
"Baiklah! kita pergi sekarang." ujar Revan yang langsung mendorong tubuh Zhao lie
"Aku ikut honey." ujar Zhao lie
"Maaf nona Zhao lie! anda tidak bisa ikut karena tinjauan ini bersifat tertutup, jadi orang-orang selain dari perusahaan ini tidak bisa mengikuti atau menyaksikan nya." ujar Farhan
"Hei!!! aku nggak ngomong sama kamu ya, jadi nggak perlu ikut campur!!!" ujar Zhao lie ketus
"Honey!!! aku ikut ya…" ujar Zhao lie bergelayut manja di lengan Revan
"Maaf Zhao lie! tinjauan ini memang bersifat tertutup dan rahasia, jadi orang lain tidak bisa ikut." ujar Revan
"Tapi aku kan kekasih mu honey! jadi, no problem i want follow you." ujar Zhao lie
"Tidak bisa Zhao lie! kau pulang saja, besok bisa ke sini lagi." ujar Revan
"Baiklah! nanti siang aku kesini lagi!" ujar Zhao lie
"Why?" pekik Revan terkejut. Baru saja berniat menghindar tapi setelah menghindar malah bakalan bertemu lagi, mungkin seperti itu yang di pikirkan Revan
"Because…aku ingin mengajak mu makan siang honey!" ujar Zhao lie
"Kenapa jadi seperti ini?" batin Revan
"Baiklah! kau bisa datang kembali nanti siang." ujar Revan
"Iya…aku pulang dulu, see you later honey!" ujar Zhao lie
Cup
Zhao lie mengecup bibir Revan dan berlalu pergi keluar dari ruangan itu, hal itu membuat sang pemilik bibir melotot dan terkejut. Farhan pun tak kalah terkejut nya dari Revan, bagaimanapun Farhan sosok pria yang polos dan tidak pernah berpacaran, tapi malah harus di suguhi pemandangan yang mengganggu kepolosan mata nya.
Farhan juga terkejut karena melihat respon Revan yang biasa saja, padahal Revan bilang sangat tidak suka dengan Lady Zhao lie tapi kenyataan nya Revan tidak menolak ciuman Zhao lie tadi.
"Astaga!!! bibirku yang sudah bersih dan suci ini harus ternoda oleh wanita j*lang ini." batin Revan
"Padahal bibir ku ini sudah aku lap dengan disinfektan, tapi harus ternoda lagi. Aku saja masih berpuasa untuk mencium bibir Rania, tapi dia dengan lancang nya mencium bibir ku ini!!!" batin Revan
"Farhan! tolong ambilkan tissue basah dan kering di ruang tidur pribadi ku." ujar Revan sembari kembali duduk di sofa ruangan nya.
"Baik tuan!" ujar Farhan langsung berjalan menuju ruang tidur pribadi Revan
Farhan langsung mengambil tissue basah dan kering sesuai keinginan tuan nya.
"Apa yang akan di lakukan tuan Revan dengan tissue-tissue ini?" batin Farhan sembari berjalan ke arah Revan
"Ini tuan tissue nya." ujar Farhan sembari menyodorkan tissue yang di bawa nya kepada Revan.
__ADS_1
"Terima kasih! kau duduk dulu." ujar Revan sembari mengambil tissue nya
"Baik tuan!" ujar Farhan sembari duduk di salah satu sofa.
Revan langsung mengelap bibir nya menggunakan tissue basah dan kering tadi, Farhan yang melihat nya entah mengapa menjadi sedikit lega karena ternyata tuan nya masih tidak menyukai Zhao lie.
Setelah di rasa bibir nya sudah bersih, Revan menghentikan aktivitas nya dan membuang tissue bekas itu ke dalam tempat sampah yang ada di ruangan itu.
"Akhir nya bibir ku sudah bersih kembali!" batin Revan
"Mulai detik ini aku tidak akan membiarkan wanita manapun mencium ku, karena yang berhak mencium ku hanya Rania." batin Revan bertekad dalam hati
"Farhan! kau temani saya ke suatu tempat." ujar Revan
"Baik tuan!" ujar Farhan
Revan langsung berjalan keluar dari ruangan nya diikuti oleh Farhan.
Kini Revan dan Farhan sudah berada di dalam mobil Revan dengan posisi Revan yang mengemudi sedangkan Farhan duduk di sebelah kursi kemudi.
