
Hah…hah…hah…
"Rania…apa kau tahu, kau lah gadis pertama yang membuat ku menjatuhkan harga diri ku sendiri! aku selalu berusaha bersikap manis dan lembut kepada mu! tapi kau malah tak pernah menganggap ku bahkan tak pernah membalas cintaku!" ujar Revan.
"M-maaf kak, aku tidak pernah berpacaran jadi aku tidak mengerti perasaan ku!" ujar Rania takut.
Namun Revan malah berjalan keluar dari kamarnya dengan perasaan kecewa dicampur amarah.
"Aduh bagaimana ini? apa aku akan diusir dari sini? terus aku tinggal dimana lagi, mana nggak ada uang!" ujar Rania.
Sementara Revan mengurung diri nya di ruang kerjanya.
"Tak ku sangka, aku kira Rania sungguh-sungguh mencintai ku tapi ternyata dia hanya tidak ingin membuat ku kecewa!"
"Heh! apakah aku tidak diperbolehkan untuk bahagia?"
"Apa hidupku harus selalu menderita?"
Revan berteriak keras di dalam ruangan kerja nya, namun karena ruangan itu kedap suara, jadi orang lain tidak akan mendengarkan nya.
Di kamar nya Rania kesal dengan dirinya sendiri. Dia bingung harus melakukan apa lagi.
"Kalau setelah ini aku diusir bagaimana? dasar Rania bodoh…Rania bodoh…kenapa mulutku ini tidak bisa di jaga sih? harus nya tadi aku bilang saja kalau aku juga mencintai bos kejam itu dan dengan begitu bos kejam itu pasti akan luluh kepada ku!!!" ujar Rania kesal.
"Kalau seperti ini, hidupku akan menderita. Aku harus tinggal dimana lagi kalau diusir dari sini?"
"Sudah benar hidup enak dengan bos kejam, dicintai dan disayangi oleh nya tapi aku malah ngelunjak!"
"Kenapa hidupku seperti di penjara? aku bahkan tidak bisa mengambil keputusan apapun!"
Tanpa Rania sadari, sepasang telinga mendengarkan seluruh ucapan nya dengan wajah memerah dan rahang mengeras.
Orang itu adalah Revan. Revan kembali ke kamar Rania untuk mengecek keadaan Rania yang tadi sakit. Revan pun memutuskan meninggalkan kamar itu dengan hati dongkol.
"Hah! aku benar-benar tidak tahu dengan perasaan ku sendiri, apa mungkin aku sudah mencintai bos kejam itu?"
"Aku harus minta maaf kepada kak Revan. Aku tidak boleh membuat pikiran nya terguncang lagi!"
"Seperti nya aku memang sudah mencintai nya, aku harus menjelaskan nya!" ujar Rania keluar dari kamar nya menuju kamar Revan, namun tidak ada siapapun di kamar nya.
"Kak Revan dimana?"
"Oh iya, pasti ada di ruang kerja nya." ujar Rania melangkah ke ruang kerja Revan, dan mendapati Revan sedang berdiri di depan jendela.
__ADS_1
"Kak!"
"Untuk apa kau kesini?" ujar Revan dingin dengan pandangan masih menatap keluar jendela.
"A-aku ingin bicara dengan kakak!" ujar Rania takut.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kau boleh melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan mu!"
"Sekarang kau bebas, aku tidak akan mengekang mu lagi!"
"Jika kau ingin pergi dari sini nanti akan ku beri kau kompensasi!"
"Kau juga boleh resign dari. perusahaan ku!!!" ujar Revan dingin.
"Aku tidak mau!!!"
"Kenapa? apa kau tidak ingin kehilangan ATM berjalan mu ini?" ujar Revan sinis.
"Nggak kak! Kenapa kakak jadi seperti ini?" ujar Rania.
"Kau yang membuat ku seperti ini, Rania!!!" sentak Revan dengan wajah menyeramkan.
"Aku kira kau berbeda dengan gadis lain nya, ternyata kau sama saja! hanya mengejar ku demi harta!!!"
"Silahkan kau pergi dari sini!!!" ujar Revan.
