Sekuat Mentari, Selembut Rembulan

Sekuat Mentari, Selembut Rembulan
Episode 112. Desiran Apakah Ini?


__ADS_3

Pukul tujuh lewat lima menit. Aku masih berdiri dekat jendela. Mataku menerawang menatap langit yang tampak gelap tertutup awan. Sang mentari pun sepertinya masihlah enggan membagikan sinarnya. Hanya siluet nya saja yang tampak samar di balik awan hitam yang terus menyambangi langit. Melihat kondisi langit yang demikian, hati ku terus berbisik agar aku mengurungkan keinginan ku pagi ini untuk menemui anak laki-laki ku, Rafan.


Lagi-lagi aku menghela nafas panjang. Dan lagi-lagi aku merasa helaan nafas ku begitu berat. Entahlah, bagaimana aku menuangkannya dalam untaian kata sebagai pencerminan situasiku saat ini. Sungguh aku tidak tahu. Yang pasti ada kegundahan hebat yang melanda jiwa ini.


Hari ini adalah genap dua tahun usia anak laki-laki ku. Namun belum ada titik terang sedikit pun mengenai keluluhan hati seorang mama Wina. Hal inilah penyebab kegundahan hebat dalam jiwa ini. Segala upaya sedang diupayakan kak Mirza, mulai dari pendekatan secara moril hingga jalur hukum. Namun tak satu pun yang membuahkan hasil. Ternyata pengaruh mama Wina di kota ini sanggup menutup segala jalur usaha hingga aku dan atau kak Mirza pun tak mampu berbuat banyak.


Ah, terjun bebas kembali air mataku. Tiap bulirnya jatuh bak titik hujan yang mulai menyapa bumi.


Tok.


Tok.


Tok.

__ADS_1


"Non, ada tamu. Em, den Aiman..." ucap mbok Jum di balik pintu yang tertutup rapat. Mendengar itu aku langsung menyusut air mataku. Hatiku mendadak berseri saat ia datang. Tak ku pungkiri jika hati ini berharap kabar menggembirakan yang akan ku dapat saat ia menyusun kata sambil mengurai senyumnya. Aku pun segera mungkin menghambur keluar kamar dan menuju ruang tengah dimana kak Mirza berada.


"Kak..." ucapku saat kulihat dia tengah berdiri tegak tak bergeming sedikit pun. Dia berdiri dekat jendela dan membelakangi ku. Kedua tangannya tersimpan pada kedua kantong celananya. Entah apa yang sedang dia fikirkan, hingga panggilanku tak didengar. Dan sekali lagi aku memanggilnya. Kali ini lengkap dengan namanya. "Kak Mirza..." ucapku. Akhirnya si empunya diri pun memutar tubuhnya dan berdiri tegak di hadapanku. Matanya lekat menatapku. Aku tertegun. Mataku menyasar pada sudut matanya. Ada bulir bening yang mengambang. Dan hal tersebut tentu membuatku penasaran sekaligus berhasil membawa kegundahan.


"Ada apa, Kak...?" tanyaku berusaha setenang mungkin. Tanpa kata, kak Mirza justru langsung merengkuh kepala ku dan membenamkannya pada dada bidangnya. Aku terkesiap. Pun demikian, aku diam saja. Tanpa kata juga menolak sedikitpun atas perlakuannya. Hati ku yakin telah terjadi sesuatu sehingga kak Mirza berlaku demikian.


"Maafkan aku, Fara..." ucap kak Mirza sendu sambil mengeratkan dekapannya. Suaranya sedikit bergetar dan kurasa ada pilu yang menyelimutinya. Lama kepalaku bersandar pada dadanya. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku menerima semua perlakuannya tersebut. Apa mungkin....? Ah, tidak. Tentu saja tidak demikian. Kisah yang lalu biarlah berlalu. Aku tak akan membukanya lagi.


"Fara rasa kakak sudah berupaya maksimal. Bahkan melebihi ku. Jadi untuk apa kakak menyesalinya" ucapku yang menyusut air mata. Bulir bening itu mengalir begitu saja saat mendengar penuturan kak Mirza. Dan kini suaraku pun menjadi bergetar dan sedikit parau karena menahan isak.


