengakhiri permainan jadi patung kami. Aku pun terisak. "Aku...Aku" ucapku gagu. Bibir kak Keanu mendesis, berisyarat agar aku tak perlu berkata lagi. "Aku tahu. Kau hanya bimbang menentukan sikap dan memaknai setiap perasaan dalam hatimu" ucapnya mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Aku terdiam. Dalam hati aku mengiyakan semua ucapannya. Memanglah selama ini aku meragukan perasaanku, tapi hari ini tidak setelah melihat kesungguhan di matanya. Aku memang menyukainya...