SENYUMAN MANIS CEO KEJAM

SENYUMAN MANIS CEO KEJAM
Rania merajuk


__ADS_3

"Mencurigakan!"


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" ujar Angga yang merasa risih ketika ditatap dengan tatapan mengintimidasi oleh Revan dan Vino layaknya tersangka kasus pencurian.


"Seperti nya kau sedang jatuh cinta dengan seseorang!" ujar Vino.


"S-siapa bilang!" elak Angga.


"Tidak perlu mengelak! kau mengaku saja, kau pasti sedang jatuh cinta." ujar Revan.


"Huh! kenapa kalian selalu tahu apa yang ku pikirkan? padahal disini aku yang seorang dokter tapi kalian justru sudah seperti Psikopat yang selalu tahu isi pikiran ku!" ujar Angga.


"Psikolog woy bukan Psikopat kali!!!" ujar Revan dan Vino tidak terima.


"Iya itulah, kan sama ada psiko psiko nya. Yang penting kan bukan sikok bagi duo." ujar Angga terkekeh.


"Dokter gendeng ya gini! makanya saat sekolah jangan lompat pagar terus!!!" ujar Vino.


"Bukankah kalian yang mengajari ku menjadi ninja! kalau tidak ada kalian, pasti aku akan menjadi anak yang pendiam, polos, tampan, dan misterius. Tidak seperti sekarang yang otaknya sudah tercemar limbah beracun." ujar Angga.


"Tapi jika kau tidak ikut lompat pagar kita juga tidak memaksa! kau saja yang memilih ikut dan itu keinginan dari hatimu sendiri!" ujar Revan.


"Iya benar, salah sendiri kau tergoda oleh ajakan kita. Seperti nya memang karena kau tidak punya pendirian!" ujar Vino.


"Hei!!! jangan sembarangan bicara!!! jika aku tidak punya pendirian maka aku tidak mungkin menjadi dokter seperti sekarang! aku mungkin akan fokus pada perusahaan papa!" ujar Angga kesal.


"Santai brother! kita hanya bercanda!" ujar Revan.


"Iya aku tahu! sudahlah aku mau pulang!" ujar Angga.


"Aku juga ingin pulang, Van!" ujar Vino.


"Cepat sembuh! kalau ada apa-apa hubungi kita!" ujar Angga.


"Iya istirahat yang cukup biar cepat sehat dan bisa bertarung lagi dengan Reno." ujar Vino.


Setelah kepergian kedua sahabatnya, Rania masuk ke dalam kamar Revan.


"Sayang! duduklah!" ujar Revan menarik tangan Rania hingga terduduk di sebelahnya.


"Aku cuma mau ngecek suhu tubuh kakak sudah turun atau belum!" ujar Rania dengan tangan yang terulur menyentuh kening Revan.


"Masih sakit by, minta dimanja sama Rania!" ujar Revan dengan manja.


"Apa sih, demam nya udah turun kok!" ujar Rania.


"Belum by! kepala ku masih pusing dan badan ku sakit!" ujar Revan menolak untuk sembuh dari sakitnya.


"Demam nya udah turun, itu berarti kakak udah sembuh!" ujar Rania tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa harus secepat ini sih sembuhnya? kan gagal untuk manja-manja dengan Rania!" gerutu Revan kesal.


"Oh, jadi kakak pengin dimanja?" tanya Rania dan dijawab anggukan kepala dari Revan.


Rania terkekeh melihat sisi manja Revan. Rania memeluk Revan erat sementara Revan menyelusup kan wajahnya di leher Rania.


"Baby … cium aku!" ujar Revan.


"Baiklah!" ujar Rania.


Cup


Rania mengecup pipi Revan.


"Kenapa hanya satu pipi yang dicium? ini pipi satu nya cemburu!" ujar Revan.


Cup


"Kening nya cemburu, by!"


Cup


"Bibirnya cemburu!" ujar Revan.


Cup


"Sudah dicium semua kan?" tanya Rania.


Revan menghujani wajah Rania dengan ciuman. Terakhir, mencium bibir Rania bahkan ******* nya dengan sangat lembut membuat Rania terbuai dan membalas ciuman nya.


"Ciuman mu masih terlalu kaku, by!"


"Tapi tak apa, kau sudah bisa membalas ciuman ku itu sudah membuat ku bahagia." ujar Revan.