"Maafkan aku, Fara..." ucapnya lagi. "Jalan terakhir, aku akan menemui mama Wina dan memintanya memberi kesempatan agar dapat menemui Rafan" ucapku sambil duduk pada kursi yang berada tak jauh. Bersamaan dengan itu dekapan kak Mirza pun melonggar. Dan ia pun turut duduk tak jauh dari ku. Matanya basah dengan beberapa bulir bening yang masih mengalir. Saat aku menatapnya, tangannya buru-buru mengusapnya tak bersisa. Sesekali ia melirik ku sambil menghela nafas panjang. Helaan yang terasa berat bagi ku.


"Kapan kau akan menemui mama Wina?" ucapnya sambil menatap ku. "Bagaimana jika sore ini?" tanyaku sambil membalas menatapnya.

__ADS_1


Deg.


Ada desiran aneh saat tatapan kami beradu. Desiran yang telah lama tak ku rasa. "Jangan terbawa perasaan, Fara. Ayolah, ini hanya rasa simpati atas bantuannya kepadamu..." aku membatin. "Tapi perasaan ini begitu nyata. Desiran yang sama seperti saat dahulu. Saat kami bersama" aku membatin kembali. Perang batin ini telah menimbulkan kegamangan yang langsung ditangkap kak Mirza. "Ada apa, Fara...?" ucapnya khawatir sambil menggeser duduknya. "Aku...Aku..." ucapku gagu. Tatapanku telah kalah hingga langsung ku simpan pada pangkuanku. Sementara tanganku mulai memainkan ujung kerudungku. Sepintas ku lihat senyum di wajah kak Mirza. Aku yakin dia tahu seperti apa kegelisahan ku saat ini.


"Baiklah aku akan menjemputmu pukul tiga lewat tiga puluh menit" ucap kak Mirza sambil mengacak pucuk kepalaku. Ujung tatapannya kembali menyentuh bola mata ku. Dan itu membuat ku semakin menyimpan tatapan pada pangkuan. "Fara...Fara...Kau masih seperti dahulu. Tak berubah sedikitpun. Sama sekali. Kau masih Fara yang sama..." ucap kak Mirza yang kemudian berlalu. Ku ikuti langkahnya yang sedikit gontai itu. Ku tatapi punggungnya yang kekar itu dengan sendu. Punggung yang selalu menjadi sandaran kepala ku, saat aku mengurai tangisku. Tangis yang selalu ada sejak dahulu sebelum aku menjadi istrinya ataupun hingga saat ini. "Kau baik, Kak..." gumamku sambil terus menatapnya hingga di ambang pintu.


"Oya..." ucapnya sambil memutar tubuhnya. Aku pun terkesiap dan segera memalingkan tatapan ku pada sebuah buku walau sedikit kikuk. "Ya, Kak. Ada apa?" ucapku rikuh. Kak Mirza tersenyum. Ia pun kembali melangkahkan kaki ke arah ku. Astaga...tatapanku terkunci pada kak Mirza. Pupus sudah harapan ku untuk mencari alasan memalingkan wajah darinya walau sedikit saja. Irama degup jantungku sudah tak terkendali. Entah irama apa yang tengah dimainkan saat ini.


Duduk berjongkok kak Mirza di hadapanku. Matanya lekat menatapku seakan ia mencari sesuatu. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang begitu manis. "Kak..." ucapku lirih. "Eemm..." ucapnya sambil tersenyum dan terus menatapku. Sesaat tatapan kami kembali bertemu. Aku terdiam. Tak bergeming.


"Em, mama ingin sekali bertemu dengan mu" ucap kak Mirza. Tangannya menyentil perlahan hidungku. Dan hal tersebut tentu saja membuat ku tersadar dari lamunanku. "Mama...?" ucapku gagu sambil membetulkan letak duduk ku. "Ya..." ucap kak Mirza. Dan lagi-lagi tangannya mengacak pucuk kepalaku dan berlalu.


Aku kembali terdiam. Hanya mataku saja yang masih menatapi setiap langkahnya hingga hilang di balik dinding. Tak lama ku dengar suara deru mesin mobil. Deru yang perlahan semakin menjauh hingga menghilang, berbaur dengan udara padi ini.

__ADS_1


__ADS_2