
Pukul tiga lewat enam menit. Aku kalut. Fikiranku menerawang jauh, entah kemana. Di tengah kekalutan, aku berdiri di bawah guyuran hujan yang baru saja kembali menyapa bumi setelah beberapa jam hilang diterpa angin lalu. Mata ku menatap kacau sepanjang jalan yang ku lalui. Jalan yang ku jejaki begitu saja dan tak tentu arah. Hampir berlari aku membawa lelehan air mata ini bersama nyanyian hujan yang menggila. Dan tak ku hiraukan sama sekali tatapan aneh dari banyak pasang mata yang menatapku saat melalui ku. Sebab yang ku tahu aku sedang terluka. Aku sedang tidak baik-baik saja.
Pukul tiga lewat empat puluh menit. Kaki ku masih menapaki jalan yang makin basah oleh genangan curahan hujan. Sementara itu mataku semakin sembab karena tangis yang tak berkesudahan saat lintasan peristiwa yang menimpaku satu tahun lalu kembali menyata dalam ingatanku. Teringat sudah bagaimana tangan tuan Darius menggerayangi tubuhku. Merasakan kehalusan tiap lekuk tubuhku. Walau tak sempat merenggut kegadisanku, namun tetap saja apa yang sering ia lakukan membuat ragaku hina dan jiwaku menolak kepercayaan dalam bentuk dan rupa apa pun itu.
Dan lagi-lagi air mata ini adalah menjadi kata-kata ampuh yang tidak dapat diucapkan bibir dan tidak dapat ditanggung oleh hati, namun menjadi saksi bagaimana gejolak di jiwa ini. Hampir aku menyerah pada keadaan hingga pernah di suatu ketika aku merasa jijik dengan tubuhku dan ketidakberdayaan ku saat itu. Dan penyesalan pun menjadi satu-satunya gejolak dalam menumbuhkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Dalam kekalutan saat itu beruntungnya aku mendapatkan sosok ayah kembali yang sudah lama menghilang. Ia lah yang telah menguatkan jiwa ku dan memgembalikan kekuatan dan kepercayaan ku hingga saat ini. Namun ketika tersebut kembali nama tuan Darius saat perbincangan antara ayah dan Evans, yang katanya rekan kerja dahulu hatiku pun kembali kecut. Jiwaku kembali kacau, dan fikiranku pun kembali melintasi jejak waktu mengingat peristiwa satu tahun yang lalu.
Pukul empat sore. Masih di bawah guyuran hujan. Kali ini aku berdiri menatap rumahku sendiri yang tampak sepi. Rumah yang menyimpan kenangan. Kenangan tentang amah dan nenek. Mungkin juga ayah. Ada banyak suka dan duka yang terjadi dalam rumah itu. Yang kesemua rasa itu telah membentuk bagaimana diriku saat ini.
Tak lama kemudian aku melangkahkan kaki menuju teras rumah. Dan menghenrikan langkahku di sana. Duduk sekenanya pada kursi sambil menatap pelimbahan cucuran air hujan. Dengan kondisi ku saat ini aku amat menyadari bahwa kesedihan dan kedukaanku telah membuat akal terpana dan tidak berdaya. Dan satu-satunya cara untuk terlepas dari himpitan keduanya adalah dengan merima segala kesedihan dan kedukaan dengan keteguhan hati dan memberdayakan akal untuk mencari jalan keluar. Pun demikian, aku masih ragu untuk mengambil langkah saat sumber kesedihan dan kedukaanku masih membayangi dan sebentar lalu menjadi nyata. Tuan Darius...
Pukul empat lewat dua puluh menit. Masih di teras rumah. Berdiri aku seketika dan menatap bayang diri yang sudah kuyup pada pantulan kaca jendela. "Hidup tak akan selalu bahagia. Hidup seperti ombak di pantai, ada pasang surutnya. Kadang ada saja masalah dan kesedihan yang datang menghampiri. Bagaimana pun mencoba dan berusaha keras, masalah itu tak pernah bisa dihindarkan. Karena itu aku harus berusaha untuk tidak membiarkan kesedihan memakan waktu berhargaku. Karena waktu tak akan bisa berputar kembali, waktu juga tak akan mau berhenti dan menunggu sampai aku bangkit lagi..." renungku sambil terus menatap pantulan diriku pada kaca jendela.
__ADS_1
"Tak ada yang bisa merubah dan menciptakan kebahagiaan karena kebahagiaan itu sendiri pun akan muncul setelah kesedihan itu usai. Jadi, bangkitlah Fara...! Ayo, berkaca dan tatap matamu lebih dalam. Mulai berdiri dan bukalah lembaran baru lagi. Dan yakinlah bahwa kesedihan pun akan terbang menjauh seiring dengan kepakan sayap sang waktu..." Begitu ucapku dengan senyum sedikit mengembang.
"Fara...." ucap Tante Vira membuka pintu dan mendapatiku yang tengah berdiri menatap kaca jendela. Aku pun terkejut dan lamunanku pun buyar begitu saja. Namun yang lebih membuatku terkejut adalah saat menatap wajah cantik Tante Vira. Ada luka lebam di sana. "Ada apa, Tante...?" ucapku sambil memperhatikan seksama luka lebam pada wajahnya. Mendapat pertanyaan tersebut Tante Vira hanya tersenyum menatapku. "Mandilah dahulu...Kau kuyup, sayang" ucap Tante Vira. "Jelaskan dahulu, Tante?" ucapku khawatir. "Nanti Tante ceritakan. Fara mandi dahulu saja" ucap Tante Vira lagi. Akhirnya aku pun mengiyakannya sambil menyimpan sejuta tanya di ujung hatiku.
