Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 56. Ancaman Pada Fara...


__ADS_3

"Siapa itu...!" teriak bang David. Secepat-cepatnya ia pun langsung berdiri dan membuka pintu. "Tutup dan kunci..." ucapnya sesaat sebelum ia mengejar sebuah kelebatan bayangan di balik rimbunnya bunga perdu di sudut halaman. Nafasku memburu menahan kehawatiran dan ketakutanku. "Ya, Robb...tolong hamba" ucapku lirih dengan tubuh sedikit gemetar. Aku berdiri di dekat pintu. Mataku menatap, mengintai melalui jendela kaca rumah. Hati ku menyimpan kekhawatiran saat bang David belum kembali juga. Semoga tidak terjadi sesuatu padanya.


Kemudian setelah beberapa lama, bang David kembali. Nafasnya sedikit memburu karena larinya barusan. Ia pun tak langsung duduk. Bang justru melangkah menuju ruang belakang. Di tangannya sebuah pemukul bola kasti lamaku tergenggam erat. Pemukul bola kasti yang sering aku mainkan dulu saat berkunjung ke rumah nenek. Ku lihat langkahnya pun begitu waspada. Gerak-geriknya bak pemeran di film-film action yang sering di putar di bioskop ataupun layar kaca. Lama ia berada di ruang belakang. Entah apa yang ia lakukan di sana. "Bang David...!" ucapku setengah teriak. Kemudian tiba-tiba saja ia sudah berdiri di dekat pintu. Ia mengumbar senyum. Tubuh tegapnya menyandang pemukul bola kasti lamaku itu pada bahunya. Aku tersenyum lega. Kekhhawatiranku sedikit memudar. "Siapa...?" tanyaku singkat sambil kembali duduk. "Tidak tahu. Tapi sudah pergi. Mungkin ia hanya kangen saja pada Fara?" selorohnya sambil menyeruput teh yang sejak tadi belum ia sentuh. "Jangan suka bercanda deh..." ucapku sambil menggeser letak posisi dudukku ke sedikit dekat padanya. Melihat itu, bang David pun tergelak. "Jangan khawatir masih ada aku" ucapnya lagi di sela gelaknya. Tangannya pun berisyarat menunjuk pada pemukul bola kasti lamaku itu. Aku manyun kesal. Melihat itu bang David mengusap pucuk kepalaku dengan perlahan. Kemudian kami terdiam satu sama lain. Rupanya sedang bermain dalam fikiran masing-masing.


"Ternyata benar semua mengakui baik aku, Mirza ataupun Roy saat bersamamu adalah saat yang membahagiakan. Karena kau mampu memberikan warna dalam hati dan jiwa kami. Ada tawa yang diselipi tangis, kelucuan, kekhawatiran dan juga rasa bahagia yang rasanya mendunia" ucapnya sambil terus menatapku. Ditatap demikian aku menjadi rikuh. Ku benamkan mataku pada ujung kaki ku. Sementara tanganku memainkan ujung kerudungku. Kemudian aku melihat dengan ekor mataku, tampak bang David menatap kembali keluar. Tatapannya begitu siaga. Kembali ia pun menghambur keluar rumah. Ia pun berisyarat agar aku tidak berkata apa pun dan segera menutup pintu. Aku pun langsung mengiyakan semua isyarat bang David tersebut.


Hati ku kembali kecut. Mungkin wajahku mulai pasi kembali. Jantungku pun kembali bertalu. Aku duduk di atas sofa sambil memeluk kedua lututku. Di hadapanku tergeletak pemukul bola kasti lamaku. Bersiaga dari segala kemungkinan. Tak lama pintu pun diketuk. Atau lebih tepatnya digedor. Aku semakin kecut. Pun demikian aku langsung mengambil pemukul bola kasti lamaku itu dan menggenggamnya erat. Aku pun sudah memasang kuda-kuda terlebih saat seorang laki-laki bersuara memanggil ku. "Fara..." ucapnya berulangkali. Aku diam sambil menajamkan telingaku mengenali suara tersebut. Setelah si empunya suara menyebutkan namanya, baru aku tersadar dan segera membuka pintu. Berdiri bang David di ambang pintu. Nafasnya sedikit memburu. Ia menatapku sambil tersenyum. Senyum tipis yang seakan menyampaikan sebuah isyarat. "Bang..." panggilku. Tanpa berkata, ia menarik seseorang yang mungkin sudah berdiri sejak tadi, namun aku tidak melihatnya karena cahaya yang ada begitu sedikit.


Aku terkejut saat melihat sosok di hadapanku yang terlihat sedikit kikuk. Pun demikian, sebuah senyum pun berhasil ia umbar dan langsung menghiasi wajah tampannya. Senyum yang juga berhasil menampilkan dua lubang kecil pada kedua pipinya. Senyum yang juga selalu berhasil melambungkan fikiranku. Surut tubuhku ke belakang melihat kehadirannya itu. Jantungku berdegup hebat. Entah irama apa yang selalu ia mainkan saat mataku menatap rupawan wajahnya terlebih saat tatapan kami bertemu. Sepintas ku lihat bang David kembali menghilang dibalik temaramnya lampu taman.

