
Sedangkan Revan kini sedang mengendarai mobil nya memasuki halaman mansion mewah nya
Setelah memarkir mobil nya, Revan berjalan masuk menuju mansion nya dengan para pelayan dan pengawal yang sudah berbaris rapi di depan pintu utama untuk menyambut kedatangan tuan muda nya
"Selamat datang tuan muda." ujar para pelayan dan pengawal serempak
Sedangkan Revan tidak menghiraukan nya. Pria itu nampak terus berjalan dengan wajah tanpa ekspresi menuju ke dalam mansion nya
Saat Revan hendak melangkah menaiki tangga, ada seseorang yang memanggil nama nya.
Revan berbalik dan mendapati papa nya yang memanggil nya
"Kau dari mana saja selama papa dan mama pergi?" tanya Danu dingin
"Dari apartemen." jawab Revan singkat
"Ngapain di apartemen?" ujar Danu
"Kerja." ujar Danu
"Benarkah! tapi Zhao lie bilang saat dia menelpon mu ada suara wanita." ujar Danu
"Oh itu! Vino dan Farhan lagi nonton sinetron di tv terus kata nya lebih asik kalau suara nya keras jadi serasa ada seorang wanita bersama Revan." ujar Revan berbohong
"Tapi Zhao lie bilang dia memang mendengar suara wanita." ujar Danu
"Revan sabar…bersabar lah Revan…kau harus tetap bersandiwara, kau tidak boleh gagal di tengah jalan begini." batin Revan berusaha bersabar
"Tapi Revan tidak membawa seorang wanita ke apartemen." ujar Revan
"Baiklah! mungkin Zhao lie hanya salah dengar." ujar Danu
"Iya!" ujar Revan langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar tidur nya
Saat hendak membuka pintu kamar nya, suara seseorang berhasil membuat Revan kembali menoleh dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik
"Revan sayang! mama kangen banget sama kamu, mama udah pulang dua hari yang lalu tapi kamu malah tidak ada." ujar Melinda sembari memeluk erat putra nya
"Maaf ma! akhir-akhir ini Revan sibuk jadi malas kalau pulang ke mansion dan lebih memilih tinggal di apartemen karena Farhan juga menginap di apartemen Revan." jelas Revan
"Oh gitu! tapi kenapa kamu nggak mengangkat panggilan telepon dari Zhao lie?" ujar Melinda
"Revan tidak mendengar nya soalnya handphone Revan di mode silent agar tidak menggangu konsentrasi Revan." ujar Revan
__ADS_1
"Ya udah kamu sekarang istirahat, pasti capek kerja terus." ujar Melinda
"Iya! mama juga istirahat." ujar Revan
Iya sayang!" ujar Melinda tersenyum
Setelah tidak ada lagi yang di bicarakan, Revan segera masuk ke dalam kamar nya
"Aku sungguh muak selalu bersandiwara seperti ini!!! tapi aku harus mencari tahu kenapa papa seperti tidak menganggap ku selama ini!!!" ujar Revan
"Lihat saja nanti apa yang akan ku lakukan!!!" teriak Revan menggema di kamar nya. Untung saja kamar nya kedap suara jadi tidak ada yang mendengar teriakan Revan
"Oli!!! ternyata kau sangat licik ya!!! kau bukan hanya tidak tahu diri dan tidak tahu malu tapi kau sudah mempermainkan ku!!!" ujar Revan
"Karena kau yang sudah memaksa ingin bermain dengan mu maka aku akan mengabulkan permintaan mu!!! lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada mu!!! kau sudah membongkar dan membahayakan keselamatan gadis ku, maka aku tidak akan segan-segan membalas kan semua yang kau lakukan!!!" ujar Revan
Nafas Revan memburu, mata nya merah dan tangan nya terkepal erat, Revan sungguh tidak pernah bisa berlama-lama menahan amarah nya
Meskipun Zhao lie belum mengetahui identitas gadis yang dekat dengan Revan, namun dia sudah bercerita kepada orang tua nya jika Revan sedang dekat dengan seorang gadis. Bagaimana pun juga Revan belum mengetahui kedok sebenar nya sang papa yang seperti cuek dan dingin kepada nya, jadi Revan takut jika keselamatan Rania terancam nanti nya
Revan yang sudah tidak bisa mengendalikan emosi nya akhir nya memecahkan seluruh barang yang ada di kamar nya
Semua barang seperti hiasan, foto dan cermin besar yang ada di dalam ruangan ganti nya pecah berantakan di lantai, sungguh kamar nya sekarang sudah seperti kapal pecah. Semua hancur berantakan, tangan Revan pun sudah terluka dan darah nya sudah mengalir di lantai tapi itu belum bisa menghentikan kemarahan Revan.
