
Pukul enam lewat tiga puluh menit. Dua ratus kue sudah tersusun rapi pada scooter ku. Kemudian aku pun segera melajukan scooter dengan kecepatan sedang menembus keramaian jalanan kota yang masih tampak basah karena baru saja di guyur rintik hujan. Pengiriman pertama adalah toko Koh Ahong. "Pagi, Koh. Maaf terlambat. Hujan. Cupcake nya seperti biasa, seratus Koh" ucapku sambil tersenyum dan meletakkan dua box berisi cupcake. "Ya Fara. Eh, jangan lupa besok seratus kotak, isi dua kue ya. Lo kirim jam segini ga papa. Lo juga tetap ngisi toko ya, Fara. Ku Lo punya banyak di cari. Ini duit penjualan kemarin. Lo bawa ya..." ucap Koh Ahong sambil tersenyum. "Terima kasih Koh..." ucapku sambil berlalu. Langkah ku sedikit berlari karena rintik hujan mulai menyapa bumi lagi.
Sedikit berlari sambil membawa box kue, aku memasuki toko Cih Amel. "Seratus, Cih..." ucapku sambil tersenyum dan meletakkan box di atas etalase. "Terima kasih. Ini uang hasil penjualan kemarin" ucap Cih Amel sambil tersenyum. "Fara, kalau kue nya ditambah lagi, bisa tidak? Misal onde onde, lemper, brownies atau yang lainnya. Cih Amel yakin Fara bisa. Kue buatan Fara itu enak. Banyak disukai" ucap Cih Amel lagi sambil tersenyum. Walau ia bukan asli pribumi, namun logat nya tidak mencirikan lagi etnisnya. Ia sudah amat berbaur. Bahkan sepintas sulit dibedakan. "Ya, Cih. Nanti Fara coba. Fara buat tester nya dulu, nanti Cih Amel yang putuskan bagaimananya" ucapku sumringah. "Besok atau lusa sudah ada tester nya ya, Fara" ucap Cih Amel lagi. "Okeh, Cih..." ucapku sambil berlalu.
Beralih langkahku menuju toko bahan kue Cih Amih yang berjarak hanya berselang beberapa toko saja. Setengah berlari aku menyusuri jalan yang ramai di bawah rintik hujan yang jatuh satu-satu ke bumi. "Fara...jangan lupa besok" ucap Cih Amih saat aku baru saja sampai. "Ya, Cih. Ini mau beli bahan" ucapku dan menyebutkan beberapa bahan yang diperlukan. Setelah lengkap aku pun segera membawanya. Sedikit tertatih langkahku saat keluar toko karena banyaknya belanjaan ku. Itu pun separuhnya, selebihnya masih ku titip pada Cih Amih. "Saya bantu..." ucap sebuah suara. Belum aku mengenalinya ia sudah menyambar belanjaan ku. Aku terkejut, baik karena perlakuannya juga karena mengetahui si empunya suara. "Kak Mirza...!" ucap setengah teriak. Ia hanya tersenyum dan langsung membawa belanjaan ku hingga scooter ku. Tak lupa ia pun menatanya dengan rapi. "Mau kemana..?" tanyanya saat aku melangkah kembali. "Mengambil belanjaan lagi..." ucapku. "Biar aku saja. Toko tadi kan? Tunggu di sini..." ucapnya sambil melangkah berlalu. Ku tatap punggungnya yang tampak kekar itu sambil tersenyum. Jika diperhatikan ketampanannya sebelas dua belas dengan bang David. Lebih sedikit kak Mirza karena adanya dua lubang yang menghiasi kedua pipinya jika ia tersenyum atau pun tertawa. "Hei..."ucap kak Mirza yang berhasil membuyarkan lamunan liar ku. Terlebih lagi tepukan tangan kekarnya pada bahuku. Ia tertawa kecil saat melihat ekspresi wajahku. Tawa yang amat jarang ku lihat sejak kedatangannya. "Sepertinya yang ini di motorku saja ya" ucapnya sambil meletakkan belanjaan ku pada gantungan di motornya. "Sialan nieh cowok main gantung saja tuh belanjaan. Aku kan belum ngomong apa-apa" gerutu ku dalam hati.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Ku parkir scooter ku di halaman rumah tepat di samping motor kak Mirza. Ada banyak pasang mata yang menatap kedatangan kami yang secara bersamaan dan membawa beberapa belanjaan ke dalam rumah. "Assalamu'alaikum..." ucapku. "Wa'alaikumussalam...." jawab kak Arum, kak Amara dan beberapa mahasiswa lainnya hampir bersamaan. "Maaf Fara, rumahnya jadi ramai" ucap kak Arum sambil melirik kak Mirza. "Ah, tidak apa-apa kak. Justru Fara senang. Jadi ramai..." ucapku sambil tersenyum sumringah. "Acara pembukaannya belum,kak?" tanyaku. "Sebentar lagi. Nunggu komando. Eh, komandannya justru baru pulang" ucap kak Amara sambil menunjuk kak Mirza yang baru masuk ke kamar setelah dari kamar mandi. Setelah berbincang sebentar aku pun berlalu menuju dapur. Mengambil segelas air dan meneguknya hingga habis.