__ADS_1


"Kak Mirza..." ucapku lirih. Langkah panjangnya berhasil melewati pintu. Dan kini ia sudah berdiri beberapa langkah saja di hadapanku. "Apakah kau tidak senang aku datang hingga kau menarik tubuhmu menjauhiku?" ucapnya yang terus menatap jauh ke dalam mata ku. Entah apa yang ia cari di sana. Aku hanya diam. Bibirku pun tak menyunggingkan senyuman sebagai balasan atas senyumnya itu. Mendapati ku seperti itu, ia pun memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Namun sebelum pergi terlalu jauh, aku langsung menghambur memeluknya erat dari belakang. Sontak langkahnya pun terhenti. "Aku tahu kau akan seperti ini. Aku hafal betul perilaku istri ku ini" ucapnya yang dengan jemarinya mengusap-usap punggung tanganku. Aku terisak pilu. Menumpahkan segala kekhawatiran dan ketakutanku. Dan kak Mirza pun membiarkan punggungnya sebagai sandaran tangisku yang meluap-luap.


"Jangan pergi dari ku, Fara. Aku membutuhkanmu. Aku masih Mirza yang sama apa pun kondisiku kini. Mirza yang selalu mencintaimu. Mirza yang selau kau cintai" ucap nya saat isak ku mereda dan melonggarkan dekapanku. Ia pun kini sudah di hadapanku. Matanya sendu menatapku. Tatapan yang amat ku rindu. Karena itu selalu berhasil menenangkan hatiku. "Pulanglah, sayang...Aku tak sanggup lagi melihatmu terluka seperti ini" ucapnya yang kemudian merengkuh tubuhku dan mendekapnya dengan erat. Membenamkan kepalaku pada dada bidangnya sehingga aku kembali dapat mencium aroma maskulin tubuhnya dan juga merasai degup jantung dengan irama yang masih sama seperti dahulu. Kak Mirza pun mencium keningku berulangkali. Lama aku berada dalam dekapannya. Walau air mataku tak sederas tadi, namun tetap saja mampu membasahi sebagian wajahku bahkan kemeja biru yang ia kenakan.


"Astaga...kenapa tidak ditutup saja pintunya. Atau sekalian di kamar jika ingin seperti ini" ucap bang David yang sudah berdiri di ambang pintu dan mendapati kami. Kak Mirza pun spontan melonggarkan dekapannya dan membiarkan aku melangkah menuju sofa sambil membetulkan kerudung ku. Namun beberapa langkah aku limbung. Dan hal tersebut membuat kedua lelaki kakak-beradik itu bereaksi begitu khawatir. Keduanya menyanggah tubuhku. Namun kemudian bang David melepaskan tangannya dengan cepat. "Istrimu, sorry..." ucapnya sedikit rikuh yang ditanggapi kak Mirza dengan senyum dan sedikit membulatkan matanya.


Bukan dipapah, ternyata tubuhku dibopongnya hingga sofa maroon itu. Direbahkan tubuhku dengan hati-hati. Matanya tak lepas menatap jauh ke dalam mataku dan mampu mencapai hatiku yang kini sedang menerbangkan segala rasa yang ada. Ku gigit bibirku menahan gejolak di hati yang kian lama kian membuncah. Melihat itu kak Mirza pun tersenyum. "Ehem..." bang David ber-dehem. Dan hal tersebut tentu saja membuat kami tersadar. Kami pun langsung duduk pada sofa dengan rikuh nya. "Kalian gila. Aku ini Abang kalian. Aku harus menyaksikan hal yang seperti itu langsung dihadapan ku. Apa kalian waras. Dasar pecandu cinta..." ucap bang David sedikit kesal. Aku terdiam. Mataku sesekali menatap wajah bang David yang masih tampak kesal dan memalingkan wajahnya.


"Em, Nyonya..." ucap Roy yang sudah berdiri di ambang pintu. Matanya menatap kami bergantian satu-satu. Ada keterkejutan saat matanya sampai pada kak Mirza. Yang tak kalah terkejut adalah kak Mirza hingga ia berdiri saat melihat kehadiran Roy. "Kak Roy...?!" ucap kak Mirza. "Ku kira hanya aku saja yang terkejut tadi" ucap bang David terkekeh. Kemudian ia pun turut duduk membersamai kami. "Aku bekerja pada seseorang untuk menjaga, Nyonya Fara..."jelasnya. Dan hal tersebut membuat kak Mirza tertegun. "Bekerja?" ucap kak Mirza kemudian. "Ya, aku bekerja. Kalian tahu semua usahaku sudah tiada lagi. Jadi untuk penghidupanku, aku harus bekerja toh..." ucap Roy sambil menatap kak Mirza. "Dan lagi sekarang aku pegawai di cafe" selorohnya sambil terkekeh diikuti bang David. Matanya menatapku penuh makna. Sementara kak Mirza hanya diam dan menatapku penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Bagaimana cafe?" tanyaku sambil sepintas menatap Roy. "Sebagian besar barang-barang masih terselamatkan. Karena api memang tidak sampai membakar habis lantai dua. Semua berkat pertolongan Tuhan melalui Damkar. Dapur aman. Toko ludes selain barang yang dapat diselamatkan sebelumya" cerita Roy sambil menyeruput teh yang masih hangat karena baru saja ku sajikan. Wajahnya sedikit serius dan itu membuat kak Mirza dan bang David