Pukul lima lewat dua menit. Duduk aku pada sofa. Memenuhi rasa penasaranku, aku menunggu penjelasan Tante Vira. "Kehidupan adalah perubahan yang alami dan spontan. Dan tante tidak akan menolaknya. Karena penolakan bisa jadi akan menimbulkan kesedihan. So...biarkan mengalir secara natural, berjalan seperti apa adanya." ucap Tante Vira sendu. "Maksud Tante Vira.." ucapku menatapnya. "Mungkin ini salah satu cara pendewasaan diri, yaitu melalui ujian-ujian yang terjadi dalam kehidupan Tante. Ini memang menyakitkan, tapi Tante baik-baik saja. Tante sudah terbiasa dengan ini semua" ucap Tante lagi yang semakin membuatku menatapnya lekat, meminta penjelasan lebih.
"Tuan Darius berhasil menemukan keberadaan Tante" ucap Tante Vira sambil memainkan ujung jemarinya. "Tuan Darius...?!" ucapku sambil mendekatkan posisi duduk ku ke Tante Vira. Rasa penasaran telah membungkam rasa ketakutan ku sendiri. "Saat itu Tante tengah berada di dekat toko kita. Tante baru saja....
"Masuk..." ucap sebuah suara. Suara yang amat ku kenal. Sebelum aku menyadari situasi, sebuah tangan menarik tubuhku hingga terhempas ke dalam mobil. "Akhirnya kau ku temukan, Vira..." ucap tuan Darius menyeringai memperlihatkan deretan gigi putihnya. Sementara sebelah tangannya mencengkram ku begitu keras hingga aku mengaduh. "Cih...apa mau mu, Darius?!" ucapku sambil menepis cengkraman tangannya. "Dirimu...Kau wanita pertamaku" ucapnya sambil berusaha memeluk dan mengecup bibirku. "Aku tidak sudi. Lepaskan...!" ucapku sambil terus meronta dalam dekapannya. Kesal dengan perilaku ku, tuan Darius pun memukul ku. Entah berapa pukulan kudapatkan. Karena kesadaran ku telah hilang saat itu.
Namun seiring terbukanya mataku, lamat-lamat aku mendengar perbincangan. Perbincangan antara dua lelaki yang suaranya amat ku kenal. Ku tajamkan telingaku, berusaha menyimak perbincangan keduanya. "Vira itu sudah menjadi milik saya. Tuan Darius pasti mengerti" ucap Permana atau yang lebih ku kenal dengan Robert. Mendengar itu tuan Darius tertawa hebat. "Kau mencintai mantan istriku...?!" ucap tuan Darius di sela tawanya. "Baiklah... ambillah. Aku memberikannya kepadamu. Anggap saja itu sumbanganku atas apa yang sudah kau lakukan selama ini untukku" ucapnya lagi. "Ambillah...ia ada di dalam kamar. Dan maaf aku tidak dapat menahan diri ketika melihat kemolekan tubuhnya itu. Sama seperti saat melihat Fara..." ucap tuan Darius.
__ADS_1
Deg.
Aku tertegun mendengar pernyataan itu. Entah mengapa kekhawatiran ku pada Fara semakin nyata adanya. "Kau.... sedikit saja kau menyakiti Fara anakku atau Vira, maka tidak segan-segan aku membuat perhitungan dengan mu. Aku tahu semua titik lemahmu, Darius. Bahkan semua usahamu..." ucap Permana dengan penuh amarah. Walau tidak sampai berteriak, namun penekan tersebut sudah cukuplah untuk menunjukkan situasi nya saat ini.
Tak lama ku dengar langkah mendekat. "Bang..." panggilku saat pintu kamar terbuka dengan seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Tak banyak bicara bang Permana segera mengambil baju ku yang berserakan di lantai dan memberikannya padaku. Panas mataku menyadari keadaanku yang setengah bugil saat ini. Hasil perbuatan Darius, mantan suamiku itu. Kemudian, Permana pun memapahku dan membawaku pergi dari tempat itu tanpa sepatah kata pun ia lontarkan.
Tante Vira Flashback off
Ku lihat bulir bening deras membasahi. "Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya. Dan bersama ayah mu, aku menjadi kuat..." ucap Tante Vira sambil menghapus air matanya dan menatapku. "Ayah ingin menikahi Tante Vira. Apakah Fara menyetujuinya...?" ucap ayah yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. Aku terdiam seakan ada tekanan yang mendiami hatiku. Lama aku demikian. "Jika ayah bahagia, Fara mendukung niat baik tersebut..." ucapku kemudian yang dibalas pelukan oleh Tante Vira. "Terima kasih, sayang. Kita akan menjadi keluarga yang saling menguatkan..." ucapnya. "Anak, ayah. Terima kasih ya...." ucap ayah memelukku erat.
Pukul enam lewat sepuluh menit. Masih duduk pads sofa di ruang utama rumah. "Semoga tuan Darius akan berfikir dua kali saat berniat menyakiti Tante Vira jika tahu ayah dan Tante sudah menikah" ucapku sambil tersenyum.
__ADS_1