Pukul sembilan. Sesaat setelah para mahasiswa meninggalkan rumahku menuju aula kecamatan, aku memasak untuk makan siang ku nanti. Walau hanya sendirian, namun aku tetap masak seperti saat masih ada nenek dengan porsi lebih sedikit. Sejurus kemudian aku pun sudah beralih pada racikan cupcakes. Ku campur bahan tahap demi tahap untuk seratus delapan puluh buah cupcakes. Dan selebihnya akan ku kerjakan setelah maghrib nanti. Semoga semuanya lancar.
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Aku segera berwudhu dan melaksanakan sholat dzuhur. Meminta pengampunan atas khilaf ku selama ini. Tak lupa sebait doa juga ku munajatkan untuk nenek, amah dan papa yang kini entah dimana. Tak terasa air mataku berurai kembali, ditiap-tiap doa panjang ku. Merasakan kepiluan yang amat sangat saat memandang jauh ke depan tendang hidup dan penghidupanku.
__ADS_1
Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Aku kembali berkutat dengan semua peralatan di dapur. "Ncess....." ucap sebuah suara di ambang pintu. Aku tersenyum saat mendengar suara tersebut. Siapa lagi jika bukan Sherlly yang memiliki suara cempreng seperti itu. "Masak apa?" tanyanya sambil menggeluti punggung ku. "Lihat saja sendiri. Sepertinya tadi...." ucapku setengah teriak. Belum lagi selesai ucapanku kulihat Sherlly sedang nangkring menikmati menu di meja. "Dasar bocah semprul...Main nangkring saja" ucapku sambil mengacak rambutnya. Sherlly pun tertawa sambil menghindari serangan tanganku. Namun pada akhirnya aku pun ikut serta menyantap menu makan siang yang tadi ku masak. "Em, bang David kemana Fa?Aku menghubunginya pun tidak pernah berbalas. Apakah dia menghubungimu?" ucap Sherlly sambil menyuap nasi ke mulutnya. Aku menggeleng perlahan sambil menyudahi acara santap siang ku "Tidak sama sekali. Bahkan aku pun menanyakan kepada dokter Aditya, ia pun menyatakan ketidaktahuannya. Tapi ku rasa ada sesuatu yang ia tutupi. Entah apa itu. Aku tidak tahu" ucapku sambil merapikan bekas makan ku.
Sejurus kemudian aku pun kembali berkutat dengan peralatan dan adonan kue yang sudah siap. Aku pun mulai memasukkan adonan cupcake ke dalam cetakan yang sudah diberi kertas bermotif ataupun berwana warni. "Kakak mahasiswa kemana?" tanya Sherlly dengan tangan yang tetap mengaduk dan mengisi cetakan. "Ke aula kecamatan" jawabku tanpa basa basi, namun tetap membuat Sherlly meng-o panjang. Enam puluh cupcakes siap dipanggang. Dengan hati-hati ku masukkan nampan berisi lima belas pertama di barisan pertama oven dan lima belas selanjutnya di barisan kedua, ketiga dan keempat. Ku atur suhu oven pada sembilan puluh derajat Celcius dan waktu pemanggangan pada dua puluh menit. Sembari menunggu cupcake dalam oven siap, aku menyiapkan topping berupa krim, buah ceri dan coklat.
Dua puluh menit berlalu. Aku segera membuka oven saat terdengar bunyi ting, begitu kata nenek. Semerbak harum aroma cupcake menggelitik Indra penciuman. "Hmmm...yummy. ucap Sherlly sambil mengendus dan merasai aroma yang mengisi seluruh ruangan. Aku tertawa melihat polah nya tersebut. Kemudian perlahan aku mengambil satu persatu nampan berisi cupcake dari dalam oven dan meletakkannya di sampingku, sekaligus juga memasukkan enam puluh cupcakes kedua yang baru saja selesai di isi Sherlly. Begitulah seterusnya hingga semua adonan habis. Usai sudah untuk sementara waktu pertempuran kami dengan seratus delapan puluh cupcakes. Dan sesudah Maghrib nanti akan dilanjutkan lagi.