"Awas...!" teriakku saat melihat sekilas benda putih menerobos pintu yang memang terbuka. Berdiri kak Mirza dan Roy yang duduk berhadapan pada sofa dekat pintu. Namun sial bagi Roy yang duduk tepat menghadap pintu. Benda putih yang sebesar kepalan orang dewasa itu tepat mengenai kening. Darah mengucur dari lukanya itu. Aku terkesiap melihatnya. Sementara kak Mirza dan bang David mengejar sosok yang sudah melemparkan benda putih tersebut. Berdiri Roy sambil memegang luka, namun matanya seperti mencari sesuatu di lantai. "Ini dia..." ucapnya sambil memegangi benda putih yang sebesar kepal orang dewasa itu. Kemudian ia membuka benda putih itu yang ternyata batu berbungkus kertas warna putih. Hati-hati Roy membukanya. Matanya sedikit membulat saat mengetahui tulisan di kertas tersebut.


"Pencuri...peringatanku tak kau indahkan juga. Kemarin tubuhmu, hari ini toko mu, esok nyawamu. Pergi jauh jika ingin selamat..." begitu tulisan pada kertas Kumal pembungkus batu itu.


Kulihat Roy tertegun. Tangannya menimang-nimang batu dan kertas tersebut. Ada amarah yang tahan. Seakan tahu si pembuat tulisan tersebut. Kemudian matanya menatap ku. "Ancaman ini untuk Nyonya sepertinya. Nyonya bisa menduga siapa pengirimnya?" ucapnya yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala. "Nyonya terlalu baik, sehingga tak mampu menduganya. Padahal ia sangat nyata" ucapnya membuatku tertegun. Tak lama kemudian kak Mirza dan bang David datang. Nafas keduanya sedikit memburu. Dan Roy melempar kertas ke atas meja sambil berisyarat agar kakak-beradik itu juga membacanya. "Apakah itu ulah istri kalian...Terlebih istri pertamamu itu, Mirza?" ucap Roy yang membuat keduanya membulatkan mata. "Jaga bicaramu, kak Roy..." ucap kak Mirza. "Aku rasa bisa saja demikian" ucap bang David sambil membaca ulang tulisan tersebut. "Tapi tunggu...bisa saja Pandu. Aku tidak melihatnya. Saat kau terluka atau saat ini. Menanyakan kabarmu saja tidak. Ia sepertinya menghilang begitu saja" ucap bang David. "Pandu... Aku rasa dia tidak terlibat. Ia sama hal nya seperti aku. Pecinta sejati tak kan melukai yang dicintai" ucap Roy sambil menatap tulisan pada kertas tersebut. "Dan lagi ini bukan gayanya. Ia gentleman, bukan pengecut..." ucap Roy. Matanya menatap kak Mirza dan bang David bergantian.


"Pencuri...Hah, Orang yang selalu mengataiku dengan kata iti adalah Amara..." ucapku setengahirih. "Ayolah, sayang..jangan mudah terpengaruh dengan ucapan kak Roy" ucap kak Mirza. "Kakak yakin, bukan Amara pelakunya?" ucapku hampir menangis. "Dia tidak seperti itu...Fara" ucap kak Mirza. "Lalu dia seperti apa? Dia yang selalu berbisik mengataiku pencuri. Yang selalu menghina masa lalu ku di belakang mu. Ia yang selalu memintaku menjauhimu...! Kakak bilang ia tidak seperti itu...! Lalu dia seperti apa?!" tanyaku histeris. Ini bukan diriku yang berteriak di depan orang yang amat ku cintai dan ku hormati. Tapi luka ini membuat aku mampu melakukan segalanya. "Kau...!" ucap kak Mirza dengan amarah yang ditahannya. "Aku tidak sanggup, Kak. Tolong ceraikan aku. Tolong ceraikan aku...!" teriak ku lagi dalam tangis yang kian menjadi. Berlalu kak Mirza begitu saja. Di lajukannya mobil sport silver dengan menyisakan suara raungan yang mengisi sunyi nya malam.

__ADS_1


Aku duduk di atas sofa. Memeluk erat kedua lututku. Isak ku menjadi luar biasa. "Fara, aku mengerti perasaan mu. Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi. Bisa Amara ataupun Pandu atau bisa siapa saja" ucap bang David sambil duduk di sebelahku dan menenangkan ku. "Kak, aku minta tidak membuat spekulasi dini. Jika salah sama saja memfitnah" ucap bang David datar. "Jika aku punya bukti bagaimana...?" ucap Roy datar sambil mengobati luka pada keningnya. "Ayolah...kak" ucap bang David dengan ekspresi kurang suka.


__ADS_2