
"Em...akhirnya aku dilamar juga, Mbok" ucapku sekenanya saja. Dan ucapanku telah berhasil membuat kak Mirza tertegun. Dia terdiam. Hanya matanya saja yang menatapku. Ada tanya di ujung tatapannya itu.
"Sungguh..." ucap kak Mirza. "Aku menerimanya, kak..." ucap ku lagi. "Aku tidak salah mendengar kan? ini nyata kan? Kau tidak sedang mengerjai ku kan?Atau tidak sedang bermimpi kan?ucap kak Mirza seakan tak percaya.
"Ya, kak. Aku menerima lamaran, kakak" ucapku setengah berbisik.
"Alhamdulillah...." ucap kak Mirza. Bukan hanya sekali tapi berulangkali ia mengucapkannya. Aku tersenyum menatapnya. Ia begitu rikuh. Ia ingin merengkuh ku namun urung bak ada yang menahannya. Mengapa kak Mirza jadi secanggung ini ya...? Hehe... Pun demikian wajahnya berhias senyum yang begitu sumringah.
Sekali waktu ia menutup wajahnya sambil mengurai senyum khasnya. "Mengapa kalian masih di sini..?" ucap kak Mirza. Matanya menatap mbok Jum dan Azam bergantian. Ditanya demikian keduanya jadi rikuh dan akhirnya buru-buru berlalu meninggalkan kami.
"Aku sedang tidak bermimpi kan?" tanya kak Mirza sambil tersenyum dan menatapku. Sungguh barulah saat ini aku menyaksikan kak Mirza berlaku demikian. Hilang sudah label acuh, dingin, egois yang selalu melekat padanya. Saat ini aku melihatnya bak bocah yang tengah ketahuan mengambil permen gula-gula.
__ADS_1
"Jadi kapan kita menikah...?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya pada ku. Jaraknya begitu dekat. Hanya beberapa sentimeter saja. "Jangan terburu-buru ya..." ucap ku sambil mengusap lembut sebagian wajahnya. "Kenapa..? Apa ada sesuatu yang masih menghalangi kesempatan itu? Atau kau masih meragukan ku?" ucapnya. "Hei...tidak demikian. Aku hanya ingin lebih jauh mengenalmu, Tuan Mirza" ucapku yang membuatnya membulatkan mata.
"Bukankah kita sudah saling mengenal...?" ucapnya tak percaya. "Justru aku baru mengenal mu kak. Mirza yang dulu ku kenal tidak sama dengan Mirza yang sekarang ku kenal..." ucapku sambil menatap wajah tampannya.
"Ow, jadi menurut Nyonya besar aku sudah berubah? Jadi mana yang kau inginkan, Mirza yang dahulu atau Mirza yang sekarang? ucap kak Mirza makin mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Entahlah... Karena itu aku ingin meminta waktu agar aku bisa menentukannya" ucapku lirih karena jarak kami begitu dekat. Dengan jarak dan tatapan mata se-lekat itu rasanya tidak mungkin menjawab segala pertanyaan walaupun pertanyaan itu begitu mudah.
Kini aku larut ke dalam tatapan matanya. Degup jantungku pun tak sanggup lagi ku kendalikan. Saat ini iramanya begitu bertalu hingga aku sendiri tidak tahu irama apa yang sedang dimainkan.
"Baiklah Nyonya berapa lama waktu yang kau perlukan agar kau dapat menentukan pilihanmu...?" ucap kak Mirza sambil meraih jemariku. "Jika aku sudah memiliki jawaban maka aku akan langsung menyampaikannya kepada mu, Tuan Mirza Adyatma" ucapku sambil tersenyum.
"Aku sangat lelah. Bisakah aku tidur dengan tenang malam ini? Karena malam-malam sebelumnya aku tak pernah merasakannya" ucap ku sambil menatapnya. Laki-laki yang sudah ku pilih kembali. "Kemarilah..." ucapnya sambil berisyarat agar aku menempati ruang yang sudah ia siapkan di sofa.
__ADS_1
"Malam ini aku yang akan menjagamu dan memberi mu ketenangan" ucap kak Mirza. Aku pun merebahkan tubuh sambil menatapnya yang duduk di lantai. Tangannya menarik lembut pucuk kepalaku yang masih terbalut kerudung. "Tidurlah..." ucapnya lirih. Di ujung tatapannya tersimpan binar yang menenangkan. Tatapan yang selalu membuat ku merasa dicintai. Yah...malam ini aku berhasil menemukan kembali apa yang selama ini ku cari dalam dirinya. Dan hal ini tentu saja telah menambah keyakinan ku pada mu.
"Selamat malam, Kak..." ucapku sambil menatapnya dengan senyuman. "Selamat malam, sayang. Mimpi indah lah. Tapi aku mohon jangan mimpikan aku. Sebab aku tidak hidup dalam mimpimu. Aku nyata, sayang..." ucapnya yang membuatku tersenyum.
"Aku tahu..." ucapku sambil memejamkan mata.
Entah berapa lama aku tertidur. Namun saat aku terbangun, aku masih mendapatinya. Ia pun terlelap di dekat ku. Ia tidur dengan posisi duduk dengan menyandarkan kepala pada sofa dekat dengan ku. Aku menatap wajahnya. Wajah yang tetap sama ku rasa seperti saat aku menjadi istrinya dahulu. Tampan berkharisma, dingin namun menghangatkan. Dan dia tahu bagaimana cara untuk membahagiakan ku. Kini aku menyadarinya.
Sejenak kak Mirza mengerjap. Dan hal tersebut tentu saja membuat ku kembali memejamkan mata. Aku berpura-pura tidur kembali.
Ku rasakan tangannya membetulkan tangan ku. Dan aku yakin kini ia tengah menatapku. "Sayang...apakah kau merasa aku telah berubah? Tapi sungguh cinta dan perasaan ku masih tetap sama terhadapmu. Tiada yang berubah sedikitpun. Aku memang pernah membuat luka di hatimu dan sempat menghadiahi mu banyak kepiluan tapi semua akan ku perbaiki. Karena aku sangat mencintai mu.
__ADS_1
"Oya..." ucapku tiba-tiba sambil membuka mata. "Kau...Aah. Kau mengerjaiku?" ucap kak Mirza. Aku tertawa. "Sesungguhnya aku ingin lebih banyak mendengar penuturan mu, namun aku sudah tahan untuk mengakhirinya" ucapku sambil tertawa. "O...kau berani mengerjaiku ya?" ucap nya sambil mengejar ku yang sudah terlebih dahulu berlari menghindarinya.
Jadilah subuh ini kami awali dengan berlarian. Cara yang unik untuk berolahraga, bukan? Hehee...