"Kenapa tidak saya saja tuan yang menyetir?" ujar Farhan yang merasa tidak enak hati
"Sudah tidak apa-apa! biar saya yang menyetir." ujar Revan sembari melajukan mobil nya meninggalkan gedung perusahaan nya menuju suatu tempat.
Sementara itu. Di posisi Rania, gadis itu itu tengah fokus dengan pekerjaan nya sampai terdengar bunyi handphone nya yang seketika membuyarkan kefokusan nya.
Bunyi pesan masuk terdengar di handphone Rania, Rania langsung melihat isi pesan nya
"Rania, hari ini kau makan siang sendiri saja karena saya sedang ada urusan di luar."
"Ingat! jangan lupa makan siang!"
Begitulah isi pesan di handphone Rania yang tidak lain berasal dari Revan.
"Iya kak!"
Setelah membalas pesan itu, Rania kembali fokus dengan pekerjaan nya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, kini Revan dan Farhan berjalan masuk ke dalam hutan. Kedua pria itu terus masuk ke dalam hutan sampai mereka melihat sebuah bangunan yang terletak di tengah hutan.
"Bangunan apa itu? kenapa tuan Revan membawa ku kesini?" batin Farhan bingung
"Tuan, anda ingin mengajak saya kemana? dan itu bangunan apa?" ujar Farhan saat melihat sebuah bangunan di tengah hutan
"Saya ingin menculik mu dan menyekap mu di bangunan itu!" ujar Revan dengan wajah datar nya
"What!!! apa!!! apa salah dan dosa ku sehingga tuan tega menculik ku secara halus!" ujar Farhan terkejut sehingga dia sedikit berteriak
__ADS_1
"Kau ini sudah seperti ibu-ibu tukang ghibah, heboh nya minta ampun!" ujar Revan
"Saya tau tuan jika saya memiliki banyak kepada anda. Tapi nggak gini juga balas dendam nya, kasihan kedua orang tua ku jika kehilangan anak yang paling tampan dan cerdas nya." ujar Farhan dengan ekspresi wajah sendu
"Punya asisten narsis nya setinggi gunung Everest, pusing kepala ku!" batin Revan
"Saya juga bercanda ingin menculik mu, tapi kau menganggap nya serius!" ujar Revan dengan wajah datar
"Apa!!! anda bilang sedang bercanda? bercanda sih boleh aja tapi mukanya di kondisikan dong, serem banget tau!" batin Farhan
"Jadi anda ngapain membawa saya ke sini?" tanya Farhan
"Tentu saja bersembunyi! ayo masuk!" ujar Revan hendak melangkah memasuki bangunan itu
"Tapi tuan, itu bangunan apa dan milik siapa?" ujar Farhan
"Kau tenang saja, itu markas ku." ujar Revan berjalan masuk ke dalam markas nya
Sedangkan Farhan masih terdiam dengan banyak pertanyaan di dalam benak nya.
"Apa tuan seorang mafia? kenapa aku jadi takut untuk masuk?" batin Farhan memaksakan diri untuk masuk ke dalam markas tuan nya itu
Setelah masuk ke dalam bangunan itu, Farhan cukup tercengang dengan arsitektur bangunan itu yang cukup unik.
Kenapa kau tetap berdiri di situ? duduk lah!" ujar Revan yang sudah duduk di salah satu sofa
Farhan yang masih merasa bingung pun memilih menuruti ucapan tuan nya dan langsung duduk di sofa dekat tempat tuan nya duduk.
"Apa kau bingung tentang markas ini?" tanya Revan yang langsung di balas anggukan oleh Farhan
"Kau tenang saja, ini bukan markas mafia seperti yang kau pikirkan. Ini adalah markas tempat ku melatih para calon bodyguard yang ingin bekerja bersama ku!" ujar Revan
"Oh markas pelatihan, kirain…" ujar Farhan
...****************...
Halo para pembaca semua nya saksikan terus kelanjutan kisah Revan dan Rania yang penuh dengan Lika liku ini
Semoga kalian suka dan maaf mungkin karya ini tak sebagus karya karya lain nya karena aku masih baru dan harus banyak belajar jadi belum mahir dan pandai seperti author lainya. Tapi aku akan berusaha yang terbaik
Jangan lupa vote, like and komen yah
Oh iya kalau mau tanya tanya tentang novel ini bisa lewat ig
love you all 🥰🥰🥰
ig : aliffiaazizah_
__ADS_1
bisa di follow ig nya yah