"Aku kan nggak bisa ciuman! nggak seperti kakak yang sudah sangat ahli dan handal dalam hal berciuman."


"Atau jangan-jangan dulu kakak seorang playboy ya?!" ujar Rania.


"Lah kok jadi mengarah ke situ sih sayang!" ujar Revan.


"Ngaku aja! apa mungkin kakak seorang Casanova?!" ujar Rania.


"Astaga! kenapa jadi membahas Casanova?" ujar Revan bingung.


"Jawab saja! pasti kakak sudah pernah melakukan itu kan?!"


"Belum!" ujar Revan.


Rania menatap mata tajam Revan, dia melihat kebohongan di dalam mata Revan.

__ADS_1


"Bohong!"


"Kak Revan pernah melakukan itu dengan wanita lain kan? ngaku aja apa susah nya sih!" ujar Rania kesal.


"Iya by. Maaf! aku memang pernah melakukan itu dengan wanita lain tapi memakai pengaman!" ujar Revan menjelaskan. Dia tidak ingin gadis nya itu salah paham.


"Kak Revan jahat! kenapa harus membohongiku sih?"


"Jujur langsung aja apa susahnya?! mulai hari ini sampai seminggu ke depan kak Revan nggak boleh cium aku, nggak boleh peluk aku, dan nggak boleh pegang aku walau ujung rambut sekalipun!!!" ujar Rania marah kepada Revan.


"Lah kok gitu sih, by! itu kan dulu, sekarang yang ada di hati aku hanya kau, by!" ujar Revan berusaha membujuk Rania.


Rania terus berjalan menuju kamarnya dengan Revan yang terus membujuk nya.


"Sayang … please jangan kasih hukuman seperti ini!"


"Aku tidak mau makan jika kau masih kasih aku hukuman biarkan saja aku sakit!" ujar Revan mengancam.


"Silahkan saja kalau kuat nggak makan!" ujar Rania acuh.


"Sayang … jangan seperti ini! apa kau tidak kasihan dengan ku yang imut ini? lihatlah mata ku yang lucu ini!" ujar Revan merubah wajah datar nya menjadi imut.


"Nggak lucu! siapa bilang kamu lucu! kamu nggak pantes mukanya kayak gitu! muka mu itu serem dan galak!" ujar Rania.


"Lah udah tidak luluh di tambah di hujat lagi!!!" gerutu Revan pelan.


"Sayang! aku benar-benar minta maaf!" ujar Revan terus berusaha membujuk Rania.


"Aku akan memaafkan kakak setelah seminggu kakak menjalani hukuman!" ujar Rania masuk kedalam kamar.


Rania hendak menutup pintu kamar nya namun kalah cepat dengan kaki Revan yang menahan pintu supaya tidak tertutup.


"Kak Revan keluar!!!" usir Rania.


"Tidak!"


"Aku akan tetap disini!" ujar Revan.


Rania berjalan ke arah ke arah tempat tidur dan duduk di sana. Revan mengikuti Rania duduk di tempat tidur.


"Sayang…maafkan aku! jangan marah seperti ini, aku tersiksa melihat mu bersikap cuek kepada ku!" rengek Revan.


"Sebenarnya aku malas memaafkan mu kak! tapi karena kakak masih sakit jadi aku akan memaafkan kakak!" ujar Rania.


"Terimakasih sayang…terimakasih sudah mau memaafkan ku!" ujar Revan langsung memeluk Rania.


"Hm! tapi jika kakak mengulangi kesalahan kakak atau kakak membohongi ku maka aku tidak akan segan pergi jauh dari hidup kakak!" ujar Rania serius.


"Iya sayang, aku janji tidak akan membuat kesalahan dan membohongi mu lagi! aku akan membahagiakan mu. Aku akan berusaha menjadi kekasih yang terbaik untuk mu! aku akan menjadikan mu ratu di hidupku karena aku yakin kau lah masa depan ku!" ujar Revan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Sebesar itukah cintamu untukku kak! aku sampai terharu mendengar nya. Tidak pernah terbayangkan dalam hidup ku sebelumnya jika aku dicintai oleh seorang sultan yang terkenal kejam dan tanpa senyum ini!" batin Rania menitikkan air matanya dan terisak.


"Hey sayang! kenapa menangis, hm?" tanya Revan.


__ADS_2