"Yang pergi memang harus pergi, yang datang tidak dapat di cegah. Yakin saja semua harus dijalani dengan sebuah kesadaran" ucap kak Mirza dengan suara khasnya. Aku terdiam mencoba memaknai setiap ucapannya. "Kak Arum dan kak Amara kemana, kak?" tanyaku kemudian. "Sedang ada kegiatan dengan anak-anak TPQ di masjid. Mungkin setelah isya baru kembali. ucapnya sambil tetap berdiri pada tempat semula. Aku pun mengangguk sambil merapikan beberapa peralatan yang tidak terpakai lagi. "Besok pagi pengantaran kue nya bagaimana?" tanyanya. "Sewa mobil. Tadi sudah info ke pak Dudung" ucapku sambil duduk di kursi meja makan. "Malam ini aku makan di sini bolehkah?" tanyanya. "Boleh, kak. Kenapa tidak. Kebetulan siang tadi Fara baru saja masak lagi" ucapku sambil tersenyum. Tak dapat ku pungkiri, aku senang mendengarnya.
Pukul enam lewat sepuluh menit. Kembali aku menengadahkan kedua tangan, khusyuk bermunajat. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Semoga semua doa terkabul. Aamiin. Ku rapikan mukena yang baru saja ku pakai. Ku lihat Sherlly tengah duduk mematut diri di depan cermin. "Assalamu'alaikum..." ucap sebuah suara di depan pintu. "Wa'alaikumussalam...." ucapku dan Sherlly hampir bersamaan. Segera ku buka pintu dan ku lihat kak Mirza tengah berdiri. "Bisakah aku makan sekarang?" ucapnya sambil memegang perut. Aku tersenyum dan mengajaknya ke dapur. "Sherlly, kita makan yuk..." ajakku pada Sherlly.
__ADS_1
Pukul enam lewat tiga puluh menit. Aku menyiapkan piring makan untuk kak Mirza, aku dan Sherlly. Kak Mirza mengangkat piring nya isyarat agar aku membantunya. "Dasar anak manja" ucapku sambil tersenyum. "Hitung-hitung latihan melayani suami...." ucapnya santai saja. Tapi aku yang mendengar begitu canggung dan akhirnya tersenyum tipis saja sambil menatapnya. Tak lama Sherlly bergabung santap malam. Walau dengan menu sederhana, ku lihat kak Mirza begitu lahap menikmati setiap suapan menu makan malamnya.
Pukul tujuh lewat tiga puluh. Setelah sholat isya, aku dan Sherlly kembali berkutat dengan adonan dan bahan kue. Malam ini selain cupcake, aku juga akan membuat puding buah potong. Kami berbagi tugas. Kak Mirza yang berkenan membantu, memotong buah sesuai arahan ku. Sherlly fokus panci besar berisi bahan puding untuk seratus lima puluh puding buah. Sudah hampir satu jam ia mengaduknya di atas kompos yang menyala membara. Sementara aku fokus pada cupcake. Saat ini adalah enam puluh panggangan yang kedua. Ku siapkan adonan yang terakhir dan mengisinya pada cup. Pun demikian aku pun sambil memberi topping agar cupcakes lebih cantik. Topping kali ini adalah krim, potongan kecil coklat dan kacang mete. "Done..." ucapku sumringah.
Pukul sepuluh malam. Kini konsentrasi ku beralih pada proses pembuatan puding buah. Malam ini penuh perjuangan hingga lelah berhasil menyergap setiap persendian tubuh. Ku sandarkan kepalaku pada dinding di belakangku sekedar mengurangi rasa lelah. Mataku hampir terpejam saat kak Arum dan kak Amara datang. "Maaf kami tidak dapat membantu" ucapnya dengan wajah penyesalan. "Tidak apa-apa, kak..." ucapku sambil tersenyum. Kemudian keduanya bergabung turut membantu. Hampir tiga jam kami berjibaku dalam membuat puding buah. Alhamdulillah... akhirnya selesai sebelum pukul satu dini hari.
"Tidurlah kakak-kakak. Terima kasih atas bantuannya" ucapku sambil menatap ketiganya. Terutama pada kak Mirza. Akhirnya ketiganya pun berlalu untuk beristirahat. Sherlly pun beranjak menuju kamar. Sementara aku masih termenung menatap kue yang berjejer cantik di etalase dan esok barulah akan di kemas dalam kotak. Semoga lancar....
__ADS_1