Setelah puas memukuli tembok, Revan merogoh saku celana nya untuk mengambil handphone nya. Revan menyalakan handphone nya dan memandangi handphone nya yang terdapat foto Rania sebagai wallpaper di handphone nya
"Maaf kan aku! karena kelalaian ku mungkin kedepannya kau akan dalam bahaya." ujar Revan sembari memandangi foto Rania sedang tertawa yang di ambil nya secara diam-diam
"Tapi aku tidak akan membiarkan kau terluka, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi mu baby." ujar Revan yang tanpa sadar menitikkan air mata nya
"Hei! kenapa aku menjadi cengeng seperti ini? Rania! kau sungguh sudah berhasil meluluhkan hati ku yang keras dan dingin ini, bahkan kau sudah berhasil membuat ku menjadi orang yang cengeng." ujar Revan sembari menghapus air mata nya
Revan terduduk di lantai dengan tatapan tajam. Entah apa yang ada di pikiran nya
Setelah puas melamun, Revan tersadar jika tangan nya terluka cukup parah
"Lebih baik aku sekarang membersihkan diri dan luka ku ini." ujar Revan sembari berjalan menuju kamar mandi
Malam hari nya, di apartemen Revan, Rania sedang duduk di balkon kamar nya setelah makan malam sembari menatap keindahan malam
"Kenapa ayah begitu membenci ku sampai dia mengusir ku seperti ini?" ujar Rania dengan air mata yang sudah mengalir deras bak air terjun
"Apakah aku sudah tidak berarti bagi ayah sampai dengan tega mengusir ku? bahkan ayah sama sekali tidak mencari ku!" ujar Rania
__ADS_1
"Justru disaat aku terluka malah orang lain yang menjaga dan merawat ku." ujar Rania
"Jika memang ayah sudah tidak menginginkan keberadaan ku, lebih baik aku menyusul ibu di alam surga." ujar Rania menangis histeris
"Sabar Rania! jika kamu memang menyayangi ibu harus nya aku tidak melakukan hal yang menentang agama." ujar Rania yang tersadar dengan ucapan nya
"Aku hanya ingin ibu bahagia di alam surga, biarkan Rania yang menderita!!!" ujar Rania
Rania kembali menangis terisak dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun lagi
Tiba-tiba handphone nya berdering yang menandakan ada seseorang yang menelpon nya
Rania berharap jika yang menelpon adalah ayah nya, namun harapan nya hampa karena yang menelpon nya itu Revan
Rania mengangkat telepon nya, panggilan pun terhubung
📱 : "Halo kak! ada apa ya?" ujar Rania
📲 : " Halo! apa kau sudah makan malam? kau harus jaga kesehatan mu dan jangan telat makan jika besok ingin bekerja kembali." ujar Revan
📱 : "Iya kak, aku udah makan. Apa kakak udah makan juga?" ujar Rania
📲 : "Belum," ujar Revan
📱 : "Kenapa belum makan? nanti sakit loh! kakak juga harus teratur makan nya sekarang udah cukup malam tapi kakak belum makan." ujar Rania
📲 : "Iya…iya. Kalau begitu kakak matikan telepon nya mau makan dulu." ujar Revan
📱 : "Iya kak!" ujar Rania
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang novel ini bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
__ADS_1
bisa di follow ig nya yah