Revan melemparkan black card nya kearah Rania dan pergi meninggalkan nya.
"Tunggu kak!!! jangan pergi!!!" teriak Rania menangis tersedu-sedu.
"Kenapa jadi seperti ini? tidak adakah sedikit kepercayaan kak Revan kepada ku!"
"Disaat aku sudah mulai menyadari perasaan ku kenapa jadi seperti ini!" ujar Rania.
Rania tak ingin terlalu larut dalam kesedihannya pun memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Revan itu.
Rania membereskan semua pakaian nya, bagaimanapun juga, dirinya sudah tidak diharapkan di sini lagi.
Setelah selesai membereskan pakaian nya, Rania melangkah ke luar dari kamar nya sembari membawa tas berisi pakaian nya. Rania melangkah menuju dapur untuk berpamitan dengan Bi Ijah.
"Bi...aku pamit pergi, tolong awasi kak Revan ya, dia harus teratur makan dan tidak boleh banyak pikiran. permisi..." ujar Rania dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Tapi nona mau kemana? nanti kalau tuan mencari anda, bagaimana?" ujar Bi Ijah.
__ADS_1
"Nggak akan!!! Rania pamit," ujar Rania langsung melangkah ke luar apartemen itu.
Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan nya dengan tatapan tak terbaca.
Rania melangkah tak tentu arah, Rania ingin pergi jauh dari kehidupan Revan.
"Oh iya, aku punya sedikit tabungan. Seperti nya aku bisa pergi dari kota ini." ujar Rania.
Rania memutuskan untuk pergi ke luar kota. Rania berniat pergi ke kota S dan memulai kehidupan baru nya.
"Hak sayang, kenapa sendirian? dimana kekasih kaya mu itu?!" ujar Elang yang tiba-tiba ada di depan nya.
*Mending kau ikut dengan ku saja! aku akan selalu membahagiakan mu, tidak seperti kekasih kaya mu itu!!!" ujar Elang menyeringai.
"Aku lebih baik mati daripada pergi dengan mu!!!" sentak Rania.
"Masih sombong saja kau ya! ingat! sekarang sudah tidak ada pelindung mu lagi!!! pahlawan kesiangan mu itu saja sudah tidak mengharapkan mu lagi, tapi masih saja sombong!!!" ujar Elang.
Elang mendekati Rania dan merangkul pinggang Rania.
"Lepas!!!"
"Jangan berteriak disini, sayang! nanti saja saat kita sudah di atas ranjang, kau boleh berteriak memanggil nama ku sepuasnya!" bisik Elang mendekatkan wajahnya ke wajah Rania.
"Aku tidak sudi disentuh oleh mu!!! lepasin aku brengs*k!!! ujar Rania meronta-ronta. Rania memejamkan matanya, berharap semua ini hanya mimpi.
Tiba-tiba pukulan keras dari balok kayu mengenai kepala Elang. Darah segar bercucuran dari kepala Elang yang membuat nya langsung ambruk.
"Anda tidak apa-apa, nona?" tanya seorang pria paruh baya menepuk pundak Rania.
Perlahan Rania membuka mata nya untuk melihat orang yang menyelamatkan nya, dan betapa terkejutnya Rania saat melihat orang yang menyelamatkan nya memiliki wajah yang sangat mirip dengan Revan.
"Bapak kan orang yang dulu menolong saya sewaktu saya di culik." ujar Rania.
"Kamu gadis cantik itu! astaga, sekarang kau sudah besar dan bertambah cantik!!!" ujar pria paruh baya itu.
"Terimakasih pak, sudah menolong ku untuk kedua kalinya." ujar Rania.
"Sama-sama nak! bapak pergi dulu!!!" ujar pria paruh baya itu langsung berlalu pergi.
"Aneh! kenapa bapak itu sangat mirip dengan kak Revan." ujar Rania.
"Berharap putraku belum menikah dan berjodoh dengan gadis cantik tadi!!!" ujar pria paruh baya itu.
__ADS_1
Sementara Rania berjalan menuju terminal bus untuk pergi ke kota S.